Di balik citra diri para pemimpin dunia yang tampil di media sosial pribadi, ada tangan-tangan terampil yang memoles agar terlihat lebih menarik.
20 Jan 2026 06:51 WIB · Klinik Foto
AP Photo/Ohad Zwigenberg
Akun Facebook Perdana Menteri Israel pada 16 Desember 2025 mengunggah sejumlah foto yang belakangan dipermasalahkan. Dalam foto-foto tersebut, PM Benjamin Netanyahu didampingi istrinya, Sara, serta Duta Besar AS Mike Huckabee, dan sekelompok tentara Israel, saat mereka menyalakan lilin Hanukkah di Tembok Barat, tempat paling suci di mana orang Yahudi berdoa. Para pemimpin saling bertukar pandangan penuh kemenangan. Hanukkah atau Festival Cahaya adalah perayaan penting bagi umat Yahudi yang dirayakan selama delapan hari.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/7ca4dfb73b21ad1c4ee783322a6a10be-AP26009392401479.jpg)
Foto-foto perayaan tersebut juga bisa dilihat di akun Instagram pribadi milik Benjami Netanyahu dan istrinya, Sara Netanyahu. Sekilas tak ada yang aneh dari unggahan foto tersebut. Seperti layaknya pejabat negara, foto-foto itu menjadi sarana publikasi kegiatan acara resmi karena diunggah oleh akun media sosial resmi Kantor Perdana Menteri Israel.
Namun, Shabi Gatenio, jurnalis politik veteran di Israel, melihat ada kejanggalan pada foto tersebut. Ia melihat kulit Sara Netanyahu tampak mulus tanpa pori-pori, matanya terlalu tegas, dan rambutnya tertata sempurna. Belakangan, penampilan foto Sara tersebut diakui oleh para pejabat sebagai hasil dari pengeditan foto yang berlebihan.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/145c835862933a93502e230bae8f5cd2-20260119SETB.jpg)
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/1d894922f808dfe224e6761dc305eb63-20260119SETE.jpg)
”Semua gambar hingga hari ini di arsip di Israel adalah gambar otentik dari realitas sebagaimana yang ditangkap oleh lensa kamera fotografer sejak berdirinya negara,” ujar Gatenio yang mengungkap kisah ini di The Seventh Eye, sebuah situs berita di Israel.
Sejak manipulasi gambar terungkap, Pemerintah Israel telah mengambil langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya dengan memberikan kredit kepada Sara Netanyahu dalam rilisnya yang mencakup gambar yang dimanipulasi. ”Gambar-gambar ini, jika dimasukkan ke dalam basis data, akan selamanya menginfeksinya dengan realitas virtual yang tidak pernah ada,” kritik Gatenio.
Dan, tidak jelas apakah arsip resmi akan menyertakan gambar Sara yang diambil selama paruh kedua tahun lalu, ketika Gatenio mencurigai pengeditan tampaknya telah dimulai. Sementara itu, Nitzan Chen, Direktur Kantor Pers Pemerintah Israel, mengatakan kepada Associated Press bahwa gambar perdana menteri tidak pernah dimanipulasi dan bahwa kantornya tidak akan mengunggah foto yang diedit ke arsip resmi negara.
Sara Netanyahu (67) telah lama menggunakan perangkat lunak pengeditan foto pada gambar-gambarnya. Akun media sosial pribadinya dipenuhi gambar-gambar dengan wajahnya tampak diedit secara berlebihan. Topik ini pun menimbulkan pertanyaan sejak kebiasaan Photoshop-nya masuk ke catatan publik.
Gatenio mengatakan pertama kali menyadari hal ini pada Juli 2025, ketika pasangan itu mengunjungi Presiden AS Donald Trump di Washington DC. Kecurigaan kedua pada bulan September, ketika Sara Netanyahu bergabung dengan suaminya di landasan pacu sebelum perjalanan ke New York untuk Sidang Umum PBB. Pada saat itu, Kantor Perdana Menteri Israel merilis video acara pelepasan tersebut bersama dengan sebuah foto, yang dikreditkan kepada Avi Ohayon, seorang fotografer resmi pemerintah.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/f919b680b858fcc25ef9ff659c45c86a-AP26009393388892.jpg)
Membandingkan foto dengan video mentah, Hany Farid, seorang ahli forensik digital di Universitas California, Berkeley, mengatakan gambar tersebut telah diproses ulang, dengan manipulasi lokal untuk menghaluskan kulitnya dan menghilangkan kerutan. ”Sejak saat itu, foto-foto yang menunjukkan Nyonya Netanyahu bertemu dengan Wakil Presiden JD Vance dan istrinya, Usha, di Washington juga tampaknya telah diedit,” kata Farid.
Farid mengungkapkan, ada beberapa pengeditan Photoshop untuk—sebut saja—mempercantik, mencerahkan, dan menghaluskan wajah. Pengeditan yang sebelumnya untuk kepentingan pribadi menjadi kontroversial setelah ada kepentingan politik. ”Apakah itu jahat? Tidak. Apakah itu masalah? Ya. Ini tentang sesuatu yang lebih besar daripada, ’dia mengedit wajahnya dengan Photoshop agar terlihat lebih muda’. Ini tentang kepercayaan. Mengapa saya harus memercayai foto resmi apa pun yang keluar dari pemerintahan itu?” tegas Farid.
Menanggapi hal ini, Nitzan Chen mengatakan, pengacara Kantor Pers Pemerintah Israel sedang mencoba menentukan bagaimana menangani dan mengidentifikasi dengan benar foto-foto yang ”diproses oleh orang selain fotografer resmi pemerintah”. Dia mengatakan, Kementerian Kehakiman juga sedang memeriksa ”kriteria, batasan, dan kemungkinan” dari gambar yang diedit meskipun dia menekankan bahwa tidak ada yang ilegal tentang pengeditan foto. Untuk saat ini, Kantor Perdana Menteri telah memutuskan untuk menambahkan nama Sara Netanyahu ke siaran pers yang menyertakan gambar yang diedit sejak November 2025.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/f93a98c59c6e41d1b642445fc2b007a2-SARA.jpg)
Setidaknya satu media, Times of Israel, mengatakan bahwa mereka tidak akan lagi memuat foto-foto resmi negara yang tampaknya telah dimanipulasi. Kantor berita Associated Press juga menegaskan tidak menerbitkan gambar yang tampaknya telah diedit atau dimanipulasi secara digital.
Akun Instagram resmi PM Israel menceritakan kisah lain. Halaman tersebut telah mengunggah banyak konten yang tampaknya diedit atau dihasilkan oleh akal imitasi (AI), termasuk foto pasangan Netanyahu bersama Presiden AS Donald Trump dan Ibu Negara Melania Trump merayakan Tahun Baru di Washington.
Foto tersebut menimbulkan kecurigaan di Israel karena menunjukkan Sara Netanyahu mengenakan gaun hitam yang tidak ada di foto-foto lain acara tersebut, di mana ia mengenakan gaun merah tua. Di langit di atas pasangan tersebut tampak kembang api berwarna cerah dan bendera Amerika dan Israel yang menurut Farid ”hampir pasti” dihasilkan oleh AI.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/ea2f705e8cd275d1d6d7a9d25e989f99-20260119SETD.jpg)
Apa yang dilakukan pada foto-foto pribadi Sara Netanyahu sebenarnya bukan hal baru. Banyak tokoh dunia, termasuk Trump, sering menggunakan manipulasi gambar yang dihasilkan AI dalam publikasi mereka.
Tehilla Shwartz Altshuler, yang menjalankan ”Program Demokrasi di Era Digital” di Institut Demokrasi Israel, sebuah lembaga think tank di Jerusalem, menyebut hal itu sebagai ”bagian dari strategi populis” dan mengatakan ”tidak diragukan lagi” bahwa Netanyahu meniru cara Trump menggunakan teknologi tersebut.
Akun Instagram resmi Netanyahu telah mengunggah video Trump dan Netanyahu di dalam pesawat pengebom B-2 yang tampaknya sepenuhnya dihasilkan oleh AI. Video tersebut diberi keterangan ”dalam perjalanan kemenangan kita”, merujuk pada serangan gabungan Israel-AS terhadap Iran tahun lalu.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/e120e5bd1760207bcfdf5b467a6f26db-20260119SETA.jpg)
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/01/19/4372da8411e9325365cfbae0eba262c5-AP25363669904580.jpg)
Altshuler mengatakan, apa yang dilakukan Netanyahu diduga telah berlangsung bertahun-tahun sebagai upaya menampilkan citra diri seorang pemimpin. ”Menampilkan dirinya sebagai pahlawan super, istrinya sebagai supermodel, keluarga mereka sebagai keluarga yang sangat setia. Bahkan ketika itu tidak benar, bahkan dengan mengorbankan pekerjaan politik, pekerjaan administrasi, dan pekerjaan sosial yang sebenarnya,” ujarnya.
Di balik citra diri para pemimpin dunia yang tampil di media sosial pribadi, ada tangan-tangan terampil yang memoles agar terlihat lebih menarik. Namun, untuk kepentingan pemberitaan dan publikasi resmi kenegaraan, selayaknya visual yang ditampilkan adalah gambar otentik dari realitas sebagaimana yang ditangkap oleh lensa kamera fotografer (AP).
Penulis:
Iwan SetiyawanEditor:
Demitrius Wisnu WidiantoroPenyelaras Bahasa:
Priskilia Bintang Cornelia Sitompul