Laga keempat babak final Liga Bola Voli Korea akan kembali jadi ujian bagi Megawati Hangestri. Dia akan diuji untuk menembus batas kemampuannya demi jaga kans juara.
05 Apr 2025 16:10 WIB · Olahraga
DAEJEON, SABTU — Melakoni pertandingan beruntun dengan tekanan tinggi bak ujian bagi pebola voli putri Indonesia, Megawati Hangestri, di Korea Selatan. Pada laga keempat babak final yang kembali jadi pertandingan hidup atau mati, Megawati akan diuji lagi untuk menembus batas kemampuannya.
Megawati bersama timnya, Daejeon Jung Kwan Jang Red Sparks, akan menjalani laga keempat babak final Liga Bola Voli Korea 2024-2025, Minggu (6/4/2025). Megawati dan kawan-kawan wajib menang atas Heungkuk Life Insurance Pink Spiders demi menjaga peluang meraih gelar juara.
Dengan agregat 2-1 untuk keunggulan Pink Spiders, kemenangan Red Sparks dalam laga keempat di Gimnasium Chungmu, Daejeon, ini akan memaksakan pertandingan kelima untuk penentuan juara. Babak final Liga Bola Voli Korea menggunakan format best of five sehingga tim yang menang lebih dulu dalam tiga pertandingan berhak meraih trofi.
Namun, pertandingan itu dipastikan tak akan mudah. Beban dan tekanan jelas membayangi para pemain Red Sparks, termasuk Megawati. Di sisi lain, kondisi fisik mereka juga sudah mulai menurun.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/e524f20a0bcadd04ee1d0983d051b6ac-media_image_62751_65_81_61.png)
Para pemain Red Sparks kelelahan dan bermain dengan rasa sakit, bahkan ketika memastikan kemenangan 3-2 (21-25, 34-36, 25-22, 25-19, 15-11) atas Pink Spiders pada laga ketiga, Jumat (4/4/2025). Dalam laga yang berlangsung selama 2 jam 34 menit itu, kondisi fisik Megawati dan kawan-kawan sudah menurun.
Apalagi, mereka harus melakoni enam pertandingan secara berturut-turut dalam 12 hari. Jeda tiap laga hanya dua hari. Itu termasuk pertandingan playoff yang berlangsung tiga kali.
Kondisi berbeda dialami Pink Spiders. Tim asuhan Pelatih Marcello Abondanz ini punya keuntungan waktu istirahat lebih lama. Sebagai juara fase reguler, mereka berhak melaju langsung ke babak final tanpa melalui playoff.
Selain kondisi fisik yang mulai menurun, para pemain Red Sparks juga didera cedera. Mereka yang cedera pada fase reguler, seperti Vanja Bukilic, juga belum pulih sepenuhnya. Pelatih Red Sparks Ko Hee-jin mengatakan, Megawati pun tak luput dari cedera dan kelelahan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/09cdcc46bdcd11d75f21b96d588b2b55-media_image_62751_111__11_1.png)
Namun, dengan kondisi fisik yang tidak prima, Megawati mampu mendorong dirinya untuk tampil gemilang. Pemain asal Jember, Jawa Timur, ini mencetak hingga 40 poin saat pertandingan ketiga kontra Pink Spiders. Jumlah poin Megawati ini menjadikannya top scorer laga tersebut.
Uniknya, saat diberi tahu torehan poinnya mencapai angka 40, Megawati justru tak percaya. Pemain berusia 25 tahun ini seolah tak percaya dengan pencapaiannya sendiri.
Megawati juga manusia, jadi dia tidak bisa menahan rasa lelah. Berapa kali dia melepaskan pukulan sejak playoff? Namun, dia memiliki kekuatan mental yang hebat.
Dengan 40 poin, Megawati mendekati rekor skor pribadinya selama dua musim di ”Negeri Ginseng”. Catatan terbaik Megawati ialah 44 poin ketika mengalahkan Altos IBK pada Januari lalu.
Tak hanya jumlah poin yang besar, efektivitas serangan Megawati pun tinggi. Dari 81 percobaan serangan, sebanyak 38 menghasilkan poin. Artinya, Megawati mencatatkan tingkat kesuksesan sebesar 46,91 persen. Dua poin Megawati lainnya berasal dari keberhasilan mengeblok bola.
”Megawati juga manusia, jadi dia tidak bisa menahan rasa lelah. Berapa kali dia melepaskan pukulan sejak playoff? Namun, dia memiliki kekuatan mental yang hebat. Kapan lagi saya akan bertemu pemain dengan rasa sakit, tetapi mengatakan dia baik-baik saja dan tampil bagus?” ucap Ko, dikutip dari media Korea, The Spike.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/fb5b93eaa15fcec4d36f9800ab0496a8-media_image_62751_226__13.png)
Ko pun memuji tim secara keseluruhan yang mau bermain dengan semangat juang tinggi. ”Jika (para pemain) dalam kondisi fisik yang normal, saya tidak akan bisa mengungkapkannya sebagai hal yang mengharukan. Ini adalah pertandingan hebat yang diciptakan oleh para pemain yang cedera. Saya salut dengan semangat juang para pemain,” tutur Ko.
Terkait Megawati, Ko mengatakan bahwa pemain yang dijuluki ”Megatron” oleh para penggemar itu mengalami sakit pada bagian lutut. Namun, dia seolah melupakan rasa sakitnya demi tampil gemilang bersama Red Sparks.
Megawati pun mendapatkan tambahan motivasi dari kekasihnya, Dio Novandra. Megawati ditonton langsung Dio, atlet finswimming Indonesia, di stadion.
”Megawati mengalami sakit pada lututnya. Sementara itu, tim tertinggal pada dua set pertama (pada laga ketiga). Saya kemudian berkata kepada Megawati soal kekasihnya yang datang menyaksikan pertandingan,” kata Ko, seperti dikutip kantor berita Korsel, Yonhap.
”Saya bilang, ’Bukankah sayang jika dia pulang setelah menonton satu pertandingan saja’. Megawati pun semangat kembali. Kekuatan cinta itu luar biasa,” ujarnya lagi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/04/05/e106a34ad31282879fab76986db94ba8-media_image_62751_243_96_55.png)
Pertandingan ketiga babak final merupakan ujian yang berhasil dilewati dengan baik oleh Megawati dan kawan-kawan. Kini, Megawati akan kembali diuji pada laga keempat, ujian untuk kembali menembus batas kemampuannya.
Megawati pun mengutarakan harapannya untuk bisa bermain lebih baik pada laga mendatang. ”Saya ingin main dengan bahagia, tidak banyak mikir,” ucapnya.
Sementara itu, Pink Spiders dibayangi kenangan buruk pada babak final dua musim lalu. Saat itu, Pink Spiders memenangi dua pertandingan pertama melawan Gimcheon Korea Expressway Corporation Hi-pass. Namun, pada laga ketiga hingga kelima, mereka kalah.
Kenangan buruk itu telah membayangi Pink Spiders bahkan sebelum pertandingan ketiga. Walakin, Pelatih Pink Spiders Marcello Abondanz lebih memilih untuk berpikir positif.
”Seperti dua tahun lalu, apa pun bisa terjadi. Kami akan fokus pada setiap pertandingan, menyiapkan setiap pertandingan dengan menganggapnya sebagai sebuah lembaran baru,” kata Abondanz.
Penulis:
Rebiyyah SalasahEditor:
Wisnu Aji DewabrataPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul