Maklumat Indonesia Bergerak yang digagas diaspora hingga mahasiswa di luar negeri menjadi panggilan pada seluruh masyarakat untuk bersatu dan bergerak bersama.
29 Okt 2025 06:05 WIB · Politik & Hukum
Dokumentasi Adel T dari Melbourne Berger
Di tengah momentum peringatan Hari Sumpah Pemuda, Selasa (28/10/2025), belasan warga negara Indonesia, mulai dari mahasiswa hingga diaspora, di Melbourne, Australia, mendatangi Konsulat Jenderal Republik Indonesia atau KJRI Melbourne. Dokumen ”Maklumat Indonesia Bergerak” diserahkan. Tak hanya di Melbourne, gerakan serupa dilakukan diaspora dan pelajar Indonesia di 43 kota di 23 negara.
Khusus di Melbourne, sebelum dokumen ”Maklumat Indonesia Bergerak” dibacakan dan diserahkan ke perwakilan KJRI Melbourne untuk dilanjutkan ke pemerintah, para peserta aksi terlebih dulu berunjuk rasa. Mereka yang datang dari berbagai latar belakang akademik, bergantian berorasi selama unjuk rasa yang berlangsung sekitar tiga jam, dari pukul 13.00 hingga 16.00 waktu setempat.
Pipin Jamson, mahasiswa doktoral di Universitas Melbourne, salah satunya, menyampaikan pandangannya terkait Maklumat Indonesia Bergerak dan kerja kolektif dari Komite Internasional Indonesia Bergerak yang menggagasnya.
Peserta aksi lainnya, Jesslyn Giovanni, mahasiswa doktoral di Universitas Melbourne, juga menyampaikan pandangannya soal peran penting intelektual dalam membangun bangsa. Ia menekankan tanggung jawab moral akademisi dalam menjaga nalar publik.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/28/00e86a86407d16ff4b9ea5e172a955d5-PHOTO_2025_10_28_19_45_16_2.jpg)
Selain itu, ada pula orasi dari Aero Zeta, mahasiswa program sarjana di Melbourne, yang menekankan tentang peran penting kaum muda dalam menyuarakan aspirasi rakyat.
Lantas, apa isi dari ”Maklumat Indonesia Bergerak”?
”Maklumat Indonesia Bergerak berfokus pada tujuh poin, utamanya soal menegakkan kembali kedaulatan rakyat yang telah direbut oleh kekuasaan yang korup, militerisme, dan perekonomian ekstraktif yang merusak alam hingga menyengsarakan masyarakat,” ujar Ucu Martanto, salah satu mahasiswa di Melbourne yang ikut dalam unjuk rasa, saat dihubungi Kompas dari Jakarta, Selasa (28/10/2025).
Menurut Ucu, maklumat ini bukan berisi daftar tuntutan mereka kepada pemerintah, melainkan sebuah panggilan pada seluruh masyarakat Indonesia untuk bersatu, bergerak, dan menata ulang Indonesia. Pihaknya berharap melalui maklumat ini dapat menjembatani antara kondisi hari ini menuju masa depan bangsa yang benar-benar merdeka, demokratis, sejahtera, setara, dan berkeadilan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/17/799d1787ed6bc701f5a19c241f6d3e3b-20251017ron26.jpg)
Indonesia Bergerak juga menyeru pada seluruh elemen masyarakat untuk mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara yang beradab, berperikemanusiaan, demokratis, bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), serta sejahtera dan berkeadilan secara ekonomi, sosial, ataupun ekologis.
"Seruan-seruan ini lebih ditujukan kepada masyarakat, untuk merebut kembali kedaulatan kita,” ujar Ucu.
Selain dari Melbourne, penyampaian Maklumat Indonesia Bergerak juga dilakukan oleh warga negara Indonesia di berbagai negara yang menjadi basis dari Komite Internasional Indonesia Bergerak. Tercatat gerakan dari para diaspora dan pelajar di luar negeri ini sudah tersebar di 43 kota di 23 negara yang berada tak hanya di Australia, tetapi ada pula di Asia, Amerika Serikat, dan Eropa.
Seruan-seruan ini lebih ditujukan kepada masyarakat, untuk merebut kembali kedaulatan kita.
Menurut Ucu, lahirnya gerakan itu berangkat dari keresahan yang sama-sama dirasakan para mahasiswa hingga diaspora di luar negeri.
Keresahan dimaksud sejak momen unjuk rasa bertajuk ”Indonesia Darurat” pada Agustus 2024. Kemudian, keresahan dan gerakan kian membesar saat unjuk rasa ”Indonesia Gelap” pada Februari hingga Maret 2025. Selanjutnya, gerakan kian berlipat ganda saat ”Reset Indonesia” pada Agustus sampai September 2025.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/02/21/5e6bdd64981a2c4e93c1566444bfe7af-20250221BAH19.jpg)
Selain itu, menurut Pipin, gerakan terinspirasi dari gerakan pemuda di Perhimpunan Indonesia pada 1928. Saat itu, mereka mendapatkan paparan ide-ide tentang anti-kolonialisme dan nasionalisme ketika berada di luar negeri.
Meskipun saat ini konteksnya berbeda (tidak lagi melawan kolonialisme), Indonesia belum 100 persen merdeka dari penindasan, pembodohan, dan intervensi oligarki. Oleh karena itu, untuk memberikan perlawanan terhadap oligarki dan praktik Orde Baru yang dinilai masih tersisa, dibutuhkan upaya sistematis dan berkelanjutan.
Dari Melbourne, gerakan tersebut menjangkau diaspora lain di Canberra dan Perth di Australia. Selanjutnya bergerak menyebar ke Inggris, Amerika Serikat, Jerman, dan Kanada. Lantas dibentuklah Komite Internasional Indonesia Bergerak. Dengan gerakan itu, diaspora tetap ingin terhubung dengan Tanah Air.
”Kami mengikuti semua perkembangan di Indonesia yang semakin menggelisahkan dari hari ke hari,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2021/11/02/20211102-Baner-Ilustrasi-Peretasan-Situs-BSSN-dan-Norma-Siber_1635865269_jpg.jpg)
Dengan anggota komite yang tersebar di berbagai kota dan negara, bukan perkara mudah untuk mengonsolidasikan gerakan hingga akhirnya melahirkan maklumat.
Apalagi, menurut Pipin, kerap terjadi ”serangan” yang mencoba membuat surut pergerakan. Serangan dimaksud berupa upaya peretasan akun media sosial pribadi ataupun akun kolektif.
Serangan ini biasanya terjadi setelah Indonesia Bergerak menyuarakan isu-isu besar, terutama yang menyangkut militer dan kepolisian, seperti penolakan terhadap revisi Undang-Undang TNI.
”Kasus akun pribadi saya kena takeover, juga terjadi dengan teman-teman di Amerika. Yang terakhir, di bulan Oktober, tiga akun kolektif, yakni Jerman Bergerak, Korea Selatan Bergerak, dan Tokyo Bergerak, juga mengalami upaya peretasan, juga di momen yang sama,” ungkap Pipin Jamson.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/09/6b9922eeb552049326e1a69f14717d7b-20250909AGS_10.jpg)
Tak hanya itu, Pipin menceritakan saat para mahasiswa dan pekerja yang tergabung dalam Jerman Bergerak tetiba dikontak oleh pihak atase setempat saat aksi Indonesia Gelap pada Februari 2025. Pipin juga menjelaskan bahwa konteks geopolitik di tiap negara juga memengaruhi ruang gerak mereka.
”Di Malaysia atau Taiwan, misalnya, pemerintah lokalnya membatasi. Ada juga KJRI yang lebih sensitif terhadap aksi semacam itu,” ujarnya.
Meski demikian, hal itu justru semakin mengkristalisasi solidaritas para anggota Komite Internasional Indonesia Bergerak hingga akhirnya disusun Maklumat Indonesia Bergerak.
Ucu menambahkan, penyusunan maklumat tetap bisa dilakukan melalui konsolidasi intensif, bahkan melibatkan aktivis dan akademisi di Tanah Air. Pelibatan aktivis itu dinilai penting untuk mengalibrasi apa yang menjadi keresahan diaspora dengan tuntutan nyata yang disuarakan oleh rakyat di Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/10/28/14afb8951b0c17174c1091ca8c19165d-20251028YGA14.jpg)
Setelah draf selesai, pihaknya menggelar Kongres Pertama Indonesia Bergerak pada 26 Oktober 2025. Kongres secara daring selama lebih dari tiga jam itu dihadiri oleh lebih dari 100 peserta, baik para anggota Indonesia Bergerak maupun elemen masyarakat di Tanah Air, seperti aktivis buruh dan pro demokrasi, organisasi mahasiswa dari kampus-kampus dan aktivis lingkungan.
Dalam kongres, mereka mendiskusikan draf maklumat dengan cara menjaring berbagai masukan dari peserta kongres. Maklumat itu kemudian dibagikan ke berbagai negara yang menjadi basis Komite Internasional Indonesia Bergerak.
Pipin menegaskan, aksi damai di Melbourne bukanlah akhir, melainkan awal dari sebuah perjalanan panjang. Pihaknya telah mulai menyusun peta jalan jangka panjang, termasuk menyambut 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028. ”Roadmap kami menuju 100 tahun Sumpah Pemuda. Jadi, maklumat ini bukan hanya sekali dibacakan, tapi akan bergulir terus,” kata Pipin.
Langkah selanjutnya, pihaknya juga akan menyusun manifesto, yakni sebuah dokumen yang menganalisis akar masalah bangsa secara lebih mendalam, dan menegaskan posisi politik gerakan mereka.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/08/23/7eb76d67ac6907f08c50d7c981687122-20200827KUM20.JPG)
Pihaknya juga akan terus menyuarakan isu-isu krusial dalam negeri yang tidak bisa ditunda, seperti tuntutan pembebasan aktivis yang masih hilang atau ditahan. Juga, konsolidasi secara berkelanjutan akan terus dilakukan. Ini dinilai penting untuk terus menjaga komunikasi dan kolaborasi dengan berbagai elemen di Indonesia, mulai dari aktivis, buruh, mahasiswa, hingga kelompok marjinal, untuk membangun gerakan rakyat yang terorganisasi.
Ucu menegaskan bahwa maklumat ini diharapkan bisa menjadi panggilan bagi rakyat Indonesia untuk mulai berani bergerak. ”Harapan kami, masyarakat di Indonesia yang bisa kemudian menyuarakan secara bersama-sama untuk merebut kembali kedaulatan dalam hal apa pun,” ucapnya.
Pengajar di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia Jentera, Bivitri Susanti, mengapresiasi gerakan Indonesia Bergerak yang sudah diinisiasi oleh para diaspora dan pelajar di luar negeri tersebut. Gerakan ini juga sekaligus memvalidasi bahwa masalah yang dialami masyarakat di Indonesia memang masalah bangsa yang besar, bukan hanya ketidakpuasan sebagian orang di Tanah Air, melainkan juga para diaspora tersebut.
”Biasanya memang orang-orang yang sedang jauh dari Tanah Air punya perspektif berbeda dan bisa menyumbang dengan baik pada pikiran tentang bangsa dan negara kita,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2022/05/04/33a5b124-7cb4-43e7-a6f7-bd1a7a812089.jpg)
Namun, Bivitri menekankan pentingnya untuk tidak membebani gerakan bahwa mereka harus ”bisa atau tidak bisa menggerakkan” perubahan secara langsung. Peran mereka seharusnya dapat dilihat dari sudut pandang yang lebih fundamental.
”Pertama, bahwa gerakan itu adalah ekspresi kritik yang harus diekspresikan, disampaikan. ’Indonesianis’ (pakar Indonesia dari luar negeri) sering dicap asing sehingga pandangannya tidak dianggap oleh penguasa, ini orang-orang yang tinggal di luar Indonesia, tapi ya WNI juga,” ujarnya.
Poin kedua yang tak kalah penting dari gerakan ini, lanjut Bivitri, adalah peran advokasi. Ketika ruang sipil di dalam negeri mengalami represi atau penyempitan, diaspora dapat berfungsi sebagai megafon yang mengamplifikasi suara-suara dari dalam ke panggung internasional.
”Jaringan di luar negeri dibutuhkan juga untuk advokasi ketika semua saluran ditekan di Indonesia. Mereka bisa menyebarluaskan isu-isu di Tanah Air kepada dunia,” katanya.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/04/ca7378b448b24e52de0e567f5f97bec2-20250904TOK4.jpg)
Kemunculan suara serentak dari berbagai negara ini juga menunjukkan adanya shared analysis atau bacaan yang sama yang sifatnya lintas batas. Apalagi, mereka yang berada jauh dari Tanah Air sering kali memiliki perspektif berbeda yang dapat memberikan sumbangsih pemikiran yang berharga bagi dalam negeri.
Bivitri berharap Indonesia Bergerak dapat terus mengonsolidasikan gerakan mereka dan memperkuat jaringan. ”Harapannya, ya, agar mereka bisa lebih kuat berjaringan, sehingga bisa ikutan membawa isu-isu Indonesia ke dunia internasional,” katanya.
Penulis:
Hidayat SalamEditor:
A. Ponco AnggoroPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto