Dengan gizi yang tercukupi, harapannya kualitas generasi muda kian unggul sehingga dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam mendorong kemajuan ekonomi nasional.
06 Jan 2025 15:30 WIB · Riset
Program Makan Bergizi Gratis menjadi salah satu langkah pemerintah untuk meningkatkan mutu sumber daya manusia atau SDM di masa depan. Program peningkatan asupan gizi ini menjadi bagian penting untuk menuju Indonesia Emas 2045. Dengan gizi yang tercukupi, harapannya kualitas generasi muda kian unggul sehingga dapat meningkatkan daya saing Indonesia dalam mendorong kemajuan ekonomi nasional.
Pada Senin ini (6/1/2025), program Makan Bergizi Gratis (MBG) dimulai di sejumlah daerah di 26 provinsi di Indonesia. Program ini akan dilaksanakan secara bertahap hingga menyasar ke seluruh wilayah Nusantara. Pada tahap awal, program MBG ini menyasar sejumlah sekolah, ibu hamil dan menyusui, serta anak balita.
Program MBG itu menyajikan menu bergizi seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) di setiap klasifikasi umur penerima. Pada tahun 2025 ini, pemerintah menargetkan total ada 19,47 juta penerima manfaat program MBG. Alokasi anggaran sebesar Rp 71 triliun bersumber dari APBN. Rinciannya, Rp 63,36 triliun digunakan untuk pemenuhan gizi nasional. Sisanya Rp 7,43 triliun untuk program dukungan manajemen operasional.
Pada tahun-tahun berikutnya, program MBG itu akan terus ditingkatkan. Pada tahun 2026, direncanakan jumlah penerima manfaatnya bertambah menjadi 30,46 juta orang dengan alokasi anggaran Rp 109,7 triliun. Setahun berikutnya, pada 2027, jumlahnya naik lagi menjadi 41,45 juta penerima dengan nilai anggaran Rp 149,2 triliun.
Pada tahun 2028, penerima manfaat MBG ditambah lagi menjadi 62,17 juta orang dengan alokasi anggaran Rp 223,8 triliun. Pada masa jabatan akhir Presiden Prabowo, pada tahun 2029, diharapkan semua penerima manfaat MBG sebanyak 82,9 juta orang sudah terlayani dengan anggaran yang disiapkan senilai Rp 298,4 triliun.
Melalui program MBG itu, pemerintah berharap sejumlah aspek penting terkait kesejahteraan dapat terlayani sekaligus. Secara umum, program MBG itu terdiri atas empat pilar penting, yakni pilar tentang gizi, pendidikan, ekonomi, dan kemiskinan.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/03/398aa0a8-b858-4667-868f-8c108fd31d14_jpg.jpg)
Program MBG bertujuan memenuhi gizi ibu hamil, anak balita, dan anak sekolah serta menanamkan perilaku mengasup makanan sehat. Program MBG ini harapannya dapat meningkatkan prestasi, partisipasi, dan kehadiran siswa sehingga turut mengurangi angka putus sekolah.
Selain itu, program MBG ini dapat meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat level menengah-bawah. Kesejahteraan petani dan pelaku usaha UMKM turut meningkat seiring dengan masifnya pemberlakukan program ini di semua daerah. Implementasi program MBG ini turut menyediakan lapangan pekerjaan sehingga dapat mengurangi pengangguran dan kemiskinan.
Penerapan program MBG itu harapannya dapat meningkatkan sejumlah indikator krusial penopang perekonomian dan kesejahteraan sosial secara umum.
Dari keempat pilar itu, khusus pendidikan merupakan hal yang sangat krusial. Pasalnya, pendidikan merupakan modal yang sangat penting bagi kemajuan sebuah bangsa. Semakin tinggi tingkat pendidikan generasi muda, maka peluang untuk tumbuh menjadi negara yang sejahtera semakin terbuka lebar. Tentu saja, tingginya tingkat pendidikan ini harapannya seiring dengan peningkatan kualitas SDM sehingga kian terampil dan memiliki daya saing tinggi untuk mendorong kemajuan ekonomi.
Ada sejumlah contoh di kawasan ASEAN yang menunjukkan adanya peranan vital SDM unggulan bagi kemajuan sebuah negara. Misalnya saja Malaysia dan Singapura. Kedua negara tetangga ini merupakan negara dengan tingkat kesejahteraannya yang terpaut jauh di atas Indonesia.
Berdasarkan data Bank Dunia, pendapatan per kapita penduduk Malaysia pada tahun 2023 sekitar 11.300 dollar AS setahun. Angka pendapatan ini hampir setara dengan pendapatan di negara emerging market seperti China, Rusia, dan Brasil yang memiliki nilai produk domestik bruto (PDB) per kapita 10.000 dollar AS hingga hampir 14.000 dollar AS per tahun.
Untuk Singapura, rata-rata penghasilan per kapita penduduknya jauh lebih tinggi lagi, yakni 84.000 dollar AS per tahun. Dengan penghasilan sebesar itu, Singapura sudah setara dengan negara-negara maju di dunia. Bahkan, nilai PDB per kapitanya melebihi PDB Amerika Serikat yang sekitar 82.000 dollar AS per tahun.
Tingginya penghasilan tersebut tentu berdampak signifikan bagi kualitas kehidupan masyarakat di negara itu. Setidaknya, kesadaran terhadap pendidikan dan kesehatan semakin baik sehingga menghasilkan mutu manusia yang relatif tinggi. Dengan kualitas SDM yang andal, tentu saja peluang untuk menarik investasi padat modal yang membutuhkan keterampilan teknologi dan ilmu pengetahuan akan relatif mudah didapatkan oleh negara bersangkutan.
Hal tersebut akan memberikan dampak makroekonomi yang sangat signifikan bagi kemajuan sebuah bangsa. Apalagi jika investasi padat modal ini mampu menghasilkan produk barang ataupun jasa yang kompetitif di pasar internasional. Dengan berorientasi pada pasar ekspor, maka nilai ekonominya akan berlipat-lipat lagi sehingga kian memajukan perekonomian dan menyejahterakan masyarakat luas.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/c72110a8-df8e-4bfb-aeee-ae2edd34146a_png.png)
Untuk meraih keberhasilan tersebut, dibutuhkan dukungan SDM yang berkualitas. Malaysia dan Singapura menjadi contoh yang baik dalam upaya memajukan SDM unggulan di negaranya. Berdasarkan laporan World Economic Forum (WEF) Global Competitiveness Index (GCI) 4.0 yang diperbarui hingga Juli 2023, ada sejumlah capaian yang menggembirakan terkait pengukuran SDM di Malaysia dan Singapura.
Pertama, terkait dengan lama waktu bersekolah. Durasi pendidikan di Malaysia rata-rata 10,16 tahun dan di Singapura lebih lama lagi, 11,88 tahun. Di kedua negara ini, rata-rata penduduknya bersekolah lebih tinggi dibandingkan negara kawasan ASEAN lainnya. Semua penduduknya dipastikan sudah lulus pendidikan hingga level sekolah menengah pertama (SMP). Bahkan, di Singapura, hampir semua penduduknya menyelesaikan pendidikan setara sekolah menengah atas (SMA) selama 12 tahun.
Berbeda halnya dengan Indonesia, menurut laporan Bank Dunia pada tahun 2023, durasi bersekolah penduduknya baru 7,98 tahun. Artinya, mayoritas penduduk Indonesia hanya menyelesaikan pendidikan setara sekolah dasar (SD). Belum semua penduduk menyelesaikan pendidikan hingga level SMP, apalagi setara SMA.
Perbedaan tingkat pendidikan tersebut tentu saja akan membuat timpang kualitas SDM tenaga kerja yang tersedia di pasar kerja. Dari sekitar 140 negara yang dimonitor dalam laporan WEF GCI 4.0 itu, Indonesia menduduki peringkat ke-36 dan tertinggal jauh dari Malaysia yang berada di urutan ke-8 serta Singapura yang berada di urutan ketiga dunia.
Tingginya kualitas SDM di Singapura dan Malaysia membuat tata kelola dalam melakukan pekerjaan dipercayakan pada manajemen profesional. Segala sesuatu dipegang oleh SDM yang memiliki kecakapan dalam mengelola bidang terkait. Singapura dinilai memiliki tingkat profesionalitas manajemen di urutan ketiga secara global. Malaysia tak tertinggal terlalu jauh dengan menempati ranking ke-17 dari ratusan negara yang diteliti, sedangkan Indonesia berada di nomor ke-44.
Dengan segala kelebihan SDM yang dimiliki Singapura dan Malaysia, kedua negara itu relatif tidak kesulitan dalam mencari tenaga terampil di bidangnya. Keahlian lulusan sarjana di Singapura termasuk memiliki skor tertinggi di dunia, yakni peringkat kedua secara global. Untuk lulusan pendidikan menengah di Singapura, skornya sedikit agak turun dari pendidikan tingginya, yakni berada di peringkat ke-6 dunia.
Hal itu membuat Singapura cenderung lebih pas untuk pengembangan usaha-usaha padat investasi yang relatif tidak membutuhkan karyawan dalam jumlah banyak. Usaha atau industri padat modal ini cenderung membutuhkan keterampilan tinggi dalam menjalankan mekanisasi atau pengelola jasa-jasa bernilai tinggi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/01/06/19297707-7085-4a4e-8e3e-9e8143cff56e_jpg.jpg)
Agak sedikit berbeda dengan Malaysia, keterampilan SDM dengan pendidikan sarjana dan menengahnya tidak setinggi Singapura. Keterampilan lulusan universitas di Malaysia berada pada urutan ke-24 secara global dan lulusan SMA-nya di ranking ke-10 dunia. Meskipun demikian, kualitas keterampilan SDM di Malaysia tetap tergolong tinggi. Indikasinya terlihat dari besaran PDB per kapita Malaysia yang mencerminkan adanya industri atau usaha barang dan jasa bernilai tinggi, baik industri padat karya maupun padat modal. Dengan demikian, usaha-usaha tersebut tentu saja membutuhkan kualitas SDM yang andal.
Berkaca dari kedua negara itu, tak salah bagi Indonesia untuk terus berupaya mendorong peningkatan mutu SDM di seluruh Nusantara. Untuk meraih visi Indonesia maju 2045 memang dibutuhkan kualitas generasi unggulan yang mampu mendorong kemajuan secara nasional. Pendidikan merupakan salah satu sarana vital untuk menyediakan generasi andal tersebut.
Dengan semakin anak muda yang bersekolah hingga jenjang sekolah tinggi atau setingkat sarjana, harapannya kualitas SDM Indonesia semakin meningkat. Ke depan, untuk mencari tenaga terampil di Indonesia akan semakin mudah sehingga tidak harus mendatangkan tenaga ahli asing.
Keterampilan yang tinggi itu tentu akan sangat dibutuhkan para investor yang ingin menanamkan modalnya di Tanah Air. Terutama para investor padat modal yang sangat membutuhkan SDM terampil di bidang teknologi, mekanisasi, ilmu pengetahuan, dan jasa-jasa konsultan.
Dengan diberlakukannya program MBG saat ini, ada harapan besar bagi peningkatan mutu SDM di masa depan. Siswa sekolah menjadi tercukupi asupan gizinya sehingga kian sehat dan mampu menyerap pelajaran menjadi lebih optimal. Para ibu hamil dan menyusui dapat tercukupi nutrisinya sehingga terjaga kandungannya dan mampu melahirkan generasi sehat. Para balita juga terjaga gizinya sehingga mampu tumbuh secara optimal.
Memang, hasil dari proram MBG itu tidak instan, perlu waktu cukup lama. Malaysia, contohnya, telah memulai program makanan serupa MBG, yakni Bantuan Makanan Bermasak (MBM), yang dimulai sejak tahun 1971. Kapan pun hasil positifnya akan dituai, setidaknya Pemerintah Indonesia telah menginisiasi bahwa makan bergizi sudah menjadi satu kesatuan untuk membangun kualitas SDM andal bersama dengan layanan pendidikan. Langkah visioner ini patut untuk diapresiasi. (LITBANG KOMPAS)
Penulis:
Budiawan Sidik AEditor:
Yohan Wahyu