Kiper-kiper Italia sudah sulit menjadi ”tuan rumah” di Liga Italia. Dominasi kiper asing kian menjamur di tengah paceklik regenerasi kiper berbakat Italia.
05 Jan 2026 15:48 WIB · Olahraga
AFP
Sejak dulu kala, berdekade-dekade sebelumnya, Liga Italia harum pamornya sebagai kompetisi yang menghasilkan kiper-kiper hebat. Mereka akan menjadi tulang punggung bagi tim nasional Italia di level internasional.
Sebut saja, Dino Zoff dan Gianluigi Buffon, lalu terkini Gianluigi Donnarumma adalah segelintir penjaga gawang kelas dunia yang lahir dari rahim pembinaan sepak bola Italia. Tiga kiper itu melejit berkat kepercayaan besar Italia terhadap produk lokal untuk mengisi pos pemain berlabel nomor satu di lapangan hijau.
Setelah Buffon pensiun, Donnarumma melanjutkan estafet sebagai kiper utama dan kapten ”Gli Azzurri”. Karier pemain lulusan Akademi AC Milan pun terbilang asing bagi kiper Italia. Ia memang sempat membela Milan, tetapi puncak keemasan kariernya justru dinikmati oleh dua klub kaya raya asing, Paris Saint-German di Perancis dan Manchester City di Inggris.
Ketika Donnarumma sudah nyaman mengukuhkan sebutan sebagai kiper terbaik dunia saat ini di luar negeri, Liga Italia justru mengalami kemandekan regenerasi kiper kelas dunia. Itu terlihat di Liga Italia edisi 2025-2026 ini.
Memasuki tahun baru 2026 dan jelang menyambut pertengahan musim pada pekan ke-19, tidak ada kiper-kiper Italia yang tampil cemerlang dan menjadi pengangkat performa timnya. Jangankan berbicara tentang kemampuan menjadi bintang klub, kiper-kiper Italia gagal menunjukkan performa individu menawan hingga pertengahan musim ini.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/8fc1485fcb4906db4da63fd82dc1dde8-TOPSHOT_FBL_ENG_PR_NEWCASTLE_MAN_CITY_134251118.jpg)
Sebagai gambaran awal, catatan statistik kiper dengan koleksi nirbobol dikuasai oleh kiper impor. Lima kiper terbaik, yang paling sedikit merasakan kemasukan di laga-laga Liga Italia, empat di antaranya berasal dari luar Italia.
Ivan Provedel, kiper Lazio, menjadi satu-satunya pemain asli Italia yang masuk dalam daftar itu. Provedel sudah sudah menjalani sembilan laga tak kemasukan dan baru menderita 14 kali gawangnya dibobol pemain lawan. Aksinya itu mencetak ekspektasi gol ke gawang Lazio sebesar 6,7 gol. Itu angka pencegahan gol tertinggi untuk kiper di Liga Italia edisi 2025-2026.
Adapun empat kiper lain dalam daftar itu berstatus pemain impor. Mereka adalah Jean Butez, kiper Como asal Perancis, yang menjalani delapan laga tak kemasukan. Kemudian, terdapat Mike Svilar (AS Roma/Serbia), Mike Maignan (AC Milan/Perancis), dan Yann Sommer (Inter Milan/Swiss) yang sama-sama mengoleksi catatan tujuh gim nirbobol.
Berlanjut ke dalam statistik tingkat penyelamatan, lagi-lagi hanya Provedel, kiper yang bisa bermain untuk timnas Italia, masuk dalam daftar lima terbaik. Svilar mengoleksi catatan penyelamatan tertinggi dari tembakan yang dihadapi. Ia mampu menghalau 83 persen tembakan lawan.
Provedel menyusul di posisi kedua dengan 82 persen. Kemudian, Emil Audero melejit di peringkat ketiga dengan 81 persen tingkat penyelamatan. Meskipun berstatus pemain homegrown atau lokal Italia, Audero sudah berstatus pemain timnas Indonesia.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/11/10/820b553d-9a77-4088-8b95-b8097b5b9555_jpg.jpg)
Daftar itu dilengkapi Butez dengan 81 persen, lalu Arijanet Muric, kiper Sassuolo asal Kosovo, dengan 76 persen tingkat penyelamatan.
Berlanjut ke tingkat penyelamatan per 90 menit. Audero memimpin daftar itu dengan 4,3 penyelamatan per gim. Elia Caprile, kiper muda Italia yang membela Cagliari, masuk dalam daftar dengan 3,8 penyelamatan per gim.
Provedel dan Muric sama-sama mencatatkan 3,6 penyelamatan di setiap pertandingan dalam 18 penampilan. Kemudian, Adrian Semper, kiper Pisa asal Kroasia, konsisten melakukan 3,4 penyelamatan per laga.
Untuk urusan mencegah gol, Provedel masih yang terbaik. Ia disusul Svilar (6,2 expected goals against/xGA), Caprile (5,9 xGA), Maignan (4,5 xGA), dan Muric (3,3 xGA).
Secara total, sudah 27 kiper merumput untuk membela 20 tim terbaik Italia hingga pekan ke-18. Kiper asal Italia dapat disebut inferior dalam sisi kuantitas. Pasalnya, hanya 11 kiper Italia yang sudah bermain.
Angka itu setara dengan 41 persen dari jumlah kiper yang sudah tampil. Jumlah itu amat sedikit, apalagi jika dibandingkan dengan catatan statistik yang menjadi rujukan performa kiper dalam pekan demi pekan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/27/26873904dc070a74f089021e676e25ab-FBL_ITA_SERIE_A_LAZIO_CREMONESE_134846736.jpg)
Provedel paling konsisten menduduki daftar teratas kiper lokal Italia dengan catatan statistik paling mentereng. Namun, Provedel belum masuk dalam kualitas yang layak untuk berseragam Gli Azzurri, apalagi menggeser Donnarumma dari predikat kiper utama Italia untuk menghadapi playoff kualifikasi Piala Dunia 2026, Maret mendatang.
Deputi Donnarumma pun kiper yang berkarier di Inggris, yakni Guglielmo Vicario, andalan Tottenham Hotspur. Selain dua kiper itu, Pelatih timnas Italia Gennaro Gattuso lebih memilih untuk memanggil Marco Carnesecchi (Atalanta), Alex Meret (Napoli), atau Caprile.
Dari segi usia, tiga kiper pelapis timnas Italia itu masih lebih muda dari Provedel yang akan berusia 32 tahun pada Maret 2026. Carnesecchi dan Caprile masing-masing berusia 25 dan 24 tahun, sedangkan Meret berumur 28 tahun. Namun, ketiganya belum tampil menjanjikan di Liga Italia. Meret pun masih dibekap cedera.
Sebenarnya, Italia masih memiliki Michele Di Gregorio yang memperkuat Juventus. Kenyataannya, Di Gregorio belum mampu memenuhi ekspektasi besar bahwa Juve selalu diperkuat kiper Italia terbaik dalam setiap generasi.
Padahal, pada dekade 1990-an, pelatih timnas Italia tidak pusing memilih kiper. Bahkan, kiper-kiper memiliki giliran untuk menjadi pilihan utama untuk tampil di turnamen internasional, seperti Piala Dunia dan Piala Eropa. Mereka ialah Angelo Peruzzi, Gianluca Pagliuca, Francesco Toldo, dan Walter Zenga.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/05/64e18fec1ebd73a9c7abd82f622146ae-FBL_ENG_PR_BRENTFORD_TOTTENHAM_135005717.jpg)
Kini, tim-tim Italia sampai mengimpor kiper-kiper negara yang kurang memiliki tradisi kiper fantastis. Sebut saja, Zion Suzuki, kiper Parma asal Jepang; Madura Okoye, kiper Udinese kelahiran Nigeria; serta Muric yang berpaspor Kosovo.
Siapa yang bisa meruntuhkan predikat kiper terbaik Italia dari Donnarumma? Tampaknya, hal itu belum akan terjadi sampai satu dekade mendatang.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra