Korban banjir bandang mengenang malam yang mencekam pada bencana 27 November lalu. Malam itu menyisakan luka fisik dan batin mereka.
09 Des 2025 09:33 WIB · Nasional
Kompas/Willy Medi Christian Nababan
Di tengah kegelapan yang pekat, Rilla Sittati (34) tak lagi merasakan takut. Ia hanya merasakan licinnya lumpur yang menyelimuti tubuh dan benturan-benturan kecil puing kayu yang terbawa arus. Tangannya memeluk erat buah hatinya, sang bungsu, Muhammad Aqeel (5), yang menjadi satu-satunya alasan Rilla untuk tidak membiarkan kesadarannya padam.
”Saya sudah ikhlas. Semangat dan tenaga sudah hilang. Rasanya sebentar lagi saya mati,” kenang Rilla dengan suara bergetar saat ditemui Kompas di tempat tinggalnya, Sawah Laweh Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Senin (8/12/2025).
Di dalam air yang menderu itu, mulutnya tak henti mengucap asma Allah, pasrah jika malam itu, Kamis (27/11/2025), saat galodo menerjang, menjadi akhir hidupnya. Malam itu, lereng Marapi tak sekadar mengirimkan air, tetapi juga petaka yang mengubah wajah Agam dalam sekejap.
Sebelum air bah datang, Rilla baru saja selesai menghadiri rapat di rumah tahfiz setempat. Aqeel, yang bersikeras ikut meski tanpa helm dan sandal, duduk di boncengan motor merah kesayangannya. Siapa sangka, perjalanan pulang itu berubah menjadi perjuangan hidup dan mati.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/30d521d02aaf00eec1d5297890bc386e-IMG20251208142450.jpg)
Terseret arus, tersangkut puing, hingga akhirnya memanjat batang sawit. Dengan sisa tenaga, ia memanjat pohon itu, lalu berpindah ke atap kandang ayam setinggi 2 meter. Hujan gerimis turun, menusuk tulang. Aqeel mulai menggigil hebat. Tak tega melihat anaknya kedinginan, Rilla memasukkan tubuh kecil itu ke dalam bajunya, membagi sisa kehangatan tubuh yang ia miliki.
Namun, yang paling menghantui Rilla bukanlah dinginnya air, melainkan suara-suara di sekelilingnya. Awalnya, teriakan ”tolong, tolong” bersahutan dari segala penjuru. Namun, seiring meningginya air dan pekatnya malam, suara-suara itu perlahan senyap.
Saya sudah ikhlas. Semangat dan tenaga sudah hilang. Rasanya sebentar lagi saya mati.
”Pas lampu mati dan kami keluar lagi, sudah tidak ada suara. Diam saja. Mungkin mereka kejepit kayu besar, saya tidak tahu. Tapi sunyi,” ujar Rilla.
Dalam keheningan Sawah Laweh yang mencekam, hanya gemuruh air yang terdengar, menyisakan tanya tentang nasib tetangga dan kerabatnya.
Sementara Rilla bertaruh nyawa di tengah lumpur, suasana di Puskesmas Koto Alam tak kalah mencekam. Bidan Fetri Yuherna dan tim medis kecilnya harus berpacu dengan waktu dalam kondisi serba terbatas. Sejak pukul 17.00 WIB, suara gemuruh air sudah terdengar, disusul kedatangan pasien yang tak putus-putus hingga subuh.
Malam itu, puskesmas menjadi satu-satunya pulau cahaya di tengah kelamnya Sawah Laweh. Listrik utama padam total dan pasokan air bersih terputus, tetapi deru mesin genset menjaga lampu tetap menyala, menerangi ”medan perang” di dalamnya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/a1de15918194bd261173f27ef0ba8176-IMG20251125173951.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/a40fb28078244ba9465f643d564da94f-1001010060.jpg)
Tim medis malam itu kecil, tetapi berjibaku bak pasukan besar. Fetri didampingi seorang perawat, Husma Dahliati, disusul oleh petugas laboratorium, Vetriani, dan asisten apoteker, Yusuf. Mereka harus menangani sekitar 50 pasien yang memenuhi setiap jengkal ruangan bahkan sampai ke lantai.
”Pasien datang terus-menerus dari pukul 5 sore sampai subuh. Sekitar 50 orang, separuhnya luka parah,” kenang Fetri.
Kondisi korban yang datang sungguh memilukan. Ada yang datang dengan luka robek menganga di kepala sebesar telapak tangan, ada pula yang tulang pinggang atau kakinya patah hingga harus ditandu menggunakan kain sarung dan batang kayu.
Di bawah sorot lampu yang bersumber dari genset, Fetri harus menjahit luka dan menghentikan pendarahan. Tantangan bertambah berat karena pasien kedinginan hebat hingga pembuluh darah venanya menciut dan sulit diinfus.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/12/09/9191c9f57c61033a8d44929bdfe16e73-IMG20251208164847.jpg)
Komunikasi pun menjadi tantangan mematikan. Sinyal di dalam gedung puskesmas timbul tenggelam. ”Kami foto kondisi pasien, lalu kirim lewat Whatsapp ke kepala puskesmas untuk konsultasi tindakan,” katanya.
Setiap kali foto terkirim, petugas laboratorium harus berlari keluar gedung, menembus gelap dan hujan, mencari titik sinyal hanya untuk menunggu jawaban dokter. Begitu instruksi diterima, ia kembali berlari ke dalam, menyampaikan arahan kepada Fetri yang jarinya tak berhenti bekerja.
Di teras klinik, jenazah mulai berdatangan. Karena ruang perawatan penuh sesak korban luka, empat kantong jenazah terpaksa diletakkan di depan, menjadi saksi bisu betapa fatalnya malam itu. ”Kami jahit luka, pasang infus, bersihkan lumpur seadanya karena air mati. Niat kami cuma satu, menolong,” ungkapnya.
Pagi harinya, Rilla dan anaknya berhasil dievakuasi menggunakan alat berat ekskavator karena lumpur setinggi paha membuat jalan tak bisa dilalui kaki manusia. Namun, galodo meninggalkan jejak yang tak mudah hilang.
Sekujur tubuh Rilla penuh lecet yang kini mengering, membentuk pola kemerahan di kulitnya. Begitu pula wajahnya. Telinga kirinya mengalami infeksi parah hingga pendengarannya terganggu, sementara hidungnya terus mengeluarkan cairan seperti nanah akibat masuknya air kotor.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2025/12/04/5740c6e2-56bc-4d12-a118-7af3c03461d5.jpg)
Namun, luka fisik itu tak sebanding dengan duka batin. Rilla kehilangan kedua orangtuanya. Tujuh kerabatnya masih dinyatakan hilang, sementara total 17 anggota keluarga besarnya terdampak dan kini tinggal di bawah satu atap.
Trauma pun membekas dalam pada Aqeel. Bocah lima tahun itu kini merengek meminta pindah setiap kali langit mendung. ”Bunda, ayo pindah rumah. Adik takut air besar datang lagi,” ucap Rilla meniru ungkapan anaknya saat merengek.
Bagi Rilla, selamat dari maut malam itu adalah sebuah mukjizat. ”Ini hidup saya yang kedua. Adik (Aqeel) yang menyelamatkan Bunda,” bisiknya sembari memeluk anaknya.
Di antara reruntuhan Sawah Laweh dan lumpur yang mulai mengering, warga Agam menata kembali hidup. Meski begitu, bayang-bayang gemuruh air dan perjuangan mencari sinyal di tengah malam itu akan terus bergema dalam ingatan, mengingatkan betapa tipisnya batas antara hidup dan mati.
Penulis:
Willy Medi Christian NababanEditor:
Siwi Yunita CahyaningrumPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto