Setelah menunggu 73 tahun, timnas Indonesia tinggal berjarak 180 menit ke Piala Dunia. Harga diri Patrick Kluivert sebagai pelatih dipertaruhkan demi mimpi ”Garuda”.
07 Okt 2025 17:43 WIB · Olahraga
JEDDAH, SELASA — Sejak terdaftar sebagai anggota resmi FIFA pada 1952, tim nasional Indonesia perlu menunggu selama 73 tahun untuk mencapai langkah terdekat menuju Piala Dunia. Jalan ke turnamen sepak bola terakbar itu hanya berdurasi 180 menit. Saatnya skuad ”Garuda” menggoreskan sejarah monumental di Arab Saudi.
Indonesia merupakan salah satu dari enam tim tersisa di putaran keempat pra-Piala Dunia 2026. Dua tim terbaik dari dua grup—berisi tiga tim—akan menggenggam tiket langsung sisa jatah Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Anak asuhan Patrick Kluivert dikepung oleh lima tim Timur Tengah. Di Grup B putaran keempat pra-Piala Dunia 2026, Indonesia adalah satu-satunya tim yang belum pernah merasakan berlaga di panggung dunia.
Meskipun FIFA mencatat Indonesia sebagai duta Asia pertama di Piala Dunia pada edisi 1938. Catatan itu tidak memiliki keterikatan erat dengan sejarah sepak bola Indonesia. Tim yang dikirim ke Piala Dunia dipandu oleh Persatuan Sepak Bola Hindia Belanda (NIVU), bukan PSSI yang belum diakui FIFA saat itu.
Hal itu tentu berbeda dengan Saudi yang sudah mengalami enam edisi penampilan Piala Dunia sejak Amerika Serikat 1994. Adapun Irak mewakili Asia pada Piala Dunia Meksiko 1986.
Jika hasil sepak bola ditentukan banyaknya untaian doa, Indonesia pasti menang atas Arab Saudi dan Irak. Namun, dukungan besar suporter dan jerih payah kumpulan pemain diaspora tak ada artinya tanpa peluh sungguh-sungguh di atas lapangan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/06/28/2b5432d4832b364ce5b10363e9b3d31d-Untitled_1.jpg)
Kami menganggap pertandingan ini sebagai final. Kami telah mempersiapkan segalanya untuk mengemas hasil positif.
Kluivert pun berambisi menuliskan tinta emas dalam karier kepelatihannya. Serupa dengan Indonesia, ia berpeluang mengalami momen perdana memimpin timnas dengan kedudukan pelatih kepala di Piala Dunia.
Percobaan pertama Kluivert menembus Piala Dunia gagal bersama Curacao. Kluivert gagal membawa Curacao lolos ke Piala Dunia 2018.
Misi menembus Piala Dunia bersama Indonesia juga merupakan pertaruhan martabat Kluivert. Ia dilayani baik oleh PSSI dengan memperkuat tim dengan menambah enam pemain diaspora di bawah rezim kepemimpinannya.
Kluivert juga didukung 14 staf yang fasih berbahasa Belanda, termasuk Direktur Teknik Alexander Zwiers dan penasihat teknik, Jordi Cruyff. Itu adalah jumlah staf pelatih tergemuk timnas Indonesia sepanjang sejarah. Tak ayal, ia menyebut dua laga putaran keempat kontra Arab Saudi dan Irak adalah ”final”.
Pertandingan penentuan pertama menghadapi Saudi, Kamis (9/10/2025) pukul 00.15 WIB, di Stadion Kota Olahraga Raja Abdullah, Jeddah, Arab Saudi. Demi menjaga asa lolos ke Piala Dunia 2026, Indonesia tidak boleh kalah dari Saudi yang berjuluk ”Alap-alap Hijau”.
”Kami menganggap pertandingan ini sebagai final. Kami telah mempersiapkan segalanya untuk mengemas hasil positif. Kami optimistis akan tampil tangguh,” ujar Kluivert dalam konferensi pers jelang laga di Jeddah, Selasa (7/10/2025).
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/05/bf89246735b12cb80ab65bf4bfba653e-20250905Bah15.jpg)
Kluivert mengungkapkan anak asuhannya sudah terbiasa bermain di bawah tekanan. Selain diburu ambisi lolos ke Piala Dunia, teror dari pendukung tuan rumah selama 90 menit laga juga harus diantisipasi Jay Idzes dan kawan-kawan.
”Kami tidak memiliki ketakutan. Saya berkeyakinan bahwa tim saya sudah terbiasa dengan atmosfer pertandingan ketat,” kata Kluivert yang baru menghasilkan tiga kemenangan dari enam laga mengasuh skuad Garuda.
Satu posisi yang menjadi fokus persiapan Kluivert adalah pos penjaga gawang. Maksud PSSI menaturalisasi Emil Audero untuk putaran keempat, tetapi takdir berkehendak lain.
Emil yang tengah dalam performa terbaik di awal musim 2025-2026 menderita cedera otot ketika berlatih jelang tampil untuk Cremonese menghadapi Como, 27 September lalu. Kiper kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, itu tetap berada di Italia untuk menjalani perawatan pemulihan cedera itu.
”Sayangnya, saya tidak bisa bergabung karena cedera. Itulah sepak bola, itulah kehidupan. Saya berharap bisa menolong rekan setim menjangkau mimpi kami, tetapi saya yakin mereka akan memberikan segalanya untuk membuat kita senang dan bangga,” tulis Emil dalam fitur cerita di akun Instagramnya, Selasa ini.
Ketika Emil cedera, kiper lainnya, Maarten Paes, juga belum sepenuhnya pulih dari cedera hamstring sejak Juli lalu. Kondisi itu membuat Ernando Ari berpeluang kembali mengisi pos penjaga gawang timnas Indonesia.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/09/08/55ed532f22e1e0281453ab0bb33e5ab6-20250908BAH9.jpg)
Terakhir kali kiper Persebaya Surabaya itu tampil untuk tim Garuda tercipta pada gim terakhir putaran kedua pra-Piala Dunia 2026 melawan Filipina, 11 Juni 2024. Setelah itu, Ernando pilihan ketiga di bawah Emil dan Maarten.
”Absennya Emil cukup berpengaruh bagi kami. Namun, kami memiliki pengganti yang tepat,” ucap Kluivert.
Pelatih Saudi Herve Renard mengungkapkan, kondisi timnya sudah jauh lebih baik dari ketika dikalahkan Indonesia, 0-2, November 2024. Demi menghadapi putaran keempat, Saudi berpartisipasi pada Piala Emas Concacaf 2025, lalu menghadapi duo Eropa, Macedonia Utara dan Ceko, September kemarin.
”Semangat tim sangat fantastis. Kami tidak menganggap laga uji coba itu sebagai gim ekshibisi. Kami sudah siap memikirkan pertandingan bulan ini,” kata Renard.
Tambahan berharga Saudi jelang lawan Indonesia adalah kehadiran sang kapten, Salem al-Dawsari. Pemain Al-Hilal itu absen pada gim di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, karena menderita cedera. Al-Dawsari akan menjalani cap ke-100 bersama tim Alap-alap Hijau saat diturunkan menghadapi Indonesia.
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra