Makin Sengsara Rakyat Miskin akibat Krisis Iklim

Perubahan iklim yang dipicu pemanasan global semakin sering terjadi. Masyarakat miskin menjadi pihak yang paling terdampak. Aksi iklim global harus dikerjakan.

17 Okt 2025 18:30 WIB · Internasional

Oleh Helena Fransisca Nababan

Dalam 10 bulan terakhir, laporan kebencanaan tidak hanya muncul di wilayah Asia. Laporan juga datang dari Afrika, Eropa, ataupun Amerika. Peristiwa alam yang terjadi terentang dari badai superkuat dengan frekuensi sering, banjir bandang, gelombang panas, hingga kekeringan parah.

Berbagai peristiwa alam itu semakin sering terjadi dan menguat. Dari berbagai peristiwa itu, warga miskin menjadi pihak yang paling terpapar dan menderita.

Hal itu karena mereka tinggal di wilayah yang secara langsung terpapar ancaman iklim, seperti panas ekstrem, banjir, kekeringan, dan polusi udara. Bahaya iklim ini lantas diperburuk oleh pemanasan global.

Akibatnya, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), beban yang ditanggung rakyat miskin bisa semakin besar dan berlipat. ”Tidak ada yang kebal terhadap dampak perubahan iklim yang semakin sering dan kuat, seperti kekeringan, banjir, gelombang panas, dan polusi udara. Akan tetapi, penduduk termiskin di antara kitalah yang menghadapi dampak paling berat,” tutur Haoliang Xu, Penjabat Administrator Program Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDP) kepada Agence France-Presse.

Fakta itu mengemuka dalam laporan hasil studi tahunan UNDP bersama Oxford Poverty and Human Development Initiative yang diterbitkan pada Jumat (17/10/2025). Laporan ini menyoroti kaitan antara orang-orang yang hidup dalam kemiskinan multidimensi dan masyarakat miskin yang rentan ancaman iklim.

Quote

Kemiskinan diperparah dan saling terkait dengan dampak darurat iklim yang semakin dramatis.

Menurut studi tahunan tersebut, 1,1 miliar orang atau sekitar 18 persen dari 6,3 miliar orang di 109 negara yang dianalisis saat ini hidup dalam kemiskinan ”multidimensi akut”. Angka ini diperoleh berdasarkan sejumlah faktor, seperti angka kematian bayi dan akses terhadap perumahan, sanitasi, listrik, dan pendidikan yang terbatas. Separuh dari mereka adalah anak di bawah umur.

Seorang pria berdiri di samping jalan yang rusak akibat Topan Ragasa di Uyugan, provinsi Batanes, Filipina utara pada Selasa (23/9/2025).

Pada saat yang sama, hampir 80 persen dari total penduduk miskin dunia atau sekitar 887 juta orang merupakan pihak yang rentan terhadap krisis iklim. Mereka tinggal di wilayah yang terpapar berbagai ancaman iklim, di antaranya panas ekstrem dan banjir.

Dalam laporan itu disebutkan, untuk kemiskinan multidimensi, wilayah yang paling terdampak di Planet Bumi adalah Afrika Subsahara dan Asia Selatan. Kedua wilayah itu juga sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Asia Selatan dan Afrika Subsahara menyumbang jumlah penduduk miskin terbesar yang tinggal di wilayah yang terdampak bahaya iklim. Asia Selatan menyumbang 380 juta jiwa dan Afrika Subsahara 344 juta jiwa.

Di Asia Selatan, hampir setiap orang yang hidup dalam kemiskinan, sekitar 99,1 persen, menghadapi satu atau lebih guncangan iklim. Wilayah ini juga menjadi yang teratas di dunia dalam jumlah penduduk yang menghadapi dua atau lebih bahaya, dengan 351 juta orang atau 91,6 persen.

”Negara-negara berpenghasilan menengah merupakan episentrum tersembunyi dari kemiskinan multidimensi, yang menjadi rumah bagi hampir dua pertiga dari seluruh penduduk miskin. Di sinilah krisis iklim dan kemiskinan secara nyata bertemu,” ujar Sabina Alkire, Direktur Oxford Poverty and Human Development Initiative kepada UN News, dikutip dari laporan UNDP dan Oxford.

Sekitar 548 juta penduduk miskin di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah diperkirakan terpapar setidaknya satu bahaya iklim. Sementara itu, lebih dari 470 juta penduduk menghadapi dua atau lebih bahaya.

Jembatan Mataian runtuh setelah dilanda topan Super Topan Ragasa yang melewati Hualien di Taiwan timur.

Rentan

Laporan tersebut lebih lanjut mengungkapkan bahwa negara-negara dengan tingkat kemiskinan multidimensi yang lebih tinggi saat ini diperkirakan akan mengalami peningkatan suhu terbesar pada akhir abad ini. ”Rumah tangga miskin sangat rentan terhadap guncangan iklim karena banyak yang bergantung pada sektor-sektor yang sangat rentan, seperti pertanian dan pekerja informal,” demikian disebutkan dalam laporan itu.

”Ketika bahaya saling tumpang tindih atau terjadi berulang kali, hal tersebut memperparah deprivasi yang sudah ada,” kata laporan itu.

Akibatnya, 887 juta orang miskin itu secara langsung terpapar setidaknya satu ancaman iklim. Sebanyak 608 juta orang di antaranya menderita panas ekstrem, ada 577 juta orang terdampak polusi, 465 juta orang dilanda banjir, dan 207 juta orang terimbas kekeringan.

Sekitar 651 juta orang di antaranya berpotensi terpapar setidaknya dua dari risiko, sementara 309 juta berpotensi terpapar tiga atau empat risiko. Adapun 11 juta orang miskin lain telah mengalami keempatnya dalam satu tahun.

”Kemiskinan bukan lagi masalah sosial-ekonomi yang berdiri sendiri. Sebaliknya, kemiskinan diperparah dan saling terkait dengan dampak darurat iklim yang semakin dramatis,” ujar Haoliang Xu kepada UN News.

Untuk mengatasi ancaman itu, Asia Selatan saat ini sudah membuat kemajuan dalam memerangi kemiskinan. Sebanyak 99,1 persen penduduk miskin Asia Selatan terpapar setidaknya satu bahaya iklim.

”Kawasan tersebut harus sekali lagi memetakan jalur baru ke depan, jalur yang menyeimbangkan upaya pengurangan kemiskinan yang gigih dengan aksi iklim yang inovatif,” kata laporan itu.

TOPSHOT - This aerial picture shows flooded streets in Yen Bai on September 10, 2024, in the aftermath of Typhoon Yagi hitting northern Vietnam. More than 59,000 people have been forced to evacuate their homes in the flood-hit province of Yen Bai in northern Vietnam, local authorities said September 10. (Photo by AFP)

Dengan permukaan Bumi yang memanas dengan cepat, situasinya kemungkinan akan semakin memburuk. Para ahli memperingatkan, negara-negara termiskin akan paling terdampak oleh kenaikan suhu.

Laporan Forum Ekonomi Dunia (WEF) 2023 menyebutkan, negara-negara berpenghasilan terendah menghasilkan 1/10 emisi. Akan tetapi, negara-negara itu merupakan yang paling terdampak oleh perubahan iklim. Populasi rentan di negara-negara ini menderita dampak yang merugikan dalam hal kesehatan, pangan dan air, pendidikan, dan lainnya.

”Menanggapi risiko yang tumpang tindih membutuhkan prioritas bagi manusia dan planet ini. Yang terpenting, beralih dari pengakuan ke tindakan cepat,” kata laporan itu.

Artinya, untuk mengatasi masalah ini, diperlukan aksi nyata secara global. Apabila tidak segera diatasi, krisis iklim akan membentuk kembali kemiskinan global.

”COP30, KTT iklim PBB di Brasil pada November mendatang, bisa menjadi momen bagi para pemimpin dunia untuk memandang aksi iklim sebagai aksi melawan kemiskinan,” demikian sebut laporan itu. (AFP)


Kerabat Kerja

Penulis:

Helena Fransisca Nababan
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra