Mahakarya Luis Enrique Lahirkan PSG yang Tak Tertandingi

PSG menjadi tim kesembilan meraih ”treble winner” di Eropa. Dengan skuad muda, PSG berpeluang semakin banyak meraih kejayaan di musim-musim mendatang.

01 Jun 2025 08:45 WIB · Olahraga

Oleh Muhammad Ikhsan Mahar

Butuh waktu 54 tahun dan 14 tahun dikuasai Investasi Olahraga Qatar (QSI) bagi Paris Saint-Germain untuk mengangkat trofi Liga Champions perdana. Tidak hanya menyematkan predikat raja Eropa pertama kali, ”Les Parisiens” juga menjadi tim kesembilan yang meraih tiga trofi mayor dalam satu musim kompetisi.

PSG perlu mengangkat 30 pelatih kepala tetap untuk mengantarkan mereka ke podium juara Liga Champions. Juru taktik asal Spanyol Luis Enrique merupakan sosok pelatih yang akan abadi masuk dalam hall of fame sejarah PSG.

Pada musim kedua di Paris, Enrique mengukuhkan PSG sebagai juara Eropa sekaligus tim dominan baru di dunia. Liga Perancis, Piala Liga Perancis, dan Liga Champions merupakan trofi yang diangkat Marquinhos, kapten PSG, pada bulan terakhir musim 2024-2025.

Inter Milan di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB, menjadi saksi kekuatan tak tertandingi PSG. ”I Nerazzurri” yang berpengalaman dengan rerata usia 11 pemain utama mencapai 30,3 tahun tak berdaya menghadapi anak-anak muda klub ibu kota Perancis yang berusia rata-rata 24,8 tahun.

Bahkan, dua pemain remaja, Dasire Doue dan Senny Mayulu, masuk dalam papan skor. Doue, khususnya, dinobatkan pula sebagai pemain terbaik laga final Liga Champions 2024-2025 berkat performa fantastis melalui torehan dua gol dan sebuah asis.

Penyerang Paris Saint-Germain Desire Doue mencetak gol ke gawang Inter Milan pada laga final Liga Champions di Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB. PSG juara setelah menang dengan skor 5-0.

Penampilan Doue dan Mayulu merupakan hasil kepercayaan Enrique kepada pemain-pemain muda. Ketika mengasuh tim nasional Spanyol, Enrique memberikan kesempatan debut kepada lima pemain berusia di bawah 20 tahun pada ajang Piala Dunia.

Hal serupa juga dilanjutkan Enrique ketika menangani PSG sejak musim panas 2023. Sembilan pemain berusia maksimal 20 tahun mendapat kepercayaan debut mengenakan seragam Les Parisiens di kompetisi resmi.

Pada laga final Liga Champions keduanya sebagai pelatih, Enrique menurunkan lima pemain inti berusia di bawah rata-rata umur skuad. Mereka adalah Doue (19), Joao Neves (20), Nuno Mendes (22), Willian Pacho (23), dan Kvicha Kvaratskhelia (24).

Selanjutnya, tiga pemain di bawah usia 23 tahun juga masuk di babak kedua. Mayulu (19), Bradley Barcola (22), dan Warren Zaire-Emery (19) kian melengkapi kesan skuad muda PSG yang menaklukkan Eropa, juga Perancis.

”Musim ini kami memiliki banyak pemain muda, dan itu tidak mudah,” ucap Enrique dilansir laman UEFA tentang skuad mudanya.

Gaya pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique saat mendampingi pasukannya pada laga final Liga Champions melawan Inter Milan di Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.

Melawan keraguan

Jika memutar waktu ke bulan Desember 2024, tidak ada satu pun pihak, termasuk pendukung PSG, yang percaya bahwa tim asuhan Enrique memiliki ambisi menyapu bersih gelar juara di musim 2024-2025. Meskipun tampil tak terbendung di Perancis, Les Parisiens tertatih-tatih di babak pendahuluan Liga Champions.

Titik balik PSG tercipta ketika menaklukkan Manchester City 4-2 pada gim ketujuh fase penyisihan, 23 Januari 2025. Mereka lolos ke babak playoff fase gugur Liga Champions dengan berada di peringkat ke-15.

Memasuki babak 16 besar, PSG sudah sulit ditandingi. Tiga tim Inggris dihempaskan PSG. Liverpool, Aston Villa, dan Arsenal merasakan superioritas anak-anak muda PSG yang semakin matang pada paruh kedua musim ini.

Mereka memiliki kecepatan luar biasa, hasrat bermain yang besar, dan pergerakan dinamis yang sulit dihentikan tim-tim lain. Tiga dari lima gol ke gawang Inter disarangkan melalui kecakapan mereka melakukan transisi positif efektif.

PSG menutup Liga Champions dengan koleksi 38 gol, mengkreasi 71 peluang, melakukan 556 operan sukses, melepaskan 19 tembakan per gim, hasilkan 12 dribel sukses per laga, 61,6 persen penguasaan bola, serta tujuh gim nirbobol. Catatan statistik itu membuktikan pula PSG juara dengan ambisi mendominasi lawan.

Germany Soccer Champions League Final

”Banyak pemain muda itu semakin matang dan menjadi penentu di gim final. Secara bertahan, kami juga melakukan dengan baik,” tutur Enrique.

Gianluigi Donnarumma, kiper PSG, mengungkapkan rahasia skuad muda PSG bisa mencapai puncak Eropa dan Perancis. Enrique, kata kiper asal Italia itu, selalu menyajikan perhatian terhadap detail dalam persiapan setiap pertandingan.

”Pelatih memberikan kami kebebasan dan membantu kami tetap tenang. Ini filosofi miliknya. Ia mempersiapkan final dengan cara terbaik. Kami merasakan itu sejak menit pertama,” ucap Donnarumma yang sudah lebih baik dari idolanya, Gianluigi Buffon, berkat raihan Liga Champions.

Rio Ferdinand, eks pemain Manchester United dan timnas Inggris, dalam ulasannya bersama TNT Sports, angkat topi dengan kerja keras Enrique untuk membentuk PSG menjadi skuad terbaik di Eropa pada musim ini. Pada partai puncak, lanjut Ferdinand, PSG menampilkan performa klimaks yang menegaskan perkembangan signifikan tim secara kolektif.

”PSG sangat dominan. Mereka seperti bermain dengan mempertaruhkan hidup mereka dan para pemain menyalakan mode pembunuh. Performa yang luar biasa untuk gim sebesar laga final. Saya belum pernah melihat tim sedominan ini di final Liga Champions,” tutur Ferdinand.

Pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique (kanan) bersama keluarganya berpose dengan trofi Liga Champions usai laga final di Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.

Enrique sudah menyamai prestasi sahabatnya, Pep Guardiola, dengan meraih treble winner bersama dua tim berbeda. Jika Guardiola melakukan bersama Barcelona dan Manchester City, Enrique mempersembahkan tiga gelar mayor dalam semusim untuk Barca dan PSG.

Namun, skuad muda PSG belum berpuas diri. Gelar Liga Champions 2024-2025 baru permulaan bagi kelahiran tim dominan baru di Eropa. Itu terlihat dengan goresan sejarah baru dalam final Liga Champions. Belum ada tim yang mampu unggul lima gol dalam laga perebutan trofi Si Kuping Besar.

Piala Dunia Antarklub 2025 dan Piala Super Eropa 2025 akan menjadi dua trofi terdekat yang bisa diraih Les Parisien setelah malam menakjubkan di Muenchen. Allez, Paris!


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Ikhsan Mahar
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari