IEU-CEPA Beri Banyak Manfaat ke Industri Manufaktur, Nol Persen Tarif di Lebih 90 Persen Pasar Eropa

Selain membuka pasar yang lebih luas di Eropa, perjanjian tersebut juga diyakini mampu memperkuat struktur perekonomian Indonesia melalui peningkatan devisa.

26 Sep 2025 08:15 WIB · Ekonomi & Bisnis

Oleh Aguido Adri

JAKARTA, KOMPAS — Daya saing produk industri manufaktur dalam negeri akan semakin kompetitif pasca-penandatanganan kesepakatan substantif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement. Perjanjian yang dihasilkan tidak hanya terkait daya saing, tetapi juga mengejar surplus perdagangan hingga memperbesar volume perdagangan atau kue perdagangan.

Setelah mandek selama 10 tahun, Pemerintah Indonesia dan Uni Eropa resmi menandatangani kesepakatan substantif Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan, penandatanganan perjanjian Indonesia dengan Uni Eropa akan memberikan manfaat signifikan bagi sektor industri manufaktur nasional. Selain membuka pasar yang lebih luas di Eropa, perjanjian tersebut juga diyakini mampu memperkuat struktur perekonomian Indonesia melalui peningkatan devisa.

”Tentu industri manufaktur akan mendapatkan manfaat yang luar biasa, khususnya di sektor-sektor pendukung. Pasar akan semakin terbuka luas,” kata Agus di Jakarta, Kamis (25/9/2025) malam tadi.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

Melalui kesepakatan substantif IEU-CEPA ini, Indonesia dan Uni Eropa akan menghapus lebih dari 98 persen pos tarif dan 99 persen dari total nilai impor. Saat kesepakatan tersebut diimplementasikan pada Januari 2027, produk Indonesia langsung akan menikmati tarif 0 persen di 90,40 persen pasar Uni Eropa.

Menurut Agus, manfaat yang dirasakan industri manufaktur Indonesia tidak hanya datang dari IEU-CEPA. Sejumlah perjanjian kerja sama ekonomi lain juga telah dijalin, termasuk dengan Kanada (ICA-CEPA).

Perluasan akses pasar melalui berbagai skema perjanjian diyakini akan memberikan peluang lebih besar bagi produk industri dalam negeri untuk bersaing di kancah global.

Dari perjanjian dengan Uni Eropa dan Kanada, pasar produk industri semakin terbuka. ”Kalau terjadi surplus, hal itu akan memperkuat devisa dan memperkokoh struktur perekonomian kita,” ujar Agus.

Agus menekankan, tujuan utama pemerintah tidak hanya mengejar surplus perdagangan semata, tetapi juga memperbesar volume perdagangan atau kue perdagangan dengan mitra dagang. Dengan memperbesar skala perdagangan, ruang bagi industri dalam negeri untuk mengisi pasar luar negeri juga akan semakin luas.

IEU-CEPA
Quote

Produk alas kaki Indonesia akan masuk ke Uni Eropa dengan tarif 0 persen. Ini bukan pasar pengganti, tetapi perluasan pasar karena semua negara adalah pasar selama ada pesanan dan buyer. Indonesia, khususnya untuk alas kaki, akan sejajar dengan Vietnam yang lebih dulu memiliki perjanjian serupa.

Peningkatan neraca perdagangan melalui perjanjian semacam IEU-CEPA dan ICA CEPA menjadi hal yang penting bagi perekonomian nasional. Pasalnya, selain membuka peluang ekspor, langkah ini juga diyakini mampu meningkatkan daya saing produk Indonesia dibandingkan dengan negara-negara pesaing di pasar Eropa.

Dihubungi secara terpisah, Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Yoseph Billie Dosiwoda mengatakan, pihaknya menyambut positif kesepakatan prinsip IEU-CEPA yang ditandatangani pemerintah pada 23 September 2025 di Bali.

Perjanjian yang baru efektif berlaku pada kuartal I-2027 setelah melalui proses administrasi atau ratifikasi di Indonesia dan 27 negara anggota Uni Eropa itu dinilai menjadi peluang besar bagi perluasan pasar ekspor alas kaki nasional.

”Produk alas kaki Indonesia akan masuk ke Uni Eropa dengan tarif 0 persen. Ini bukan pasar pengganti, tetapi perluasan pasar karena semua negara adalah pasar selama ada pesanan dan buyer. Indonesia, khususnya untuk alas kaki, akan sejajar dengan Vietnam yang lebih dulu memiliki perjanjian serupa,” kata Billie.

Pengunjung melihat produk alas kaki dalam pameran Indonesia Outdoor Festival (Indofest) 2025 di Jakarta International Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (12/6/2025).

Menurut Billie, asosiasi optimistis implementasi IEU-CEPA dapat mendorong nilai ekspor alas kaki ke Uni Eropa meningkat hingga 50 persen dari capaian sebelumnya. Kenaikan ekspor tersebut akan berdampak positif terhadap peningkatan kapasitas produksi dan penciptaan lapangan kerja baru di sektor padat karya ini.

”Kondisi saat ini akan mendapatkan tantangan baru yang cukup berat karena tarif resiprokal US meningkat dari tarif sementara 10 persen menjadi 19 persen dan tentunya daya beli masyarakat AS akan mengalami penurunan. Pesanan produk alas kaki dari Indonesia pun berpotensi menurun,” ujarnya.

Dua situasi eksternal itu harus dikelola dengan baik oleh pemerintah. IEU-CEPA memang membuka peluang baru di Eropa, tetapi kenaikan tarif di AS bisa mengurangi pesanan.

Asosiasi dan pelaku industri mendorong pemerintah untuk mempercepat deregulasi yang dapat menciptakan iklim industri lebih kondusif. Bagi industri padat karya, kemudahan perizinan administrasi ataupun teknis menjadi kunci agar produksi berjalan efisien.

Pekerja menyelesaikan pembuatan sepatu dan sandal wanita di sebuah industri alas kaki OB Shoes di Serua, Depok, Jawa Barat, Rabu (10/5/2023). Hasil produksi industri rumahan ini dipasarkan secara daring dan luring ke butik-butik sepatu di Jawa dan Bali. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, hingga triwulan III-2023, nilai penjualan industri alas kaki di Tanah Air mencapai Rp5,07 triliun. Kompas/Hendra A Setyawan (HAS)

Selain itu, pelaku usaha juga berharap ada insentif fiskal berupa potongan 50 persen harga gas dan listrik. Dukungan kebijakan energi terbarukan, seperti penyediaan panel surya dengan harga terjangkau, juga penting untuk menjaga keberlangsungan produksi.

Beban tambahan, termasuk pungutan PPn untuk subcont biaya ekspor, sebaiknya dihapus agar daya saing industri manufaktur meningkat.

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, total perdagangan Indonesia dengan Uni Eropa pada Januari-Juli 2025 tercatat sebesar 18 miliar dollar AS, meningkat 4,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada 2024, total perdagangan kedua pihak mencapai 30,40 miliar dollar AS.

Ekspor Indonesia ke Uni Eropa sebesar 17,40 miliar dollar AS dan impor Indonesia dari Uni Eropa sebesar 13 miliar dollar AS. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar 4,4 miliar dollar AS.

Sejumlah busana karya desainer lokal ditamplkan dalam gelar pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2025 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jumat (8/8/2025). Pameran ini diselnggarakan oleh Bank Indonesia sebagai langkah konkret untuk mendorong UMKM naik kelas melalui inovasi, digitalisasi, dan sinergi lintas sektor. UMKM merupakan pilar penting dalam mendukung perekonomian menuju Indonesia maju. Sebanyak 362 UMKM binaan Bank Indonesia yang telah dikurasi bersama 8 kementerian/ lembaga dihadirkan dalam pamerna tersebut. Terdapat sekitar 65 juta UMKM di seluruh Indonesia yang mendukung ekonomi, memiliki daya tahan terhadap krisis, dan sebagian besarnya digerakkan oleh kaum perempuan. Produk yang ditampilkan mencakup wastra, kriya, kopi, makanan olahan, serta produk berbasis keberlanjutan. Tahun ini, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi tema utama KKI 2025, dengan mengusung filosofi lokal #KalalaMareda yang berarti Òkreasi dalam kebersamaan." Bank Indonesia mengembangkan UMKM dari ujung ke ujung melalui tiga pilar utama, yaitu penguatan daya saing, peningkatan akses keuangan, serta literasi dan inklusi keuangan. Penguatan daya saing difokuskan pada sektor unggulan seperti wastra, kriya, kopi, dan kuliner lokal. Akses keuangan didorong melalui platform Business Matching Digital yang mempertemukan UMKM dengan lembaga pembiayaan secara efisien dan terkurasi. Sementara itu, literasi keuangan juga diperkuat melalui penyusunan sejumlah stan BI, diantaraya dengan memperkenalkan QRIS lintas negara. KKI 2025 menargetkan peningkatan signifikan dalam dampak dan partisipasi, khususnya pada aspek pencocokan bisnis ekspor, pembiayaan UMKM, serta keterlibatan masyarakat luas. Transformasi digital UMKM terus diperkuat melalui pemanfaatan QRIS yang telah menjangkau 57 juta pengguna dan 39,3 juta pedagang, mayoritas di antaranya merupakan pelaku UMKM. Digitalisasi juga ditingkatkan melalui kolaborasi dengan situs perdagangan elektronik dan PaDi UMKM, serta adopsi t

ICA CEPA

Menteri Perdagangan RI, Budi Santoso, menandatangani Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (Indonesia-Canada CEPA) pada Rabu (24/9/2025) di Ottawa, Kanada. Penandatanganan dilakukan bersama Menteri Perdagangan Internasional Kanada, Maninder Sidhu dan disaksikan Presiden Prabowo Subianto serta Perdana Menteri Kanada Mark Carney.

Budi Santoso menyatakan, Indonesia-Canada CEPA menjadi tonggak sejarah, menandai kerja sama dagang komprehensif pertama Indonesia dengan negara di kawasan Amerika Utara, dan yang pertama bagi Kanada dengan negara di Asia Tenggara.

”Indonesia-Canada CEPA menandai babak baru hubungan ekonomi kedua negara. Perjanjian ini membuka akses pasar yang lebih luas, serta memperkuat daya saing produk dan jasa Indonesia di Kanada,” ujar Budi melalui keterangan tertulisnya.

Melalui Indonesia-Canada CEPA, lebih dari 90 persen atau sekitar 6.573 pos tarif Indonesia mendapat preferensi di pasar Kanada. Produk-produk potensial Indonesia, seperti tekstil, alas kaki, furnitur, makanan olahan, elektronik ringan dan elektronik otomotif, hingga sarang burung walet, diprediksi akan semakin kompetitif.

Dengan dibantu kapal pandu, kapal barang Yang Ming yang mengangkut peti kemas berusaha berlabuh di Dermaga Jakarta International Container Terminal, Tanjung Priok, Jakarta, Senin (21/4/2025). Badan Pusat Statistik mencatat surplus perdagangan Indonesia pada periode Maret 2025 sebesar US$4,33 miliar. Dimana nilai ekspor Indonesia pada Maret tembus US$ 23,25 miliar dan impor sebesar US$ 18,92 miliar.

Bahkan, beberapa produk akan langsung menikmati tarif 0 persen saat perjanjian sudah berlaku (entry into force), misalnya makanan olahan, hasil laut, produk kerajinan berbahan serat alam, peralatan rumah tangga, serta granit dan marmer.

Di sisi lain, Indonesia membuka pasar sebesar 85,54 persen atau sekitar 9.764 pos tarif untuk produk prioritas Kanada, antara lain daging sapi beku, gandum, kentang, makanan hasil laut, dan makanan olahan.

”Penandatanganan ini baru awal. Tugas kita selanjutnya adalah memastikan perjanjian ini memberi manfaat nyata bagi masyarakat, pelaku usaha, dan investor di kedua negara. Indonesia terbuka untuk kemitraan. Mari bersama-sama wujudkan pertumbuhan dan kesejahteraan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Pada Januari-Juli 2025, total perdagangan Indonesia dan Kanada mencapai 2,72 miliar dollar AS, naik sekitar 30 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 2,09 miliar dollar AS. Ekspor Indonesia tercatat 1,01 miliar dollar AS, sedangkan impor dari Kanada sebesar 1,71 miliar dollar AS.

Produk ekspor utama Indonesia meliputi karet alam, alas kaki, kakao, mentega dan minyak nabati, serta tekstil. Sementara itu, impor utama dari Kanada, antara lain, gandum, pupuk, kedelai, bubur kayu kimia, dan emas.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri
 | 

Editor:

Budi Suwarna
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto