Kesuksesan Revolusi Senyap Luis Enrique

Kehilangan para megabintang tidak lantas membuat Paris Saint-Germain melemah. Luis Enrique mengatasinya dengan merevolusi PSG menjadi kesatuan unit yang kohesif.

01 Jun 2025 07:03 WIB · Olahraga

Oleh I Gusti Agung Bagus Angga Putra

Keberhasilan mengantarkan Paris Saint-Germain menjuarai Liga Champions Eropa untuk pertama kali sepanjang sejarah sekaligus membuktikan kemenangan ide Luis Enrique. Pelatih asal Spanyol itu selalu percaya bakat individu tidak jauh lebih tinggi dibandingkan kolektivitas tim. Bersandar pada ide tersebut, sejak musim lalu, Enrique memulai proyek revolusi senyap di PSG.

Kota Muenchen sekali lagi menunjukkan tuahnya dengan melahirkan juara baru Liga Champions. PSG menyusul Nottingham Forest, Olympique Marseille, dan Borussia Dortmund, dan Chelsea yang merayakan gelar juara pertama di kota tersebut. PSG tidak hanya juara, tetapi juga berpesta gol, 5-0, ke gawang Inter Milan, pada laga yang berlangsung di Stadion Allianz Arena, Muenchen, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.

Perjalanan PSG menjuarai Liga Champions begitu terjal. Mereka harus bersusah payah mencapai babak gugur dengan melalui babak playoff. Setelah lolos, PSG bertemu dengan lawan-lawan berat dari Liga Inggris, seperti Liverpool, Arsenal, dan Aston Villa. Namun, semua rintangan itu mereka lalui dengan mulus. Tidak hanya itu, PSG menjadikan panggung megah final layaknya taman bermain dengan membuat Inter sama sekali gagal mengembangkan permainan.

Semua itu diraih berkat proyek revolusi senyap Enrique sejak ditunjuk menangani PSG pada 2023. Sebelum Enrique tiba di Paris, PSG dikenal sebagai tim yang identik dengan pemain-pemain megabintang.

Dengan sokongan dana dari Qatar Sports Investment, PSG bisa begitu mudahnya mendaratkan megabintang yang mereka inginkan seperti Edinson Cavani, Neymar, Zlatan Ibrahimovic, Lionel Messi, dan Kylian Mbappe.

Ironisnya, para pemain megabintang itu tidak pernah mengantarkan PSG kepada mimpi terbesarnya, memenangi Liga Champions. Keterampilan individu pemain megabintang tersebut hanya sebatas mengantarkan PSG meraih kejayaan domestik. Padahal, Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi rela menggelontorkan uang banyak tidak lain untuk membuat PSG menguasai Eropa, bukan hanya Perancis.

Pemilik PSG Nasser bin Ghanim Al-Khelaifi mencium trofi setelah pertandingan final Liga Champions antara Paris Saint-Germain dan Inter Milan di Allianz Arena di Munich, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB.

Enrique mencoba mengubah paradigma yang sejak lama identik dengan PSG. Sebelum menerima tawaran melatih PSG, ia mengajukan satu syarat, yaitu diizinkan membangun tim sesuai keinginannya tanpa campur tangan petinggi klub. Dengan syarat itu, Enrique hendak membuang kecenderungan lama PSG yang mengutamakan bakat individu di atas kolektivitas tim.

Menurut dia, kejayaan lebih mungkin diraih dengan kolektivitas tim, alih-alih hanya mengandalkan talenta para pemain megabintang. Itulah sebabnya kepergian Messi, Neymar, dan Mbappe tidak berakhir bencana bagi PSG. Kehilangan itu justru menjadi sebuah anugerah bagi Enrique.

”Permainan kami bukan tentang membiarkan Mbappe melakukan apa yang dia inginkan. Itu adalah filosofi lama (klub), yang tidak pernah memenangi trofi utama,” kata Enrique.

Enrique kemudian bekerja memulai proyek revolusi senyap tanpa pemain megabintang di timnya. Ia membangun tim di mana kerja sama menjadi yang esensial.

Bersamaan dengan itu, Enrique memantik dinamika di mana mobilitas dan kemampuan beradaptasi pemain menjadi hal utama. Setiap pemain dapat menempati peran yang berbeda sesuai dengan kebutuhan pertandingan. Hal itu membuat PSG sulit diterka oleh lawan-lawannya.

”Tim memulai musim dengan prinsip-prinsip yang sudah diasimilasi dengan baik, dan pelatih mencoba memasukkan lebih banyak mobilitas. Saat ini, pemain nomor 6 bisa menjadi pemain nomor 8, pemain nomor 8 bisa menjadi pemain nomor 10, pemain nomor 10 bisa menjadi pemain nomor 6 dan dengan para penyerang,” kata gelandang PSG, Vitinha, dikutip dari RMC Sport.

”Anda tidak pernah tahu apakah mereka ada di kiri, kanan, atau di tengah. Ini sangat sulit (ditebak) bagi lawan. Pelatih mencoba menerapkannya dan saya pikir itulah kuncinya. Ini sangat sulit bagi tim lain (untuk memilih), apakah akan menekan satu lawan satu atau tidak menekan dan memilih untuk tetap berada di blok rendah,” tambah Vitinha.

Pelatih kepala PSG Luis Enrique dan pemain Vitinha, kiri, dan Ousmane Dembele melihat trofi di akhir pertandingan final Liga Champions antara Paris Saint-Germain dan Inter Milan di Allianz Arena di Munich, Jerman, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB

Fleksibilitas itu dipadukan dengan tuntutan komitmen pertahanan total, terutama dari para penyerang. Di bawah arahan Enrique, PSG menjelma menjadi tim yang sangat agresif dalam menekan. Sebagaimana laga final melawan Inter, sejak menit pertama para penyerang PSG tidak membiarkan lawan leluasa membangun serangan dari lini pertahanan. Khvicha Kvaratskhelia, Ousmane Dembele, dan Desire Doue agresif mengganggu bek Inter.

Sangat langka melihat betapa seluruh penyerang bekerja keras membantu pertahanan sejak garis terdepan. Biasanya, pemain depan memiliki kecenderungan pola pikir bahwa dirinya hanya bertugas saat menyerang. Sedangkan tugas bertahan adalah pekerjaan gelandang dan bek.

Kecenderungan pola pikir itu semakin mungkin terwujud bila sang penyerang merupakan seorang megabintang. Tujuannya semata hanya untuk mencetak gol serta menjadikan dirinya pahlawan kemenangan tim, tanpa mau tahu terkait tugas bersama dalam pertahanan.

Enrique mengantisipasi situasi tersebut. Ia menanamkan kepada para pemain bahwa bertahan pun merupakan tugas para penyerang. Tanpa dukungan penyerang dalam bertahan, tugas menghalau serangan lawan akan menjadi lebih sulit bagi gelandang dan bek.

Secara garis besar, pola dasar permainan Enrique adalah bermain atraktif mengandalkan energi para pemain mudanya. Ia menginstruksikan para pemainnya menekan lawan secara agresif saat sedang tidak menguasai bola.

Gaya permainan ini telah menjadi salah satu ciri khas PSG musim ini. Para penyerang dengan didukung gelandang mengerumuni lawan yang sedang menguasai bola untuk memutus upaya membangun serangan. Di sisi lain, para pemain sayap bermanuver tanpa disadari pemain lawan.

”Anda dapat melihat seberapa banyak (para penyerang kami) merebut bola. Ini adalah salah satu konsep yang paling sulit ditanamkan karena para penyerang harus mengubah pola pikir mereka. Ini tentang bekerja sebagai satu tim. Kami melakukannya musim lalu, tetapi kami lebih baik tahun ini,” ujar Enrique.

Pelatih Paris Saint-Germain asal Spanyol Luis Enrique (tengah) mengangkat trofi saat merayakan kemenangan bersama para pemain Paris Saint-Germain setelah pertandingan final Liga Champions UEFA antara Paris Saint-Germain (PSG) dan Inter Milan di Munich, Jerman selatan, Minggu (1/6/2025) dini hari WIB

Berkat cara bermain agresif seperti itu, lawan menjadi semakin sulit berpikir dan melepaskan diri dari tekanan. Gelandang PSG, Joao Neves, mengungkapkan, Enrique melatih para pemain agar sesegera mungkin merebut bola kembali (recovery). Gambaran kasarnya adalah para pemain harus memberikan 100 persen kemampuan saat menyerang, tetapi mengerahkan 120 persen upaya saat merebut bola dari lawan.

”Bagi tim yang kami lawan, sangat sulit jika mereka merebut bola dan kemudian kehilangan bola lagi. Jadi, bagian permainan itu sangat memuaskan untuk dilakukan. Semakin sedikit waktu yang mereka miliki untuk bernapas, semakin baik bagi kita,” kata Neves. 

Gaya bermain Enrique, sebagaimana diuraikan Neves, amat membutuhkan kolektivitas tim. Untuk itulah dapat dipahami mengapa Enrique mengajukan syarat agar dibebaskan membentuk tim sesuai keinginannya. Dengan kewenangan tersebut, Enrique berupaya merevolusi pemahaman lama PSG yang mengira bisa meraih kejayaan dengan kualitas satu atau dua pemain saja.

(AP)


Kerabat Kerja

Penulis:

I Gusti Agung Bagus Angga Putra
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari