Apa pun hasil perundingan antara Rusia dan pemerintahan baru Suriah hampir dipastikan Suriah bukan lagi sandaran kekuatan geopolitik Rusia di Timur Tengah.
10 Jan 2025 12:30 WIB · Opini
Rusia secara geopolitik salah satu negara yang paling dirugikan pasca-tumbangnya rezim Assad di Suriah. Pasalnya, Rusia adalah negara pendukung kuat rezim Presiden Bashar al-Assad. Assad memilih lari ke Rusia dan mendapat suaka politik di negara itu, menyusul ambruknya rezim penguasa Suriah tersebut di Damaskus pada 8 Desember 2024.
Kisah Rusia sebagai pendukung kuat Suriah tentu sangat panjang. Bukan dimulai ketika Bashar al-Assad menjabat presiden menggantikan bapaknya, mendiang Presiden Hafez al-Assad yang meninggal dunia pada tahun 2000. Kisah dukungan Moskwa pada Damaskus telah dimulai sejak tahun 1960-an.
Rusia adalah pemasok senjata terbesar Suriah sejak perang Arab-Israel tahun 1967 dan 1973. Rusia kemudian menjadi pamasok permanen senjata kepada Suriah selama 6 dekade terakhir ini atau sejak tahun 1960-an.
Rusia secara klasik memandang Suriah sebagai pintu masuk menuju kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, serta laut Mediterania.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2022/03/08/13ee045a-c400-4f48-b875-e97c6b6f819f_jpg.jpg)
Hubungan historis Rusia-Suriah adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Keuntungan Suriah adalah mendapat pasokan senjata strategis secara permanen dari Rusia dalam menghadapi Israel dalam konflik Arab-Israel.
Sebaliknya keuntungan Rusia adalah mendapat pijakan permanen di Suriah sebagai pintu masuk ke kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara untuk mengimbangi pengaruh AS di kawasan tersebut.
Maka, Rusia berusaha hadir secara militer, baik permanen maupun non-permanen, di Suriah dalam upaya mengimbangi kehadiran pangkalan udara AS di Incirlik, Turki. Sudah maklum jika Suriah adalah salah satu negara yang secara klasik berada di bawah pengaruh Rusia.
Hubungan historis Rusia-Suriah adalah hubungan timbal balik yang saling menguntungkan. Keuntungan Suriah adalah mendapat pasokan senjata strategis secara permanen dari Rusia dalam menghadapi Israel dalam konflik Arab-Israel.
Suriah juga mitra strategis perdagangan Rusia di Timur Tengah. Neraca perdagangan Rusia-Suriah mencapai 20 perse dari keseluruhan perdagangan Rusia-dunia Arab. Pada tahun 2010, nilai ekspor senjata Rusia ke Suriah mencapai 7 persen dari keseluruhan ekspor senjata Rusia ke seluruh dunia.
Karena itu, ketika meletus revolusi Suriah tahun 2011, Rusia segera memberi bantuan logistik kepada rezim Presiden Bashar al-Assad di Damaskus.
Saat kelompok oposisi bersenjata memukul mundur pasukan pemerintah Suriah dan menduduki banyak wilayah di Suriah, termasuk kota besar Aleppo dan Idlib, rezim Assad mulai meminta bantuan militer kepada Rusia. Rusia kemudian memenuhi permintaan rezim Assad tersebut dengan mengerahkan militernya secara langsung mulai September 2015.
Pesawat tempur Rusia mulai ikut menggempur posisi pasukan oposisi bersenjata dan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS). Rusia pun menggunakan Pangkalan Udara Khmeimim dan Pangkalan Laut Tartus di Latakia sebagai pangkalan udara dan laut permanen Rusia di Suriah.
Rusia juga membangun sebanyak 114 pos militer di antero Suriah yang dilengkapi dengan senjata modern. Sejak tahun 2015 hingga 2018, lebih dari 63.000 anggota pasukan Rusia terlibat dalam operasi militer di Suriah. Pesawat tempur Rusia melancarkan sebanyak 39.000 serangan udara atas 121.000 sasaran di Suriah.
Diperkirakan lebih dari 86.000 orang tewas dari pasukan oposisi maupun penduduk sipil akibat gempuran udara Rusia itu.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/17/1d4a29fb3160724a5d53cb26a199a755-TOPSHOT_SYRIA_RUSSIA_KURDS_CONFLICT_126138394.jpg)
Rusia mulai mengurangi kehadiran militernya di Suriah pada tahun 2022 menyusul meletusnya perang di Ukraina. Moskwa menarik sebagian pasukannya dari Suriah untuk dikerahkan ke front perang dengan Ukraina. Berkurangnya kehadiran militer Rusia di Suriah ini menjadi salah satu faktor utama ambruknya rezim Presiden Assad di Damaskus.
Isu masa depan kehadiran militer Rusia di Suriah tentu menjadi isu pelik bagi pemerintah baru Suriah. Tentu Rusia, cepat atau lambat, harus hengkang dari Suriah pasca-tumbangnya rezim Assad.
Karena rezim Assad yang mengundang secara resmi campur tangan Rusia di Suriah, pemerintah baru Suriah, cepat atau lambat, akan meminta Rusia hengkang dari Suriah.
Legitimasi kehadiran Rusia di Suriah sudah punah bersamaan dengan ambruknya rezim Assad karena rezim Assad yang mengundang secara resmi campur tangan Rusia di Suriah. Karena itu, pemerintah baru Suriah, cepat atau lambat, akan meminta Rusia hengkang dari Suriah.
Dalam konteks ini, pemerintah baru Suriah tampak berhati-hati dalam menghadapi isu Rusia. Pemerintah Suriah tampak memilih memberi prioritas pada isu-isu dalam negeri dari pada isu-isu internasional, termasuk isu kebaradaan Rusia di Suriah.
Meski demikian, pemerintah Suriah harus membuka perundingan dengan Rusia suatu saat nanti untuk membahas proses hengkangnya militer Rusia dari Suriah, khususnya isu tentang berakhirnya kontrak pemberian fasilitas Pangkalan Udara Khmeimim dan Pelabuhan Laut Tartus kepada Rusia.
Sampai saat ini pemerintah baru Suriah tidak mengganggu Pangkalan Udara Khmeimim dan Pangkalan Laut Tartus yang dikuasai Rusia.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2024/12/14/56450e3302bcb1d3030f25c0fc1757f4-1000000069.jpg)
Kemeneterian Luar negeri Rusia pada 8 Desember 2024, yakni hari ambruknya rezim Assad, menegaskan bahwa Pangkalan Udara Khmeimim dan Pangkalan Laut Tartus dalam keadaan siaga dan tidak ada ancaman keamanan terhadap dua pangkalan tersebut.
Kantor berita Rusia, TASS, mengungkapkan, pejabat Rusia telah melakukan komunikasi dengan pejabat pemerintah baru Suriah terkait jaminan keamanan pangkalan Rusia dan kantor diplomatik Rusia di Suriah.
Media Rusia, mengutip pejabat Kremlin pada 10 Desember 2024, memberitakan bahwa Rusia akan berunding dengan pemerintah baru Suriah untuk membahas masa depan pangkalan Rusia di Suriah setelah terciptanya stabilitas dan keamanan di Suriah, serta pemerintah baru Suriah telah mampu mengendalikan negara.
Apapun hasil perundingan kelak, hampir dipastikan Suriah baru bukan lagi sandaran kekuatan geopolitik Rusia di Timur Tengah. Rusia harus segera mencari pengganti Suriah sebagai sandaran kekuatan geopolitiknya di Timur Tengah. Mungkin Yaman, Sudan, Libya, atau Aljazair bisa menjadi pengganti Suriah kelak, meskipun negara-negara tersebut secara geografis tidak sestrategis Suriah.
__________
Musthafa Abd Rahman, wartawan Kompas 1991-2022
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2023/03/05/83f4c4d2-1830-4f50-9519-d163d4e0e786_jpg.jpg)
Penulis:
Musthafa Abd RahmanEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Lucia Dwi Puspita Sari