Membayangkan Eropa Tanpa Amerika Serikat

Kebijakan AS yang mendekat ke Rusia dan menjauhi Eropa membuat Eropa ketar-ketir. Bersatu memperkuat militer jadi pilihan Eropa. Bisakah Eropa mandiri tanpa AS?

08 Mar 2025 14:30 WIB · Internasional

Oleh Luki Aulia

Manuver Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat negara-negara Eropa semakin serius meningkatkan pertahanan dan keamanannya. Anggaran dan belanja pertahanan ditingkatkan.

Sejak dilantik, Trump secara terbuka menunjukkan perbedaan AS dengan para sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan aliansi lain. Ia menuntut sekutu AS menyediakan belanja pertahanan lebih tinggi lagi.

Hal yang lebih mencemaskan, dalam perang Ukraina, Trump menunjukkan seolah AS lebih menyokong Rusia dibandingkan Ukraina. Padahal, perang terutama pecah dan berlarut karena Rusia menyerang Ukraina. Alasan Rusia, merasa terancam dengan hasrat Ukraina masuk NATO.

Polandia, salah satu anggota Uni Eropa sekaligus NATO paling dekat dengan Rusia, mendorong kenaikan anggaran itu. ”Sedikitnya 3 persen produk domestik bruto anggota aliansi harus dialokasikan (untuk pertahanan). Tidak bisa menunggu sampai 2030,” kata Presiden Polandia Andrzej Duda, Kamis (6/3/2025), di Brussels, Belgia.

Di ranah domestik, Duda malah mendorong lebih tinggi lagi. Ia telah mengusulkan amendemen konstitusi demi meningkatkan belanja pertahanan. ”Amendemen akan memastikan semua belanja ini benar-benar diwujudkan,” katanya.

Warsawa menarget alokasi setara 4,7 persen produk domestik bruto (PDB) pada 2025. Kini, belanja pertahanan Polandia setara 4,1 persen PDB alias paling tinggi dibandingkan mayoritas anggota NATO.

A soldier walks past Patriot air defence systems installed at the military hub for Ukraine at the Rzeszow-Jasionka airport, in Jasionka, south-east Poland on March 6, 2025. (Photo by Sergei GAPON / AFP)

Perdana Menteri Polandia Donald Tusk malah menyebut, belanja pertahanan bisa 5 persen dari PDB. Rencana itu akan membuat Polandia benar-benar menjadi paling serius soal pertahanan.

Keseriusan lain ditunjukkan dengan usulan Tusk untuk perluasan pertahanan. Ia mengusulkan latihan tempur bagi semua pria dewasa di Polandia. Hal itu didasarkan pada kebutuhan hingga 500.000 tentara, baik aktif maupun cadangan, untuk berjaga pada perubahan situasi keamanan di kawasan.

Pada 2024, Polandia punya total 200.000 prajurit dan tahun ini ditargetkan jadi 220.000 prajurit. Awalnya, Warsawa mau menaikkan jadi 300.000 tentara. Sekarang, jadi 500.000 prajurit dengan kemungkinan melibatkan perempuan.

Tak cuma Polandia, 26 anggota lain UE juga sepakat menaikkan belanja pertahanan. Kesepakatan dicapai dalam pertemuan pada Kamis pekan ini. Mereka setuju menyediakan 150 miliar euro untuk belanja senjata.

Uangnya akan dipakai membeli artileri pertahanan udara dan artileri medan serta pelurunya. Dana juga akan dipakai membeli pesawat angkut militer, pesawat nirawak, perangkat perang dan pertahanan elektronika, serta pertahanan siber. Sebagian senjata akan disalurkan ke Ukraina.

Para pemimpin UE juga setuju Komisi Eropa melonggarkan pembatasan anggaran bagi anggota UE. Dengan demikian, akan tersedia total 650 miliar euro bagi seluruh anggota UE untuk anggaran pertahanan.

Mekanisme itu akan membuat seluruh anggota UE bisa membelanjakan 3 persen PDB untuk pertahanan. Ada tujuh negara UE yang tidak mencapai angka itu, termasuk negara-negara besar, seperti Italia dan Spanyol.

Komitmen untuk belanja militer lebih dari 2 persen sudah ada sejak 10 tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum dipenuhi juga. Belum bisa dipastikan apakah mereka sekarang bersedia atau bahkan mampu untuk merogoh kocek lebih dalam.

Mungkin akan sulit bagi Spanyol yang terlilit banyak utang untuk memenuhi itu. Spanyol malah mungkin akan menuntut hibah gratis alih-alih pinjaman.

Komisi Eropa mengajukan proposal untuk penawaran pinjaman senilai 150 miliar euro guna membeli alutsista baru, termasuk pertahanan udara dan rudal. Uangnya akan dikumpulkan di pasar keuangan dan sekitar 20 negara anggota UE akan mendapatkan keuntungan dari suku bunga yang lebih menguntungkan.

Eropa sebenarnya punya anggaran dari aset Rusia sebesar 183 miliar euro yang dibekukan dan disimpan di lembaga kliring Belgia. Itu uang tunai yang dapat disita jika Eropa mau.

Namun, sebagian negara merasa lebih bijaksana untuk menggunakan bunga yang dihasilkan dari aset tersebut untuk membantu Ukraina ketimbang menggunakan dana itu sendiri. Yang lain khawatir penyitaan uang tersebut akan merusak kepercayaan terhadap euro. Belum lagi urusan implikasi hukumnya yang rumit.

A boy looks at a fragment of the Russian missile sitting atop the displayed damaged Russian tank in central Kyiv, Ukraine, Sunday, March 2, 2025. (AP Photo/Efrem Lukatsky)

Dasar aliansi hancur

François Hollande, Presiden Perancis 2012-2017, dalam tulisannya di majalah The Economist, Jumat (7/3/2025), menyebutkan, Eropa yang ditinggalkan AS harus segera mempersenjatai diri kembali. Sebab, Trump menghancurkan prinsip-prinsip yang menjadi dasar aliansi Barat.

Hollande menyarankan Perancis lebih serius meningkatkan bantuannya ke Ukraina. Kini, bantuan Perancis dinilai jauh lebih rendah dibandingkan dengan sumbangan Jerman dan Inggris.

Perang Ukraina mendorong kerja sama dan koordinasi pertahanan masing-masing negara UE, kecuali Hongaria yang dekat dengan Rusia dan Italia yang sangat dekat dengan pemerintahan Trump. Kedua negara ini pula yang tak setuju UE ”melawan” AS dan Rusia.

Infografik Sejumlah Senjata Bantuan Barat/NATO kepada Ukraina

Satu-satunya cara yang masuk akal adalah kerja sama yang dipercepat antara negara-negara yang bersedia bertindak saja, seperti Perancis dan Inggris. Eropa akan menghadapi ancaman yang berat, seperti agresivitas Rusia, ambisi China, kebangkitan nasionalisme, dan terorisme.

Yang berubah adalah bahwa orang Eropa harus berjuang sendiri seperti yang sudah dilakukan di masa lalu. Sekutu utama Eropa (AS) kini dinilai Hollande menantang supremasi hukum, mempertanyakan kepentingan ekonomi dan komersial Eropa, dan mendorong gerakan ekstrem kanan dalam pemilu masing-masing negara di Eropa.

”Saat menghadapi pihak lain yang memakai kekuatan, kita harus kuat. Saat menghadapi perpecahan, kita harus bersatu. Saat menghadapi rasa takut, kita harus berani. Ini berlaku untuk Eropa, terutama untuk Perancis,” tulis Hollande.

Sebelumnya, Inggris dan Perancis bersama-sama mendorong belanja pertahanan yang lebih besar untuk membantu Ukraina tanpa bantuan AS. Bahkan, Presiden Perancis Emmanuel Macron mengusulkan penggunaan nuklir Perancis untuk meningkatkan pertahanan Eropa. Perancis adalah pemilik senjata nuklir nomor empat terbanyak di dunia setelah AS, Rusia, dan China. Ini membuat Rusia marah.

Jerman juga mendorong Eropa harus bersiap untuk ”merdeka” dari AS yang telah menjamin keamanan mereka sejak akhir Perang Dunia II. Jerman berencana meningkatkan anggaran pertahanan dua kali lipat menjadi 100 miliar euro per tahun. Ada juga rencana penyiapan dana 500 miliar euro untuk meningkatkan alutsista Jerman yang sudah rusak.

infografik Pangkalan Militer AS di Eropa

Masalahnya, tetap saja Eropa masih butuh waktu bertahun-tahun untuk dapat membangun kemampuan pertahanannya untuk menggantikan kemampuan yang berpotensi hilang dengan penarikan penuh AS dari Eropa dan NATO.

Ini yang paling ditakutkan Eropa, terutama negara-negara kecil seperti negara-negara Baltik yang ada di garis depan setiap potensi agresi Rusia dan yang saat ini bergantung pada pasukan dan aset AS untuk keamanan. ”Bagi kami, ini seperti melompat dari kapal di tengah lautan,” kata Kepala Eksekutif Pusat Studi Geopolitik dan Keamanan di Lituania, Linas Kojala.

Pasukan Eropa

Menggantikan apa yang dilakukan AS untuk NATO akan butuh uang, personel, waktu, dan kerja sama yang kuat dari Eropa dan itu tak mudah. Menurut mantan Duta Besar AS untuk NATO, Ivo Daalder, kepada The New York Times, 7 Maret 2025, masalah utamanya adalah NATO dibangun sebagai aliansi yang didominasi AS dan bergantung pada kepemimpinan AS, persenjataan canggih, intelijen, dan pengangkutan udara.

Struktur komando NATO saat ini pada dasarnya dimiliki dan dioperasikan AS. ”Amerika adalah poros aliansi sehingga kita dapat mengendalikan sekutu kita dan membuat mereka melakukan apa yang kita inginkan,” ujarnya.

infografik Pasukan AS Dikerahkan ke Negara-negara NATO *** Local Caption *** infografik Pasukan AS Dikerahkan ke Negara-negara NATO

Dengan kata lain, kata Daalder, militer AS adalah kerangka NATO. Jika tiba-tiba kerangka itu dicabut, tubuhnya akan mati. Untuk beli atau produksi alutsista yang dibutuhkan serta merekrut dan melatih pasukan yang diperlukan akan butuh waktu lama.

Mantan Asisten Sekretaris Jenderal NATO Camille Grand memperkirakan butuh waktu 10 tahun bagi Eropa untuk keluar dari ketertinggalan. Itu kalau dunia sedang normal. Jika ada urgensi seperti saat ini, mungkin bisa lebih cepat.

Mantan Wakil Asisten Menteri Pertahanan AS yang kini di Pusat Keamanan Amerika Baru, Jim Townsend, mengingatkan pasukan Eropa yang terlalu sedikit. Ia mencontohkan Inggris dan Denmark yang punya kekuatan militernya baik.

Akan tetapi, tetap saja mereka tidak akan mampu bertahan dalam pertempuran sengit. Paling hanya mampu bertahan selama beberapa minggu.

Kualitas saja tak cukup, tetap butuh jumlah pasukan yang banyak. Jika Eropa membuka perekrutan tentara, susah juga karena gaji dan prospek karier lebih baik di dunia sipil ketimbang jadi tentara.

Padahal, NATO butuh paling tidak 300.000 tentara dalam waktu 30 hari untuk memperkuat aliansi melawan Rusia. Di saat Eropa sedang berembuk, Turki menawarkan diri untuk ikut memperkuat pertahanan Eropa.

Turki yang punya militer terbesar kedua di NATO berupaya memainkan peran kunci dalam keamanan Eropa setelah AS menjauh. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengatakan, tidak terbayangkan membangun keamanan Eropa tanpa Turki. ”Mustahil bagi Eropa untuk menjadi aktor global tanpa Turki,” ujarnya.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan (kiri) berjabat tangan dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky (kanan) di sela-sela KTT NATO di Washington, Kamis (11/7/2024) President of Turkey Recep Tayyip Erdogan, left, greets President of Ukraine Volodymyr Zelensky during Working Session III of the NATO Summit in Washington, Thursday, July 11, 2024. (AP Photo/Susan Walsh)

Turki akan siap mengerahkan pasukan ke Ukraina sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian ”jika dianggap perlu”. Sejak invasi Rusia, Turki konsisten membela integritas wilayah Ukraina dan memasok Ukraina dengan pesawat nirawak tempur dan kapal angkatan laut.

Dalam beberapa tahun terakhir, Turki telah mengembangkan industri pertahanannya secara signifikan. Ekspornya tumbuh 29 persen hingga mencapai 7,1 miliar dollar AS pada tahun 2024. Ini menempatkan Turki dalam urutan ke-11 dalam ekspor pertahanan global.

Menurut survei Anggaran Militer dari Institut Internasional untuk Studi Strategi (IISS), pendorong keberhasilan Turki ada pada pesawat tak berawak drone Bayraktar TB2 yang telah dijual ke lebih dari 25 negara, di antaranya Polandia dan Romania.

Pakar IISS Tom Waldyn mengatakan, penjualan ke negara-negara Eropa, khususnya anggota UE, menambah kredibilitas argumen Turki bahwa mereka adalah pemain penting dalam keamanan Eropa. Menurut data IISS, Turki punya 373.200 tentara aktif dan 378.700 tentara cadangan.

Sebelum menerima tawaran Turki, Daalder menyarankan agar AS mau menunggu dan tak buru-buru cabut dari NATO sampai Eropa siap mengambil alih.

Max Bergmann dari Center for Strategic and International Studies juga menyarankan, mungkin sudah saatnya Eropa meninjau kembali konsep ”pasukan Eropa” yang sejak lama ditentang AS. Pasukan Eropa ini akan membuat pengeluaran lebih efisien.

Pasukan Eropa yang tetap tidak perlu menggantikan AS dalam setiap kapasitas, tetapi dapat diintegrasikan ke dalam NATO dan cukup kuat mencegah Rusia menyerang negara-negara anggota.

Lagipula Eropa—di atas kertas—punya hampir dua juta personel berseragam dan menghabiskan sekitar 338 miliar dollar AS per tahun untuk pertahanan. Ini lebih dari cukup untuk menghalangi Rusia dan cukup untuk menjadikan Eropa secara kolektif sebagai kekuatan militer.

”Tetapi, pertanyaannya, siapa yang akan memimpin pasukan seperti itu dan di bawah otoritas politik apa. Itu yang penting,” kata Bergmann.


Kerabat Kerja

Penulis:

Luki Aulia
 | 

Editor:

Kris Mada