Pelatih Perancis Didier Deschamps bilang Spanyol adalah favorit juara Piala Dunia. Tapi, setelah Spanyol ditahan imbang Tanjung Verde, apakah Deschamps masih yakin?
16 Jun 2026 06:41 WIB · Olahraga
Kompas/Prasetyo Eko Prihananto
Tepuk tangan terdengar dari sekumpulan jurnalis di pusat media Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Senin (15/6/2026) siang waktu setempat, seusai Tanjung Verde menciptakan kejutan terbesar Piala Dunia 2026. Keberhasilan tim debutan menahan imbang favorit juara Spanyol, 0-0, pada laga perdana penyisihan Grup H itu mengundang decak kagum sekaligus keterkejutan.
Sekitar dua jam sebelumnya, para jurnalis tersebut baru saja mengikuti konferensi pers timnas Perancis jelang laga lawan Senegal yang dihadiri oleh Pelatih Didier Deschamps dan gelandang N’Golo Kante. Dalam jumpa pers tersebut, para jurnalis mendengar dari salah seorang yang memiliki otoritas untuk berbicara soal sepak bola, Deschamps, secara tegas menyatakan Spanyol adalah favorit juara Piala Dunia 2026.
Favorit terkuat adalah Spanyol, tak ada keraguan soal itu.
Menjawab pertanyaan seorang jurnalis asal Spanyol, Deschamps yang akan mengundurkan diri selepas turnamen menyebut, bukan ”Les Bleus” yang favorit juara, tetapi justru Spanyol-lah yang memiliki posisi lebih baik untuk menjadi kampiun. ”Kami memiliki banyak potensi, tetapi saya tidak akan mengatakan bahwa Perancis lebih baik dari tim lain. Favorit terkuat adalah Spanyol, tak ada keraguan soal itu,” ucap Deschamps.
Menurut Deschamps, Perancis memang ingin memenangi Piala Dunia setelah empat tahun lalu mereka berhasil melaju ke final dan hanya kalah adu penalti setelah pertarungan epik selama 120 menit melawan Argentina. ”Ambisi kami untuk juara Piala Dunia itu masuk akal, tetapi jalannya masih jauh,” kata Deschamps.
Namun, setelah penampilan tak meyakinkan Spanyol melawan Tanjung Verde, apakah Deschamps masih yakin dengan kata-katanya?
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/32cd98d782e9865296d9ba822ae0787f-IMG_20260615_104619066.jpg)
Deschamps, dengan pengalaman panjangnya sebagai pemain ataupun pelatih, tentu memiliki alasan kuat untuk menjagokan Spanyol sebagai juara, meskipun bisa saja omongan itu hanya untuk mengurangi beban para pemain Perancis dan memberikan tekanan atau perang psikologis dengan salah satu rival, Spanyol.
Kegagalan Spanyol memenangi laga perdana itu bukan hanya karena tim asuhan Pelatih Luis de la Fuente ini tampil buruk. Pujian juga harus diberikan kepada Tanjung Verde yang bermain brilian. Performa pertahanan yang kokoh bak batu karang membuat para pemain Spanyol tak bisa mengembangkan permainan.
Penampilan kiper berusia 40 tahun, Vozinha, membuat para penyerang ”La Roja” berkali-kali memegangi kepala seusai tendangan mereka digagalkan kiper gaek tersebut. Frustrasi. Selesai laga, Vozinha tak mampu membendung emosinya hingga menangis.
Secara statistik, Spanyol memang mendominasi. Mereka lebih banyak menguasai bola. Spanyol memegang 65 persen bola berbanding Tanjung Verde yang hanya 25 persen, sedangkan sisanya 10 persen adalah bola yang diperebutkan.
Dengan penguasaan bola yang dominan tersebut, La Roja melepaskan 27 tembakan, tujuh di antaranya mengarah ke gawang. Adapun Tanjung Verde hanya melapaskan tujuh tembakan dengan satu kali mengenai sasaran.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/c7e60e6859716efba6326d9db1b8b237-2281779614.jpg)
Untuk angka peluang mencetak gol, Spanyol mencatatkan 2,1 expected goals (xG) berbanding 0,21 milik Tanjung Verde. Namun, peluang terbaik pada pertandingan tersebut sebenarnya dimiliki oleh tim debutan.
Tanjung Verde nyaris membuat kejutan lebih besar saat mendapatkan sepak pojok pada menit ke-90. Melalui skema tersebut, Diney Borges yang berdiri bebas di mulut gawang menyundul bola tendangan sudut yang sayangnya masih mengarah langsung ke tangan Unai Simon.
Harus diakui, Spanyol tidak tampil dengan kekuatan terbaiknya karena Pelatih Fuente masih membangkucadangkan Lamine Yamal. Penyerang Barcelona ini baru dimasukkan pada menit ke-71 menggantikan Gavi. Demikian juga Nico Williams yang bermain sebagai pengganti karena baru pulih dari cedera seperti Yamal. Keduanya adalah pemain kunci saat Spanyol menjadi juara Eropa pada 2024.
Peluang Spanyol menjadi juara Piala Dunia tidak tertutup hanya karena tampil buruk pada laga perdana. Harap diingat, Argentina empat tahun lalu juga kalah secara mengejutkan dari Arab Saudi dengan skor 1-2 pada laga pembuka. Pada Piala Dunia 2010, Spanyol bahkan kalah pada laga perdana mereka dengan skor 0-1 dari Swiss, tetapi mengakhiri turnamen sebagai juara dengan mengalahkan Belanda.
Keyakinan Deschamps itu didukung algoritma komputer yang memberikan angka peluang terbesar bagi Spanyol untuk menjadi juara. Tentu saja keyakinan Deschamps lebih didasari dengan ilmu sepak bolanya yang bisa dibilang dalam tahap mahaguru, bukan hitung-hitungan komputer atau di atas kertas.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/16/83838973a5a2a3231155e4eddbf405bf-1000242588.jpg)
Seperti dilaporkan Kompas.id, dari hitungan superkomputer Opta, Spanyol menempati unggulan pertama Piala Dunia 2026 dengan peluang juara mencapai 16,1 persen. Angka itu jauh di atas juara bertahan Argentina yang menempati peringkat keempat dengan peluang 10,4 persen juara. Perancis menempati unggulan kedua dengan peluang 13 persen juara, sementara Inggris di peringkat ketiga dengan 11,2 persen peluang juara.
Seperti dikatakan Pelatih Brasil Carlo Ancelotti sehari sebelumnya seusai tim ”Samba” ditahan imbang 1-1 oleh Maroko, perjalanan menuju tangga juara masih panjang karena akan ada pertandingan-pertandingan berikutnya. ”Anda tidak memenangi Piala Dunia pada laga pertama,” kata Ancelotti.
Spanyol pun masih bisa juara jika mampu meningkatkan permainan pada laga-laga selanjutnya. Selain Tanjung Verde, Spanyol akan menghadapi Uruguay dan Arab Saudi. Meskipun demikian, bisa juga penampilan buruk lawan Tanjung Verde itu bisa berlanjut ke laga-laga berikutnya.
Masih yakin Spanyol bakal juara, Monsieur Deschamps?
Penulis:
Prasetyo Eko P dari New Jersey, ASEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar