Jalan timnas sepak bola putri Indonesia untuk lolos ke Piala Asia 2026 tidak mudah. Mereka harus segera bangkit dan berjuang lagi lawan tim kuat Taiwan.
04 Jul 2025 12:56 WIB · Olahraga
TANGERANG, KOMPAS — Tim nasional sepak bola putri Indonesia hanya punya satu kesempatan tersisa untuk bisa menyabet tiket ke Piala Asia 2026. Kendati berat karena harus menghadapi lawan paling kuat di grup, Taiwan, ”Garuda Pertiwi” tidak boleh gentar. Mereka harus segera bangkit dari kekalahan menyakitkan sebelumnya dan berjuang keras lagi.
Timnas putri wajib tampil habis-habisan saat melawan Taiwan pada laga pamungkas Grup D kualifikasi Piala Asia 2026, di Stadion Indomilk Arena, Kabupaten Tangerang, Banten, Sabtu (5/7/2025) pukul 20.00 WIB. Shafira Ika dan kawan-kawan mesti mengeluarkan performa maksimal demi meraih kemenangan.
Tiga poin dengan skor yang signifikan menjadi keharusan bagi Indonesia jika ingin mewujudkan impian kembali berlaga di Piala Asia tanpa tergantung laga lain. Hanya ini satu-satunya kesempatan yang tersisa bagi Garuda Pertiwi.
”Kami ingin menyiapkan diri, walaupun kemungkinannya kecil, tapi kami tetap ingin siap untuk laga selanjutnya,” kata Pelatih Satoru Mochizuki soal melawan Taiwan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/22d77171a31b5b810b87b248ea44f4a6-20250702YGA02.jpg)
Seperti Mochhizuki sampaikan, peluangnya kecil. Sebab, Taiwan adalah tim terkuat di grup yang telah mengoleksi dua kemenangan. Setelah menang telak atas Pakistan dengan skor 8-0, mereka menaklukkan Kirgistan, 3-0.
Dua kemenangan beruntun itu membawa Taiwan kokoh di puncak klasemen dengan koleksi enam poin. Disusul oleh Pakistan dan Indonesia yang sama-sama memiliki tiga poin, hasil dari satu kemenangan dari dua pertandingan yang dijalani.
Indonesia tercatat pernah bertemu dengan Taiwan di Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Saat itu, Garuda Pertiwi kalah, 0-4, setelah tertekan sepanjang laga dan sering kalah dalam duel udara.
Taiwan juga punya jejak yang bagus di kualifikasi Piala Asia. Mereka lolos di Piala Asia edisi sebelumnya pada 2022 setelah mengamankan dua kemenangan dan menjadi juara Grup A.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/d1cfe17aff17ddd81d1acdd5e6b982d7-20250702YGA13.jpg)
Saat putaran final, Taiwan tak hanya sekadar berpartisipasi. Mereka mampu lolos ke fase gugur bersama China setelah finis kedua di penyisihan grup, lolos bersama China. Langkah Taiwan terhenti pada perempat final setelah kalah adu penalti dengan Filipina.
Adapun Indonesia menjadi lumbung gol lawan di Piala Asia 2022 yang digelar di India itu. Dari tiga pertandingan, Garuda Pertiwi kalah dengan skor 0-18 dari Australia, 0-4 dari Thailand, dan 0-6 dari Filipina. Mereka pun harus puas hanya jadi juru kunci grup.
Walakin, Indonesia bertekad untuk kembali tampil di turnamen level Asia itu. Hanya ada satu tiket ke Piala Asia untuk setiap grup yang berlaga di kualifikasi.
Artinya, hanya tim terbaik atau yang memuncaki klasemen yang berhak lolos ke turnamen level Asia itu menyusul Australia, China, Korea Selatan, dan Jepang, yang lolos langsung sebagai ruan rumah dan tiga besar edisi sebelumnya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/5de31b928985f79263bf941ce914433c-20250702YGA01.jpg)
Dengan kekalahan 0-2 dari Pakistan pada laga sebelumnya, langkah Indonesia ke Piala Asia menjadi terjal. Mereka tidak hanya harus menang pada laga terakhir kontra Taiwan, tetapi juga harus berharap Pakistan tidak mengalahkan Kirgistan. Artinya, Indonesia akan menggantungkan nasib pada laga lain yang digelar lebih dulu pada hari yang sama.
Apabila Pakistan menang atas Kirgistan, Indonesia wajib menang atas Taiwan dengan skor besar minimal selisih enam gol atas Taiwan. Sebab, Indonesia, Pakistan, dan Taiwan akan sama-sama mengoleksi enam poin dan keunggulan akan ditentukan dengan selisih gol.
Mochizuki mengaku akan fokus pada taktik dan mental pemain saat melawan Taiwan. Kekalahan dari Pakistan bukan hal yang mudah diterima, tetapi pemain harus didorong untuk bisa bangkit lebih kuat.
”Baik taktik ataupun mental, tentu saja akan jadi fokus kami. Apalagi Taiwan adalah lawan yang paling kuat di grup. Kami akan mencoba bermain dengan baik agar bisa lolos ke Asia,” kata Mochizuki.
Kiper timnas, Iris De Rouw, mengatakan, rekan setimnya tidak bisa menahan kesedihan karena kalah dari Pakistan. Iris pun menangis ketika memasuki ruang ganti pemain selepas laga.
Meski begitu, pemain yang baru dinaturalisasi pada pertengahan Juni ini juga terus berkata kepada rekan setimnya untuk tidak menyerah. ”Kami harus terus berjuang. Mungkin saat ini terasa hampa. Namun, kami harus terus maju, tetap tegakkan kepala untuk laga selanjutnya,” kata kiper kelahiran Rotterdam, Belanda, ini.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/03/bbd9828f980b358caaa87315c27ab68e-20250702YGA09.jpg)
Para pemain Indonesia memang harus bisa menata kembali semangat dan mentalitas mereka pada laga terakhir meski kekalahan dari Pakistan menyakitkan. Indonesia justru bisa belajar dari Pakistan yang mampu bangkit dari kekalahan telak, 0-8, melawam Taiwan.
Kapten Pakistan, Maria Khan, mengatakan, kekalahan dari Taiwan sempat membuat mereka terpuruk. Namun, di antara pilihan untuk terus mengasihani diri sendiri atau menegakkan kepala dan bangkit, timnas Pakistan memilih yang kedua.
”Setelah melawan Taiwan, kami bersatu, mencoba untuk, sekali lagi, saling mendukung, dan pesan kami di awal pertandingan adalah, apa pun yang terjadi, kami akan tetap bersama. Dan itu benar-benar terlihat melawan Indonesia di lapangan,” kata Maria Khan.
”Semua orang melakukan tugas dan peranan mereka dan semua orang bertanggung jawab dan saya pikir itulah hal utama dalam momen kebangkitan kami,” ujarnya lagi.
Pada kualifikasi Piala Asia 2022, Indonesia bisa dibilang beruntung karena salah satu lawan di Grup C, Korea Utara, mengundurkan diri akibat kondisi pandemi Covid-19. Padahal, Korea Utara merupakan salah satu tim terkuat yang saat itu menyandang predikat juara edisi 2001, 2003, dan 2008.
Selain Korea Utara, Irak juga mundur 16 hari sebelum babak kualifikasi dimulai. Alhasil, Indonesia hanya perlu menumbangkan Singapura dalam dua laga untuk mengunci posisi puncak Grup C. Indonesia sukses menuntaskan tugas tersebut.
Tak ada keberuntungan serupa di kualifikasi Piala Asia 2026. Namun, Indonesia datang ke kualifikasi berbekal keuntungan sebagai ruan rumah.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/07/02/e55082734e4db649b2cf29bccfe777d6-20250702YGA17.jpg)
Meski jumlah penonton tidak seramai jika pertandingan digelar di pusat kota, seperti Stadion Madya, kawasan Gelora Bung Karno, Senayan, tribune Stadion Indomilk Arena tidak pernah sepi saat timnas putri berlaga. Sambil diguyur hujan di tribune timur yang tanpa atap, para suporter pun setia memberikan dukungan dengan menyanyikan chant penyemangat sepanjang laga.
Kehadiran para suporter ini bahkan sempat membuat nyali lawan ciut, seperti yang disampaikan Kirgistan saat kalah 0-1 dari Indonesia. Di antara para penonton itu juga ada keluarga pemain yang turut memberi dukungan.
Dalam dua pertandingan, jumlah penonton yang tercatat selalu berada pada angka 1.000-an. Jumlah ini berpotensi meningkat pada laga kontra Taiwan karena digelar pada akhir pekan dan bakal jadi pertandingan terakhir Indonesia.
”Saya selalu bilang ke teman-teman, kita main di rumah sendiri, kita harus berjuang, karena tidak ada peringkat kedua, harus jadi juara grup,” tutur kapten timnas putri, Shafira Ika.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase