Lonjakan Harga Minyak Kembali Lemahkan IHSG dan Rupiah

Pasar keuangan RI dinilai ikut melemah karena efek jelang libur Lebaran yang tinggal menghitung hari.

13 Mar 2026 14:19 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Hendra A Setyawan

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Lonjakan harga minyak dunia akibat eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali membayangi pasar keuangan. Pasar saham dan rupiah melemah karena investor menghindari instrumen investasi berisiko.

Tim analis BRI Danareksa Sekuritas dalam laporan riset, Jumat (13/3/2026) siang, menyebutkan, kelanjutan konflik di kawasan Timur Tengah yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global membuat harga minyak mentah bergerak di atas level 100 dolar AS per barel.

Mengutip Trading Economics, dalam dua hari terakhir, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 9,7 persen ke harga 95 dolar AS per barel. Minyak mentah Brent yang juga jadi acuan harga minyak dunia melonjak 8,48 persen ke harga 100 dolar AS per barel, tertinggi sejak Agustus 2022.

Infografik Tren Harga Minyak Brent dan Nilai Tukar Rupiah

Bagi Indonesia yang masih berstatus net importer minyak, lonjakan harga energi dinilai dapat memperbesar biaya impor dan meningkatkan tekanan terhadap inflasi domestik.

Kondisi ini pada akhirnya berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap pergerakan rupiah. Siang ini, nilai tukar rupiah naik 0,21 persen secara harian dan 0,56 persen secara bulanan ke level Rp 16.945 per dolar AS.

”Arah rupiah ke depan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik dan dinamika harga energi global,” tulis tim riset BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya.

Di pasar global, sentimen kehati-hatian juga tecermin dari pergerakan bursa saham Amerika Serikat. Pada perdagangan Kamis (12/3/2026) waktu setempat, mayoritas indeks utama di Wall Street ditutup melemah.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 1,56 persen ke level 46.677,85. Sementara itu, indeks S&P 500 terkoreksi 1,52 persen ke posisi 6.672,62 dan indeks teknologi Nasdaq Composite melemah 1,78 persen menjadi 22.311,98.

IHSG

Tekanan di pasar global turut memengaruhi pergerakan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada penutupan perdagangan sesi I hari ini anjlok 1,81 persen ke level 7.228 setelah dibuka di level 7.338.

Nilai kapitalisasi pasar merosot menjadi Rp 12.891 triliun dengan penjualan bersih oleh asing (net sell) sebesar Rp 52 miliar. Secara sektoral, semua saham menunjukkan pelemahan. Indeks saham LQ45 pun melemah 1,89 persen.

Grafik perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sejak 25 Februari hingga 13 Maret 2026. IHSG pada Jumat (13/3) jatuh ke posisi di bawa 7.300, menjadi titik terendah sepanjang 2026 dengan pelemahan sekitar 16 persen.

Pelemahan ini berlanjut dari perdagangan Kamis, dengan IHSG ditutup melemah 0,37 persen ke level 7.362,1. Meski demikian, kemarin, investor asing masih mencatatkan pembelian bersih (net buy) sekitar Rp 905 miliar di pasar saham, dengan pembelian terbesar tercatat pada sejumlah saham sektor energi dan perbankan, seperti ADRO, AADI, BMRI, ITMG, dan BBCA.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan, pergerakan IHSG masih akan bergerak pada area batas bawah di kisaran 7.200-7.300. ”Ini terutama menjelang periode libur panjang pasar,” kata mereka.

Analis Phintraco Sekuritas juga menyoroti peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang menjadi pendorong utama lonjakan harga energi global. Jika konflik berlangsung dalam waktu lebih lama, pasar khawatir pasokan energi global akan semakin ketat.

Kondisi tersebut dapat memicu kenaikan harga energi lebih lanjut dan meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi perekonomian Indonesia, lonjakan harga minyak berpotensi memperbesar beban subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

”Jika tekanan harga berlangsung dalam periode panjang, risiko pelebaran defisit fiskal mendekati batas 3 persen terhadap produk domestik bruto dapat meningkat,” kata tim analis Phintraco.


Selain itu, tekanan eksternal juga dapat memicu pelemahan nilai tukar rupiah, terutama jika disertai arus keluar modal serta penguatan dolar AS di pasar global. Dalam skenario tersebut, nilai tukar rupiah bahkan berpotensi bergerak menuju kisaran Rp 17.000 per dolar AS.

Pelemahan rupiah akan meningkatkan biaya impor energi dan pada akhirnya memperdalam tekanan inflasi domestik.

”Di tengah kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah serta dinamika harga energi global yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan dan prospek ekonomi Indonesia dalam jangka pendek,” kata mereka.

Multiple exposurepergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup di level 7.337, melemah 3,27 persen. Anjloknya IHSG ini sudah terjadi sejak pagi dengan turun 5,41 persen atau melemah 410,73 poin ke level 7.174. Sepanjangan perdagangan pada hari ini IHSG terus melanjutkan tren pelemahan dengan penurunan terdalam menyentuh 7.156,68 dan tertinggi IHSG sempat menyentuh di level 7.403,73.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

09-03-2026

Senada, analis ekonomi dari Divisi Riset Bursa Efek Indonesia (BEI), Anita Kesia Zonebia, mengatakan, tekanan terhadap IHSG saat ini memang terlihat cukup signifikan ketika investor menghadapi ketidakpastian global ataupun domestik.

Data BEI menunjukkan, setidaknya sampai 11 Maret 2026, perubahan harga indeks RI menempati posisi terendah dibandingkan indeks 37 negara lain di dunia dengan pelemahan hingga 15 persen sejak awal tahun.

Pelemahan indeks dialami 13 negara dari jumlah tersebut, termasuk indeks bursa India (-9,8 persen), Jerman (-3,47 persen), dan US Dow Jones (-1,34 persen).

”Kondisi seperti ini biasanya membuat pelaku pasar mengambil sikap lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya,” katanya dalam acara Edukasi Wartawan Pasar Modal secara daring, Kamis (12/3/2026).

Efek libur Lebaran

Adapun bagi pasar Indonesia, pelemahan IHSG umum terjadi menjelang periode libur panjang seperti Idul Fitri. Sebagian pelaku pasar, ujar Anita, memilih mengurangi aktivitas perdagangan selama periode liburan yang relatif panjang.

”Memang menjelang Lebaran atau menjelang bukan hanya Lebaran, tapi hari-hari liburlah, ya. Memang investor itu agak sedikit istilahnya wait and see. Apalagi, itu di tengah-tengah volatilitas yang seperti ini. Mungkin nahan dulu, di periode liburan lumayan panjang nih,” tutur Anita.

Pada pekan keempat Maret 2026, akan ada libur Hari Suci Nyepi tahun baru Saka 1948 mulai tanggal 18 dan dilanjutkan dengan hari raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang diperkirakan jatuh antara 20 dan 22 Maret 2026.

BEI pun mengumumkan akan meliburkan perdagangan bursa pada 18-24 Maret, mengikuti kalender cuti bersama pemerintah.

Multiple exposure saat warga melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (9/3/2026). IHSG ditutup di level 7.337, melemah 3,27 persen. Anjloknya IHSG ini sudah terjadi sejak pagi dengan turun 5,41 persen atau melemah 410,73 poin ke level 7.174. Sepanjangan perdagangan pada hari ini IHSG terus melanjutkan tren pelemahan dengan penurunan terdalam menyentuh 7.156,68 dan tertinggi IHSG sempat menyentuh di level 7.403,73.



KOMPAS/FAKHRI FADLURROHMAN (FAK)

09-03-2026


Dalam kondisi ini, investor bisa menarik dananya di pasar saham untuk kebutuhan hari raya atau mengalokasikan aset ke instrumen investasi lainnya yang dianggap lebih rendah risiko dan volatilitasnya.

”Nah, kemudian nanti setelah melewati libur itu, mungkin akan lebih ada lagi dorongan untuk kemudian masuk dan bertransaksi lagi. Itu bisa jadi terjadi,” ucap Anita.

Ia menilai, meski IHSG melemah, fundamental domestik masih cukup kuat untuk menopang pasar saham. Kondisi ekonomi yang relatif baik, pertumbuhan jumlah investor yang terus meningkat, serta valuasi price to earnings (PE), atau harga saham saat ini dengan laba per saham, yang masih menarik dinilai dapat menjadi faktor yang berpotensi meningkatkan minat investor terhadap pasar saham Indonesia dalam jangka menengah.

Selain itu, investor asing, menurut dia, juga masih tertarik dengan pasar saham RI. Hal ini terindikasi meredanya net sell atau penjualan bersih oleh investor asing pada Februari dan Maret dibandingkan pada Januari karena imbas kebijakan lembaga penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).

”Setidaknya sebelum perang AS dan Iran, sudah terjadi net buy sekitar Rp 400 miliar di Februari. Di Maret, ada net sell, tapi minim di tengah volatilitas pasar keuangan global, setidaknya sampai 11 Maret. Selain itu, turnover investor asing masih terjaga di kisaran 13 persen. Produk-produk kita masih banyak yang laku, seperti basis komoditas penopang ekspor, di tengah inflasi kita yang masih terjaga,” tutur Anita.



Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Priskilia Bintang Cornelia Sitompul