Masa Depan Gaza di Tangan Steve Witkoff

Steve Witkoff, sosok berlatar belakang pengusaha dan bukan diplomat, menjadi andalan Presiden AS Donald Trump, menangani isu-isu rumit di Timur Tengah, termasuk gencatan senjata di Gaza.

24 Jan 2025 09:17 WIB · Opini

Oleh Musthafa Abd Rahman

Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, sulit dimungkiri adalah orang terkuat saat ini terkait isu masa depan gencatan senjata di Jalur Gaza. Seperti halnya ia berandil besar tercapainya transaksi gencatan senjata di Jalur Gaza, Witkoff-lah yang akan memegang peran besar terkait masa depan kesepakatan gencatan senjata itu.

Witkoff (67) berasal dari New York, AS. Ia teman lama Donald Trump dan sama-sama pengusaha terkemuka di bidang properti di AS. Segera setelah memenangi pemilu presiden pada November 2024, Trump langsung menunjuk Witkoff sebagai utusan khususnya untuk Timur Tengah.

Keputusan Trump tersebut menunjukkan kepercayaan Trump atas kemampuan Witkoff dalam menangani isu-isu rumit di Timur Tengah, khususnya isu perang Gaza yang saat itu masih sedang berkecamuk. Kepercayaan ini tidak disia-siakan Witkoff dengan suksesnya menekan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menerima transaksi gencatan senjata di Jalur Gaza.

Sejauh ini pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza yang dimulai sejak hari Minggu, 19 Januari 2025, berjalan baik. Tukar-menukar tahanan yang menjadi pilar gencatan senjata tersebut berjalan lancar. Hamas telah membebaskan tiga sandera Israel dengan imbalan pembebasan 50 tahanan Palestina per satu sandera Israel itu.

This image grab from a handout video released by the Hamas Media Office shows Israeli hostages (L to R) Emily Damari, Romi Gonen, and Doron Steinbracher, who were abducted by Palestinian militants during the October 7, 2023 attacks, posing with documents bearing the logo of the the Ezzedine al-Qassam Brigades, Hamas's armed wing, certifying the ceasefire and hostage-prisoner exchange deal in the war between Israel and Hamas, as they sit in a Hamas vehicle before being handed over to the International Committee of the Red Cross (ICRC) in the Gaza Strip on January 19, 2025. The first three Israeli hostages were released on January 19 under a long-awaited Gaza truce aimed at ending more than 15 months of war that has ravaged the Palestinian territory. (Photo by HAMAS MEDIA OFFICE / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / HAMAS MEDIA OFFICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Pada tahap pertama gencatan senjata yang akan berlangsung selama 42 hari, Hamas akan membebaskan 33 sandera Israel dengan imbalan Israel akan membebaskan hampir 2.000 tahanan Palestina.

Gencatan senjata tahap kedua dan ketiga masing-masing juga akan berlangsung selama 42 hari. Artinya, proses gencatan senjata di Jalur Gaza akan berlangsung cukup lama, yakni 42 hari x 3 tahap atau 126 hari.

Proses gencatan senjata yang cukup panjang itu, tentu, merupakan tantangan sendiri. Masih banyak duri yang bisa menggagalkan setiap saat proses gencatan senjata tersebut.

Presiden Trump pada Senin, 20 Januari 2025, di Gedung Putih, seperti dikutip kantor berita AFP, mengatakan tidak meyakini kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza akan mampu bertahan. Pernyataan Trump ini menunjukkan bahwa AS sendiri masih sangat berhati-hati dalam melihat masa depan gencatan senjata di Jalur Gaza yang masih penuh tantangan.

Mideast Wars Gaza Ceasefire Dealmaking

Karena itu, Utusan Khusus Presiden Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, seperti diberitakan stasiun televisi Israel, Saluran 13, Selasa, (21/5/2025), akan mengunjungi Jalur Gaza untuk melihat langsung di lapangan tentang sejauh mana kesepakatan gencatan senjata itu dilaksanakan secara penuh.

Witkoff menyatakan, mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza merupakan suatu hal yang sulit. Namun, pelaksanaan gencatan senjata secara benar akan lebih sulit lagi.

Quote

Proses gencatan senjata di Gaza akan berlangsung cukup panjang. Masih banyak duri yang bisa menggagalkan setiap saat proses gencatan senjata itu.

Pernyataan Witkoff tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan gencatan senjata di Gaza tidak mudah. Keinginan Witkoff mengunjungi Jalur Gaza menunjukkan bahwa dirinya memikul tanggung jawab langsung atas masa depan gencatan senjata di Gaza.

Dengan kata lain, Witkoff menyadari bahwa di tangan dia, nasib gencatan senjata di Jalur Gaza akan ditentukan.

Utusan Khusus AS untuk Timur Tengah, Steve Witkoff (berdiri di podium), mengumumkan kedatangan Presiden AS Donald Trump pada parade pelantikan secara tertutup di Capital One Arena, Washington DC, AS, 20 Januari 2025.

Situs Israel, Walla, Rabu (22/5/2025), memberitakan bahwa Witkoff dalam beberapa hari mendatang akan memimpin perundingan bersama Qatar dan Mesir untuk membahas detail pelaksanaan tahap kedua gencatan senjata nanti.

Tentang peran besar tim Trump yang dipimpin Witkoff terkait masa depan gencatan senjata di Jalur Gaza diakui Dubes Israel untuk AS, Mike Herzog. Laman media AS, Exos, mengutip Herzog yang mengatakan, Witkoff telah mendapat konsesi dari Israel bagi suksesnya transaksi gencatan senjata di Gaza.

Herzog mengungkapkan, Witkoff memainkan peran strategis dalam perundingan gencatan senjata di Gaza dan ia bertekad perundingan harus sukses mencapai kesepakatan gencatan senjata.

Quote

Pada Sabtu malam, 11 Januari 2025, Netanyahu menerima transaksi gencatan senjata di Jalur Gaza setelah mendapat tekanan dan ancaman dari Witkoff.

Harian AS, The New York Times, edisi Selasa (21/5/2025) juga menyebut, pemerintahan Presiden Trump yang kini memikul tanggung jawab bagi suksesnya gencatan senjata di Jalur Gaza. Menurut Times, Trump sudah menekan PM Netanyahu dan Hamas sejak awal Januari 2025 bahwa neraka jahanam akan berkobar jika gencatan senjata dan pembebasan sandera tidak terjadi di Jalur Gaza pada saat dia dilantik sebagai presiden AS pada 20 Januari 2025.

Trump kemudian mengirim Witkoff untuk bertemu langsung Netanyahu guna menekannya agar menerima gencatan senjata di Jalur Gaza.

Maka, terjadilah pertemuan langsung menegangkan yang terkenal antara Netanyahu dan Witkoff pada Sabtu malam, 11 Januari 2025. Pada malam itu, Netanyahu menerima transaksi gencatan senjata di Jalur Gaza setelah mendapat tekanan dan ancaman dari Witkoff.

Mideast Wars Gaza Ceasefire Dealmaking

Times menyebut, meskipun berhasil menundukkan Netanyahu dengan menerima gencatan senjata di Jalur Gaza, Trump masih memikul tantangan berat untuk terus bisa melanggengkan gencatan senjata di Jalur Gaza.

Salah satu tantangan terberat bagi Trump, tulis Times, adalah pada tahap ketiga atau tahap terakhir dari tahap gencatan senjata itu. Pada tahap ketiga nanti akan dibahas tentang bentuk dan siapa yang memerintah di Jalur Gaza pasca-perang. Saat ini masih belum disepakati tentang bentuk dan siapa yang memerintah Jalur Gaza kelak.

Dalam konteks ini, pemerintahan Trump harus mampu berandil mencari jalan kompromi yang bisa diterima Israel dan Hamas tentang bentuk dan siapa yang memerintah Jalur Gaza nanti. Trump hampir dipastikan akan memberi kepercayaan penuh kepada Witkoff agar mengawasi langsung jalannya pelaksanaan gencatan senjata di Jalur Gaza sebagai apresiasi keberhasilannya menekan PM Netanyahu menerima transaksi gencatan senjata di Jalur Gaza.

Maka, figur Witkoff akan menyala di kancah politik Timur Tengah, khususnya terkait isu Jalur Gaza, pada periode jabatan kedua Trump sebagai presiden AS (2025-2029).

Semua harapan kini tertuju pada kemampuan dan kepiawaian Witkoff sebagai Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah guna bisa melanggengkan gencatan senjata di Jalur Gaza sehingga memberi harapan baru atas terciptanya Timur Tengah yang lebih damai dan sejahtera.

___________

Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022

Musthafa Abd Rahman (MUS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Musthafa Abd Rahman
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Lucia Dwi Puspita Sari