Kompas.id Brief

Mampukah RI Mencapai Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen di Tengah Stagnasi?

Dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi stagnan di angka 5 persen pada 2025, seberapa realistis target pertumbuhan 8 persen yang dicanangkan pemerintahan Prabowo?

14 Des 2024 11:54 WIB · Ekonomi

Oleh Muhammad Fajar Marta

Apa yang Bisa Anda Pelajari dari Artikel Ini?

  1. Apa faktor utama yang menyebabkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan stagnan, dan sejauh mana pemerintah memitigasi dampak negatif dari kondisi tersebut?
  2. Bagaimana strategi pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik agar target pertumbuhan ekonomi 8 persen yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo dapat tercapai meskipun proyeksi saat ini stagnan?
  3. Apa langkah konkret yang akan diambil untuk menurunkan angka ICOR (Incremental Capital Output Ratio) Indonesia sehingga investasi yang masuk menjadi lebih efisien dalam mendorong pertumbuhan ekonomi?
  4. Sektor mana saja yang akan menjadi prioritas pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat, dan bagaimana strategi pengembangannya?
  5. Bagaimana pemerintah akan memaksimalkan investasi asing dan domestik serta mengelola kebijakan fiskal untuk memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berjalan meski berada dalam kondisi stagnan?

Apa faktor utama yang menyebabkan pertumbuhan ekonomi RI stagnan pada 2025?

copy title

Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 yang stagnan di kisaran 5 persen dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun domestik. Tekanan global menjadi salah satu kendala terbesar, termasuk tensi geopolitik yang meningkat, fragmentasi perdagangan global, serta kebijakan proteksionis Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump. Ketidakpastian ini menciptakan risiko bagi stabilitas ekonomi, seperti potensi arus modal keluar dan pelemahan mata uang rupiah. Selain itu, tren pelemahan harga komoditas akibat gangguan rantai pasok global juga memperburuk kondisi ekonomi Indonesia.

Di sisi lain, tantangan domestik seperti penurunan daya beli kelas menengah dan inefisiensi investasi semakin membebani perekonomian. Melemahnya jumlah kelas menengah, yang turun hingga 18,8 persen sejak 2019, mengancam mesin penggerak konsumsi domestik, sementara ICOR Indonesia yang tinggi mencerminkan investasi yang kurang produktif. Dalam menghadapi tantangan ini, pemerintah perlu memperkuat mesin ekonomi dalam negeri dengan strategi yang fokus pada daya beli masyarakat, efisiensi investasi, serta percepatan implementasi kebijakan ekonomi yang terintegrasi.

Bagaimana strategi pemerintah dalam menghadapi tantangan ekonomi global dan domestik?

copy title

Target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada 2025 yang dicanangkan Presiden Prabowo merupakan ambisi besar yang membutuhkan reformasi struktural mendalam. Pemerintah telah mengidentifikasi sektor-sektor kunci, seperti manufaktur, hilirisasi komoditas, investasi, dan ekspor, sebagai penggerak utama ekonomi. Strategi ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing industri nasional sekaligus memperluas kontribusi sektor ekspor terhadap PDB. Untuk memastikan keberhasilan target tersebut, konsumsi rumah tangga juga harus dipertahankan pada tingkat pertumbuhan yang stabil di kisaran 5-6 persen.

Namun, capaian ini hanya bisa terealisasi dengan langkah konkret, salah satunya menurunkan ICOR dari 6,5 menjadi 4 sehingga biaya investasi lebih efisien. Pemerintah juga berencana meningkatkan porsi investasi terhadap PDB dari 30 persen menjadi 32 persen dengan mendorong Foreign Direct Investment (FDI). Apabila langkah-langkah ini diimplementasikan dengan baik, pertumbuhan ekonomi bertahap menuju 8 persen bukanlah hal yang mustahil meskipun membutuhkan orkestrasi kebijakan yang lebih terintegrasi antarsektor.

Apa langkah konkret yang akan diambil untuk menurunkan angka ICOR?

copy title

Tingkat ICOR Indonesia yang tinggi, yakni 6,5, menjadi penghalang utama bagi efisiensi investasi di Tanah Air. Sebagai perbandingan, negara-negara ASEAN lain memiliki ICOR di kisaran 3-5, menunjukkan bahwa investasi mereka lebih produktif dan efektif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pemerintah menilai bahwa ICOR yang tinggi ini disebabkan oleh berbagai hambatan domestik, seperti birokrasi berbelit, tumpang tindih regulasi, infrastruktur yang belum terintegrasi, serta biaya logistik yang masih sangat mahal. Dalam jangka pendek, pemerintah fokus pada penyederhanaan perizinan usaha dan deregulasi untuk mempercepat masuknya investasi.

Langkah strategis lainnya adalah pembenahan sistem logistik nasional, termasuk Indonesia National Single Window (INSW), untuk menekan biaya logistik dari 11 persen menjadi satu digit. Pemerintah juga menargetkan agar pembangunan infrastruktur yang lebih terkoneksi di luar Jawa dapat menciptakan basis produksi yang lebih merata. Penurunan ICOR menjadi level 4 diharapkan mampu menggerakkan ekonomi menuju target pertumbuhan 8 persen dengan lebih efisien dan produktif.

Sektor mana saja yang akan menjadi prioritas pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi?

copy title

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi, pemerintah menetapkan tiga sektor prioritas utama, yaitu manufaktur, investasi, dan ekspor. Fokus pada sektor manufaktur tidak hanya bertujuan meningkatkan kontribusi terhadap PDB, tetapi juga mendorong hilirisasi komoditas sumber daya alam. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah dari bahan mentah sekaligus memperluas lapangan kerja di sektor industri. Selain itu, pertumbuhan ekspor yang ditargetkan mencapai 9 persen per tahun juga menjadi penggerak utama untuk memperbaiki neraca perdagangan Indonesia.

Pemerintah menyadari pentingnya infrastruktur yang terintegrasi untuk mendukung sektor-sektor prioritas ini, terutama di luar Pulau Jawa. Reindustrialisasi dengan pendekatan broad-based menjadi bagian penting dalam strategi pemerintah untuk menciptakan efek berantai ke sektor lain. Jika langkah-langkah ini berhasil dijalankan, sektor prioritas dapat memberikan dorongan signifikan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

Bagaimana pemerintah akan memaksimalkan investasi asing dan domestik?

copy title

Investasi langsung asing (FDI) menjadi salah satu komponen penting dalam menutup kesenjangan pembiayaan antara tabungan nasional dan kebutuhan investasi. Pemerintah saat ini berfokus pada upaya meningkatkan daya tarik investasi dengan mendampingi calon investor sejak awal proses penjajakan hingga pengoperasian. Selain itu, deregulasi dan penyederhanaan proses perizinan diharapkan dapat mempercepat realisasi investasi di lapangan. Targetnya adalah meningkatkan porsi FDI terhadap PDB dari rata-rata 1,9 persen menjadi lebih dari 5 persen, mendekati angka negara-negara ASEAN lainnya.

Kebijakan fiskal juga menjadi alat penting untuk mendukung pertumbuhan investasi. Pemerintah berkomitmen mengoptimalkan anggaran infrastruktur yang mendukung sektor produktif, seperti kawasan industri, pelabuhan, dan logistik. Dengan memastikan infrastruktur yang terkoneksi dan relevan dengan kebutuhan industri, pemerintah berharap dapat menciptakan dampak positif jangka panjang terhadap efisiensi ekonomi nasional. Orkestrasi kebijakan antarkementerian menjadi kunci untuk memastikan semua sektor bergerak sejalan dalam mendukung agenda investasi yang berkelanjutan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Muhammad Fajar Marta
 | 

Editor:

Muhammad Fajar Marta