Membedah Alasan Konglomerat seperti Musk dan Soros Memengaruhi Politik

Konglomerat menyumbang OCCRP dan aneka perusahaan media hingga membiayai kampanye para politisi. Apa alasan mereka?

10 Jan 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Kris Mada

Elon Musk di kanan, George Soros di kiri. Gambaran singkat itu kini terlihat di Amerika Serikat dan Eropa.

Soros, lahir sebagai György Schwartz di Hongaria, menghabiskan banyak uang melawan komunisme di Eropa Timur. Lewat Open Society dan lembaga terkait, ia bergiat di setidaknya 120 negara.

Ia menyumbang ke banyak perusahaan media dan organisasi jurnalis, termasuk Organized Crime and Corruption Reporting Project (OCCRP). Politisi India, Ravi Shankar Prasad, menuding Soros di balik Hindenburg Research.

Kini, Soros antara lain sedang bersengketa dengan pendukung Perdana Menteri Narenda Modi di India. Ia dituding dalang di balik kemerosotan kekayaan salah satu konglomerat India, Gautam Adani. Kekayaan salah satu pendukung Modi itu terpangkas selepas laporan Hindenburg Research soal Adani.

Sementara Musk beberapa bulan terakhir terlihat semakin ke kanan. Secara terbuka, menyokong partai ultra kanan, AfD. Kamis (9/1/2025), ia membuka forum perbincangan daring dengan pemimpin AfD, Alice Weidel.

Ia juga berulang kali menyokong tokoh kanan dan menyerang pemerintahan Partai Buruh di Inggris. ”Tidak ada yang memercayai Starmer dan itu ada alasannya. Investor tidak akan berinvestasi tanpa kepercayaan,” cuit Elon Musk di X, Rabu (8/1/2025) soal Pemerintahan Perdana Menteri Keir Starmer.

Media Jerman, Deutsche Welle, pernah membedah alasan Musk terlibat politik. Sebagai pendatang dari Afrika Selatan, Musk jelas tidak bisa menjadi Presiden AS. Walakin, tak berarti Musk kehilangan kesempatan terlibat politik. "Kasus seperti Musk, ada kepentingan pribadi untuk mendorong agenda politik tertentu," ujar dosen Northwestern University AS, Steve Nelson.

Musk, kata Nelson, yakin agenda itu hanya bisa diwujudkan jika punya pengaruh pada politik. "Dia menyakini keampuhan dirinya sebagai penyelamat," kata dia.

Alex Soros accepts the Medal of Freedom on behalf of his father George Soros from United States President Joe Biden during a ceremony at the White House in Washington, DC, January 4, 2025. (Photo by Chris Kleponis / AFP)

Sementara dalam wawancara yang disiarkan LA Times pada Oktober 2004, Soros merasa ditunjuk oleh Tuhan. Bahkan, ia merasa nyaman dengan gagasan dirinya semacam dewa yang hidup di antara manusia. Ia mau menjadi penyelamat.

Dosen sejarah ekonomi pada Bocconi University di Milan, Guido Alfani, menyebut orang kaya yang terlibat politik kerap merasa dirinya dewa di antara manusia. Ia mencontohkan Cosimo de'Medici yang menyelamatkan Firenze dari kebangkrutan pada abad 15. Pemikir politik Firenze, Niccolo Machiavelli, menyanjung kiprah de'Medici itu.

Mendiang Presiden AS Theodore Roosevelt amat cemas pada kiprah orang seperti Medici, Soros, atau Musk. Dalam konteks masa Roosevelt, ketakutan itu dipicu kendali besar John Pierpont Morgan pada pasar keuangan AS.

Sayangnya, menurut Alfani, para konglomerat terbukti amat kuat. Di masa kini, tulis Alfani pada 2023, justru konglomerat semakin mencengkram politik dan berbagai aspek kehidupan di AS.

Penyelamat

Merasa sebagai dewa atau setidaknya penyelamat jelas karena merasa ingin menyelamatkan. Musk dan Soros mau menyelamatkan apa dari siapa? Kisah hidup Musk penuh paradoks. Ia tidak ikut mengurus sebagian dari anak-anaknya dengan sejumlah istri dan pasangannya.

Di sisi lain, ia marah kala salah satu anaknya memutuskan operasi ganti jender. Dari pria menjadi wanita. Dari Xavier Alexander Musk menjadi Vivian Jenna Wilson.

Kemarahan itu diungkap Musk dalam wawancara dengan dosen psikologi di Universitas Toronto, Jordan Peterson. "Anak saya, Xavier, meninggal. Dibunuh oleh virus woke," ujarnya pada 23 Juli 2024.

Pendiri Tesla dan SpaceX Elon Musk (kanan) berorasi dan berkampanye di hadapan ribuan pendukung Donald Trump, calon presiden dari Partai Republik (kiri) di Butler, Pennsylvania, Sabtu (5/10/2024) Tesla CEO Elon Musk (R) speaks on stage as he joins former US President and Republican presidential candidate Donald Trump during a campaign rally at site of his first assassination attempt in Butler, Pennsylvania on October 5, 2024. (Photo by Jim WATSON / AFP)

Ia merujuk pada gerakan kebangkitan yang bermula di kalangan masyarakat Amerika keturunan Afrika. Gerakan itu sejatinya melawan segala bentuk diskriminasi dan kesenjangan sosial. Filsuf Jamaika, Marcus Garvey, disebut sebagai tokoh awal gerakan itu lewat pernyataan pada 1923.

Bagi Musk, gerakan itu kini menjadi virus yang bisa membunuh peradaban Barat. Ia memandang, Partai Demokrat di AS menjadi wadah gerakan itu. Makanya dia mau mengalahkan Demokrat di pemilu.

Untuk Donald Trump dan Republikan di pemilu 2024, ia mengucurkan 277 juta dollar AS. Selain untuk calon presiden, ia menyumbang ke calon senator dan berbagai pejabat lain dari Partai Republik.

Tak cuma itu, ia juga memindahkan alamat pembayaran pajak perusahaan-perusahaannya. Dari wilayah yang dikendalikan Demokrat ke wilayah yang netral atau dikendalikan Republikan. Ia tidak mau memberi uang ke Demokrat.

Sumbangan Demokrat

Tanpa sumbangan Musk, tak berarti Demokrat kehilangan uang. Sumbangan dari Soros salah satu sumber dana kampanye Demokrat dan para politisinya. Open Secrets, lembaga pemantau sumbangan dana kampanye politik di AS, menyebut Soros Fund Management termasuk lima besar penyumbang dana kampanye dalam 34 tahun terakhir.

Soros meyakini gagasan Karl Popper soal Masyarakat Terbuka. Lewat Open Society, lembaga yang mengelola dana miliaran dollar AS, AS menyediakan hibah ke berbagai negara. Sejak 1979, Soros memberikan hibah ke orang-orang yang menentang pemerintahan di banyak negara.

Pada Rabu ini, 12 Juli 2017 aktivis foto dari partai Egyutt (Bersama) menghancurkan iklan oleh pemerintah Hungaria melawan George Soros, di Budapest, Hongaria. The Open Society Foundations, yang diciptakan oleh filantropis milyuner George Soros, mengatakan telah mengajukan permohonan di hadapan Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa dan Mahkamah Konstitusi Hungaria tentang undang-undang terbaru di Hongaria yang menargetkan kelompok-kelompok sipil yang bekerja dengan pengungsi dan pencari suaka.

Dana hibah itu antara lain dari aktivitasnya di pasar uang. Ia dituding di balik kerugian hingga 2 miliar poundsterling kala berspekulasi terhadap mata uang Inggris itu pada 1992.

Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad, menuding Soros di balik kejatuhan nilai mata uang Asia pada 1997. Dari menjual baht Thailand pada Januari 1998 saja, Soros untung 1 miliar dollar AS.

Soros tidak pernah secara langsung menyangkal tudingan-tudingan itu. Ia hanya pernah menjawab alasan terlibat politik. Jawaban antara lain tercantum di buku Soros on Soros. Salah satunya karena diburu Nazi lalu komunis.

Ia memandang pemerintahan yang dikuasai Nazi, partai ekstrim kanan seperti AfD, atau komunis menghadirkan masyarakat tertutup. Ia mau mengubah tatanan politik nasional dan internasional.

Pada 1998, ia memandang AS sebagai lawan utama lembaga global. Dasar pandangannya antara lain karena AS menolak bergabung dengan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC), tak mau meratifikasi Traktak Ottawa soal larangan ranjau darat, hingga rutin menerapkan sanksi.

Soros semakin menyalahkan itu pada Republikan. Karena itu, ia menyokong John Kerry melawan George W Bush di pemilu AS 2004. Sayangnya, Kerry kalah.

Soros tak jera dan terus menyumbang ke Demokrat. Dalam laporan pada Agustus 2005, The Christian Science Monitor menulis bahwa Soros mengumpulkan setidaknya 70 konglomerat berhaluan kiri di Arizona. Tujuannya menggalang uang untuk mendanai lembaga-lembaga penganjur pandangan liberal di AS.

Dosen City College of New York, Andrew Rich, menyebut bahwa waktu itu jumlah lembaga kajian konservatif lebih banyak dibandingkan liberal. Lembaga kajian konservatif juga punya lebih banyak dana.

FILE - George Soros, founder and chairman of the Open Society Foundations, attends the Joseph A. Schumpeter Award ceremony in Vienna, Austria, June 21, 2019. (AP Photo/Ronald Zak, File)

Banyak negara

Konglomerat yang menyumbang ke politik bukan cuma Musk dan Soros. Dalam makalah oleh Daniel Krcmaric, Stephen C. Nelson, dan Andrew Roberts disimpulkan, 11 persen konglomerat pernah menduduki atau mencoba menduduki jabatan politik.

Hingga 36 persen konglomerat China masuk politik. Di Rusia, juga banyak konglomerat terlibat politik. Di Korea Selatan, konglomerat sampai terbukti menyuap presiden demi mendapatkan kebijakan yang menguntungkan usahanya.

Alfani menyebut, politik di AS dan banyak negara amat dipengaruhi orang superkaya. Sumbangan dana kampanye bukan satu-satunya cara konglomerat memengaruhi kebijakan.

Sebagian mendirikan media massa. Sebagian cukup menyumbang ke berbagai perusahaan media atau organisasi jurnalis. Tentu saja sumbangan itu bersyarat: menyebarkan pesan penyumbang ke khalayak.

Orang dan politik, kata Paul Krugman, adalah contoh primus interpares. Di antara yang setara, ada yang diutamakan. (AP/AFP


Kerabat Kerja

Penulis:

Kris Mada
 | 

Editor:

Fransisca Romana Ninik W
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra