Indonesia resmi menjadi anggota penuh BRICS ke-10. Dengan kekuatan ekonomi dan populasi terbesar di Asia Tenggara, Indonesia dinilai punya misi sama dengan BRICS: mereformasi institusi-institusi global.
07 Jan 2025 08:37 WIB · Internasional
SAO PAULO, SELASA — Pemerintah Brasil sebagai ketua bergilir BRICS 2025 mengumumkan Indonesia resmi tergabung sebagai anggota penuh BRICS. Tak lama pengumuman tersebut di Brasil, China langsung mengeluarkan pernyataan berisi ucapan selamat atas bergabungnya Indonesia.
Pernyataan itu diumumkan Kementerian Luar Negeri Brasil, Senin (6/1/2025) waktu setempat atau Selasa (7/1/2025) dini hari WIB.
”Sebagai negara kekuatan ekonomi terbesar dan berpenduduk terbesar di Asia Tenggara, Indonesia memiliki kesamaan dengan negara-negara anggota BRICS dalam mendukung reformasi institusi-institusi global dan berkontribusi secara signifikan dalam memperkuat kerja sama Dunia Selatan (Global South),” demikian pernyataan Kemenlu Brasil.
Perkumpulan BRICS berdiri tahun 2009 dengan anggota awal—sesuai singkatan namanya—Brasil, Rusia, India, dan China, kemudian disusul Afrika Selatan tahun 2010. Tahun 2024, aliansi tersebut memperluas keanggotaannya dengan bergabungnya Iran, Mesir, Etiopia, dan Uni Emirat Arab.
Arab Saudi juga diajak untuk bergabung, tetapi hingga kini belum memutuskan. Sejumlah negara, yakni Turki, Azerbaijan, dan Malaysia, secara resmi telah mendaftarkan diri untuk bergabung. Negara Asia Tenggara lain, seperti Thailand dan Vietnam, juga berminat untuk masuk BRICS.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/29d9b613-553c-43bf-865c-de6e18848cb4_jpg.jpg)
Dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri RI, Pemerintah Indonesia menyebut bergabung ke dalam BRICS mencerminkan peningkatan peran aktif Indonesia dalam isu-isu global, serta komitmen untuk memperkuat kerja sama multilateral demi mewujudkan tatanan global yang lebih inklusif dan berkeadilan.
”Indonesia memandang keanggotaannya di BRICS sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kolaborasi dan kerja sama dengan negara berkembang lainnya, berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan pembangunan yang berkelanjutan,” demikian pernyataan Kemenlu RI.
Brasil mengungkapkan, para pemimpin negara-negara BRICS mendukung pencalonan Indonesia dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS di Johannesburg, Afrika Selatan, Agustus 2023.
Namun, pendaftaran resmi Indonesia baru dilakukan di KTT BRICS di Kazan, Rusia, pada akhir 2024. Hal ini karena menunggu selesainya pemilihan presiden Indonesia yang berlangsung tahun 2024.
Setelah resmi dilantik, Presiden Prabowo Subianto mengajukan resmi pendaftaran Indonesia masuk BRICS pada KTT di Kazan. ”Dalam kapasitas sebagai ketua bergilir BRICS, yang dimulai sejak 1 Januari hingga 31 Desember 2025, Pemerintah Brasil hari ini, 6 Januari, mengumumkan bergabung secara resmi Republik Indonesia sebagai anggota penuh BRICS,” demikian pernyataan Kemenlu Brasil, Senin (6/1/2025).
Kami percaya bahwa Indonesia akan memberikan kontribusi aktif bagi pengembangan BRICS.
Pada tahun 2024, negara-negara BRICS menyetujui keanggotaan Indonesia secara konsensus. Persetujuan ini sesuai dengan prinsip-prinsip panduan, kriteria, dan prosedur untuk perluasan yang disepakati di Johannesburg.
Anggota BRICS mempunyai kepentingan untuk menjalin dukungan untuk reformasi lembaga tata kelola global. Selain itu, juga kepentingan untuk berkontribusi secara signifikan terhadap penguatan kerja sama negara-negara berkembang, yang sering disebut Global South.
Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri Brasil mengatakan, hal itu sejalan dengan tema Brasil untuk masa kepresidenan BRICS tahun 2025, yaitu meningkatkan Kerja Sama Global Selatan untuk Tata Kelola yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2025/01/07/f6c48e0b265cad473b00780e17758926-AFP_36T83KT.jpg)
China menyambut baik dan mengucapkan selamat kepada Indonesia atas keanggotaan penuh BRICS. Hal ini diungkapkan juru bicara Kementerian Luar Negeri China dalam laman resmi Kementerian Luar Negeri China tak lama setelah pengumuman Brasil.
Dalam pernyataan itu, seorang juru bicara Kementerian Luar Negeri China mengatakan, Indonesia, sebagai negara berkembang utama dan kekuatan penting di Dunia Selatan. Indonesia juga sangat mengakui semangat BRICS dan telah mengambil bagian aktif dalam kerja sama ”BRICS Plus”.
Beijing menyebut masuknya Indonesia secara resmi ke BRICS sesuai dengan kepentingan bersama negara-negara BRICS dan Dunia Selatan. ”Kami percaya bahwa Indonesia akan memberikan kontribusi aktif bagi pengembangan BRICS,” demikian pernyataan tersebut.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/23/f8ad4606-0475-4741-b19b-3a06f401bf20_jpg.jpg)
Menurut Beijing, BRICS adalah pelantar utama untuk mempromosikan solidaritas dan kerja sama Dunia Selatan. Aliansi itu juga merupakan kekuatan utama yang mendorong reformasi sistem tata kelola global.
Menurut pernyataan itu, negara-negara BRICS juga selalu berkomitmen pada multilateralisme, keadilan dan kesetaraan, serta pembangunan bersama.
”Penambahan terbaru BRICS mengikuti tren historis kebangkitan kolektif Dunia Selatan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri China itu, seperti dikutip media China, China Daily.
Pernyataan itu juga mengatakan, China siap bekerja sama dengan Indonesia dan negara anggota BRICS lainnya untuk bersama-sama membangun kemitraan yang lebih komprehensif, lebih erat, lebih praktis, dan lebih inklusif.
China juga siap memajukan pengembangan kerja sama BRICS yang lebih besar dan lebih bermutu, serta memberikan sumbangan yang lebih besar dalam membangun komunitas dengan masa depan bersama.
BRICS didirikan sebagai penyeimbang bagi dominasi ekonom negara-negara ekonomi maju Kelompok Tujuh (G7), yang terdiri dari Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Perancis, Jerman, Italia, dan Jepang. Dengan keanggotaan yang terdiri dari negara-negara berpopulasi terpadat dunia, pada 2024, BRICS mencakup 46 persen populasi dunia dan 35 persen produk domestik bruto global.
Selama pertemuan puncak BRICS terakhir di Kazan, Rusia, pada November 2024, negara-negara anggota membahas peningkatan transaksi non-dollar dan penguatan mata uang lokal.
Hal ini memicu kemarahan Presiden terpilih AS Donald Trump. Trump mengancam anggota kelompok BRICS dengan tarif 100 persen jika mereka melemahkan dollar AS.
Namun, Menteri Luar Negeri Sugiono menyangkalnya. Ia mengatakan, selama pembicaraan dalam KTT di Kazan, tak ada satu pun pembahasan soal mata uang baru ataupun dedolarisasi.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/10/24/dfe30634-5612-4778-8d0a-8f934efe940e_jpeg.jpg)
Menurut Sugiono, pembahasan di KTT tersebut hanya seputar kerja sama multilateral dan kepentingan politik. ”Ancaman Trump itu, kan, soal dedolarisasi, di KTT yang lalu tidak ada pembicaraan dedolarisasi, tidak ada soal mata uang,” katanya saat ditemui di Gedung DPR di Jakarta, 2 Desember 2024.
Pertemuan puncak BRICS tahun 2025 akan berlangsung di Rio de Janeiro pada bulan Juli.
Media Brasil, The Rio Times, menilai, masuknya Indonesia ke BRICS berpotensi memperkuat aliansi tersebut dengan memperluas pangsa blok tersebut menjadi lebih dari 32 persen PDB global.
Media itu juga menilai, bergabungnya Indonesia ke BRICS menandakan perubahan signifikan dalam lanskap ekonomi global.
Hal ini juga dinilai menandai perubahan politik luar negeri Indonesia yang sebelumnya terlihat ragu-ragu untuk bergabung dengan BRICS di pemerintahan Presiden Joko Widodo.
Bagi Indonesia, keanggotaan BRICS menawarkan akses ke pasar baru dan peluang investasi. Pada tahun 2022, negara-negara BRICS menyumbang 21,2 persen dari total penanaman modal asing langsung Indonesia. Angka ini berpotensi meningkat dengan keanggotaan penuh Indonesia di BRICS.
Sumber daya alam Indonesia yang melimpah, termasuk minyak kelapa sawit dan nikel, menjadikannya mitra yang menarik bagi negara-negara BRICS lainnya.
Namun, bergabung dengan BRICS juga menghadirkan tantangan bagi kebijakan luar negeri Indonesia. Indonesia harus menyeimbangkan kemitraan dengan pihak Barat. (AP/AFP/Reuters)
Penulis:
Irene SarwindaningrumEditor:
Muhammad Samsul HadiPenyelaras Bahasa:
Kusnadi .