Trump dan Arah Gencatan Senjata di Gaza

Trump ingin menjadikan momentum gencatan senjata di Gaza sebagai titik tolak mewujudkan impian memperluas normalisasi hubungan Arab-Israel.

21 Jan 2025 08:10 WIB · Opini

Oleh REDAKSI

Sempat tertunda tiga jam, gencatan senjata di Gaza mulai berlaku. Keberlanjutannya tak hanya dipengaruhi Hamas-Israel, tetapi juga presiden baru AS, Donald Trump.

Tepat sehari sebelum Trump dilantik jadi Presiden ke-47 Amerika Serikat, Minggu (19/1/2025), gencatan senjata antara Hamas dan Israel berlaku efektif. Pelaksanaannya molor sekitar tiga jam dari jadwal semula karena Hamas tidak menyerahkan tiga nama sandera Israel yang akan dibebaskan tepat waktu. Hamas menyebut ada kendala teknis di lapangan.

Semua lega ketika Hamas mengirimkan tiga nama perempuan sandera, yaitu Romi Gonen (25), Doron Steinbrecher (31), dan Emily Damari (28), ke Israel. Ketiganya kemudian ditukar dengan 90 tahanan Palestina. Pertukaran sandera Israel dan tahanan Palestina ini menandai awal tahap pertama gencatan senjata yang akan berlangsung selama 42 hari.

This image grab from a handout video released by the Hamas Media Office shows Israeli hostages (L to R) Emily Damari, Romi Gonen, and Doron Steinbracher, who were abducted by Palestinian militants during the October 7, 2023 attacks, sitting in a Hamas vehicle before being handed over to the International Committee of the Red Cross (ICRC) in the Gaza Strip on January 19, 2025 after a ceasefire and hostage-prisoner exchange deal in the war between Israel and Hamas was implemented. The first three Israeli hostages were released on January 19 under a long-awaited Gaza truce aimed at ending more than 15 months of war that has ravaged the Palestinian territory. (Photo by HAMAS MEDIA OFFICE / AFP) / == RESTRICTED TO EDITORIAL USE - MANDATORY CREDIT "AFP PHOTO / HO / HAMAS MEDIA OFFICE" - NO MARKETING NO ADVERTISING CAMPAIGNS - DISTRIBUTED AS A SERVICE TO CLIENTS ==

Seperti diberitakan, pada Rabu (15/1)—dimediasi Qatar, Mesir, dan AS—Hamas dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata di Gaza. Dari substansinya, poin-poin kesepakatan itu tak jauh berbeda dengan proposal gencatan senjata yang diusulkan Presiden AS Joe Biden, Mei 2024. Proposal Biden kala itu telah dikuatkan melalui dukungan Dewan Keamanan PBB dan mendapat respons positif dari Hamas.

Gencatan senjata yang disepakati dibagi dalam tiga tahap. Pada tahap pertama, sebanyak 33 sandera Israel (termasuk perempuan, anak-anak, dan laki-laki berusia di atas 50 tahun) akan dibebaskan. Tentara Israel juga ditarik dari wilayah padat penduduk di Gaza. Warga Gaza diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing. Bantuan kemanusiaan pun diperbolehkan masuk Gaza secara masif, sekitar 600 truk per hari.

Quote

Banyak titik rawan yang bisa menggagalkan tujuan gencatan senjata di Gaza saat ini.

Di tahap kedua, detail kesepakatannya akan dirundingkan lagi pada hari ke-16 tahap pertama. Diharapkan, kesepakatan itu bisa mencakup pembebasan seluruh sandera Israel untuk kembali ditukar dengan tahanan Palestina, gencatan senjata permanen, dan penarikan penuh pasukan Israel dari Gaza.

Di tahap ketiga, kesepakatan diharapkan berlanjut dengan penyerahan jenazah sandera dan rekonstruksi Gaza di bawah supervisi Mesir, Qatar, dan PBB. Tujuan tahap demi tahap gencatan senjata itu: penghentian perang dan pembangunan kembali Gaza setelah porak poranda akibat 15 bulan perang.

A drone photo shows Palestinians walk through the destruction left by the Israeli air and ground offensive in Rafah, following a ceasefire agreement between Hamas and Israel, Gaza Strip, Sunday, Jan. 19, 2025. (AP Photo/Jehad Alshrafi)

Di atas kertas, poin-poin kesepakatan itu tampak menjanjikan. Namun, tidak demikian halnya di lapangan. Banyak titik rawan yang bisa menggagalkan tujuan. Salah satunya, tak ada jaminan tertulis gencatan senjata akan berlanjut—Israel bisa menyerang Gaza lagi—setelah tahap pertama berakhir, apalagi jika tidak ada kesepakatan negosiasi tahap kedua.

Keberlangsungan gencatan senjata saat ini dipengaruhi oleh tuntutan yang diajukan Israel ataupun Hamas. Selain itu, peran Trump bakal signifikan. Terwujudnya kesepakatan saat ini tak lepas dari tekanan Trump melalui utusan khususnya, Steve Witkoff, setelah tujuh bulan buntu di era Biden.

Trump masih memendam impian lamanya untuk memperluas Abraham Accord, normalisasi hubungan Israel dengan negara-negara Arab, yang dirintisnya pada periode pertama pemerintahannya (2017-2021). Arab Saudi menjadi salah satu incarannya. Gencatan senjata di Gaza bakal dia jadikan titik tolak untuk mewujudkan impian tersebut.


Kerabat Kerja

Penulis:

REDAKSI
 | 

Editor:

Muhammad Samsul Hadi
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .