Kinerja sektor pertanian, terutama tanaman pangan, mengalami lompatan pertumbuhan. Bahkan, per 4 Mei 2025, pemerintah telah memiliki cadangan 3,5 juta ton beras.
06 Mei 2025 10:24 WIB · Ekonomi
Seusai tumbuh minus pada 2024, subsektor tanaman pangan tumbuh melesat pada triwulan I-2025. Peningkatan produksi padi dan jagung, penambahan tenaga kerja, dan kenaikan penghasilan petani menjadi penopang utama.
Badan Pusat Statistik (BPS), Senin (5/5/2025), merilis, ekonomi Indonesia pada triwulan I-2025 tumbuh 4,87 persen secara tahunan. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 10,52 persen, serta menjadi sumber pertumbuhan ekonomi tertinggi menurut lapangan usaha, yakni sebesar 1,11 persen.
Subsektor tanaman pangan yang antara lain mencakup komoditas padi dan jagung tumbuh paling tinggi sebesar 42,62 persen. Adapun subsektor tanaman perkebunan, termasuk kelapa sawit, tumbuh 3,14 persen.
Pada triwulan I-2025, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan tumbuh 10,52 persen, sedangkan subsektor tanaman pangan tumbuh 42,62 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, kinerja apik sektor pertanian dan subsektor tanaman pangan pada triwulan I-2025 berbanding terbalik dengan kinerja triwulan I-2024. Waktu itu, sektor pertanian dan subsektor tanaman pangan masing-masing tumbuh -3,54 persen dan -24,72 persen.
”Kinerja positif itu didorong peningkatan produksi padi dan jagung yang masing-masing 51,45 persen dan 39,02 persen sepanjang triwulan I-2025 dibandingkan dengan triwulan I-2024,” ujarnya dalam konferensi pers yang digelar secara hibrida di Jakarta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/da4ef9bb60bf2f0651fdb571e1eedfde-Screenshot_2025_05_05_212015.png)
BPS mencatat, produksi padi setara gabah kering giling (GKG) pada Januari-Maret 2025 sebesar 14,97 juta ton. Volume GKG itu lebih tinggi dibandingkan dengan Januari-Maret 2024 yang sebanyak 9,89 juta ton.
Adapun produksi jagung pipilan kering dengan kadar air 14 persen pada Januari-Maret 2025 sebesar 4,73 juta ton. Volume jagung tersebut lebih tinggi dibandingkan pada Januari-Maret 2024 yang sebanyak 3,8 juta ton.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan juga mampu menjadi peredam lonjakan jumlah penganggur di Indonesia. Berdasarkan data BPS, jumlah penganggur di Indonesia bertambah sekitar 83.000 orang selama setahun terakhir hingga mencapai 7,28 juta orang per Februari 2025.
Menurut Amalia, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyerap tenaga kerja terbanyak dibandingkan dengan 16 sektor lapangan usaha lainnya. Pada Februari 2025, sektor tersebut menyerap tenaga kerja sebesar 28,54 persen dari total tenaga kerja nasional yang mencapai 145,77 juta orang.
Sepanjang periode Februari 2024 hingga Februari 2025, jumlah pekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan bertambah sebanyak 890.000 orang. Bahkan, dalam periode Agustus 2024 hingga Februari 2025, penambah pekerja di sektor pertanian mencapai 850.000 orang.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2024/10/21/3c5a9039b76805f1151751d91577be4c-https___asset.kgnewsroom.com_photo_pre_2024_10_02_668b54ed_3d1d_4d36_9db5_5ec2d32fff7b_jpg.jpg)
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman berpendapat, lonjakan kinerja sektor pertanian, terutama subsektor tanaman pangan, sangat luar biasa. Ini menunjukkan kerja keras petani yang ditopang dengan program Swasembada Pangan pemerintah.
”Keberhasilan panen raya padi dan jagung pada triwulan I-2025 benar-benar menjadi momentum pendorong lompatan besar di sektor pangan,” kata Amran di Jakarta, Senin (5/5/2025).
Pada 2025, Kementerian Pertanian (Kementan) menargetkan produksi beras nasional sebanyak 32 juta ton. Untuk itu, areal luas tanam padi ditambah 17 juta hektar luas tanam padi reguler menjadi 20 juta hektar.
Tambahan areal tanam seluas 3 juta hektar itu dilakukan melalui optimalisasi lahan pertanian dan pencetakan sawah baru. Kementan juga mendorong penanaman padi gogo di sela-sela tanaman perkebunan.
Selain itu, Kementan membentuk 1.755 Brigade Pangan dengan anggaran sekitar Rp 30 triliun. Setiap brigade terdiri atas 15 petani milenial yang akan bekerja sama dengan petani setempat mengelola lahan seluas 200 hektar. Lahan yang dikelola itu berupa lahan rawa dan lahan tidur di sejumlah daerah di Indonesia.

Dengan berbagai upaya itu, Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi beras Indonesia pada 2025 sebanyak 34,6 juta ton. Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan dengan produksi beras pada 2024 sebanyak 30,62 juta ton.
Pada 2025, potensi produksi beras Indonesia tersebut tertinggi di antara negara-negara ASEAN. Potensi produksi beras Vietnam sebanyak 26,5 juta ton, Thailand 20,1 juta ton, Filipina 12 juta ton, Kamboja 7,37 juta ton, Laos 1,81 juta ton, dan Malaysia 1,75 juta ton.
Pada triwulan I-2025, kesejahteraan petani yang terindikasi dari nilai tukar petani (NTP) juga terjaga dengan baik. Hal ini seiring dengan kebijakan pemerintah menaikkan harga gabah kering panen (GKP) dan pembelian GKP berbagai kualitas pada panen raya padi pada Maret-April 2025.
BPS mencatat, NTP pada Januari-Maret 2025 sebesar 123,62, lebih tinggi dibandingkan NTP pada Januari-Maret 2024 sebesar 119,5. Namun, berdasarkan periode perbandingan yang sama, NTP Tanaman Pangan justru turun dari 116,91 menjadi 109,19.
Hal itu terjadi lantaran harga GKP di tingkat petani pada Januari-Maret 2024 sangat tinggi. Ini mengingat produksi padi secara nasional berkurang karena terdampak El Nino yang terjadi sekitar Juni 2023 hingga Mei 2024.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/76b2e0b574d624e5503f31a9b10a6168-Screenshot_2025_05_06_085352.png)
Kepala Badan Pangan Nasional Arief Prasetyo Adi, Selasa (6/5/2025), mengemukakan, menggeliatnya kinerja sektor pertanian juga tidak terlepas dari keberhasilan pemerintah menjaga harga GKP di tingkat petani. Pada 15 Januari 2025, pemerintah telah menaikkan harga GKP di tingkat petani dari Rp 6.000 per kg menjadi Rp 6.500 per kg.
”Presiden Prabowo Subianto bahkan mengeluarkan kebijakan harga pembelian pemerintah (HPP) GKP di tingkat petani tanpa rafaksi dan any quality (tanpa standar kualitas khusus) minimal Rp 6.500 per kg. Kebijakan itu tidak hanya berlaku bagi Perum Bulog, tetapi juga semua pelaku usaha penggilingan padi,” katanya.
Kebijakan itu tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 Tahun 2025 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Khusus CBP, Presiden juga telah memandatkan target pengadaan beras dalam negeri pada 2025 sebanyak 3 juta ton.
Selain itu, pemerintah menargetkan swasembada beras dapat tercapai pada 2027. Pemerintah juga berkomitmen tidak mengimpor beras pada 2025.
Seluruh capaian itu menandakan swasembada pangan nasional, terutama beras, benar-benar sudah di depan mata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/07/21e7493a5ace928ddb7392c773bc7123-IMG_20250407_WA0078.jpg)
Sejak awal Januari hingga 4 Mei 2025, stok CBP dan beras komersial di Bulog telah mencapai 3,5 juta ton. Dari jumlah itu, 1,8 juta ton merupakan hasil serapan gabah/beras dari dalam negeri.
Amran mengklaim, stok beras pemerintah itu tertinggi dalam 56 tahun terakhir atau sejak Bulog berdiri pada 1969. Bahkan, volume itu melampaui stok beras pada Januari-Mei 1984 yang sebanyak 3,03 juta ton.
Pada 1984, Presiden Soeharto berhasil membawa Indonesia mencapai swasembada beras. Keberhasilan itu membuat Indonesia menerima penghargaan dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) pada 1985.
”Waktu itu, jumlah penduduk Indonesia masih 169 juta jiwa. Sekitar empat dekade kemudian, dengan jumlah penduduk yang hampir dua kali lipat, yakni sekitar 280 juta jiwa, Indonesia berhasil memiliki CBP sebanyak 3,5 juta ton,” kata Amran.
Amran optimistis stok beras pemerintah dapat menembus 4 juta ton dalam 15-20 hari ke depan. Ia juga menegaskan, seluruh capaian itu menandakan swasembada pangan nasional, terutama beras, benar-benar sudah di depan mata.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/06/ea02304be1bb205e0475ae72ddcc79fe-Screenshot_2025_05_05_211804.png)
Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) Padi pada Mei 2025, BPS menyebutkan, produksi GKG dalam negeri diperkirakan naik 11,17 persen dari 29,3 juta ton pada Januari-Juni 2024 menjadi 32,57 juta ton pada 2025.
Euforia boleh saja. Namun, ingat, keberlanjutan produksi padi/beras perlu tetap dijaga. Ini mengingat Indonesia bakal memasuki musim paceklik mulai Juni 2025 dan potensi peningkatan produksi beras yang terjadi pada semester I-2025 juga karena cuaca normal.
Di samping itu, rencana pemerintah mengekspor beras perlu dihitung dan dipertimbangkan dengan matang. Pertimbangan itu jangan sekadar untuk memberikan akses pasar beras bagi Bulog yang memiliki stok beras yang melimpah.
Pertimbangan itu juga perlu mencakup mitigasi potensi terjadinya anomali cuaca dan menjaga daya beli masyarakat kelas bawah. Selain itu, Indonesia juga masih memerlukan stok beras untuk awal 2026.
Penulis:
Hendriyo WidiEditor:
FX Laksana Agung SaputraPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto