Melawat ke Brasil, Presiden Prabowo Perdana Hadiri KTT BRICS

Presiden Prabowo telah berada di Rio de Janeiro untuk menghadiri KTT BRICS. Kehadiran itu menunjukkan keseriusan RI untuk berperan aktif mewujudkan tata dunia baru.

05 Jul 2025 21:42 WIB · Politik & Hukum

Oleh Kurnia Yunita Rahayu, dari Rio de Janeiro, Brasil

RIO DE JANEIRO, KOMPAS — Presiden Prabowo Subianto menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di Rio de Janeiro, Brasil, pada 6-7 Juli 2025. Ini merupakan keikutsertaan pertama Indonesia pada pertemuan tingkat tinggi organisasi kerja sama negara-negara yang didirikan oleh Brasil, Rusia, India, dan China, setelah menjadi anggota penuh BRICS pada awal 2025. Kehadiran Indonesia dinilai dapat memberi legitimasi kepada BRICS sebagai representasi signifikan bagi negara selatan-selatan atau Global South, bukan sekadar klub negara adidaya non-Barat.

Presiden Prabowo Subianto tiba di Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (5/7/2025). Pesawat Garuda Indonesia-1 yang membawanya mendarat di Pangkalan Angkatan Udara Galeao, Rio de Janeiro, sekitar pukul 06.30 waktu setempat. Di tengah suhu udara 16 derajat, Presiden Prabowo yang mengenakan setelah safari coklat disambut upacara kehormatan militer saat menuruni pesawat.

Dalam upacara tersebut, Presiden disambut sejumlah pejabat tinggi Brasil, antara lain Duta Besar Laudemar Gonçalves de Aguiar Neto, Sekretaris Promosi Perdagangan, Sains, Teknologi, Inovasi, dan Budaya Kementerian Luar Negeri Brasil, serta Komandan Airforce Base Galeão Kolonel Marcell Barros de Paula. Selain itu, hadir pula Duta Besar RI untuk Brasil Edi Yusup dan Atase Pertahanan KBRI Brasilia Kolonel Rizal Ashwam.

Di hotel tempatnya menginap, Presiden disambut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, serta Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir. Selain itu, hadir pula para diaspora Indonesia di Brasil yang disapa dan disalami satu per satu oleh Prabowo.

Di Brasil, Presiden akan mengikuti Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2025. KTT BRICS diselenggarakan di Museum of Modern Art Rio de Janeiro, Minggu-Senin (6-7/7/2025). Setelahnya, pada Selasa-Rabu (8-9/7/2025), Presiden akan mengadakan kunjungan kenegaraan ke Pemerintah Brasil di Brasilia.

Keikutsertaan di KTT BRICS 2025 merupakan pertama kalinya setelah Indonesia menjadi anggota organisasi tersebut pada Januari 2025. Berselang dua bulan setelahnya, Indonesia juga menjadi bagian dari New Development Bank (NDB) atau bank yang diinisiasi oleh negara-negara anggota BRICS. Keputusan untuk bergabung ke NDB disampaikan Prabowo kepada Presiden NDB Dilma Vana Rousseff saat berkunjung ke Istana Merdeka, Jakarta, Maret 2025.

Ditemui seusai penyambutan Presiden, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono tidak menampik bahwa salah satu poin krusial dari keikutsertaan Indonesia di KTT BRICS 2025 terkait dengan bergabungnya Indonesia menjadi anggota NDB. Berdasarkan pembicaraan Presiden Prabowo dengan Presiden NDB pada Maret lalu, Indonesia sudah mengajak NDB untuk berpartisipasi dalam pembiayaan proyek infrastruktur.

Kendati didirikan oleh anggota BRICS yang kerap disebut sebagai kumpulan negara adidaya non-Barat, Thomas tidak khawatir bahwa NDB akan muncul menjadi lembaga yang dominan dan memunculkan ketidakadilan. Ia menilai, semangat NDB dan BRICS sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif.

Sejumlah pejabat bersiap menyambut Presiden Prabowo Subianto setibanya di hotel tempatnya menginap di Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (5/7/2025). Prabowo di Brasil untuk menghadiri KTT BRICS.

”BRICS itu, kan, cara governance-nya sangat berbeda. BRICS sebagai suatu organisasi internasional ini selalu respect terhadap posisi negara masing-masing,” ujar Thomas.

Penghormatan kepentingan setiap negara anggota BRICS, lanjutnya, terlihat dalam setiap pembahasan di NDB. Menurut Thomas, tidak pernah ada kepentingan negara atau kekuatan tertentu yang diarahkan secara khusus. ”Pembahasan yang kita lakukan selalu sangat baik, tidak pernah ada semacam titipan dari negara-negara lain, tidak. Jadi, ini benar-benar kesempatan (untuk mendapatkan) pembiayaan untuk proyek-proyek kita,” tuturnya.

Peran Indonesia

Direktur Eksekutif Para Syndicate Virdika Rizky Utama melihat bahwa keikutsertaan Indonesia pada KTT BRICS 2025 merupakan langkah yang fundamental. Alih-alih sekadar seremonial, kehadiran Presiden Prabowo menjadi deklarasi eksplisit bahwa Indonesia ingin berperan aktif membangun tata dunia yang baru, yang tidak hanya didominasi kekuatan Barat.

Sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan pemain kunci di ASEAN, keberadaan Indonesia di KTT BRICS dapat memberikan bobot diplomasi yang signifikan. Secara geopolitik, hal itu juga dapat memperkuat narasi multipolaritas di tengah dunia yang tengah terpecah-belah. ”Kehadiran Indonesia di KTT BRICS ini memberikan legitimasi BRICS sebagai representasi signifikan dari Global South, bukan sekadar klub negara adidaya non-Barat,” kata Virdika.

Presiden Prabowo Subianto disambut pejabat dan warga Indonesia di Brasil setibanya di hotel tempatnya menginap di Rio de Janeiro, Brasil, Sabtu (5/7/2025). Prabowo di Brasil untuk menghadiri KTT BRICS.

Sementara secara geo-ekonomi, BRICS menawarkan diversifikasi pasar dan sumber daya yang konkret. Dengan bergabung di organisasi ini, Indonesia memiliki akses langsung ke forum ekonomi yang mencakup sekitar 40 persen populasi dunia dan 30 persen produk domestik bruto global. Indonesia juga bisa memperluas potensi ekspor, investasi infrastruktur, dan akses teknologi baru dari negara-negara BRICS.

Lebih dari itu, dengan bergabung ke NDB, posisi tawar Indonesia di kancah keuangan global juga bakal meningkat. Sebab, Indonesia tidak lagi menjadi sekadar peminjam dari institusi dominan, tetapi juga bagian dari kekuatan finansial alternatif. ”Ini menjadi langkah konkret untuk membangun arsitektur global yang lebih seimbang, di mana Global South punya suara lebih besar dalam cara dunia dibangun dan didanai,” ujar Virdika.

Selain itu, kata dia, penyelenggaraan KTT BRICS yang terjadi di tengah dinamika Timur Tengah semestinya bisa jadi momentum bagi Indonesia untuk menggencarkan diplomasi kemanusiaan dan perdamaian. BRICS yang beranggotakan sejumlah kekuatan global, seperti China, Rusia, India, dan Afrika Selatan, memiliki pengaruh kolektif yang signifikan untuk mendesak solusi damai.

”Indonesia bisa berperan konkret dalam mendesak pernyataan bersama yang tegas dan tidak ambigu dari BRICS yang menyerukan gencatan senjata, perlindungan warga sipil, akses bantuan kemanusiaan tanpa hambatan, penghentian pendudukan yang ilegal. Pernyataan itu harus mencerminkan posisi konsisten Global South terhadap hukum internasional,” kata Virdika.


Kerabat Kerja

Penulis:

Kurnia Yunita Rahayu, dari Rio de Janeiro, Brasil
 | 

Editor:

Anita Yossihara
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra