Piala Afrika 2025 menjadi panggung pembuktian bagi tiga pemain hebat yang mulai disia-siakan klub mereka. Demi misi pembalasan, mereka targetkan trofi juara Afrika.
06 Jan 2026 08:32 WIB · Olahraga
AFP/SEBASTIEN BOZON
Bagi tim-tim Eropa, Piala Afrika 2025 yang digelar pada Desember 2025 hingga Januari 2026 adalah petaka yang mengganggu ritme klub di tengah berjalannya kompetisi. Hal berbeda justru dialami oleh sejumlah pemain. Tampil untuk negaranya menjadi kesempatan sejumlah pemain top menghirup ”udara” segar di luar lingkungan klub yang tidak ideal bagi mereka di musim ini.
Ademola Lookman, Mohamed Salah, dan Brahim Diaz merasakan itu. Drama nan kontroversi menyelimuti kiprah mereka bersama klub masing-masing pada paruh pertama kampanye kompetisi 2025-2026.
Kualitas mereka tidak perlu diragukan. Namun, keraguan tetap memayungi mereka sehingga pelatih di klub masing-masing tidak sepenuhnya bergantung lagi kepada mereka. Jika tidak terlalu kasar, mereka sudah disisihkan sebagai aktor utama klub dalam mengejar target.
Lookman, misalnya, merasakan periode terburuk dalam kariernya selama membela Atalanta sejak 2022-2023. Friksi dengan mantan Pelatih Atalanta, Ivan Juric, hingga kekecewaannya terhadap klub yang tidak mewujudkan transfer ke Inter Milan menjadi biang keladinya.
Alhasil, pemain tim nasional Nigeria itu lebih banyak ditepikan oleh Juric. Padahal, pada musim 2024-2025, Lookman menyumbang 20 gol dan enam asis dalam 40 penampilan bersama ”Si Dewi”, julukan Atalanta.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/06/99e4742798e7c5f24f70543abdb2ec28-wires_photo.jpg)
Kondisi itu mengganggu performa dan mental Lookman. Meskipun rerata durasi penampilannya masih tetap dalam kurun waktu 72 menit per gim pada musim ini, yang serupa dengan musim lalu, Lookman kehilangan sentuhan terbaiknya. Baru tiga gol dan sebuah asis dihasilkan dalam 16 laga.
Namun, takdir berbeda dialami Lookman ketika timnas Nigeria membutuhkan tenaganya untuk Piala Afrika 2025. Dalam tiga penampilannya di Maroko 2025, pemain berusia 28 tahun itu tidak pernah tampil mengecewakan.
Sebuah gol selalu disumbangkan pada tiga laga, termasuk ketika Nigeria melibas Mozambik 4-0 pada babak 16 besar, Selasa (6/1/2026) dini hari WIB, di Stadion Kompleks Olahraga Fes, kota Fez, Maroko.
Tidak hanya gol, Lookman adalah kreator bagi gol-gol rekan setimnya. Ia sudah menghasilkan empat asis yang dihasilkan pada dua laga terakhir kontra Mozambik dan Tunisia. Catatan gol dan asis itu sudah lebih banyak dibandingkan dengan persembahannya untuk Atalanta.
”Resolusi Tahun Baru saya adalah membawa medali emas Piala Afrika kembali ke Nigeria,” ucap Lookman, seperti dikutip media Nigeria, The Cable, menjelang duel kontra Mozambik. ”Si Elang”, sebutan Nigeria, terakhir kali dilabeli juara Afrika pada 2013.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/06/b0e4d335-411f-43a6-8d14-ed11d213fe84_jpg.jpg)
Sementara itu, Salah mengirimkan sinyal kepada Manajer Liverpool Arne Slot lewat performanya bersama timnas Mesir di Piala Afrika 2025. ”Raja Mesir” itu membuktikan dirinya masih memiliki insting tajam di muka gawang lawan.
Keahlian Salah, penyerang sayap berusia 33 tahun itu, menyumbang skor mulai diragukan Slot di bulan-bulan terakhir sebelum dirinya membela Mesir. Rentetan laga yang sebelumnya selalu menjadi pilihan utama, kini tidak lagi didapatkan Salah. Ia harus mulai ikhlas tampil dari bangku cadangan di Liverpool.
Namun, mental sebagai pesepak bola elite Salah berbicara lain di Maroko. Tiga penampilan selalu berbuah satu gol untuk Mesir. Termasuk, ia mengunci kemenangan dan tiket perempat final Mesir lewat gol ketiga timnya menghadapi Benin, Senin (5/1/2026), di Stadion Adrar, kota Agadir. Laga itu berakhir 3-1 untuk keunggulan Mesir.
Kepercayaan Pelatih Mesir Hossam Hassan dibalas dengan cara terbaik oleh Salah. Tempat utama dan ban kapten adalah bukti bahwa Salah adalah pemain terpenting bagi Mesir.
Situasi itu membuat tekad Salah membuncah untuk mengangkat derajat timnya di turnamen sepak bola Afrika itu. Meskipun sudah membawa Mesir lolos dua edisi Piala Dunia, yakni 2018 dan 2026, Salah belum mampu mempersembahkan trofi Piala Afrika.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/06/ebc7690e-3faf-4c88-a01b-be541fd79588_jpg.jpg)
Padahal, Mesir adalah tim tersukses dalam sejarah Piala Afrika berkat koleksi tujuh gelar juara. Kejayaan Mesir terakhir dirasakan pada edisi 2010.
”Saya tidak berpikir kami adalah favorit (untuk memenangi titel). Kami memiliki pemain-pemain muda yang mayoritas bermain di kompetisi domestik. Kami hanya berjuang untuk bangsa. Semua orang memberikan yang terbaik seperti pada hari ini,” kata Salah setelah laga kontra Benin.
Salah sudah mencetak 10 gol dari 22 laga di Piala Afrika. Ia hanya butuh tiga gol lagi untuk meneguhkan diri sebagai pemain tersubur Mesir di ajang itu. Rekor itu sementara masih dipegang Hassan El-Shazly, yang membela Mesir pada periode 1961 hingga 1975.
Kondisi serupa juga dialami oleh Brahim Diaz di timnas Maroko. Pemain asal Real Madrid itu memimpin sementara daftar pencetak gol Piala Afrika dengan empat gol.
Performanya selama empat laga Piala Afrika 2025 melejitkan pamornya di Maroko. Pendukung Maroko pun selalu menyanyikan namanya di empat pertandingan yang telah dijalani ”Singa Atlas”.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/01/06/2119f84d-6b25-4db6-988e-62842544d647_jpg.jpg)
Serupa dengan Lookman dan Salah, Diaz tampil konsisten dengan mencetak gol pada setiap pertandingan yang dijalaninya. Ia adalah penentu kemenangan Maroko atas Tanzania di babak 16 besar, Minggu (4/1/2026). Pada gim itu, Maroko unggul tipis 1-0 lewat gol tunggal pemain bernomor punggung 10 itu di menit ke-64.
Kebahagiaan yang dirasakan pendukung Maroko dari Diaz belum pernah dialami suporter Real di musim ini. Sejak ditangani Xabi Alonso, menit bermain Diaz menurun drastis.
Pada dua musim bersama Carlo Ancelotti, Diaz mencatatkan durasi bertanding rata-rata 45 menit per laga. Pada musim ini, ia hanya bermain 28 menit per gim. Bahkan, jumlah laga ketika dirinya tampil sebagai pemain utama Real di musim ini sudah setara dengan kuantitas penampilannya di Piala Afrika 2025, yakni empat gim.
Kepercayaan dan tanggung jawab besar yang berada di pundak ketika membela Maroko adalah hal yang diinginkan Diaz. Ia membuktikan bahwa dirinya bisa menjadi sosok penting bagi tim.
”Saya sangat merasa berada di rumah. Saya benar-benar nyaman. Dan, saya tahu bahwa orang-orang di sini (Maroko) mencintai saya,” tutur Diaz tentang kesannya membela Singa Atlas, dilansir Powers of Africa.
Diaz pun berambisi memberikan trofi Piala Afrika kedua untuk Maroko di hadapan pendukung sendiri. Pertama dan masih terakhir kali Maroko menjadi kampiun Afrika tercipta pada 1976.
Tiga pemain itu membuktikan bahwa kualitas mereka yang sesungguhnya akan optimal jika berada di tim yang percaya, yakin, dan mencintai keberadaan ketiganya. (REUTERS)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Emilius Caesar AlexeyPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto