Menangkap momen yang tak terduga dalam waktu singkat membutuhkan kesiapan dan respons cepat seorang pewarta foto.
27 Jan 2026 07:07 WIB · Klinik Foto
KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN
Dalam fotografi jurnalistik, momen menjadi hal utama yang menentukan untuk menambah nilai berita dari suatu peristiwa, apalagi jika momen itu terkait dengan berita aktual terkini atau hard news. Sering kali momen tak terduga terjadi pada suatu peristiwa terjadwal atau rutin. Munculnya momen tak terduga tersebut bisa mengubah suatu peristiwa yang awalnya berkategori berita harian terjadwal (general news) menjadi berita hangat faktual terkini (hard news/spot news).
Seperti peristiwa saat Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP) Sakti Wahyu Trenggono tiba-tiba pingsan saat memimpin upacara persemayaman dan pemberangkatan jenazah korban pesawat ATR 42-500 yang jatuh, di Politeknik Ahli Usaha Perikanan, Pasar Minggu, Jakarta, Minggu (25/1/2026). Peristiwa ini merupakan momen tak terduga dari rangkaian acara yang sudah dijadwal. Saat kejadian, semua yang hadir terkejut, baik peserta upacara maupun jurnalis yang meliput.
Pewarta foto Kompas, Hendra A Setyawan, merekam kejadian yang berlangsung cepat tersebut. Meskipun beberapa foto dari rangkaian foto yang terekam hasilnya blur dan goyang, secara umum bisa menggambarkan kejadian secara faktual.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/f421c1b78d3fb805fe3172d49b76a0b6-20260126KLIK01.jpg)
Peristiwa serupa juga pernah terjadi di berbagai acara, baik yang melibatkan pejabat negara, tokoh publik, maupun masyarakat biasa. Tak hanya di Indonesia, di berbagai negara juga tercatat pernah terjadi pejabat, bahkan pemimpin negara, jatuh pingsaan di acara resmi.
Dari dalam negeri, pada 30 Desember 2008, Pelaksana Tugas Ketua Mahkamah Agung (MA) Harifin A Tumpa mendadak tumbang saat akan mengambil sumpah jabatan enam hakim agung di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta. Pewarta foto Kompas, Priyombodo, merekam momen tersebut. Fotonya dimuat di Harian Kompas edisi 31 Desember 2008.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/5fd0370f07d2dcf921adc69fbe4a7a71-20081230prib.jpg)
Wakil Ketua Badan Anggaran DPR Muhidin Mohamad Said juga pernah terekam kamera ketika terjatuh waktu menyerahkan laporan hasil pembahasan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Negara tahun 2023 kepada pimpinan saat rapat paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, 30 Juni 2022. Sebelum terjatuh, Wahidin membacakan laporan di mimbar selama lebih dari 20 menit. Setelah terjatuh, anggota Fraksi Golkar itu mendapat perawatan medis yang disediakan Sekretariat Jenderal DPR.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/3a0e6b873f1bfaba24442dc3f0e5639c-20220630HAS04.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/b97b3c6fc02ad4c5d9cc78b79cf06c2c-20220630HAS06.jpg)
Dari luar negeri, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong pernah terekam kamera jurnalis jatuh pingsan saat menyampaikan pidato di rangkaian acara Hari Nasional Singapura, 21 Agustus 2016. Lee tiba-tiba terhuyung setelah sekitar dua jam berpidato menyambut perayaan HUT Ke-51 Singapura. Setelah ditolong dan beristirahat sekitar 1 jam 20 menit, ia kembali ke mimbar dan meneruskan pidatonya.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/0a90a7f88228f53af650eb478b4b0ab0-AP16235172439185.jpg)
Wakil Presiden Afrika Selatan Paul Mashatile juga pernah mengalami kehilangan kesadaran saat tampil di depan publik. Dia dilaporkan pingsan ketika berpidato di acara pelantikan seorang pemimpin adat setempat di Tzaneen, Provinsi Limpopo, 14 September 2024.
Perdana Menteri Provinsi Limpopo Phophi Ramathuba mengatakan, Mashatile tiba-tiba tidak sadarkan diri di tengah pidatonya, kemungkinan karena cuaca yang sangat panas di wilayah itu. Di hari itu, suhu di Tzaneen mencapai 37 derajat celsius.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/0f0a678fc7af7e4dd3bb8a49136110d2-FOTO_KLIK_A.jpg)
Kejadian lain yang belum lama berlangsung adalah saat seorang tamu pria jatuh pingsan saat mendampingi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam suatu acara di Ruang Oval Gedung Putih, 6 November 2025. Pria itu diidentifikasi sebagai Gordon Findlay, yang merupakan perwakilan Novo Nordisk, perusahaan farmasi asal Swiss.
Dalam foto yang terekam jurnalis, Trump terkejut saat tiba-tiba Findlay pingsan dan ditolong sejumlah orang di sekitarnya. Dari rangkaian foto peristiwa tersebut ada yang menarik adalah ketika Trump pose berdiri menghadap ke arah wartawan saat sejumlah orang tengah menolong Findlay yang pingsan di belakangnya. Dengan ekspresi wajah khasnya yang kaku dan terkesan cuek, Trump seolah tak menghiraukan momen yang terjadi.
Foto tersebut kemudian viral dan mendapatkan banyak reaksi dari berbagai tokoh. Banyak komentar yang menyindir sikap Trump yang dianggap tidak punya empati atas kejadian tersebut. Aktor, pembawa acara, dan komentator politik liberal, Lawrence O’Donnell, mengritik sikap Trump dalam momen tersebut yang terekam hanya melihat sebentar sebelum kemudian memalingkan muka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/26/a7ac4a7325268c0b5dcdaf01a8b7a89e-AP25310648077240.jpg)
Menurut O’Donnell, para pendahulu Trump—baik asal Demokrat maupun Republik—akan menangani situasi tersebut secara berbeda. ”Kita akan tahu apa yang akan dilakukan Joe Biden. Kita tahu apa yang akan dilakukan Barrack Obama. Kita akan tahu apa yang akan dilakukan George W Bush. Mereka akan melihat secara fisik untuk membantu orang tersebut. Mereka tidak akan berpaling,” kata O’Donnell menegaskan.
Dari beragam kejadian tersebut, semua merupakan momen yang tak terduga yang kebetulan terjadi di peristiwa yang terjadwal. Kehadiran jurnalis di momen-momen tersebut juga wajar karena peristiwa tersebut merupakan acara resmi pemerintah. Namun, yang menjadi catatan adalah tak semua jurnalis dapat menangkap momen tersebut.
Pada momen jatuhnya Menteri KKP, menurut Hendra A Setyawan, saat itu ada sekitar sepuluh fotografer, baik jurnalis ataupun humas kementerian, yang berada di lokasi. Namun, hanya dua fotografer yang sempat merekam momen jatuhnya menteri. Beberapa fotografer lainnya sedang fokus merekam momen lain di peristiwa itu. Bahkan, ada fotografer yang sebenarnya sudah melihat tanda-tanda menteri terhuyung, tetapi hanya berkomentar tanpa ada refleks untuk memotret.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2026/01/25/65bf124d-9145-4eda-aea0-4d73c49d5971.jpg)
Menangkap momen yang tak terduga dalam waktu singkat membutuhkan kesiapan dan respons cepat seorang pewarta foto. Selain peralatan kamera yang sudah siap, keputusan fotografer untuk menekan tombol kamera menjadi naluri alami yang harus dimiliki seorang pewarta foto.
Di samping itu, yang tak bisa dilupakan juga adanya faktor keberuntungan. Meski demikian, keberuntungan tanpa kesiapan juga tak ada artinya. Dengan pengalaman di lapangan yang mumpuni, naluri ini akan terasah dan sangat mendukung kerja pewarta foto.
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Teguh Candra