”Rosenior Ball” Versus Struktur Kaku Arsenal

Chelsea akan sulit membongkar pertahanan tangguh Arsenal jika hanya bertopang dengan ”Rosenior ball”. Adaptasi taktik Rosenior akan diuji dalam duel derbi London.

13 Jan 2026 18:00 WIB · Olahraga

AFP/ben stansall

Oleh Kelvin Hianusa

LONDON, SELASA — Pelatih baru Chelsea, Liam Rosenior, sudah dinanti ujian berat dalam laga keduanya. Pelatih dengan filosofi yang mengandalkan kombinasi umpan pendek dari bawah itu, sering disebut Rosenior ball, akan ditantang Arsenal yang punya struktur pertahanan sangat rapat.

Chelsea akan menjamu Arsenal dalam laga pertama semifinal Piala Liga Inggris di Stadion Stamford Bridge, London, Kamis (15/1/2026) pukul 03.00 WIB. Duel derbi London itu dipastikan berkali-kali lipat lebih sulit daripada debut Rosenior, saat Cole Palmer dan rekan-rekan menang 5-1 atas Charlton di Piala FA.

Quote

Mereka adalah tim yang sangat terorganisasi dalam setiap fase permainan. Mereka sangat baik saat tanpa bola dan punya ide jelas dalam penguasaan.

Arsenal belakangan ini mulai dijuluki sebagai ”Set Piece FC”. Tim asuhan Manajer Mikel Arteta itu sangat bertumpu terhadap bola mati sejak awal musim. Lihat saja pada akhir pekan lalu, tiga dari empat gol mereka ke gawang Portsmouth dihasilkan dari skema tendangan sudut.

Penyerang Arsenal Gabriel Martinelli (kiri) mencetak gol lewat sundulan ke gawang Portsmouth dalam laga putaran ketiga Piala FA di Stadion Fratton Park, Portsmouth, Inggris, Minggu (11/1/2026). Martinelli menciptakan hat-trick untuk membantu Arsenal menang 4-1. Dua golnya dihasilkan dari skema tendangan sudut.

Meskipun begitu, Rosenior tidak sepakat dengan julukan itu. ”Saya tidak tahu siapa yang memanggil mereka ’Set Piece FC’. Saya jelas tidak. Mereka adalah tim yang sangat terorganisasi dalam setiap fase permainan. Mereka sangat baik saat tanpa bola dan punya ide jelas dalam penguasaan,” kata mantan pemain Fulham itu.

Rosenior begitu memahami Arsenal. Organisasi, khususnya dalam bertahan, memang kekuatan ”Si Meriam”. Bukan tanpa alasan, Arsenal berstatus tim dengan kemasukan paling sedikit di Liga Inggris dan Liga Champions sejauh ini. Itu karena semua pemain mereka terlibat penuh dalam bertahan.

Masalahnya, Rosenior akan dirugikan jika tetap menggunakan filosofinya ketika bertemu Arsenal. Identitas pelatih asal Inggris itu sudah terlihat selama melatih RC Strasbourg (2024-2026). Dia sangat mengandalkan serangan yang dimulai lewat umpan-umpan pendek dari lini belakang.

Saking identik dengan kombinasi umpan pendek, Strasbourg sampai berstatus tim dengan umpan panjang paling sedikit di lima liga terbaik se-Eropa pada paruh pertama musim ini. Filosofi itu dibawa ke Chelsea. Dalam debutnya, ”Si Biru” hanya mencoba 25 kali umpan jauh ke pertahanan Charlton. Itu hampir dua kali lipat lebih rendah dari rerata mereka.

Sudah terbukti musim ini, cara terbaik mengalahkan Arsenal adalah lewat serangan balik. Tim lawan harus secepat mungkin mengeksploitasi lubang tim asuhan Arteta, sebelum para pemain kembali ke posisinya. Ketika sudah berada dalam struktur yang semestinya, peluang tim lawan mencetak gol akan menurun sangat drastis.

Pelatih Chelsea Liam Rosenior memantau pertandingan putaran ketiga Piala FA versus Charlton Athletic di Stadion The Valley, London, Inggris, Sabtu (10/1/2026). Itu merupakan laga debut Rosenior bersama Chelsea setelah pindah dari RC Strasbourg. Rosenior menggantikan tugas Enzo Maresca yang berpisah dengan Chelsea di awal tahun 2026.

Rosenior ball pun jelas tidak diuntungkan dalam laga nanti. Terlepas dari itu, sang pelatih berusia 41 tahun itu sama sekali tidak khawatir. ”Tim ini sudah membuktikan tahun ini. Dengan sepuluh pemain, kami bisa menyebabkan masalah untuk mereka tepat sebelum saya datang ke klub ini,” ujar Rosenior.

Chelsea terakhir kali bertemu Arsenal di Stamford Bridge pada akhir November 2025. Di bawah Pelatih Enzo Maresca, mereka berhasil menahan imbang Arsenal 1-1 walaupun bermain dengan sepuluh orang sejak menit ke-38. Kunci Si Biru adalah menekan intens dan memenangi duel.

Rosenior bisa memanfaatkan rumus serupa di laga nanti. Seperti diketahui, dia selalu menginginkan timnya untuk menekan agresif dengan blok pertahanan tinggi. Chelsea berpotensi mendapatkan kesempatan transisi lewat cara itu, tidak perlu terlalu mengandalkan serangan dari bawah.

Di sisi lain, Arsenal datang dengan kondisi prima. Para pemain inti mereka, seperti Bukayo Saka dan Declan Rice, sudah mendapat kesempatan beristirahat dalam laga putaran ketiga Piala FA pada akhir pekan lalu. Arteta mengubah sepuluh pemain sekaligus dari skuad versus Liverpool.

Si Meriam berambisi meneruskan laju positif musim ini. Mereka masih berada di jalur tepat untuk menjuarai empat trofi sekaligus. ”Hal terpenting adalah menunjukkan bahwa kami itu Arsenal. Kami siap bersaing kapan pun. Menang adalah tujuan kami. Rasa lapar itu akan terus ada sampai akhir musim,” kata gelandang Arsenal, Mikel Merino.

Laga versus Charlton memang terlalu kecil untuk dijadikan sampel. Namun, sudah terlihat perubahan yang diinginkan Rosenior di tubuh Chelsea. Formasi awal Rosenior mengingatkan para penggemar Chelsea terhadap Maresca, sama-sama mengandalkan 4-2-3-1. Dia belum memainkan formasi tiga bek sejak awal seperti di Strasbourg.

Pemain sayap Chelsea Jamie Gittens mengontrol bola dalam pertandingan putaran ketiga Piala FA versus Charlton Athletic di Stadion The Valley, London, Inggris, Sabtu (10/1/2026). Laga itu merupakan debut bagi pelatih baru Chelsea Liam Rosenior. Chelsea menang 5-1.

Meskipun begitu, Chelsea mengubah formasi jadi 3-4-3 saat dalam penguasaan. Pemain di beberapa posisi diberikan tugas berbeda. Bek sayap kiri, misalnya, yang diisi Jorrel Hato. Rosenior menginstruksikan Hato untuk naik ke posisi gelandang, tidak menyisir sisi sayap seperti peran Marc Cucurella di era Maresca.

Sebagai gantinya, dua penyerang sayap ditugaskan untuk lebih melebar. Alejandro Garnacho di kiri dan Jamie Gittens di kanan berperan untuk melonggarkan kerapatan pertahanan lawan. Hasil perubahan itu cukup baik dengan kemenangan telak atas Charlton. Namun, perlu diingat, Arsenal bukanlah tim divisi kedua seperti Charlton. (AP/REUTERS)


Kerabat Kerja

Penulis:

Kelvin Hianusa
 | 

Editor:

Wisnu Aji Dewabrata
 | 

Penyelaras Bahasa:

Hibar Himawan