Keteguhan Rosenior pada ide bermain dengan bola pendek berbuah pahit dengan kekalahan dari Arsenal. Pelatih baru Chelsea itu tetap gagal menang meski sudah tahu kelebihan lawan.
15 Jan 2026 07:21 WIB · Olahraga
AP
LONDON, KAMIS — Seusai menjalani debut manis, Liam Rosenior dibawa kembali menjejak bumi saat Chelsea takluk 2-3 dari Arsenal di markas sendiri pada semifinal pertama Piala Liga Inggris. Rosenior berpegang pada keyakinannya terhadap ide membangun serangan dari bawah dengan umpan-umpan pendek. Ide yang dengan mudah dimentahkan Arsenal dengan struktur pertahanan rapat.
Ketika mengalahkan Charlton 5-1 pada laga debutnya sebagai pelatih Chelsea, Rosenior tampak dingin di tepi lapangan. Dia tidak ekspresif menyambut gol demi gol yang dilesakkan para pemainnya. Kepribadiannya berubah 180 derajat saat menjamu Arsenal di Stadion Stamford Bridge, London, Inggris, Kamis (15/1/2026) dini hari WIB, pada laga keduanya menangani Chelsea. Tidak lagi ada ekspresi datar dari Rosenior. Ia berdiri dengan mimik serius mengamati permainan di lapangan. Reaksinya pun meledak-ledak setiap terjadi pelanggaran.
Charlton bukanlah lawan sepadan bagi Chelsea sehingga wajar Rosenior tidak begitu terbawa suasana. Bertemu Arsenal yang jauh lebih kuat adalah hal lain. Apalagi ini adalah laga perdana Rosenior memimpin tim di hadapan para pendukung Chelsea. Pantaslah ia menargetkan kemenangan sebagai hadiah pembuka bagi para suporter. Selain itu, kemenangan akan memudahkan jalan Chelsea pada pertandingan kedua di markas Arsenal.
Sebelum laga, Rosenior memuji kolektivitas permainan dan organisasi Arsenal sebagai tim. Ia turut menyinggung kelebihan Arsenal dalam mencetak gol dalam situasi bola mati (set piece). Meski sudah tahu kelebihan Arsenal, pada nyatanya Rosenior tidak mampu berbuat banyak mencegah Chelsea kebobolan secara prematur oleh sundulan Ben White yang menyambut umpan sepak pojok Declan Rice. Bek Arsenal itu sudah membawa timnya unggul saat laga berjalan 7 menit.
Gol White tentu menjadi tamparan keras bagi Chelsea dan Rosenior. Kelebihan lawan yang telah dipelajari tidak mencegah Chelsea dari kebobolan. Itu adalah gol ke-24 Arsenal dari bola mati musim ini dan gol ke-18 yang tercipta lewat tendangan sudut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/cee42a64c9ceb0175a17573548b650b0-IMG_0006.jpeg)
Cara kerja skema gol White sangat rapi dan terencana. Dalam situasi perebutan bola udara, Leandro Trossard serta Gabriel Magalhaes berperan menahan pergerakan kiper Chelsea, Robert Sanchez. Akibatnya, Sanchez tidak bisa leluasa menghalau bola di udara. Rice mengirim bola ke tiang jauh di mana White sudah menunggu tanpa pengawalan berarti. Penyerang Chelsea, Joao Pedro, seharusnya bisa membantu mengawal pergerakan lawan, tetapi hanya berdiri di garis gawang.
Lewat gol eksekusi bola mati cepat itu, para pemain Arsenal bak mempermainkan Chelsea yang juga punya keunggulan mencetak gol dari tendangan sudut. Musim ini, Chelsea telah mengoleksi sembilan gol dari tendangan sudut. Jumlah itu hanya kalah dari Arsenal dan Tottenham Hotspur, yang sama-sama telah mencetak 11 gol.
”Dia (White) telah menunjukkan dalam berbagai konteks bahwa dia adalah pemain yang akan memberikan segalanya untuk tim, bahwa dia selalu ada. Dia adalah seseorang yang dapat diandalkan dalam keadaan apa pun. Saya rasa malam ini dia telah melakukan apa yang harus dia lakukan,” ujar Manajer Arsenal Mikel Arteta, mengomentari gol perdana timnya.
Rosenior menggunakan formasi yang sama, yakni 4-2-3-1, seperti saat mengalahkan Charlton. Ketika menyerang, Marc Cucurella akan naik ke lini tengah, meninggalkan posisinya sebagai bek kiri sehingga formasi berubah menjadi 3-4-3. Lini depan Chelsea diisi Estevao, Marc Guiu, dan Pedro Neto. Estevao dan Neto yang punya keunggulan dalam menggiring bola serta kecepatan seringkali menjadi motor serangan Chelsea.
Di sini, Rosenior tetap mempertahankan idenya dalam membangun serangan. Chelsea memainkan umpan-umpan pendek dari bawah untuk membongkar pertahanan Arsenal. Skema ini juga sering digunakan Rosenior saat masih menangani Strasbourg.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/5a358139584c2ab2b128f03c1dd98c60-IMG_0001.jpeg)
Setidaknya ada dua kemungkinan mengapa Rosenior tetap mempertahankan ide menyerang dari bawah dan bukannya bermain lebih langsung (direct). Pertama, Rosenior memang enggan menanggalkan cara bermain yang sudah menjadi ciri khasnya. Kedua, transisi cepat dan struktur pertahanan solid Arsenal menghalangi Chelsea dalam mengirim bola langsung ke depan.
Dengan situasi seperti itu, bermain direct sama saja memberikan penguasaan bola kembali kepada Arsenal. Oleh sebab itu, Rosenior tidak punya pilihan selain mengandalkan kombinasi bola pendek untuk membongkar pertahanan rapat Arsenal. Suatu pilihan yang pada akhirnya juga bisa diatasi dengan sangat baik oleh Arsenal.
Arsenal langsung menekan ketika pemain Chelsea baru memasuki area tengah lapangan. Mereka menutup semua opsi operan yang memaksa para pemain Chelsea kembali mengembalikan bola ke belakang. Ini membuat bola lebih banyak beredar di area permainan Chelsea (254 kali operan) dibandingkan dengan di area permainan Arsenal (hanya 167 operan).
Mayoritas serangan Chelsea bermula dari sisi sayap kanan, pos yang ditempati Estevao. Pemain muda asal Brasil itu tengah dalam performa terbaiknya di laga ini. Dia begitu percaya diri dengan kemampuan menggiring bolanya dalam melewati penjagaan Jurrien Timber dan Gabriel Magalhaes.
”Di babak pertama, saya sangat senang dengan keterlibatan dan komitmen para pemain. Mereka memberikan segalanya. Pertandingan berlangsung terbuka. Kecewa karena kebobolan dari tendangan sudut. Kecewa juga dengan gol ketiga karena kami sudah kembali ke permainan dan kami mendominasi saat itu,” tutur Rosenior.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/15/980d763b62115902db37f0f58a626ce0-IMG_0004.jpeg)
Laga berjalan lebih menarik di babak kedua. Jual beli serangan terjadi, tetapi Arsenal bisa menggandakan keunggulan melalui Viktor Gyokeres. Gol bermula dari keterlambatan Cucurella dalam menutup ruang di sayap kiri. Ia mampu mengejar Bukayo Saka, tetapi White muncul memberi bantuan. White lalu melepaskan umpan silang yang gagal diblok Sanchez. Gyokeres dengan naluri mencetak golnya langsung menyambar bola liar menjadi gol.
”Saya tahu dia (Gyokeres) akan menunggu bola di seberang. Sejujurnya, saya tidak terlalu melihat, saya hanya menembakkan bola ke seberang,” ucap White mengenai asisnya.
Rosenior bereaksi dengan memasukkan Benoit Badiashile dan Alejandro Garnacho. Keputusan yang berbuah manis lantaran Garnacho sukses mencetak gol dari menyambut umpan silang Neto. Arsenal merespons dengan gol Martin Zubimendi.
Tujuh menit menjelang waktu normal usai, Garnacho kembali menunjukkan tajinya dengan mencetak gol kedua. Keberhasilan mencetak dua gol setelah memulai laga dari bangku cadangan mendorong Rosenior mengoreksi keputusannya menyimpan Garnacho.
Kekalahan 2-3 di markas sendiri membuat perjuangan Chelsea lebih berat pada pertemuan kedua. Musim ini, ”Meriam London” belum sekalipun kalah ketika bermain di markas sendiri. (BBC)
Penulis:
I Gusti Agung Bagus Angga PutraEditor:
Prasetyo Eko PrihanantoPenyelaras Bahasa:
FX Sukoto