Israel secara langsung atau tidak langsung berandil menumbangkan rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.
13 Des 2024 12:55 WIB · Opini
Israel ditengarai secara langsung ataupun tidak langsung berandil melemahkan dan kemudian menumbangkan rezim Presiden Bashar al-Assad di Suriah.
Aksi bombardir pesawat-pesawat tempur Israel atas posisi militer Suriah dan Iran selama beberapa tahun terakhir ini tentu sangat berandil melemahkan pasukan Pemerintah Suriah dan rezim Assad. Bahkan, bisa dikatakan, Israel merupakan salah satu faktor utama yang melemahkan pasukan Pemerintah Suriah sehingga tidak mampu melawan pasukan oposisi bersenjata Suriah.
Menurut laporan tahunan lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR), yang bermarkas di London, dan diterbitkan akhir Desember 2020, adalah Israel yang selama tahun 2020 telah melancarkan 40 kali serangan udara terhadap sasaran Iran dan loyalisnya di Suriah.
Serangan udara Israel tersebut telah menewaskan 215 tentara Iran dan loyalisnya di berbagai wilayah di Suriah, serta menghancurkan 135 gedung atau sasaran yang diduga kuat milik Iran dan loyalisnya di Suriah.
Harian Israel, The Jerusalem Post, edisi 30 Maret 2022 melaporkan, pesawat tempur Israel melancarkan lebih dari 1.000 serangan udara ke Suriah selama periode lima tahun dari tahun 2017 sampai 2022 untuk menggempur sasaran Iran di Suriah.
Serangan Israel atas sasaran Suriah dan Iran tidak pernah berhenti terakhir ini. Serangan Israel yang cukup mematikan adalah serangan atas kantor konsulat Iran di Damaskus pada 1 April 2024. Serangan ini menewaskan 16 anggota Divisi Al Quds dari Garda Revolusi Iran.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/04/03/ff769e79-9328-4a2e-9b17-262cbe04da02_jpg.jpg)
Perubahan kebijakan dan sikap Israel dengan menggempur Suriah habis-habisan ini menyusul kehadiran militer Iran dan loyalisnya, Hizbullah, secara mencolok di Suriah setelah meletusnya revolusi Suriah tahun 2011.
Seperti diketahui, Iran dan milisi loyalisnya mulai masuk ke Suriah pada tahun 2013 dengan dalih untuk menyelamatkan rezim Bashar al-Assad dari kejatuhan.
Adapun Israel memandang Iran saat ini sebagai musuh terbesarnya di Timur Tengah. Karena itu, Israel menyatakan kehadiran militer Iran di Suriah sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya.
Perubahan kebijakan dan sikap Israel dengan menggempur Suriah habis-habisan ini menyusul kehadiran militer Iran dan loyalisnya, Hizbullah, secara mencolok di Suriah setelah meletusnya revolusi Suriah tahun 2011.
Itulah latar belakang perubahan sikap dan kebijakan Israel terhadap rezim Presiden Bashar al-Assad yang dianggap bersekutu dengan Iran. Sebelum meletus revolusi Suriah tahun 2011, Israel memandang rezim Assad tidak mengancam keamanan Israel.
Israel merasa nyaman dengan berkuasanya rezim Assad di Damaskus sejak era Presiden Hafez al-Assad (1971-2000) hingga putranya, Bashar al-Assad (2000-2024), karena rezim Assad sangat menghormati kesepakatan gencatan senjata di Dataran Tinggi Golan yang dicapai tahun 1974. Selama rezim Assad berkuasa, tercipta stabilitas di Dataran Tinggi Golan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/12/f34ade48368e9063e27448705daeb6dd-SYRIA_CONFLICT_126036820.jpg)
Namun, semuanya berubah setelah meletusnya revolusi Suriah tahun 2011 serta masuknya militer Iran dan Hizbullah ke Suriah tahun 2013. Israel tidak merasa nyaman lagi dengan rezim Assad pasca-tahun 2013 dan berusaha melemahkannya dengan ikut menggempur Suriah.
Israel juga memandang kelompok-kelompok oposisi Suriah yang sebagian besar berhaluan ideologi Islamis belum tentu bisa menjadi kawan Israel yang bisa diajak kerja sama untuk mencapai misi strategis Israel di Timur Tengah. Bahkan, sebaliknya kelompok-kelompok oposisi Suriah bisa juga menjadi musuh bebuyutan Israel jika berhasil berkuasa di Damaskus.
Namun, Israel memandang kelompok oposisi bersenjata Suriah jauh lebih ringan dibandingkan dengan kekuatan Iran dan loyalisnya. Apalagi, setelah tumbangnya rezim Presiden Bashar al-Assad pada Minggu, 8 Desember 2024, Israel melancarkan lebih dari 300 serangan udara ke gudang-gudang peluru dan senjata strategis milik militer Suriah di antero negeri Suriah. Israel tidak ingin gudang senjata itu jatuh ke tangan kelompok oposisi bersenjata Suriah yang kini berkuasa di Damaskus.
Israel mengklaim telah menghancurkan 80 persen infrastruktur militer Suriah sehingga Suriah tidak akan menjadi ancaman terhadap Israel dalam beberapa tahun mendatang. Israel menghendaki kelompok-kelompok oposisi bersenjata Suriah yang dipimpin Hayat Tahrir al-Sham (HTS) ini hanya memiliki senjata ringan dan menengah yang tidak mengancam keamanan nasional Israel.
Israel juga melancarkan manuver masuk ke wilayah penyangga di Dataran Tinggi Golan yang membuat militer Israel hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari kota Damaskus. Daerah penyangga adalah wilayah demiliterisasi di bawah kontrol pasukan PBB sesuai kesepakatan gencatan senjata tahun 1974.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/13/1f37f38c650c9fc79ac1ce09e529346a-Israel_Syria_126120982.jpg)
Manuver Israel di Dataran Tinggi Golan itu mendapat kecaman PBB dan masyarakat internasional. Israel tampaknya memutuskan melakukan manuver dengan masuk lebih jauh ke wilayah di Dataran Tinggi Golan sebagai pesan politik dan sekaligus uji coba melihat reaksi pemerintah baru di Damaskus.
Di mata Israel, secara geopolitik dan strategis, tumbangnya rezim Assad melemahkan dan sekaligus sebagai lambang kekalahan Iran dan loyalisnya, Hizbullah.
Selama ini Iran dikenal membangun ”Poros Bulan Sabit” yang membentang dari Teheran, Baghdad, Damaskus, hingga Beirut. Poros Bulan Sabit berintikan negara-negara yang pro-Iran atau Iran punya pengaruh besar di negara-negara dalam Poros Bulan Sabit itu.
Israel mengklaim telah menghancurkan 80 persen infrastruktur militer Suriah sehingga Suriah tidak akan menjadi ancaman terhadap Israel dalam beberapa tahun mendatang.
Iran memandang Damaskus punya peran sangat strategis dalam Poros Bulan Sabit karena merupakan pintu masuk pasokan logistik dari Iran menuju loyalisnya di Lebanon, yakni Hizbullah, dalam melawan Israel.
Iran melihat Suriah sangat strategis karena negara itu menjadi pijakan militer Iran secara langsung sejak tahun 2013 setelah rezim Assad mengundang militer Iran masuk ke Suriah untuk membantu menyelamatkan rezim Assad. Dengan kehadirannya secara langsung di Suriah, Iran merasa hanya beberapa jengkal saja dari wilayah Israel.
Sebaliknya, Israel merasa sangat tidak nyaman dan terancam dengan kehadiran militer Iran secara langsung di Suriah.
Itulah di balik tindakan Israel sejak tahun 2017 melancarkan serangan-serangan udara gencar terhadap sasaran Iran dan loyalisnya di Suriah. Serangan udara gencar Israel itu tentu secara tidak langsung membantu kubu oposisi Suriah. Serangan Israel menjadi faktor utama yang melemahkan Iran di Suriah dan pada gilirannya berandil menumbangkan rezim Assad pada 8 Desember 2024.
Tak bisa dimungkiri, tumbangnya rezim Assad di Suriah secara geopolitik dan geostrategis merugikan Iran dan loyalisnya serta sebaliknya, menguntungkan Israel.
Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786_jpg.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd RahmanEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra