Memberikan Makanan Bergizi Tidak Memberikan Makanan Seadanya

Pemberian makanan yang bergizi tidak asal memberikan makan saja. Makanan bergizi harus diberikan dengan memperhatikan porsi, komposisi, rasa, dan keamanan pangan.

21 Jan 2025 17:40 WIB · Humaniora

Oleh Deonisia Arlinta

JAKARTA, KOMPAS — Program pemberian makan bergizi gratis perlu terus dilanjutkan. Apabila dijalankan dengan baik dan optimal, program ini dapat mendukung capaian peningkatan status gizi masyarakat yang berujung pada peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Meski begitu, pemberian makanan bergizi jangan sekadar memberikan makanan saja. Tujuan peningkatan status gizi baru akan tercapai jika makanan yang diberikan memenuhi prinsip gizi seimbang yang sesuai porsi, sesuai komposisi, sesuai rasa, dan aman.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia Doddy Izwardy mengatakan, hasil dari program pemberian makan bergizi tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat. Itu sebabnya, program yang sudah berjalan ini harus terus dilanjutkan dengan berbagai pembenahannya.

”Jepang itu sudah 147 tahun menyelenggarakannya. Dengan terus menjalankan program ini, diharapkan tujuan untuk mengatasi masalah gizi, seperti stunting (tengkes), bisa tercapai. Kita juga bisa mencapai secular trend (tren jangka panjang terkait tinggi badan),” tuturnya dalam temu media terkait peringatan Hari Gizi Nasional 2025, di Jakarta, Selasa (21/1/2025).

Dalam gendongan ibunya, seorang bayi menyantap makanan tambahan yang disediakan oleh Pemerintah Kabupaten Temanggung, dalam acara kick off gerakan bersama mengatasi stunting di Alun-alun Temanggung, Jumat (12/5/2023).

Adapun Hari Gizi Nasional diperingati setiap tanggal 25 Januari. Pada tahun ini, tema Hari Gizi Nasional yang diangkat oleh Kementerian Kesehatan adalah ”Pilih Makanan Bergizi untuk Keluarga Sehat”.

Quote

Dengan terus menjalankan program ini, diharapkan tujuan untuk mengatasi masalah gizi, seperti ”stunting” (tengkes), bisa tercapai.

Doddy menuturkan, pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis harus dimanfaatkan dengan baik sebagai momentum perbaikan gizi di masyarakat. Oleh karena itu, implementasi program tersebut harus dipastikan berjalan dengan baik dan optimal.

Pemberian makanan bergizi bagi masyarakat jangan asal memberikan makanan. Edukasi menjadi kunci dalam pelaksanaan program sehingga pola perilaku dan pemahaman masyarakat mengenai makanan bergizi bisa lebih baik.

Masyarakat, termasuk anak-anak usia sekolah, harus mengerti apa saja yang mereka makan. Penjelasan mengenai porsi makanan, jenis makanan, dan kandungan gizi dalam makanan yang diberikan harus disampaikan.

Selain itu, hal lain yang harus diperhatikan dalam pemberian makanan bergizi berkaitan dengan porsi, komposisi, rasa, serta keamanan pangan. Setiap usia membutuhkan porsi makan yang berbeda. Komposisi makanan yang diberikan pun perlu sesuai dengan kebutuhan gizi seimbang.

Rasa dari masakan yang disajikan harus diperhatikan pula. Ketika rasa makanan tidak sesuai dengan anak-anak, maka makanan yang sudah disajikan sesuai dengan kebutuhan gizi justru tidak akan dikonsumsi karena rasanya tidak enak.

Doddy menambahkan, keamanan pangan tidak kalah penting dalam pemberian makan bergizi gratis. Berbagai masalah keamanan pangan sudah dilaporkan, termasuk kondisi keracunan pangan serta adanya pemberian makanan yang sudah basi.

”Makanan ini seharusnya makanan yang harus langsung diberikan. Ketika akan membagikan makanan harus diperhatikan kapan makanan itu disiapkan. Jadi, jangan sampai waktu pemberian makanan jauh dari waktu masaknya,” katanya.

Tenaga pakar Badan Gizi Nasional, Ikeu Tanziha, mengatakan, kriteria khusus akan ditentukan untuk tiap dapur yang menyajikan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis. Kriteria itu, antara lain, meliputi dapur atau satuan pelayanan pemenuhan gizi (SPPG) yang harus berada di sekitar lingkungan sekolah.

Infografik Sebaran Unit Pelayanan Makan Bergizi yang Dibangun TNI AD *** Local Caption *** Infografik Jurnalisme Data Makan Bergizi Gratis

Letak SPPG paling jauh 6 kilometer atau sekitar 30 menit waktu tempuh menuju ke sekolah. ”Kenapa demikian? Ini untuk menjaga keamanan pangan sehingga makanan sampai ke penerima manfaat itu masih bagus,” ujarnya.

Dalam SPPG juga akan ditempatkan tiga orang dari sarjana penggerak pembangunan Indonesia yang terdiri dari kepala SPPG, akuntan, dan ahli gizi. Ketiga orang yang ditugaskan pun harus berasal dari daerah tempat pemberian makanan bergizi.

Hal ini dinilai penting agar makanan yang disajikan bisa disesuaikan dengan selera dan kebiasaan masyarakat setempat.

Tidak cukup

Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan Maria Endang Sumiwi mengutarakan, pemenuhan gizi masyarakat tidak cukup jika hanya mengandalkan makanan yang diberikan dalam program Makan Bergizi Gratis.

Anak-anak menikmati makan bergizi gratis di SDI Osmok, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur pada Senin (13/1/2025).

Masyarakat harus mempunyai pemahaman yang baik soal makanan bergizi agar setiap makanan yang dikonsumsi, termasuk makanan yang dikonsumsi di keluarga, juga bergizi seimbang.

”Kita makan, kan, lebih dari satu kali. Satu kali makan dari program Makan Bergizi Gratis dan sisanya makan di rumah. Jadi, tidak cukup jika mengandalkan dari pemerintah saja. Masyarakat harus memilih makanan bergizi saat di rumah,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Deonisia Arlinta
 | 

Editor:

Evy Rachmawati