Manufaktur Indonesia Tumbuh Stabil, tapi Produksi dan Ekspor Melambat

Di tengah menurunnya permintaan, aktivitas produksi masih tertahan karena sebagian pelaku industri mengandalkan stok untuk memenuhi pesanan baru.

04 Nov 2025 17:14 WIB · Ekonomi & Bisnis

Kompas/Hendra A Setyawan

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS — Di tengah perlambatan ekspor dan kenaikan harga bahan baku, aktivitas industri manufaktur Indonesia tetap ekspansif. Meski demikian, output produksi masih tertahan karena sebagian besar perusahaan memanfaatkan stok yang ada untuk memenuhi pesanan baru. 

Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia yang dirilis S&P Global tercatat naik dari posisi 50,4 pada September menjadi 51,2 pada Oktober 2025. Indeks PMI Manufaktur di atas 50 menandakan ekspansi, sementara angka di bawah 50 menandakan kontraksi.

Capaian ini menandai ekspansi sektor manufaktur selama tiga bulan berturut-turut dan menunjukkan stabilitas momentum pertumbuhan industri nasional di tengah tekanan ekonomi global.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, berdasarkan komponen pembentuk PMI, pesanan baru naik dari level 51,7 menjadi 52,3, sedangkan tingkat ketenagakerjaan meningkat dari level 50,7 ke 51,3. Kenaikan ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar dan perbaikan kapasitas produksi industri nasional.

”Kita melihat adanya peningkatan penyerapan tenaga kerja pada laju tercepat sejak Mei 2025. Ini sinyal baik karena aktivitas industri kembali mendorong penciptaan lapangan kerja,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita melalui keterangan resminya, Selasa (4/11/2025).

Sebuah robot manufaktur dipamerkan dalam InaRI Expo 2025 di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Selasa (28/10/2025). Mengusung tema "Unlocking Innovation, Empowering the Future with AI", acara ini menjadi panggung interaksi antara sains, industri, dan masyarakat, di tengah pesatnya perkembangan akal imitasi (AI) dan teknologi lainnya. Tidak hanya sebagai ajang pameran, InaRI Expo 2025 menjadi kolaborasi lintas sektor untuk menghubungkan hasil riset dengan kebutuhan nyata masyarakat dan dunia industri. Pameran berlangsung hingga 30 Oktober 2025.

KOMPAS/ADRYAN YOGA PARAMADWYA (YGA)
28-10-2025

Sementara itu, aktivitas produksi (output) tetap stabil di level 50. Ini menandakan pelaku industri masih menjaga keseimbangan antara kapasitas produksi dan permintaan pasar. Beberapa pelaku industri dilaporkan menggunakan stok yang ada untuk memenuhi kenaikan pesanan baru sehingga stok barang jadi menurun tipis.

Menurut Agus, peningkatan kinerja industri nasional di tengah tekanan global menunjukkan ketahanan sektor manufaktur Indonesia yang semakin kuat.

”Walaupun ekspor masih melambat akibat pelemahan permintaan di pasar utama, seperti Amerika Serikat dan Eropa, kekuatan konsumsi dalam negeri menjadi motor utama pertumbuhan industri kita,” ungkapnya.

S&P Global mencatat bahwa inflasi harga input mencapai level tertinggi dalam delapan bulan terakhir akibat kenaikan harga bahan baku. Namun, kenaikan harga jual oleh produsen masih terbatas.

”Hal ini menunjukkan bahwa pelaku industri menjaga daya saing harga produk dalam negeri agar tetap kompetitif, sekaligus menahan inflasi di tingkat konsumen,” ujarnya.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.

Dalam konteks regional, PMI manufaktur ASEAN juga meningkat ke level 51,6 pada Oktober 2025. Indonesia (51,2) masih di zona ekspansi bersama Thailand (56,6), Vietnam (54,5), dan Myanmar (53,1). Sementara beberapa negara besar dunia, seperti China (51,2) dan India (57,7), juga menunjukkan ekspansi terbatas, menandakan aktivitas manufaktur global yang stabil.

PMI bukan satu-satunya pegangan dalam membaca kondisi industri dan merumuskan kebijakan industri. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) yang dikeluarkan Kemenperin juga menunjukkan indikasi ekspansi di sektor manufaktur.

Dihubungi secara terpisah, Juru Bicara Kementerian Perindustrian, Febri Hendri Antoni Arif menjelaskan, capaian IKI pada Oktober 2025 tetap berada di zona ekspansi dengan nilai 53,50, atau meningkat 0,48 poin dibandingkan September 2025 sebesar 53,02. Angka ini sedikit di atas PMI Manufaktur.

IKI kali ini juga lebih tinggi dari capaian pada periode yang sama tahun lalu, yaitu 52,75 poin. Pencapaian ini menandakan konsistensi optimisme pelaku industri dalam menjaga aktivitas usaha sepanjang 2025.

Suasana dan aktivitas para pekerja di industri tekstil Trisula Group di Cimahi, Jawa Barat, Kamis (27/2/2025).

Kondisi makroekonomi dalam negeri juga memberikan fondasi yang stabil bagi sektor industri. Salah satunya, Bank Indonesia memutuskan mempertahankan BI-Rate pada level 4,75 persen pada Oktober 2025. Hal ini menjaga akses pembiayaan bagi pelaku usaha tetap terjangkau.

Sejumlah indikator lain turut memperkuat keyakinan industri untuk melanjutkan ekspansi. Misalnya, neraca perdagangan RI yang terus mencatat surplus hingga 64 bulan berturut-turut serta pertumbuhan ekonomi nasional triwulan II-2025 sebesar 5,12 persen secara tahunan.

Kemenperin mencatat, dari 23 subsektor industri pengolahan yang dianalisis, terdapat 22 subsektor yang mengalami ekspansi dengan kontribusi sebesar 98,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) industri pengolahan nonmigas triwulan II-2025.

”Ada satu subsektor yang mengalami kontraksi, yaitu industri tekstil. Sektor ini masih terdampak pelemahan konsumsi dalam negeri serta tekanan dari peningkatan impor benang dan kain,” kata Febri.

Suasana aktivitas bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Kamis (2/10/2025). Badan Pusat Statistik melaporkan neraca perdagangan barang Indonesia pada Agustus 2025 kembali mencatat surplus sebesar 5,49 miliar dollar AS. Surplus itu ditopang oleh kinerja komoditas nonmigas sebesar 7,5 miliar dollar AS. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia pada JanuariÐAgustus 2025 mencatat surplus 29,14 miliar dollar AS. Angka itu meningkat 10,13 miliar dollar AS dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 19,01 miliar dollar AS. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Dilihat dari komponen pembentuk indeks, peningkatan IKI Oktober ditopang menguatnya permintaan (demand) yang tecermin dari peningkatan variabel pesanan baru serta variabel persediaan yang tetap ekspansif dibandingkan bulan sebelumnya.

Produksi terkontraksi

Meski demikian, variabel produksi masih berada di fase kontraksi. ”Fase kontraksi pada produksi ini telah terjadi selama lima bulan berturut-turut. Ini menunjukkan pelaku industri masih berhati-hati menambah output produksi mengingat permintaan belum sepenuhnya pulih dan banyak perusahaan masih memanfaatkan stok yang tersedia,” katanya.

Jika ditinjau berdasarkan orientasi pasar, kinerja industri berorientasi ekspor dan domestik sama-sama menunjukkan perbaikan. IKI berorientasi ekspor naik 0,36 poin ke level 54,35 pada Oktober 2025 dari 53,99 pada September 2025. Sementara IKI berorientasi domestik juga meningkat 0,42 poin ke level 52,34. Keduanya masih di zona ekspansi.

Optimisme pelaku industri pun menunjukkan tren peningkatan. Tingkat optimisme terhadap kondisi usaha untuk enam bulan mendatang naik dari 69,6 persen pada September menjadi 70,5 persen pada Oktober 2025. Sementara pesimisme menurun dari 6,1 persen menjadi 5,4 persen.

Salah satu pekerja perempuan di fasilitas produksi Michelin di Nongkhae, Provinsi Saraburi, Thailand, Kamis (23/10/2025). Fasilitas produksi Michelin Nongkhae ini memiliki lini produksi utama untuk ban truk, bus dan pesawat.

Secara umum, 77,9 persen responden menyatakan kegiatan usahanya membaik atau stabil. Dari jumlah tersebut, 31,0 persen responden menyebut kondisi usahanya membaik, sementara 46,5 persen menyatakan stabil, dan hanya 22,2 persen yang menilai kondisi usahanya menurun.

Berdasarkan IKI, lanjut Febri, ada banyak  subsektor yang mengalami ekspansi per Oktober 2025. Salah satunya, industri karet dan barang dari karet yang dalam tiga bulan berturut-turut mengalami ekspansi. Namun, sisi produksi masih mengalami kontraksi.

”Ekspansi subsektor industri ini disebabkan terjaganya permintaan pasar domestik ataupun ekspor. Namun, produksi berada pada kondisi kontraksi karena pasokan dan harga bahan baku karet alam,” ujarnya.

Untuk memperkuat industri dalam negeri, khususnya sektor karet, Febri menilai perlu ada regulasi tata niaga karet alam yang menjaga keseimbangan supply-demand bahan baku industri.

Petani bersiap menimbang karet sebelum dijual di Desa Aur Kuning, Kecamatan Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar Riau Kamis (12/12/2024). Petani karet di Desa Aur Kuning merupakan petani karet varietas lokal. Pohon karet varietas lokal baru bisa dideres diusia 7 tahun. Melalui pedampingan YAPEKA konsorsium KERABAT para petani meningkatkan produktifitas dan kualitas karet melalui intensifikasi lahan dan pemberian alat dukung. Kompas/Bahana Patria Gupta (BAH)

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Ban Indonesia (APBI) Aziz Pane mengatakan, pemesanan untuk produk karet mengalami penurunan, baik di pasar domestik maupun global. Di tengah penurunan pemesanan itu, industri ban mengalami tantangan untuk pemenuhan bahan baku.

Untuk memenuhi bahan baku, pelaku industri akhirnya melakukan impor yang transaksinya mengunakan dollar AS. Berhubung nilai tukar rupiah terhadap dollar AS masih tinggi, hal ini menambah beban bagi pelaku industri dalam bentuk tingginya ongkos produksi.

Sebagai catatan, dari total komponen produksi ban, hanya 27 persen yang berasal dari karet alam produksi dalam negeri. Adapun 70 persen bahan baku lainnya, seperti carbon black, karet sintetis, dan bahan kimia, masih diimpor.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari