Foto jurnalistik merupakan rekaman faktual dari suatu peristiwa yang diabadikan jurnalis foto. Foto tersebut akan dijaga hingga bisa disiarkan ke publik.
03 Mar 2026 08:00 WIB · Klinik Foto
PIERRE LAVIE
Pada bulan Januari lalu, publik Amerika Serikat (AS) dikejutkan oleh kematian Renee Good, seorang perempuan aktivis yang ditembak mati oleh agen Penindakan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) saat razia imigran di kota Minneapolis. Keberadaan ibu tiga anak itu di lokasi razia sebagai pengamat hukum atas aktivitas agen ICE. Namun, pemerintahan Presiden Trump menuduhnya sebagai aktivis dan provokator.
Kematian Good telah memicu protes di seluruh negeri, dan banyak orang memegang poster bertuliskan ”Keadilan untuk Renee”. Protes warga pun berlangsung berhari-hari di tengah cuaca musim dingin yang menerpa Negara Bagian Minnesota. Hal ini pun menarik perhatian jurnalis dan media lokal hingga internasional untuk memberitakannya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/11/05af2551382015a9e0526b751ec64efb-Immigration_Enforcement_Minnesota.jpg)
Pada aksi protes di luar Gedung Federal Bishop Henry Whipple, di Minneapolis, Kamis (15/1/2026), terjadi kisruh saat pengunjuk rasa mencoba merangsek menembus pagar betis petugas keamanan dan agen ICE. Di tengah situasi itu, fotografer lepas John Abernathy, dengan kasar ditangkap dari belakang oleh agen ICE dan dengan cepat dikelilingi oleh apa yang Abernathy gambarkan sebagai ”sekitar 50 polisi perbatasan”.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/b01ebe63fb8caa6e57061e202e5fa078-AP26015700522621.jpg)
Abernathy mengatakan bahwa saat memotret para demonstran dan kontra-demonstran, ia kehilangan kesadaran situasionalnya sejenak karena mencoba melakukan siaran langsung dengan ponselnya dan mengambil foto secara bersamaan. Saat itulah ia ditangkap dari belakang dan dibanting ke tanah oleh beberapa petugas ICE, yang kemudian menyemprotnya dengan semprotan merica. Kekerasan yang dialami Abernathy ini menarik perhatian jurnalis lain yang meliput peristiwa tersebut. Salah satunya fotografer Pierre Lavie, yang menjadi jurnalis paling dekat dengan tempat Abernathy.
Lavie, yang sedang memotret di dekatnya, melihat kejadian ini dan berbalik untuk memotretnya. Saat itulah momen yang kini terkenal itu terekam. Abernathy, khawatir polisi akan menghapus foto-foto dari kameranya, menatap Lavie dan melemparkan kamera Leica M10-R dan ponselnya ke fotografer lain yang tak dikenalnya.
”Saat itu saya bertindak secara naluriah,” kata Abernathy yang meyakini ada agen ICE yang mencoba merebut ponselnya dari tangannya.
Lavie, yang sedang berjongkok untuk memotret kejadian tersebut, mengatakan semuanya terjadi sangat cepat. Lavie mengakui bahwa ia sempat ragu sebelum mengambil kamera dan ponselnya. ”Dalam pikiran saya, saya berpikir, apakah saya harus mengambilnya? Atau tidak? Jika saya mengambilnya, apakah saya akan terseret ke dalam masalah ini?” kata Lavie.
Tetapi, kemudian ia berkata pada dirinya sendiri, ”Oke, persetan. Saya akan melakukannya.”
Setelah Abernathy dibebaskan, ia mengatakan bahwa ia mencari kameranya, meminta seseorang dengan pengeras suara untuk bertanya apakah ada yang melihatnya, tetapi tidak ada yang melihatnya. ”Setelah mereka melepaskan saya, saya benar-benar panik mencari kamera saya. Saya berpikir, sial, mungkin saya membuat keputusan yang salah. Seharusnya saya tidak melakukan itu, mengapa saya melakukan itu?” katanya saat memberi testimoni pada Digital Photography Review.
Namun, akhirnya, ia dan seorang temannya berhasil melacak ponselnya, sehingga ia dapat bertemu dengan Lavie dan mengambil kameranya beserta foto-foto di dalamnya, beberapa di antaranya segera ia unggah ke Instagram. ”Ketika saya akhirnya melihat kembali gambar-gambar yang saya ambil selama protes, ada beberapa foto yang sangat agresif tentang agen-agen yang menindak para demonstran,” kata Abernathy.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/1b0861a9fccbb952787024754095a077-1772440719570.jpg)
Alasan
Baginya, melempar kamera adalah hal yang tepat untuk dilakukan, karena beberapa alasan. Pertama, untuk menarik perhatian pada seluruh masalah yang sedang dihadapi. Dan kedua, gambar-gambar tersebut menunjukkan agresi yang dilakukan para agen tanpa alasan yang jelas.
”Saat saya melempar (kamera), entah bagaimana secara ajaib kamera itu mendarat di pelat dasar yang merupakan pegangan tangan non-Leica. Ketika akhirnya saya mendapatkannya kembali, hanya ada beberapa goresan, beberapa di antaranya agak dalam, di pelat dasar tersebut,” papar Albernathy.
Jika agen ICE berhasil mendapatkan kamera Abernathy, akan sulit untuk memprediksi apa yang akan terjadi pada kamera atau foto-fotonya. Meskipun jurnalis foto dan warga negara memiliki hak Amendemen Pertama yang seharusnya mencegah penegak hukum menghapus foto dari kamera, atau bahkan mengaksesnya tanpa surat perintah, ketakutan Abernathy sepenuhnya masuk akal. Jika agen ICE menghapus foto-foto Abernathy, ia mungkin tidak memiliki banyak jalan keluar, terlepas dari apakah tindakan itu ilegal atau tidak.
Foto-foto yang diambil Abernathy saat ditahan, dan foto-foto yang diambil Lavie dalam peristiwa tersebut, telah mendapat banyak perhatian baik di media nasional maupun di beberapa platform media sosial. Sesuatu yang tidak diharapkan oleh kedua fotografer yang sebelumnya tidak saling kenal.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/a1a069e1705d61ff37774dfe6e63e9fd-1772440719557.jpg)
”Saya jelas tidak mengharapkan perhatian sebesar ini. Jika bukan karena foto Pierre, saya rasa semua ini tidak akan terjadi. Ada banyak fotografer lain di sana, dan mereka juga mendapatkan beberapa foto bagus, tetapi foto Pierre benar-benar epik. Foto itu menunjukkan banyak hal. Ini lebih dari sekadar foto saya. Ini menunjukkan perjuangan melawan kekuatan jahat yang tidak teridentifikasi,” ujar fotografer yang harus menjalani perawatan ringan setelah peristiwa tersebut.
Lavie menyebut respons itu ”sureal” dan mengatakan dia bersyukur, tersanjung, dan merasa rendah hati atas curahan dukungan tersebut. ”Hal ini beresonansi dengan semua orang karena suatu alasan. Dan saya rasa itu bukan alasan yang baik. Meskipun saya sangat ingin itu menjadi gambar kupu-kupu yang ajaib atau semacamnya, sayangnya, inilah situasinya, dan di situlah kita berada sekarang. Mudah-mudahan ini akan berjalan dengan baik melalui sistem,” paparnya.
Saat melihat hasil foto-foto di kameranya, Albernathy merasa kecewa karena banyak yang buram. Namun, kekecewaan terbesarnya pada peristiwa itu adalah saat ia merasa kurang jauh melempar ponselnya.
”Tepat saat ponsel itu menyentuh tanah, saya melihat sepatu bot hijau menginjaknya. Itu adalah perasaan paling mengecewakan yang pernah saya alami. Dan saya hanya berpikir ’sial,’ dan menundukkan kepala ke tanah,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/31cd92bd00f012fe997bf7446fc58d54-1772440719512.jpg)
Abernathy kemudian mengetahui bahwa Lavie berhasil meraih ponselnya di bawah kaki agen saat ia mencoba menginjaknya. Apa yang terasa seperti keabadian bagi Abernathy, dari saat ia dipukul dari belakang hingga terjatuh ke tanah, lalu ditahan dan melempar kamera serta ponselnya, sebenarnya hanya berlangsung kurang dari 10 detik.
PetaPixel melaporkan bahwa, dengan riset menggunakan metadata dari foto-foto Lavie, dari saat Abernathy ditangkap hingga ia sepenuhnya diborgol hanya membutuhkan waktu delapan detik. Peristiwa yang sangat cepat terjadi. Dan dengan insting serta naluri jurnalisnya, Albernathy berhasil menyelamatkan kamera serta hasil fotonya.
Seperti yang Abernathy ceritakan kepada PetaPixel, foto dirinya dan Lavie adalah gambar yang saling mencerminkan. Di satu sisi, foto Lavie menunjukkan Abernathy, dalam momen keputusasaan, melemparkan kameranya untuk menyelamatkan gambar-gambarnya dan mencegahnya jatuh ke tangan ICE, di mana tidak mungkin untuk mengetahui apa yang akan terjadi. Foto Abernathy, yang diambil hanya beberapa detik setelah ditangkap dan sekitar waktu yang sama sebelum ia melemparkan kameranya ke nasib yang tidak diketahui, menunjukkan adegan yang sama dari jarak beberapa kaki tetapi dari perspektif yang sama sekali berbeda.
Abernathy juga memahami mengapa foto-foto itu begitu menggemparkan. ”Saya sangat bersyukur bahwa ini telah menjadi titik fokus untuk menarik perhatian tidak hanya pada area ini tetapi juga pada apa yang terjadi di seluruh Amerika Serikat,” katanya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/cca01b05a654e67176a0ff97ee6848b9-1772440719629.jpg)
”Ini berbicara tentang kebebasan pers. Banyak orang memperhatikan hal itu karena alasan yang jelas, tetapi ini berbicara jauh melampaui pengalaman pribadi saya. Ini tentang kebebasan pers, dan ini tentang orang-orang yang mencoba berjuang melawan kekuatan besar itu. Baik foto miliknya maupun foto terakhir saya hanya menunjukkan kaki dalam posisi berkuasa. Dan mereka mendominasi, dan ada senjata, dan itu benar-benar mewakili lebih banyak hal,” ujarnya.
Bagi seseorang yang menghabiskan kariernya di belakang kamera, ini adalah perubahan dramatis untuk akhirnya berada di sisi lain kamera, terutama sebagai subyek foto viral yang sangat berpengaruh. Abernathy menegaskan bahwa ia berada di sana bukan sebagai bagian dari protes, melainkan sebagai jurnalis yang sedang menjalankan tugasnya, seperti yang selalu ia lakukan saat memotret protes, seperti yang dilakukannya hanya dua hari setelah ditangkap, disemprot gas air mata, disemprot merica, ditembak dengan peluru karet, ditahan, dan akhirnya dikenai dakwaan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/2885b2b040148c87fb46c0b5727ca1a5-1772440719485.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/03/02/cf5c9aa211a7b2e9c35294ed2cc9cadf-1772440719584.jpg)
Komitmen John Abernathy untuk mendokumentasikan kebenaran, apa pun risikonya, telah menggema di banyak orang. Begitu pula foto-foto luar biasa Pierre Lavie tentang momen ketika Abernathy melempar Leica-nya dan dijepit di tanah lalu dikelilingi oleh agen ICE. Setelah ditangkap, ditahan, dan disemprot gas air mata di jalanan Minneapolis, Abernathy tidak membuang waktu untuk kembali mengambil foto. Dia telah berada di lapangan beberapa hari sejak itu, mengambil lebih banyak gambar dengan Leica-nya yang kini legendaris, dan tidak berencana untuk berhenti.
”Ini hanya saya di luar sana, mengambil foto tanpa dukungan dari surat kabar atau agensi. Hanya berusaha menyampaikan kisah ini sebaik mungkin. Dunia perlu melihat apa yang terjadi di sini,” katanya.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Heru Sri KumoroPenyelaras Bahasa:
Didik Durianto