Tidak hanya Iran, Haiti dan Republik Demokratik Kongo terancam jalani Piala Dunia 2026 dengan kondisi tak ideal. Komitmen FIFA untuk lindungi hak peserta dinanti.
29 Mei 2026 12:08 WIB · Olahraga
AFP/STR
WASHINGTON, JUMAT — Kurang dari dua pekan, sepak mula laga perdana Piala Dunia 2026 akan bergelegar di Stadion Azteca, Mexico City. Sebanyak 48 peserta akan berangsur tiba di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko mulai pekan depan. Akan tetapi, beragam masalah masih mengemuka yang bisa mengancam partisipasi kontestan di pesta sepak bola terakbar edisi ke-23.
Iran. Ya, Iran masih penuh ketidakpastian tentang partisipasi mereka. Dari situasi yang masih mengemuka dirasakan skuad Iran, itu menunjukkan kegagalan AS menjadi tuan rumah bagi Piala Dunia 2026.
Padahal, FIFA selalu menegaskan kepada tuan rumah turnamen besutan mereka untuk melindungi hak-hak peserta. Tetapi, yang terjadi dengan Iran, justru situasi yang tidak ideal untuk bersaing di pentas sepak bola terbaik sejagat.
Iran harus memindahkan markas tim dari Tucson di Negara Bagian Arizona, AS, menjadi ke Tijuana, Meksiko. Bahkan, Iran dilarang menginap di wilayah AS, meski tiga laga fase grup akan digelar di dua kota AS, yaitu Los Angeles dan Seattle.
Kami masih tidak mengetahui apakah mereka akan memberikan para pemain visa mereka. Kami tidak berpartisipasi di Piala Dunia dengan situasi yang setara dengan tim lain.
Skuad ”Tim Melli” hanya bisa menyentuh tanah AS, yang konon disebut ”Tanah Harapan”, pada hari pertandingan. Mereka harus segera keluar dari AS setelah peluit akhir laga. Jika dihitung rata-rata persiapan sebuah tim di hari pertandingan, Iran maksimal hanya memiliki waktu empat jam di AS pada hari pertandingan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/29/c3b3d566ae77195709928a9bf1784fa1-SOC_SPO_IRAN_TO_BASE_WORLD_CUP_CAMP_IN_MEXICO_AFTER_SWITCH_FROM_138556457.jpg)
Walaupun sudah memindahkan pusat latihan dan markas tim, skuad Iran tetap menunggu untuk mendapatkan visa AS. Mereka sudah mengurus permohonan visa AS, juga Kanada, di Ankara, Turki, tempat mereka berlatih sejak pertengahan Mei.
Duta Besar Iran untuk Meksiko Abolfazl Pasandideh menyebut negara di utara—sebutan untuk AS—telah mengganggu persiapan Iran bertarung di Piala Dunia ketujuh mereka. Selain persoalan visa yang tidak pasti, Pasandideh mengatakan, AS telah mengganggu performa para pemain Iran yang berkarier di liga domestik karena serangan udara sejak 28 Februari lalu.
”Kami masih tidak mengetahui apakah mereka akan memberikan para pemain visa mereka. Kami tidak berpartisipasi di Piala Dunia dengan situasi yang setara dengan tim lain,” ujar Pasandideh dalam keterangan kepada media, Kamis (28/5/2026) sore waktu setempat atau Jumat (29/5/2026) pagi WIB.
Secara terpisah, Menteri Olahraga Iran Ahmad Donyamali mengungkapkan bahwa FIFA berjanji skuad Iran, baik seluruh pemain dan ofisial tim, akan segera mendapatkan visa AS sebelum laga pertama fase grup berlangsung. Hal itu langsung dijanjikan Presiden FIFA Gianni Infantino.
”Presiden FIFA berjanji semua pemain kami akan menerima visa. Tidak ada alasan pemain kami tidak mendapatkan visa mereka. Saya berharap semua kondisi ini bisa segera teratasi sehingga timnas bisa berpartisipasi di turnamen dengan tenang,” kata Donyamali.
Ia menambahkan, ”Di Meksiko, timnas Iran diharapkan memiliki visa masuk ganda yang dikeluarkan oleh AS”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/29/44fd89cee46e7787e958d49181cbcef5-IRAN_US_ISRAEL_WAR_DAILYLIFE_138541038.jpg)
Tidak hanya Iran, skuad Haiti juga terdampak dari kebijakan ketat visa AS. Haiti adalah salah satu dari dua negara—satunya lagi Iran—yang masuk dalam larangan negara penerima visa oleh Pemerintah AS.
Dari 26 pemain yang telah didaftarkan ke FIFA, terdapat satu-satunya pemain Haiti yang belum menerima visa AS. Ia adalah gelandang muda, Woodernsky Pierre, yang berkarier di kompetisi lokal bersama klub Violette.
Sebanyak 25 pemain lain membela tim di Eropa, AS, dan Asia. Menariknya, penyerang, Duckens Nazon, yang terdaftar membela tim Iran, Esteghlal, sudah menerima visa AS.
Violette adalah klub yang berbasis di ibu kota Haiti, Port-au-Prince. AS menganggap kota itu sebagai lokasi yang dikuasai oleh geng kriminal.
Tidak hanya Pierre, belasan staf skuad Haiti juga belum menerima visa masuk AS mereka. Kondisi itu membuat mereka tertinggal dari anggota mayoritas skuad yang sudah berlatih di ”Negeri Paman Sam”. Pierre, yang berusia 21 tahun, berlatih mandiri di kota Petion-Ville.
Haiti, salah satu duta CONCACAF, meraih tiket penampilan kedua ke Piala Dunia sejak 1974 juga dalam situasi tidak ideal. Akibat kondisi tidak kondusif di Port-au-Prince, mereka memainkan laga kandang di babak kualifikasi di Curacao.
”Kami berharap, dia (Pierre) bisa segera bergabung dengan tim segera. Saya berharap dia tidak tinggal di Haiti setelah Piala Dunia. Ajang itu adalah kesempatan dia menunjukkan kualitasnya ke dunia dan menarik kontrak tim luar negeri,” tutur juru bicara Federasi Sepak Bola Haiti (FHF) Thecieux Jeanty.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/29/b6e22b70bce58b8292ab5cdae14d80ec-Haiti_WCup_Soccer_138623835.jpg)
Sementara itu, tiga tuan rumah Piala Dunia 2026 memastikan untuk memberlakukan karantina kepada pendatang dari tiga negara yang terdampak wabah Ebola saat ini, yaitu Republik Demokratik Kongo, Uganda, dan Sudan Selatan. Khusus untuk Republik Demokratik Kongo, mereka adalah salah satu kontestan Piala Dunia tahun ini.
”Kesehatan dan keselamatan setiap orang di wilayah ini tetap menjadi prioritas utama saat kami menyambut Piala Dunia di Amerika Utara,” bunyi pernyataan bersama tiga negara itu, Kamis (28/5/2026) waktu setempat atau Jumat (29/5/2026) dini hari WIB.
AS melarang warga negara sendiri, pemilik izin tinggal, dan pelancong dari tiga negara itu untuk masuk wilayah mereka. Adapun Kanada dan Meksiko mengharuskan pendatang, baik warga negara maupun warga asing, dari tiga negara wabah Ebola itu menjalani karantina selama 21 hari.
Di Republik Demokratik Kongo, wabah Ebola telah menjangkiti 600 orang dan menyebabkan 139 kematian. Pemusatan latihan timnas Kongo menuju Piala Dunia 2026 yang sejatinya digelar di kota Kinshasa, Republik Demokratik Kongo, dibatalkan.
Timnas Kongo memilih untuk berlatih dan menggelar laga uji coba jelang pentas dunia di Belgia. Kongo juga akan jalani partisipasi Piala Dunia kedua. Pada 1974, mereka jadi wakil Afrika ketika masih bernama Zaire.
”Tidak ada pemain yang bermain di kompetisi domestik yang terpilih (dalam skuad Piala Dunia),” ungkap juru bicara timnas Kongo.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/05/29/c657cf413b9b54da31bf54b93e7c2410-WCup_Congo_Soccer_138605774.jpg)
Pelatih Kongo Sebastien Desabre hanya memasukkan pemain yang berkarier di luar negeri. Jumlah itu terdiri dari 25 pemain membela klub Eropa, kemudian satu pemain, yakni Simon Banza, membela tim Uni Emirat Arab, Al Jazira.
Di Belgia, Kongo akan jalani duel ekshibisi kontra Denmark, 3 Juni. Pada 9 Juni, mereka akan menghadapi Chile di Spanyol. Setelah itu, mereka akan menuju AS untuk bertarung di Grup K Piala Dunia 2026.
Mereka akan bertemu Portugal di Houston, AS, pada 17 Juni. Gim kedua kontra Kolombia berlangsung di Guadalajara, Meksiko. Laga pemungkas babak penyisihan akan digelar di Atlanta, AS, melawan Uzbekistan.
(Reuters/AP/AFP)
Penulis:
Muhammad Ikhsan MaharEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Apolonius Lase