Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?
- Siapa sasaran penerima makan bergizi gratis?
- Bagaimana pengelolaan program makan bergizi gratis?
- Darimana bahan baku yang digunakan untuk program makan bergizi gratis?
- Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program makan bergizi gratis?
- Negara Asia Tenggara mana saja yang telah melaksanakan program makan bergizi gratis?
1. Siapa sasaran penerima makan bergizi gratis?
Program ini dulu bernama makan siang gratis (MSG) yang dikenalkan saat masa kampanye pilpres pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Kemudian namanya diubah menjadi program makan bergizi gratis (MBG).
Program makan bergizi ini diberikan secara gratis untuk ibu hamil dan menyusui, anak balita, dan anak sekolah. Selain gratis, menu yang disajikan juga bergizi seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) di setiap klasifikasi umur penerima. Tujuannya untuk meningkatkan akses makanan bergizi, meningkatkan prestasi dan partisipasi kehadiran anak sekolah, meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mengurangi kemiskinan.
Target penerima MBG tahun 2025 ialah 19,47 juta jiwa. Program ini menurut rencana akan terus berlanjut hingga lima tahun ke depan. Ditargetkan, hingga 2029, program ini sudah mencapai 82,9 juta penerima.
2. Bagaimana pengolahan program makan bergizi gratis?
Ada tiga skema pengolahan makan bergizi gratis yang disiapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Pertama, BGN menyiapkan dapurnya sendiri. Kedua, BGN bekerja sama dengan lembaga negara lain, misalnya dengan kodim, polres, dan pemerintah daerah, termasuk badan usaha milik negara (BUMN). Ketiga, BGN bekerja sama dengan swasta.
Di dapur yang dikelola BGN, kementerian/lembaga, dan swasta tersebut akan ada tiga aparatur sipil negara (ASN) yang ditempatkan di sana. ASN ini berasal dari sarjana penggerak pembangunan. Satu menjadi kepala dapur, satu ahli gizi, dan satu lagi merupakan akuntan dan auditor yang memegang uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Belanja dapur menggunakan konsep actual cost, tanpa memungut margin. Biaya Rp 10.000 per porsi merupakan biaya barang baku actual cost dan merupakan harga rata-rata.
3. Darimana bahan baku yang digunakan untuk program makan bergizi gratis?
Bahan-bahan makanan yang disiapkan untuk program makan bergizi gratis berasal dari komoditas lokal. Para pelaku usaha, termasuk badan usaha milik desa (BUMDes) akan dilibatkan untuk mendukung program itu.
Ada 1.923 koperasi yang siap berkontribusi untuk pelaksanaan program, di antarnya koperasi yang bergerak di bidang usaha, seperti telur, sayur, beras, ikan, dan susu. Untuk kebutuhan susu, diupayakan agar dipenuhi dari produksi di tiap-tiap daerah. Salah satu provinsi yang kemungkinan dapat memenuhi kebutuhan susu di daerahnya ialah Jawa Timur.
BUMDes pun akan turut dilibatkan untuk menyuplai kebutuhan program makan bergizi gratis. Mereka dapat berkontribusi menyalurkan sejumlah hasil bumi, seperti jagung, ikan, dan buah sesuai keunggulan tiap-tiap desa.
4. Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program makan bergizi gratis?
Pada 2025, pemerintah melalui BGN menargetkan total ada 19,47 juta orang penerima MBG. Alokasi anggaran sebesar Rp 71 triliun bersumber dari APBN. Rinciannya, sebesar Rp 63,36 triliun digunakan untuk pemenuhan gizi nasional. Sisanya Rp 7,43 triliun untuk program dukungan manajemen operasional.
Program ini, menurut rencana, akan terus disempurnakan di tahun-tahun mendatang. Tahun 2026, penerima MBG akan lebih banyak, yakni menjadi 30,46 juta dengan anggaran Rp 109,7 triliun. Tahun 2027 menjadi 41,45 juta penerima dengan anggaran Rp 149,2 triliun.
Tahun 2028 menjadi 62,17 juta penerima dengan anggaran Rp 223,8 triliun. Kemudian pada 2029 naik bahkan hingga 82,9 juta penerima dengan anggaran Rp 298,4 triliun.
5. Negara Asia Tenggara mana saja yang telah melaksanakan program makan bergizi gratis?
Tujuh dari 10 negara di Asia Tenggara sudah menerapkan program makan bergizi gratis. Thailand menjadi negara paling awal yang mewujudkan program ini. Sejak 1952, ”Negeri Gajah Putih” ini mengawali program dengan pemberian susu di sekolah.
Kemudian, Malaysia memulai program sejak 1971, Filipina 1997, Kamboja pada 1999, Laos tahun 2002, Brunei Darussalam di 2018, dan Timor Leste sejak 2005. Adapun Indonesia, negara kedelapan yang melaksanakan program makan bergizi gratis.
Program makan gratis ini memiliki sejumlah tujuan. Seperti di Thailand, setidaknya ada lima tujuan yang ingin digapai. Mulai dari tujuan pendidikan untuk prestasi anak, menyediakan jaring pengaman sosial, memenuhi kebutuhan gizi anak, mencegah atau mengurangi obesitas, hingga mencapai tujuan pertanian melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.
Apa yang bisa dipelajari dari artikel ini?
- Siapa sasaran penerima makan bergizi gratis?
- Bagaimana pengelolaan program makan bergizi gratis?
- Darimana bahan baku yang digunakan untuk program makan bergizi gratis?
- Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program makan bergizi gratis?
- Negara Asia Tenggara mana saja yang telah melaksanakan program makan bergizi gratis?
1. Siapa sasaran penerima makan bergizi gratis?
Program ini dulu bernama makan siang gratis (MSG) yang dikenalkan saat masa kampanye pilpres pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Kemudian namanya diubah menjadi program makan bergizi gratis (MBG).
Program makan bergizi ini diberikan secara gratis untuk ibu hamil dan menyusui, anak balita, dan anak sekolah. Selain gratis, menu yang disajikan juga bergizi seimbang sesuai dengan angka kecukupan gizi (AKG) di setiap klasifikasi umur penerima. Tujuannya untuk meningkatkan akses makanan bergizi, meningkatkan prestasi dan partisipasi kehadiran anak sekolah, meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta mengurangi kemiskinan.
Target penerima MBG tahun 2025 ialah 19,47 juta jiwa. Program ini menurut rencana akan terus berlanjut hingga lima tahun ke depan. Ditargetkan, hingga 2029, program ini sudah mencapai 82,9 juta penerima.
2. Bagaimana pengolahan program makan bergizi gratis?
Ada tiga skema pengolahan makan bergizi gratis yang disiapkan Badan Gizi Nasional (BGN). Pertama, BGN menyiapkan dapurnya sendiri. Kedua, BGN bekerja sama dengan lembaga negara lain, misalnya dengan kodim, polres, dan pemerintah daerah, termasuk badan usaha milik negara (BUMN). Ketiga, BGN bekerja sama dengan swasta.
Di dapur yang dikelola BGN, kementerian/lembaga, dan swasta tersebut akan ada tiga aparatur sipil negara (ASN) yang ditempatkan di sana. ASN ini berasal dari sarjana penggerak pembangunan. Satu menjadi kepala dapur, satu ahli gizi, dan satu lagi merupakan akuntan dan auditor yang memegang uang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Belanja dapur menggunakan konsep actual cost, tanpa memungut margin. Biaya Rp 10.000 per porsi merupakan biaya barang baku actual cost dan merupakan harga rata-rata.
3. Darimana bahan baku yang digunakan untuk program makan bergizi gratis?
Bahan-bahan makanan yang disiapkan untuk program makan bergizi gratis berasal dari komoditas lokal. Para pelaku usaha, termasuk badan usaha milik desa (BUMDes) akan dilibatkan untuk mendukung program itu.
Ada 1.923 koperasi yang siap berkontribusi untuk pelaksanaan program, di antarnya koperasi yang bergerak di bidang usaha, seperti telur, sayur, beras, ikan, dan susu. Untuk kebutuhan susu, diupayakan agar dipenuhi dari produksi di tiap-tiap daerah. Salah satu provinsi yang kemungkinan dapat memenuhi kebutuhan susu di daerahnya ialah Jawa Timur.
BUMDes pun akan turut dilibatkan untuk menyuplai kebutuhan program makan bergizi gratis. Mereka dapat berkontribusi menyalurkan sejumlah hasil bumi, seperti jagung, ikan, dan buah sesuai keunggulan tiap-tiap desa.
4. Berapa anggaran yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program makan bergizi gratis?
Pada 2025, pemerintah melalui BGN menargetkan total ada 19,47 juta orang penerima MBG. Alokasi anggaran sebesar Rp 71 triliun bersumber dari APBN. Rinciannya, sebesar Rp 63,36 triliun digunakan untuk pemenuhan gizi nasional. Sisanya Rp 7,43 triliun untuk program dukungan manajemen operasional.
Program ini, menurut rencana, akan terus disempurnakan di tahun-tahun mendatang. Tahun 2026, penerima MBG akan lebih banyak, yakni menjadi 30,46 juta dengan anggaran Rp 109,7 triliun. Tahun 2027 menjadi 41,45 juta penerima dengan anggaran Rp 149,2 triliun.
Tahun 2028 menjadi 62,17 juta penerima dengan anggaran Rp 223,8 triliun. Kemudian pada 2029 naik bahkan hingga 82,9 juta penerima dengan anggaran Rp 298,4 triliun.
5. Negara Asia Tenggara mana saja yang telah melaksanakan program makan bergizi gratis?
Tujuh dari 10 negara di Asia Tenggara sudah menerapkan program makan bergizi gratis. Thailand menjadi negara paling awal yang mewujudkan program ini. Sejak 1952, ”Negeri Gajah Putih” ini mengawali program dengan pemberian susu di sekolah.
Kemudian, Malaysia memulai program sejak 1971, Filipina 1997, Kamboja pada 1999, Laos tahun 2002, Brunei Darussalam di 2018, dan Timor Leste sejak 2005. Adapun Indonesia, negara kedelapan yang melaksanakan program makan bergizi gratis.
Program makan gratis ini memiliki sejumlah tujuan. Seperti di Thailand, setidaknya ada lima tujuan yang ingin digapai. Mulai dari tujuan pendidikan untuk prestasi anak, menyediakan jaring pengaman sosial, memenuhi kebutuhan gizi anak, mencegah atau mengurangi obesitas, hingga mencapai tujuan pertanian melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.