Luruhnya Ekspektasi ”January Effect” di Pasar Saham 2025

Pasar saham Indonesia masih kehilangan dana asing yang keluar karena ketidakpastian ekonomi global.

07 Jan 2025 14:19 WIB · Ekonomi

Oleh Erika Kurnia

JAKARTA, KOMPAS — Fenomena kenaikan harga saham pada bulan Januari yang dinantikan oleh investor belum terlihat di awal tahun 2025. Pasar saham Indonesia masih mengalami tekanan akibat keluarnya dana asing yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (6/1/2025) ditutup di level 7.080. Padahal, pada perdagangan akhir pekan lalu, Jumat (3/1/2025), IHSG ditutup positif di level 7.164 atau menguat 1,82 persen dalam seminggu, sementara pada periode sama aktivitas jual bersih oleh investor asing sebesar Rp 817,08 miliar.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Dimas Krisna Ramadhani, dalam analisisnya membaca, IHSG memiliki potensi penguatan hingga level 7.290-7.300. Sayangnya, gagalnya IHSG masuk ke posisi itu membuka peluang IHSG untuk melanjutkan tren penurunan sejak September 2024.

”Jika melihat data foreign flow yang masih mencatatkan outflow di pasar reguler hingga perdagangan terakhir, probabilitas lebih besar untuk IHSG melanjutkan downtrend-nya sejak September,” ujarnya.

Tren pertumbuhan IHSG bulanan pada periode 2004-2024.

Investor asing masih menanti data dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat. Pada Kamis (9/1/2025), bank sentral AS, The Federal Reserve, mengadakan pertemuan yang akan membahas kemungkinan hasil keputusan suku bunga yang akan diumumkan pada 30 Januari mendatang.

Umumnya, ketika outlook terhadap kondisi ekonomi AS dan keputusan suku bunga disampaikan pada FOMC Minutes akan berpengaruh terhadap pergerakan market saham, baik di AS maupun global.

Data ekonomi AS, seperti data ketenagakerjaan dan Non-Farm Payrolls Desember, akan memberikan gambaran kondisi ekonomi AS. Berdasarkan konsensusnya, jumlah lapangan pekerjaan di luar pertanian untuk bulan Desember akan mencatatkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan bulan sebelumnya. Non-Farm Payrolls Desember diperkirakan akan mencatatkan lapangan pekerjaan sekitar 150.000 dibandingkan bulan November yang sebanyak 227.000.

Sentimen ini, menurut Dimas, membuat momen ”January Effect” berpeluang kecil terjadi. Fenomena ini terjadi ketika harga saham pada dua minggu pertama atau sepanjang Januari akan mengalami kenaikan.

Melihat data yang ada hingga perdagangan terakhir di minggu lalu, kata Dimas, probabilitas terjadinya fenomena musiman ini cenderung kecil. Hal ini juga didukung data historis pada Januari antara 2020 dan 2024, di mana hanya terdapat satu kali kenaikan, yaitu pada 2022.

”Artinya, probabilitas IHSG berakhir di zona hijau pada bulan Januari hanya sebesar 20 persen jika kita tarik data kinerja bulanan Januari dalam lima tahun terakhir,” ujarnya.

Namun, ia melanjutkan, bukan tidak mungkin penguatan dapat terjadi di IHSG mulai dari minggu ini. Hal ini dapat terjadi karena siklus pergerakan sebuah saham atau indeks yang sudah bergerak konsisten turun sejak empat bulan terakhir dapat berubah.

Hasil survei pelaku pasar oleh Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) dan CSA Community bertajuk ”CSA Index untuk Januari 2025”, yang dirilis Senin (6/1/2025), menunjukkan ada optimisme perbaikan IHSG sejak Agustus 2024, didorong oleh ekspektasi bahwa fenomena ”January Effect” akan meningkatkan aktivitas beli di pasar saham pada awal tahun dan mendorong IHSG ke level yang lebih tinggi.

Mereka mencatat, beberapa faktor dapat memengaruhi pergerakan IHSG, termasuk kebijakan fiskal dan moneter pemerintah serta Bank Indonesia, seperti pembatalan rencana kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi 12 persen secara umum. Selain itu, data inflasi dan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang positif pada Desember 2024 turut memberikan sentimen baik bagi pasar, mencerminkan stabilitas ekonomi Indonesia.

Indikator domestik lain, seperti pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2024, inflasi yang terkendali, dan cadangan devisa yang stabil, diharapkan menjadi katalis positif bagi IHSG. Pergerakan suku bunga dan nilai tukar juga turut memengaruhi. Dengan tingkat inflasi yang rendah, peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunga acuan menjadi lebih besar.

Peresmian Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2025, di Jakarta, Kamis (2/1/2025).

Namun, pelemahan nilai tukar rupiah belakangan ini dapat menjadi pertimbangan dalam kebijakan suku bunga. Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat menguntungkan sektor-sektor berorientasi ekspor, seperti pertanian, pertambangan, dan manufaktur. Dari aspek global, tingginya tensi geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia turut memberi sentimen negatif bagi IHSG.

Mencermati sektor-sektor yang akan menjadi penggerak utama untuk IHSG awal tahun ini, CSA Index mencatat, sektor keuangan menjadi pilihan utama pelaku pasar. Hasil ini sejalan dengan tren yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir di mana sektor keuangan selalu menjadi pilihan utama dan diikuti dengan sektor energi.

”Pelaku pasar menganggap kedua sektor ini dapat menjadi sektor pilihan investasi karena banyak pilihan emiten dengan kapitalisasi pasar yang tinggi di sektor ini. Selain itu, sektor ini cenderung menjadi motor utama penggerak IHSG,” kata mereka.


Kerabat Kerja

Penulis:

Erika Kurnia
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan