Indonesia menjadi juara Grup F Kejuaraan Bulu Tangkis Piala Suhandinata. Status itu meloloskan tim "Merah Putih” ke perempat final.
08 Okt 2025 21:05 WIB · Olahraga
GUWAHATI, RABU – Tim bulu tangkis Indonesia mendapat kejutan dari Hong Kong saat menjalani laga terakhir penyisihan Grup F Kejuaraan Bulu Tangkis Beregu Campuran Yunior Piala Suhandinata. Kejutan yang tidak menyenangkan itu ditangani dengan baik hingga Mohammad Zaki Ubaidillah dan kawan-kawan melanjutkan perjalanan ke perempat final.
Kejutan itu terjadi dalam pertandingan yang berlangsung di National Centre of Excellence, Guwahati, India, Rabu (8/10/2025). Indonesia melawan Hong Kong dan Filipina melawan Slovenia, yaitu pada waktu yang sama, menjadi penentu status juara Grup F, tim yang berhak tampil di perempat final.
Kemenangan atas Hong Kong menambah hasil yang sama bagi Indonesia saat berjumpa Filipina dan Slovenia dalam dua hari sebelumnya. Mohammad Zaki Ubaidillah dan kawan-kawan pun berhak atas posisi juara grup, lolos ke perempat final, sekaligus menjaga peluang mempertahankan gelar juara. Dalam perempat final yang akan berlangsung Kamis, Indonesia akan melawan juara Grup E, Taiwan.
Piala Suhandinata edisi ke-25, 6-11 Oktober, diikuti 36 negara yang bersaing dalam delapan grup pada fase penyisihan. Mereka bertanding dengan sistem round robin untuk memperebutkan posisi juara grup untuk lolos ke fase berikutnya dengan sistem gugur. Adapun peserta lain tetap bertanding untuk menentukan daftar peringkat akhir.
Namun, berbeda dengan penyelenggaraan di Nanchang 2024, Piala Suhandinata 2025 menggunakan sistem skor baru. Setahun lalu, setiap tim berburu 110 poin dari nomor tunggal putra-putri, ganda putra-putri, dan ganda campuran, secara estafet yang terdiri atas dua putaran. Maka, setiap wakil berburu poin kelipatan 11 dalam sepuluh partai.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/08/50cf4b74ac722b4b8564e6967ddc2975-WhatsApp_Image_2025_10_08_at_20.27.38.jpeg)
Di Guwahati, setiap wakil bermain untuk mendapat poin kelipatan sembilan, juga, dengan sistem estafet. Terdapat tiga putaran yang memainkan lima nomor, tetapi pertandingan tidak dilanjutkan ketika sudah ada satu tim yang memenangi dua putaran. Untuk itu, tim dinyatakan menang jika unggul 2-0 atau 2-1 atas lawan.
Setelah mengalahkan Filipina dan Slovenia, masing-masing dengan skor 2-0, Indonesia mendapat kejutan saat melawan Hong Kong. Meski hanya tertinggal satu poin, yaitu 44-45 (sebagai akumulasi dari lima nomor), Indonesia kalah pada putaran pertama. Pertandingan itu bahkan diawali oleh kekalahan ganda putra Indonesia, Muhammad Rizki Mubarrok/Raihan Daffa Edsel Pramono, dari Cheng Ying Kit/Deng Chi Fai 6-9.
Dengan sistem estafet untuk penghitungan skor keseluruhan, poin yang didapat setiap pemain berpengaruh pada rekan-rekan mereka yang bermain berikutnya. Saat tim tertinggal, pemain harus menyalip lawan dengan mengumpulkan lebih banyak poin untuk mendapat skor kelipatan sembilan.
Saya akhirnya mencoba bermain lebih tenang pada putaran kedua hingga bisa mengendalikan permainan. Saya akhirnya bisa memenangi putaran ketiga juga. - Zaki Ubaidillah -
Indonesia akhirnya hanya bisa mempertipis ketertinggalan menjadi satu poin, meskipun Thalita Ramadhani Wiryawan dan Riska Anggraini/Rinjani Kwinara Nastine menang atas lawan mereka. Namun, keunggulan mereka tak cukup untuk membuat tim memenangi putaran pertama.
Tak butuh waktu lama, Zaki dan kawan-kawan meningkatkan performa mereka pada dua putaran berikutnya. Indonesia menang dengan selisih skor yang semakin jauh, yaitu 45-37, lalu 45-23. Maka, Indonesia pun menang 2-1 atas Hong Kong.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/08/61c56bea8adaf2fba5f566e911228d10-WhatsApp_Image_2025_10_08_at_20.27.39.jpeg)
Zaki mengatakan, dia merasa tegang sekaligus terkejut dengan penampilan lawan, yaitu Lam Ka To, pada putaran pertama. Zaki menilai, Lam memiliki kemampuan dalam mengantisipasi permainan dengan cepat.
“Saya akhirnya mencoba bermain lebih tenang pada putaran kedua hingga bisa mengendalikan permainan. Saya akhirnya bisa memenangi putaran ketiga juga,” ujar Zaki dalam laman resmi PB Djarum.
Zaki, yang ditunjuk sebagai kapten tim Indonesia, menjadi andalan sektor tunggal putra. Dia turut mengantarkan Indonesia menjuarai Piala Suhandinata 2024 dan menjadi semifinalis pada kategori perorangan pada tahun yang sama.
Selain Indonesia melawan Taiwan, perempat final lain mempertemukan Jepang dan Amerika Serikat, Malaysia dengan China, dan Korea Selatan yang akan melawan India.
Pada kejuaraan Arctic Terbuka di Vantaa, Finlandia, Rachel Alessya Rose/Febi Setianingrum dan Febriana Dwipuji Kusuma/Meilysa Trias Puspitasari lolos ke babak kedua setelah melewati babak pertama dengan cara berbeda. Rachel/Febi mengalahkan Keng Shu Liang/Li Hua Zhou (China) 22-20, 21-17, sementara Febriana/Meilysa mendapatkan tiket babak kedua secara gratis karena tidak ada lawan yang harus dihadapi pada babak pertama.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/08/481f187a4bf08718c1f77807c49e2da8-RachelFebi6_R32_ArcticOpen2025_PBSI_20251008.jpg)
Semula, Febriana/Meilysa dijadwalkan bertemu salah satu pasangan yang lolos dari babak kualifikasi, yaitu Natasja P Anthonisen/Amalie Cecilie Kudsk. Akan tetapi, pasangan Denmark itu lolos ke babak utama setelah mendapat jatah promosi untuk menggantikan salah satu wakil yang mengundurkan diri.
Dua ganda putri Indonesia itu akan sama-sama menghadapi pemain unggulan pada babak kedua yang berlangsung Kamis. Febriana/Meilysa akan melawan unggulan kedua, Pearly Tan/Thinaah Muralitharan, sementara Rachel/Febi melawan Rin Iwanaga/Kie Nakanishi (3). Adapun pasangan lainnya, Lanny Tria Mayasari/Amalia Cahaya Pratiwi, kalah dari Arisa Higarashi/Chiharu Shida 13-21, 21-15, 12-21.
”Besok bertemu Rin/Kie, kami akan main tanpa beban, lebih percaya diri dan fokusnya harus ditingkatkan. Semangat tidak mau kalahnya harus ditampilkan,” kata Febi.
Pada turnamen pembuka dalam tur di Eropa ini, Indonesia hanya diwakili tiga ganda putri. Pemain lain akan tampil di Denmark Terbuka, Perancis Terbuka, dan Hylo Terbuka di Jerman, pada tiga pekan mendatang.
Penulis:
Yulia SapthianiEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase