Tidak adanya susu dalam makanan anak sekolah bukan berarti makanan yang diberikan tidak bergizi. Susu merupakan salah satu sumber protein hewani.
08 Jan 2025 06:30 WIB · Humaniora
Tidak sedikit penerima program Makan Bergizi Gratis, yang baru diluncurkan awal pekan ini, kecewa dengan tidak adanya susu dalam menu makan mereka. Namun, ada tidaknya susu sebenarnya tidak berarti makanan yang diberikan tidak bergizi. Susu hanya salah satu sumber protein hewani. Protein hewani juga bisa didapatkan dari sumber pangan lainnya.
Dokter spesialis gizi klinik dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, Nurul Ratna Mutu Manikam, dihubungi di Jakarta, Selasa (7/1/2025), mengatakan, susu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) sifatnya tidak wajib jika dari menu makanan utama sudah mencukupi kandungan gizi yang dibutuhkan. Menu makanan tersebut terdiri dari makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah.
”Susu dapat sebagai pelengkap karena mengandung zat gizi yang lengkap, terutama kandungan proteinnya yang men-support pertumbuhan anak di masa sekolah. Namun, kalau jumlah protein keseluruhan dari lauk hewani dan lauk nabati sudah tercukupi, sebetulnya susu hanya opsional,” tuturnya.
Susu merupakan salah satu sumber protein hewani. Protein hewani bisa juga didapatkan dari sumber pangan lainnya, seperti daging ayam, daging sapi, telur, dan ikan. Karena itu, jika asupan protein hewani yang dibutuhkan sudah didapatkan dari sumber pangan lainnya, susu tidak wajib diberikan.
Kalau jumlah protein keseluruhan dari lauk hewani dan lauk nabati sudah tercukupi, sebetulnya susu hanya opsional.
Komposisi gizi yang diberikan bagi anak sekolah bisa mengikuti rekomendasi ”isi piringku” dari Kementerian Kesehatan. Namun, pada anak-anak, porsi sayur tidak perlu terlalu banyak.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/12/09/b744670b-54ab-4080-b4d3-77201f59f788_jpg.jpg)
Adapun makanan utama yang harus diperhatikan dalam setiap menu makan anak sekolah adalah makanan pokok yang bisa didapatkan dari nasi, kentang, jagung, ataupun singkong; lauk hewani, seperti ayam, ikan, telur, boga bahari, dan susu; lauk nabati, seperti tahu, tempe, dan kacang-kacangan; serta sayur dan buah.
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana seusai Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI, Senin (6/1/2025), menuturkan, pemberian susu dalam program MBG akan diberikan untuk wilayah-wilayah yang memang memiliki sapi perah. Hal ini bertujuan mendorong agar setiap daerah yang memiliki sapi perah bisa lebih berkembang.
Program MBG pun bukan merupakan bagian untuk meningkatkan nilai impor. Sebaliknya, program ini bertujuan untuk mendorong sumber daya lokal.
”Kami sudah melakukan simulasi kapan susu akan diberikan. Kami akan melakukan kombinasi-kombinasi sehingga susu minimal di daerah-daerah yang ada sapinya, itu minimal tiga kali dalam seminggu diberikan. Untuk daerah-daerah yang tidak ada sapi perahnya, sementara proteinnya bisa digantikan dengan protein lainnya, misalnya dengan ikan, telur, dan lain-lain,” tuturnya.
Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Ede Surya Darmawan menuturkan, pemberian makan bergizi gratis amat baik untuk mendukung perbaikan nilai gizi di masyarakat, terutama pada anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Meski begitu, keberlanjutan upaya perbaikan gizi tersebut tidak bisa dipastikan jika tidak disertai dengan edukasi dan penjelasan mengenai apa itu makanan bergizi dan pentingnya mengonsumsi makanan bergizi.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/781c8fe0-4e6b-46f5-a27f-1838918a11a6_jpg.jpg)
”Kita harus pastikan apakah ini hanya diberikan makanan atau sepaket dengan edukasinya. Kalau tidak ada (edukasi), anak-anak tidak akan sadar pentingnya makanan bergizi. Pemberian makanan bergizi ini yang terpenting mengubah pola perilaku untuk makan bergizi seimbang, tidak kurang dan tidak lebih,” katanya.
Dokter Kirana Perwitasari dari Departemen Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo menuturkan, makanan bergizi bagi anak sekolah perlu memperhatikan semua kebutuhan anak untuk mendukung tumbuh kembang anak. Kebutuhan nutrisi ini bisa berbeda-beda di tiap usia anak.
”Porsi makan antara anak usia 6 tahun dan anak usia 15 tahun akan berbeda sehingga perlu penyesuaian. Makanan utama bisa diberikan sebanyak tiga kali per hari ditambah dengan makanan selingan sehat dengan porsi wajar sesuai dengan kebutuhan,” ujarnya.
Selain porsi, isi dari makanan yang dikonsumsi juga sangat penting. Setiap porsi makan harus memenuhi tiga komponen utama, yakni karbohidrat, protein, dan lemak. Selain itu, pastikan pula makanan mengandung nutrisi penting lainnya, seperti mineral dan vitamin.
Seluruh komponen makanan itu tidak bisa didapatkan dari satu sumber makanan. Itu sebabnya, pemberian makanan kepada anak harus variatif sehingga anak memiliki peluang yang lebih besar memperoleh nutrisi yang lebih lengkap. Mudahnya, isi makanan anak dalam setiap porsi perlu mengandung makanan pokok, lauk-pauk, sayur, dan buah-buahan.
Penulis:
Deonisia ArlintaEditor:
Adhitya RamadhanPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra