Tetap Hati-hati Mudik Lewat Jalan Arteri

Tim Kompas melintasi sebagian ruas jalan arteri di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada dua pekan sebelum Lebaran 2025. Bagaimana kondisinya?

18 Mar 2025 17:49 WIB · Nusantara

Oleh Nikolaus Harbowo, Stephanus Aranditio, Emanuel Edi Saputra, Kristi Dwi Utami, Raynard Kristian Bonanio Pardede, Ambrosius Harto Manumoyoso, Defri Werdiono

Jalan arteri dapat menjadi salah satu alternatif bagi pemudik untuk pulang ke kampung halaman. Keberadaan jalan arteri bahkan dapat dimanfaatkan tidak hanya kendaraan roda empat atau lebih, tetapi juga pemudik sepeda motor.

Dibandingkan jalan tol, jalan arteri menawarkan beberapa kelebihan. Pemudik yang melewati jalan arteri tidak perlu membayar biaya tambahan selain bahan bakar, beda halnya jika melewati jalan tol. Tempat istirahat, rumah makan, dan tempat wisata juga mudah ditemui ketika pemudik memilih lewat jalan arteri.

Logo Liputan Mudik 2025 Harian Kompas

Sekitar dua pekan sebelum Lebaran 2025, tim Kompas melintasi beberapa ruas jalan arteri di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mengecek kondisi jalan. Perjalanan berlangsung pada Kamis-Senin (13-17/3/2025) di ruas Jalan Solo-Yogya, Jalan Semarang-Surakarta, serta jalur pantai utara Semarang-Surabaya di Jawa Timur.

Pengecekan jalan arteri dibutuhkan karena pergerakan pemudik yang melewati jalan arteri diperkirakan meningkat. Apalagi di tengah situasi ekonomi yang belum membaik, pemudik dapat menghemat biaya tol yang mencapai ratusan ribu rupiah.

Kementerian Perhubungan pun memprediksi, pergerakan kendaraan keluar Jabodetabek yang melalui jalan non-tol pada angkutan Lebaran 2025 mencapai 1.820.006 kendaraan. Jumlah ini meningkat sebesar 2,7 persen dibandingkan tahun 2024, yakni 1.772.639 kendaraan.

Kemacetan di Jalan Raya Pantura, Karanglincak, Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, Sabtu (15/3/2025). Kemacetan terjadi karena banyak aktivitas religi warga.

Lalu, bagaimana kondisi terakhir dan apa saja yang harus diperhatikan pemudik saat melintas di jalan arteri di Jateng-Jatim?

Perjalanan dimulai dari Surabaya pada Kamis (13/3/2025) melewati Gresik, Lamongan, dan Tuban di Jatim, lalu Rembang, Pati, Kudus, dan Demak serta berakhir di Semarang pada Senin (17/3/2025). Kompas menggunakan mobil GWM Tank 500 dari Surabaya sampai Semarang untuk melihat kesiapan jalur mudik Lebaran.

Pantauan Kompas menunjukkan, ruas jalan arteri dari Surabaya hingga Semarang relatif mulus. Di semua kabupaten yang dilalui, ada bagian jalan yang rusak atau bergelombang, tetapi tidak sampai mengganggu perjalanan. Jalan pantai utara (pantura) Semarang-Surabaya membentang sejauh 325-330 kilometer dengan waktu tempuh sekitar delapan jam dalam kondisi tanpa terkena kemacetan dan pengalihan lalu lintas.

Dalam catatan tim Kompas, hambatan yang bisa mengganggu kelancaran perjalanan pemudik ialah potensi kepadatan dan kemacetan lalu lintas. Ini dapat terjadi karena jalur kebanjiran, seperti di ruas Semarang-Demak-Kudus. Selain itu, penerangan jalan kurang terang, seperti dialami saat melintasi Pati dan Lamongan pada malam. 

Quote

Kondisi ”aquaplaning” dapat terjadi ketika ban mobil hilang kontak dengan jalan akibat terhalang genangan air. Alhasil, daya kendali mobil bisa berkurang.

Potensi gangguan juga terjadi dari aktivitas pasar, pusat belanja, tempat ibadah, wisata religi, dan atau ruang publik yang berada di tepi jalur. Di bulan Ramadhan, aktivitas ekonomi, sosial, dan keagamaan masyarakat meningkat.

Kompas menyarankan pemudik yang melalui jalur pantura Semarang-Surabaya untuk memilih waktu yang tepat dalam melakukan perjalanan. Hindari perjalanan pada malam hari, apalagi ditambah dengan hujan, karena berisiko terhadap keselamatan.

Pemudik juga sebaiknya selalu mengecek situasi lalu lintas melalui aplikasi peta di gawai untuk mendapatkan informasi terkini dan alternatif jalur. Selain itu, mengemudilah dengan tertib untuk keselamatan.

Warga dengan latar belakang gerbang tol Semarang-Demak yang telah dioperasikan sejak akhir tahun lalu di Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Sabtu (25/2/2023). Pada saat yang bersamaan Presiden Joko Widodo meresmikan serta meninjau jalan tol Semarang-Demak Seksi II ruas Sayung- Demak. Pembangunan akses tol di wilayah tersebut untuk mengintregrasikan antardaerah termasuk kawasan industri di pesisir utara. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 23-02-2023

Kemudian, bagaimana dengan kondisi jalan arteri dari Klaten, Surakarta, Boyolali, hingga Semarang?

Kompas melintas dari Yogyakarta menuju Semarang dengan rute kombinasi antara jalan tol dan jalan arteri. Perjalanan melalui jalan arteri berlangsung dari Kota Yogyakarta hingga Pintu Tol Jatinom, Klaten. Setiba di Surakarta, kami menuju Semarang melintasi jalan arteri.

Pada umumnya, kondisi jalan arteri di Jateng tak jauh berbeda dengan pantura Jatim. Kondisi jalan relatif mulus meskipun masih ada perbaikan di sejumlah lokasi. Perjalanan harus melambat tatkala ada yang parkir di bahu jalan.

Perjalanan kami berlangsung pada malam sehingga penerangan tidak terlalu baik. Apalagi, kala itu perjalanan ditemani oleh hujan cukup deras yang mengguyur Boyolali hingga Semarang.

Oleh karena itu, para pengguna jalan arteri ini perlu ekstra waspada karena genangan air tersebar di beberapa ruas jalan. Khusus pengguna mobil juga harus berhati-hati.

Kondisi aquaplaning dapat terjadi ketika ban mobil hilang kontak dengan jalan akibat terhalang genangan air. Alhasil, daya kendali mobil bisa berkurang.

Sejumlah lampu pada Gerbang Tol Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, telah dinyalakan, Jumat (14/3/2025). Gerbang tol yang menjadi bagian dari Jalan Tol Solo-Yogyakarta tersebut akan difungsikan pada 24 Maret 2025 mendatang untuk memperlancar arus mudik Lebaran. Jalan Solo-Yogyakarta ruas Klaten-Prambanan sejauh 8,6 kilometer akan tersambung dengan ruas Prambanan-Tamanmartani di Sleman, DI Yogyakarta, sejauh 6,7 kilometer yang akan dibuka secara fungsional saat arus mudik Lebaran mendatang.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah minimnya penerangan jalan. Siapa pun yang melintasi jalan tersebut pasti akan memelankan laju kendaraannya. Hal-hal seperti ini perlu diantisipasi oleh pihak keamanan dan pemerintah setempat karena situasi jalan yang gelap bisa mengundang aksi kriminalitas.

Perjalanan melalui jalur arteri harus diakui bakal terasa lebih panjang dibandingkan lewat jalan tol. Jika melalui arteri, perjalanan bisa memakan waktu 2 jam 39 menit dengan jarak tempuh 102 kilometer (km). Sementara jika melintasi jalan tol, waktu yang dibutuhkan hanya 1 jam 49 menit dengan jarak tempuh 110 km.

Namun, berbagai kemudahan tentu diperoleh jika memilih melintasi jalur arteri. Kami bisa mengisi bahan bakar kapan saja. Tempat pengisian bahan bakar mudah ditemukan di sepanjang jalan arteri. Apalagi jika ingin mengisi perut, semua jenis makanan seakan tersedia di sepanjang jalur ini.

Quote

Sebanyak 92 persen dari total 2.440,12 kilometer jalan provinsi di Jateng sudah dalam kondisi mantap.

Selain dua tim di atas, melalui tim lain, Kompas juga menyurvei jalur arteri dari perbatasan Jawa Barat hingga Jateng di Pejagan. Perjalanan dari Brebes ke Semarang dengan jarak total 192 km dapat kami tempuh dengan waktu 4 jam 39 menit. Jarak dan waktu tempuh itu lebih lama dibandingkan dengan perjalanan melintasi jalur tol sepanjang 165 km dengan estimasi waktu 1 jam 43 menit.

Antrean panjang kendaraan pribadi dan truk terlihat di depan Pasar Tegalgubug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Jumat (22/4/2022). Pasar Tegalgubug yang berada di jalur pantura Cirebon selama ini menjadi salah satu titik rawan kemacetan parah terutama saat arus mudik Lebaran. Sejumlah pengaturan lalu lintas seperti penutupan jalur putar balik (u-turn) dan sistem lawan arus (contra flow) jika terjadi kemacetan parah. Sejumlah titik pasar tumpah yang berada di jalur pantura Indramayu dan Cirebon berpotensi menimbulkan kemacetan lalu lintas saat arus mudik Lebaran. Cirebon menjadi jalur perlintasan utama menuju ke arah Jawa. Kementerian Perhubungan memprediksi sekitar 85,5 juta orang akan mudik pada Lebaran tahun ini dengan sebagian besar akan menggunakan transportasi darat termasuk kendaraan pribadi. KOMPAS/RADITYA HELABUMI (RAD) 22-04-2022

Selain itu, rata-rata lebar jalan arteri setengah dari lebar jalan tol sehingga pemudik yang melintasi jalur arteri juga perlu lebih bersabar karena harus mengantre. Arus lalu lintas di jalur arteri pun berpotensi terhambat oleh keramaian di sekitar pasar tumpah, persimpangan-persimpangan, dan pusat oleh-oleh. Sejumlah lokasi rawan keramaian tersebar mulai dari Pejagan, Dermoleng, Klonengan, Ajibarang, dan Bumiayu.

Kerawanan di arteri

Sejumlah kerawanan yang Kompas temui di jalan arteri sebenarnya sudah dipetakan pula oleh Polri. Mengutip catatan Korps Lalu Lintas Polri, ada sejumlah hal yang harus diantisipasi oleh pemudik yang melintasi jalur arteri untuk memperlancar arus mudik Lebaran 2025. Sebut saja pasar tumpah, kerusakan jalan, kerusakan jembatan, minimnya penerangan jalan, hingga kerawanan kriminalitas.

Direktur Lalu Lintas Kepolisian Daerah Jatim Komisaris Besar Komarudin mengatakan, ada setidaknya 70 lokasi rawan kecelakaan di Jatim. Kurang dari 10 lokasi rawan kecelakaan ada di Tol Trans-Jawa. ”Mayoritas kerawanan ada di jalur arteri,” katanya.

Hanung Triyono

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga, dan Cipta Karya Jateng AR Hanung Triyono menambahkan, setidaknya 92 persen dari total 2.440,12 km jalan provinsi di Jateng sudah dalam kondisi mantap. Kondisi itu lebih baik daripada awal Februari 2025 dengan kondisi jalan mantap sebesar 87 persen. Menurut Hanung, peningkatan kondisi jalan tersebut terjadi setelah adanya penambalan lubang di sejumlah lokasi.

Hanung menyebut, meski sudah dilakukan penambalan, ada kemungkinan lubang-lubang tersebut kembali muncul karena tambalannya tergerus hujan. Oleh karena itu, pihaknya bakal bekerja ekstra untuk memantau perubahan kondisi jalan tersebut.

”Berdasarkan evaluasi yang kami lakukan, ada 23 ruas jalan provinsi yang perlu diwaspadai akan timbul lubang. Ruasnya itu ada di sejumlah titik, di Semarang, Grobogan, Kendal, Jepara, Kudus, Wonosobo, Magelang, Banyumas, Cilacap, dan Pemalang,” katanya.

Di samping memastikan jalan provinsi, Pemerintah Provinsi Jateng juga terus berkoordinasi dengan pemerintah pusat ataupun pemerintah kabupaten/kota untuk memastikan jalan nasional dan jalan kabupaten/kota dalam kondisi baik. Perbaikan-perbaikan bakal dilakukan oleh pemerintah pusat ataupun pemerintah kabupaten/kota supaya jalan-jalan di Jateng aman dan nyaman dilalui saat arus mudik dan balik Lebaran.

Petugas sedang memperbaiki jalan yang berlubang di Jalan Solo-Yogyakarta di ruas Klaten, Jawa Tengah, Sabtu (15/3/2025).

Ketua Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan, kondisi jalan yang rusak tentu berpotensi membahayakan pengguna jalan, selain kondisi kendaraan itu sendiri. Karena itu, kerusakan jalan itu perlu segera diperbaiki, apalagi dalam kondisi menjelang Lebaran seperti sekarang dengan banyaknya warga yang akan mudik dan berlalu lalang di jalan.

”Sekarang memang masih banyak jalanan yang berlubang, namun Kementerian Pekerjaan Umum berjanji H-10 lubang-lubang yang ada di jalan arteri bisa tertutup. Memang konsentrasinya di jalan arteri, sedangkan jalan di daerah menjadi domain pemda. Pemda mesti melihat kondisi jalan di daerah masing-masing,” ujarnya saat dihubungi.

Dibandingkan Lebaran tahun-tahun sebelumnya, menurut Darmaningtyas, menjelang Idul Fitri tahun ini, perbaikan jalan terkesan agak mundur. Ada kendala perbaikan jalan terkait efisiensi anggaran. Lantaran efisiensi anggaran, Kementerian PU semula tidak mengalokasikan anggaran untuk perbaikan jalan. Namun, setelah ada desakan, akhirnya ada anggaran untuk perbaikan jalan.

Petugas memasang barikade di dekat lokasi longsor di jalan alternatif Klaten-Gunungkidul di Desa Watugajah, Gedangsari, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Selasa (18/3/2025). Meski tidak menimbulkan korban jiwa, peristiwa longsor yang terjadi sehari sebelumnya itu mengakibatkan akses pada jalur alternatif yang menghubungkan Jawa Tengah dengan DIY itu sempat terputus.

”Anggaran sempat dipotong untuk efisiensi. Tahun-tahun sebelumnya minus dua pekan sebelum Lebaran sudah harus beres. Dua pekan puasa sudah harus beres. Sebenarnya tidak hanya di Kementerian PU, di Kementerian Perhubungan juga begitu sehingga program ramp check kendaraan umum juga tidak ada,” ucapnya.

Perlu diingat, pemudik tidak hanya terkonsentrasi di jalan tol. Mereka sangat mungkin lebih memilih melintasi jalan arteri, dengan harapan tidak terjebak kemacetan di tol. Karena itu, perbaikan sana-sini serta pengawasan yang konsisten diperlukan di jalan arteri sehingga pemudik nyaman ketika menyusurinya. Sebab, jalan arteri bukanlah anak tiri.


Kerabat Kerja

Penulis:

Nikolaus Harbowo, Stephanus Aranditio, Emanuel Edi Saputra, Kristi Dwi Utami, Raynard Kristian Bonanio Pardede, Ambrosius Harto Manumoyoso, Defri Werdiono
 | 

Editor:

Iqbal Basyari
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti