Fakta bahwa PM Li hanya mengadakan kunjungan resmi ke Indonesia dalam tur Asia Tenggara kali ini menunjukkan pentingnya Indonesia bagi China.
27 Mei 2025 11:00 WIB · Artikel Opini
Perdana Menteri China Li Qiang melawat Asia Tenggara pada 24-28 Mei 2025. Menurut keterangan situs Kementerian Luar Negeri China, agenda Li Qiang adalah melakukan kunjungan resmi ke Indonesia, kemudian menghadiri KTT pertama ASEAN–China–Dewan Kerja Sama Negara-negara Teluk (Gulf Cooperation Council, GCC) di Kuala Lumpur.
Fakta bahwa PM Li hanya mengadakan kunjungan resmi ke Indonesia dalam tur Asia Tenggara kali ini menunjukkan pentingnya Indonesia bagi China. Hal ini menepis kekhawatiran beberapa kalangan akan merosotnya signifikansi Indonesia di kawasan karena tidak mendapat kunjungan Xi Jinping dalam tur Asia Tenggaranya pada 14-18 April yang lalu.
Pada pertengahan April 2025, Xi hanya mengunjungi Vietnam, Malaysia, dan Kamboja karena beberapa alasan. Pertama, Malaysia adalah negara yang mendapat giliran sebagai ketua ASEAN sekaligus koordinator Dialog ASEAN-China.
Kedua, Kamboja dan Vietnam mendapat hantaman tarif Trump terbesar di kawasan, yaitu sebesar 46 dan 49 persen. China, secara tidak langsung, berperan dalam hal ini karena banyaknya komoditas ekspor ke Amerika Serikat dari industri-industri China yang beroperasi di kedua negara ini sehingga menyebabkan defisit perdagangan bagi Amerika Serikat.
Ketiga, Prabowo telah bertemu Xi Jinping dua kali tahun 2024. Pertemuan pertama terjadi pada April ketika Prabowo masih menjadi pemenang pilpres; pertemuan kedua terjadi bulan November ketika Presiden Prabowo mengadakan kunjungan kenegaraan ke China.
:quality(80):watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https://kompasmedia.site/images/2025/05/25/26bacf8e7c7356d9640976a90da7bb43-WhatsApp_Image_2025_05_25_at_15.50.21.jpeg)
Di akhir Mei 2025, PM Li Qiang hanya mengunjungi Indonesia sebelum menghadiri KTT ASEAN-China-GCC. Hal ini menunjukkan tingginya frekuensi perjumpaan pemimpin kedua negara, sekaligus signifikansi bobot Indonesia di mata para pemimpin China.
Kunjungan kerja Li ke Indonesia harus dilihat dalam konteks Konferensi Pusat tentang Kerja Terkait Negara-negara Tetangga yang diselenggarakan di Beijing pada 8-9 April 2025. Konferensi yang diadakan pascapengumuman tarif ”hari pembebasan” oleh Trump ini merupakan pertemuan yang sangat penting karena dihadiri oleh seluruh anggota Komite Tetap Politburo Partai Komunis China.
Dalam konferensi tersebut, Presiden Xi Jinping menyampaikan pidato tentang pentingnya negara-negara tetangga dalam menjaga keamanan dan menjamin kemakmuran China, serta pembangunan Komunitas Masa Depan Bersama untuk Manusia. Xi menekankan bahwa justru di tengah tekanan Amerika Serikat terhadap ekonomi China dan paksaan Trump terhadap negara-negara tetangga untuk ikut mengisolasi China, Beijing harus semakin memperkuat diplomasi dan kerja sama dengan negara-negara tetangga.
Dapat disimpulkan bahwa tetangga yang menjadi prioritas untuk Beijing adalah negara-negara di kawasan Asia Tenggara karena ASEAN telah menjadi pasar terbesar China sejak 2023. Di bawah tekanan proteksionisme Amerika Serikat, China memperjuangkan pasar dan perdagangan bebas demi pertumbuhan ekonominya.
Situasi ini sangat ironis mengingat tahun 1793 Lord Macartney dari Kerajaan Inggris menghadap Kaisar Qianlong di Beijing untuk membuka pasar China bagi produk-produk Barat. Permohonan Macartney ini ditolak mentah-mentah oleh Kaisar Qianlong yang mengatakan bahwa kekaisarannya telah berkecukupan dan tidak berminat untuk membuka pasarnya bagi barang-barang dari bangsa Barat yang tidak beradab. Selama 232 tahun kemudian, posisi ini terbalik, China yang memainkan peran sebagai motor perdagangan bebas, sebaliknya Barat (Amerika Serikat) malah menutup diri.
Terkait dengan hal tersebut, kunjungan kerja Li Qiang ke Indonesia mengagendakan pertemuan dengan komunitas bisnis Tanah Air sekaligus membahas tantangan ekonomi di tengah perang tarif antara China dan Amerika Serikat. Neraca perdagangan Indonesia dengan China pada tahun 2024 menunjukkan defisit dari pihak Indonesia sebesar 10,3 miliar dollar AS. Sebagai mitra strategis, China diharapkan meningkatkan impor dari Indonesia, untuk mengurangi defisit perdangan Indonesia.
Indonesia dapat berharap kepada China seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2018 ketika PM Li Keqiang menyanggupi untuk meningkatkan impor minyak kelapa sawit Indonesia sebesar 500.000 hingga 1 juta ton ketika pasar Eropa menutup pintu terhadap ekspor kelapa sawit Indonesia. Kali ini, Indonesia berharap bahwa China dapat meningkatkan impor komoditas Indonesia yang bernilai tambah sedang dan tinggi secara signifikan untuk membantu mengurangi defisit perdagangan.
Kemitraan strategis antara kedua negara semestinya dapat mengurangi dampak destruktif dari perang tarif. PM Li Qiang diharapkan dapat menepis kekhawatiran banyak kalangan di Indonesia bahwa pasar nasional akan mendapatkan tsunami barang-barang murah China akibat halangan tarif yang ditetapkan Amerika Serikat.
Jika kunjungan Li berujung pada aksi nyata untuk kerja sama yang memitigasi efek negatif perang tarif, China akan memenangkan hati pemerintah dan rakyat Indonesia sebagai mitra strategis yang dapat diandalkan.
Harapan Indonesia akan aksi nyata China merupakan hal yang wajar mengingat Indonesia juga telah berkontribusi signifikan terhadap China dalam pengembangan industri mobil listrik. Menurut Benchmark Mineral Intelligence, sebuah perusahaan konsultan yang berpusat di London, tahun 2023, pasokan nikel kualitas baterai asal Indonesia ke China berkontribusi terhadap produksi 7 juta unit mobil listrik, atau 70 persen dari total produksi mobil listrik China.
Di satu pihak, investasi China di Indonesia dalam pengolahan nikel menjadi bahan baku baterai mendukung agenda hilirisasi nasional. Di lain pihak, Indonesia berkontribusi kepada China untuk menjadi pemimpin pasar mobil listrik global. Dalam kerja sama ini, kedua negara nampak sebagai mitra strategis yang sesungguhnya.
Setelah kunjungannya ke Indonesia, PM Li diagendakan menghadiri KTT ASEAN-China-GCC yang pertama. Dalam KTT ini, isu Palestina diperkirakan menjadi salah satu agenda utama. Aksi-aksi kemanusiaan China untuk warga Palestina selama ini mendapatkan apresiasi dari negara-negara Global South.
Di tengah aksi pembantaian Israel terhadap warga sipil Palestina yang tidak kunjung berakhir, China menjadi negara adidaya yang dapat diharapkan dalam memperjuangkan kemerdekaan dan martabat warga Palestina. Indonesia dipastikan siap untuk mendukung setiap usaha-usaha untuk mewujudkan cita-cita ini.
Singkat kata, jika kunjungan PM Li Qiang ini menghasilkan aksi-aksi nyata untuk mengurangi dampak perang tarif dan mendukung perjuangan rakyat Palestina, China akan mengonsolidasi posisinya sebagai mitra strategis kawasan dan pemimpin Global South.
Klaus Heinrich Raditio, Pengajar Politik China, STF Driyarkara, Jakarta
Penulis:
Klaus Heinrich RaditioEditor:
Neli TrianaPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto