ASIAN GAMES AICHI-NAGOYA 2026

”Mantra” Emas Sekarang dan Selamanya Tim Bulu Tangkis Indonesia

Monolog paling jujur para pemain serupa mantra yang menjangkarkan keberanian di tepi jurang kekalahan, lalu membalikkan takdir emas tim bulu tangkis Indonesia.

25 Sep 2026 08:06 WIB · Olahraga

AP Photo/Aaron Favila

Rebiyyah Salasah dari Ichinomiya, Jepang

Oleh Rebiyyah Salasah dari Ichinomiya, Jepang

Wartawan Desk Olahraga

”Now or never!”

Alwi Farhan mengucapkan kata-kata untuk Asian Games Aichi-Nagoya 2026 itu berkali-kali. Sebelum berangkat ke Jepang, setelah memenangi laga final dan menciptakan harapan, lalu selepas medali emas berhasil menggantung di leher.

Wajar jika kata-kata itu serupa mantra karena dirapalkan terus-menerus. Tidak mengherankan juga jika mantra itu menular saking seringnya terdengar. Semua tim sepakat bahwa inilah kesempatan besar meraih medali emas di Asian Games, sekarang atau tidak bisa lagi sama sekali karena jarak turnamen yang empat tahun sekali.

Mantra tersebut menjelma kemenangan 3-2 atas China dalam pertarungan final bulu tangkis beregu putra di Ichinomiya City Muncipal Gymnasium, Jepang, Kamis (24/9/2026). Indonesia kembali juara beregu putra Asian Games setelah 28 tahun. Para pemain langsung menyerbu lapangan dan berpelukan selepas kemenangan dipastikan Mohammad Zaki Ubaidillah.

”Bulu tangkis adalah olahraga yang disukai masyarakat Indonesia. Kami senang bisa mempersembahkan medali emas lewat olahraga ini. Jadi, medali emas ini, now or never!” kata Alwi, yang bertugas sebagai tunggal putra kedua, selepas pengalungan medali.

Reaksi Alwi Farhan setelah menyumbangkan kemengan bagi Indonesia dalam final bulu tangkis beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya, Jepang, Kamis (24/9/2026). Alwi mengalahkan Li Shi Feng dalam tiga gim.

Alwi mengawali titik balik kebangkitan Indonesia yang sempat tertinggal 0-2. Selepas menaklukkan Li Shi Feng, 23-21, 15-21, 21-16, pada partai ketiga, otot-otot di wajah Alwi seperti tertarik semua. Sembari sedikit berteriak, ia berkata kepada tim Indonesia yang duduk di bangku pemain, ”Ayo semangatnya! Ayo pasti bisa!”

Menurut Alwi, apa pun yang akan hasil akhirnya, terpenting adalah setiap yang diberi tanggung jawab untuk bermain mampu melaksanannya dengan menunjukkan semangat juang. Alwi ingin menunjukkan bahwa ia punya semangat juang itu.

Nyaris sepanjang pertandingan, terutama setiap berhasil mencetak poin, Alwi mengucapkan kata-kata penyemangat ke arah timnya disertai gestur kepalan tangan dan wajah penuh ambisi. Mantra itu ternyata tak cuma satu.

Mulanya, mantra tersebut berupa monolog batin yang bersifat internal. Semacam afirmasi positif dalam kata ”Kuat!” ”Bisa”. Serupa mantra yang dipercaya memberikan kekuatan, atlet umum berbicara dengan diri sendiri guna memantik energi, ketahanan fisik, motivasi intrinsik, serta rasa percaya diri di momen-momen krusial.

Tunggal putra pertama Indonesia, Alwi Farhan, bertanding melawan wakil China, Li Shi Feng, dalam pertandingan ketiga babak final bulu tangkis beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Ichinomiya, Aichi, Jepang, Kamis (24/9/2026).

Namun, saking kerasnya terdengar momen Alwi berbicara dengan dirinya itu, ia seperti juga tengah memberi tahu bahwa ia memang bisa dan mampu membuktikannya. Alwi bahkan seperti bukan atlet yang diberi dukungan ketika bertanding.

Justru Alwi, yang bertanding di lapangan, jadi pendukung bagi teman-temannya. Ichinomiya City Muncipal Gymnasium yang luas, tetapi sepi penonton, makin membuat suara Alwi terdengar jelas.

“Saya ingin mencoba membakar api semangat dari bangku penonton juga karena, ya, saya butuh dorongan mereka. Sebaliknya, mereka juga butuh dorongan saya. Jadi, kami menjadi satu vibrasi yang cukup kuat,” kata Alwi.

Alwi memang selalu tampak berapi-api. Bukan di partai final saja atlet berusia 21 tahun ini begitu bersemangat. Kegagalan-kegagalan meraih emas di nomor beregu, baik saat yunior di Kejuaraan Dunia dan Asia maupun di level senior saat Piala Thomas 2026 jadi dorongan kuat Alwi untuk menebusnya di Asian Games.

Dalam debutnya di Asian Games ini, Alwi tidak mau kegagalan serupa kembali dialaminya. Tekanan karena bermain dalam kondisi tertinggal setelah kekalahan Jonatan Christie dan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri berhasil ia netralkan.

Percakapan dengan dirinya sendiri dan dorongan semangatnya kepada rekan setim terbukti ampuh. Semangat itu menular, termasuk kepada Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin yang memenangi laga keempat melawan He Ji Ting/Liu Yi, 23-21-21-10, untuk menyamakan kedudukan 2-2.

Daniel bahkan masih mengucapkan ”Ayo bisa!” berkali-kali ketika tiba di zona campuran, tempat bertemunya atlet dan jurnalis untuk wawancara selepas laga. ”Saya rasa ini momen yang pas, kapan lagi kan? Jadi, kami tidak mau menyia-nyiakan kesempatan,” ujar Daniel yang juga membawa motivasi menampilkan performa lebih baik dari Asian Games Hangzhou 2022.

Percakapan dengan diri sendiri pula yang turut menguatkan Mohammad Zaki Ubaidillah saat semua sorotan tertuju padanya di laga terakhir. Zaki begitu gugup karena meski pernah jadi penentu juga di partai final beregu SEA Games Thailand 2025, level Asian Games berbeda jauh. Apalagi, Asia cerminan kekuatan dunia.

Tunggal putra Indonesia, Mohammad Zaki Ubaidillah, bertanding melawan wakil China, WENG Hongyang, dalam pertandingan kelima babak final bulu tangkis beregu putra Asian Games Aichi-Nagoya 2026 di Ichinomiya City Municipal Gymnasium, Ichinomiya, Aichi, Jepang, Kamis (24/9/2026).

Lawan yang dihadapi pun lebih berpengalaman darinya, Weng Hong Yang. Zaki sampai kembali menelpon orangtuanya sebelum bertanding guna meredakan kegugupan itu. Di lapangan, monolog batin tetap menjadi kuncinya menetralkan tekanan dan rasa gugup itu.

Berbeda dengan Alwi yang percakapannya dengan diri sendiri juga terdengar keluar, Zaki lebih menyimpannya rapat. Debutan berusia 19 tahun ini mencoba tetap tenang. Ia baru berteriak kencang untuk meluapkan kelegaan dan kebahagiaan selepas memastikan kemenangan 23-21, 21-13 sekaligus memastikan medali emas.

”Saya berusaha lebih tenang, sempat berbicara ke diri sendiri, ’Saya masih bisa, saya masih pengin berjuang terus. Saya terus meyakinkan diri saya supaya bisa mengeluarkan semua kemampuan yang sudah saya persiapkan dari awal,” kata Zaki.

Medali emas pun diraih dengan jalan berliku. Selain final yang harus ditempuh hingga lima partai, Alwi dan kawan-kawan juga harus memainkan lima wakilnya ketika mengalahkan Malaysia, 3-2. Mereka juga melewati kemenangan tidak mudah, 3-1, atas Thailand.

Ditambah, China datang dengan modal pernah memberikan kenangan buruk pada pertemuan terakhir di final pada edisi Asian Games Jakarta-Palembang 2018. Saat itu, Indonesia kalah, 1-3.

Nasib sama seolah sudah ada di depan mata ketika Jonatan, yang berstatus tunggal pertama dan atlet nomor satu dunia, tidak bisa menyumbangkan poin lagi dan Fajar/Fikri menelan kekalahan perdana. Jonatan takluk dari Shi Yu Qi dengan skor 13-21, 18-21. Sementara Fajar/Fikri kalah dari Liang Wei Keng/Wang Chang, 20-22, 21-9, 14-21.

Namun, kebangkitan datang di waktu yang tepat dan berbuah medali emas setelah 28 tahun. Para penyumbang kemenangan, yakni Alwi, Daniel (25) dan Leo (25), serta Zaki bahkan belum lahir ketika tim ”Merah Putih” diperkuat nama-nama besar seperti Taufik Hidayat, Ricky Soebagdja/Rexy Mainaky, dan Candra Wijaya/Tony Gunawan meraih medali emas di Asian Games Bangkok 1998.

Medali emas itu mewujudkan target tim bulu tangkis Indonesia sekaligus jadi medali emas pertama kontingen ”Merah Putih”. Emas, yang dilengkapi perunggu dari tim beregu putri, menambah torehan 4 perak dan 14 perunggu Indonesia sejak Asian Games dibuka pada 19 September lalu.

Siapa sangka, medali emas yang dinantikan itu berawal dari bisikan-bisikan sunyi para pemain yang mengendap di dalam dada dan menjadi riuh seisi stadion. Percakapan paling jujur dengan diri sendiri serupa mantra ajaib yang menjangkarkan keberanian di tepi jurang kekalahan, lalu membalikkan takdir emas dari ”sekarang atau tidak sama sekali” menjadi ”sekarang dan abadi selamanya”.


Kerabat Kerja

Penulis:

Rebiyyah Salasah dari Ichinomiya, Jepang
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase