Menanti Wujud Nyata Evaluasi Bulu Tangkis Indonesia

Agenda besar 2026, Piala Thomas dan Uber dilalui Indonesia tanpa hasil baik. Sorotan ada pada tim Thomas yang untuk pertama kali tersingkir pada penyisihan grup.

03 Mei 2026 16:30 WIB · Olahraga

Humas PP PBSI

Oleh Yulia Sapthiani

Semifinal tim putri dan penyisihan grup tim putra menjadi hasil akhir perjalanan Indonesia dalam kejuaraan bulu tangkis beregu putra dan putri Piala Thomas dan Uber 2026 di Horsens, Denmark, 24 April-3 Mei. Ada hal positif, tetapi banyak pekerjaan rumah besar yang harus dikerjakan untuk mengangkat bulu tangkis Indonesia yang tenggelam.

Tak seperti dalam enam penyelenggaraan terakhir, sejak New Delhi 2014 hingga Chengdu 2024 tak ada tim Thomas Indonesia di podium. Jangankan menempati posisi empat teratas, kali ini skuad putra Indonesia gagal lolos dari fase penyisihan grup.

Dalam persaingan beregu putri, Indonesia menempati posisi empat tim teratas bersama China, Korea Selatan, dan Jepang. Final China dan Korea Selatan di putri serta tim putra China melawan Perancis berlangsung di Forum Horsens, Minggu (3/5/2026) sore hingga Senin dini hari waktu Indonesia.

Hasil skuad ”Merah Putih” menurun dibandingkan pada Chengdu 2024 ketika Indonesia bisa menempatkan tim putra dan putri di final. Meski demikian, apresiasi masih layak diberikan untuk tim Uber. Semifinal dicapai oleh atlet-atlet yang sebagian besar berusia 18-23 tahun, tiga di antara mereka adalah debutan, yaitu Thalita Ramadhani Wiryawan, Ni Kadek Dhinda Amartya Pratiwi, dan Febi Setianingrum.

Thalita Ramadhani Wiryawan berteriak setelah menang atas Sim Yu-jin saat Indonesia melawan Korea Selatan dalam semifinal kejuaraan Piala Uber di Forum Horsens, Denmark, Sabtu (2/5/2026). Thalita menang dengan skor  21-19, 21-19.
Ester Nurumi Tri Wardoyo memenangi partai keempat dan membuat Indonesia menang 3-1 atas Denmark pada perempat final kejuaraan Piala Uber di Horsens, Denmark, Kamis (30/4/2026).
Atlet ganda putri Indonesia, Febi Setianingrum, memberi kok kepada hakim garis saat tampil pada semifinal Piala Uber di Horsens, Denmark, Sabtu (2/5/2026). Pada pertandingan ini, Indonesia melawan Korea Selatan. Rachel Alessya Rose/Febi kalah pada penampilan di partai keempat tersebut.

Thalita dan Ester Nurumi Tri Wardoyo selalu menang ketika tiga kali diturunkan. Thalita menyumbangkan satu-satunya kemenangan bagi Indonesia ketika kalah 1-3 dari Korea Selatan pada semifinal.

Ester memberi kemenangan ketiga saat Indonesia menang 3-2 atas Taiwan dalam penentuan juara Grup C. Atlet berusia 20 tahun itu juga membawa Indonesia menang 3-1 atas Denmark di perempat final. Adapun Febi, yang berpasangan dengan Rachel Alessya Rose, dua kali menang dari tiga pertandingan.

Di beregu putra, Indonesia tersingkir lebih awal di kala persaingan membawa pulang Piala Thomas sebenarnya begitu terbuka untuk hampir semua peserta. Namun, Fajar Alfian dan kawan-kawan hanya bisa menempati peringkat ketiga Grup D di bawah Thailand dan Perancis. Posisi teratas, setelah mengalahkan Aljazair dan Thailand terlepas karena kalah 1-4 dari Perancis hingga Indonesia pun gagal mendapat dua tiket perempat final dari setiap grup.

Infografik Jejak Indonesia di Piala Thomas

Kegagalan lolos dari fase penyisihan grup untuk pertama kali ini adalah gambaran kekuatan bulu tangkis Indonesia di peta persaingan dunia saat ini, termasuk pada nomor putra. Pada 2025, atlet-atlet Indonesia hanya mendapat enam gelar juara dari turnamen BWF World Tour level menengah hingga tinggi (Super 500, 750, dan 1000). Adapun pada empat bulan pertama 2026, gelar dari level yang sama baru diraih Alwi Farhan dari Indonesia Masters Super 500.

Hasil-hasil tersebut menjadi gambaran umum bahwa Indonesia tertinggal dari China, Korea Selatan, dan Jepang. Pada sektor putra, pesaing kuat bertambah dengan hadirnya pemain-pemain Perancis.

Dengan tiga tunggal putra yang berada di peringkat 20 besar dunia, ditambah Christo dan Toma yang juga berduet di nomor ganda putra, Perancis menjadi tim beregu putra terkuat di Eropa. Untuk pertama kali mereka menjadi juara dalam Kejuaraan Eropa yang digelar di Istanbul, Turki, Februari. Hasil ini membawa mereka lolos ke ajang Piala Thomas untuk keenam kali beruntun meski tak mengirimkan tim ke Chengdu 2024.

Di Horsens, bukan hanya kekalahan dari Perancis yang membuat Indonesia tersingkir. Tim Merah Putih juga tak cukup kuat untuk mengalahkan Thailand dengan lebih telak dari skor 3-2. Padahal, Thailand hanya memiliki Kunlavut Vitidsarn, atlet bintang yang memiliki gelar juara dari semua level turnamen BWF World Tour, gelar juara dunia, dan medali perak Olimpiade Paris 2024.

Jonatan Christie tertunduk saat menjalani pertandingan pertama Indonesia melawan Perancis pada penyisihan Grup D Piala Thomas di Horsens, Denmark, Selasa (28/4/2026). Jonatan kalah dari Christo Popov, Indonesia teringgal 0-1.

Kecuali saat menang 5-0 atas Aljazair, tim terlemah di Grup D, hasil saat melawan Thailand dan Perancis menggambarkan kondisi tunggal dan ganda putra Indonesia saat ini. Atlet senior seperti Jonatan Christie dan Anthony Sinisuka Ginting sudah kesulitan bersaing di level atas. Sementara atlet muda belum siap menanggung tanggung jawab besar di Piala Thomas. Dalam struktur kompetisi BWF, Piala Thomas dan Uber sejajar dengan Kejuaraan Dunia untuk kategori perorangan.

Tak ada yang konsisten

Jonatan dan Anthony tampil di Piala Thomas sejak Kunshan 2016 dan Horsens 2026 menjadi yang keenam kali beruntun bagi keduanya. Sepuluh tahun lalu, mereka dan Ihsan Maulana Mustofa menjadi pelapis untuk Tommy Sugiarto. Jonatan, Anthony, dan Ihsan adalah trio anak-anak muda potensial berusia 18-20 tahun.

Di ganda putra pada Piala Thomas 2016, ada wajah baru Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon yang mendampingi Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan dan Angga Pratama/Ricky Karanda Suwardi. Anak-anak muda ini berperan mengantarkan Indonesia ke final sebelum dikalahkan Denmark.

Pebulutangkis tunggal putra Indonesia Anthony Ginting mengembalikan kok ke arah pebulutangkis India Sai Praneeth pada pertandingan penyisihan Grup B Piala Thomas 2016 di Kunshan Sport Center Gymnasium, Tiongkok, Rabu (18/5). Anthony Ginting menang dengan skor 18-21, 21-11, 21-15, menempatkan Indonesia unggul 3-0 sekaligus memastikan menjadi juara grup B. ANTARA FOTO/Prasetyo Utomo/kye/16

Dua tahun kemudian, Jonatan, Anthony, Ihsan, dan Kevin/Marcus sudah berada pada posisi sebagai pemain utama tunggal putra di Tim Thomas. Di Bangkok 2018, wajah baru tim Indonesia adalah Firman Abdul Kholik dan Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto. Berdasarkan usia, Fajar/Rian berada dalam generasi yang sama dengan Anthony dan kawan-kawan, tetapi mereka baru mendapat kesempatan tampil di Piala Thomas pada 2018.

Dalam perjalanannya, Jonatan, Anthony, dan Fajar (berpisah dengan Rian sejak Agustus 2025) bertahan hingga 2026, sementara pelapis mereka selalu berganti. Di Aarhus 2020, mereka didampingi Chico Aura Dwi Wardoyo (yang hanya setahun lebih muda dari Jonatan), Shesar Hiren Rhustavito (lebih senior dari Jonatan dan Anthony), Leo Rolly Carnando, dan Daniel Marthin.

Dua tahun berikutnya di Bangkok, wajah-wajah baru di tim Thomas adalah Syabda Perkasa Belawa, Tegar Sulistio, Bagas Maulana, dan Muhammad Shohibul Fikri. Di Chengdu 2024, ada Alwi Farhan yang menjalani debut. Adapun anggota baru di Horsens adalah Mohammad Zaki Ubaidillah, Raymond Indra, Nikolaus Joaquin, dan ganda putra senior, Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani.

Infografik Tim Piala Thomas Indonesia 2026

Situasi tersebut bisa menjadi gambaran minimnya atlet yang bisa tampil konsisten hingga layak tampil di Piala Thomas. Generasi di bawah Jonatan, Anthony, dan Fajar umumnya hanya terpilih untuk tampil dalam dua kejuaraan. Baru Fikri (berpasangan dengan Fajar sejak 2025) yang bisa tampil di Piala Thomas untuk ketiga kali.

Maka, rentang usia dan prestasi di antara atlet-atlet senior dan para pelapisnya dalam tim Thomas 2026 cukup jauh. Jonatan (28 tahun) sudah menjuarai semua level turnamen BWF World Tour dan Anthony (29) adalah peraih perunggu Olimpiade Tokyo 2020. Sementara Alwi (20) baru menjalani turnamen BWF World Tour secara penuh pada 2025 dan Zaki (18) baru mengikuti sembilan turnamen Super 300 dan 500 pada 2025 dan 2026.

Fajar (31)/Fikri (26) memiliki gelar China Terbuka Super 1000 pada 2025. Sementara Sabar (30)/Reza (29) menjadi finalis Indonesia Terbuka Super 1000 sebagai hasil terbaik. Raymond/Nikolaus menjuarai Australia Terbuka Super 500 2025 dan menjadi semifinalis All England 2026. Akan tetapi, kemampuan mereka belum benar-benar teruji karena baru bersaing di arena BWF World Tour sejak November 2025.

Ketika Jonatan dan Anthony mulai kesulitan bersaing di level atas dan permainan Fajar/Fikri, yang menggebrak pada awal berpasangan, sudah bisa dibaca lawan, atlet-atlet muda belum siap bersaing di level tertinggi.

”Padahal, persaingan Piala Thomas tahun ini terbuka, tidak seperti di Piala Uber yang persaingannya masih bisa terbaca. Namun, atlet muda rupanya belum benar-benar siap dengan tekanan besar dalam kejuaraan beregu, yang senior juga kesulitan mengatasi tekanan itu,” tutur mantan atlet ganda putra Hendra Setiawan.

Berbeda dengan turnamen individu, ketika atlet hanya bertanggung jawab untuk diri sendiri, dalam kejuaraan beregu, hasil mereka berdampak pada hasil tim. Ketangguhan mental atlet, termasuk mereka yang punya rekam jejak bagus di ajang individu, akan lebih terlihat ketika tampil di ajang beregu.

Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani kalah saat tampil pada partai keempat Indonesia melawan Perancis pada penyisihan Grup D Piala Thomas di Horsens, Denmark, Selasa (28/4/2026). Indonesia tertinggal 0-4.

Tekanan besar inilah yang tak dapat ditanggung skuad Indonesia saat melawan Perancis pada pertandingan terakhir penyisihan Grup D untuk menentukan tim yang berhak ke perempat final. Indonesia tinggal membutuhkan kemenangan pada dua partai, sedangkan Perancis butuh empat partai. Namun, Perancis justru bisa memenuhi syarat itu karena atlet-atletnya bisa bermain lebih lepas, tanpa beban.

Jonatan kalah dari Christo, diikuti Alwi yang kalah dari Lanier, pesaingnya sejak era yunior. Mereka kalah dalam dua gim. Anthony mendapat momentum match point pada gim ketiga saat melawan Toma, tetapi akhirnya kalah.

Bermain dengan syarat harus menang di saat Indonesia tertinggal 0-3, Sabar/Reza tak dapat bermain baik. Mereka kalah dari Eloi Adam/Leo Rossi, pasangan yang selalu dikalahkan dalam dua pertemuan sebelumnya. Fajar/Fikri memenangi partai terakhir, tetapi sudah tak bisa menyelamatkan kapal yang telanjur tenggelam.

Akselerasi atlet muda

Fajar, sebagai kapten tim Indonesia, meminta maaf dengan hasil ini. Atlet lain, seperti Alwi dan Nikolaus, menyampaikan hal yang sama melalui akun media sosial masing-masing.

Selain meminta maaf, Ketua Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI Eng Hian menyampaikan, hasil tim Thomas menjadi bahan evaluasi penting bagi PBSI  dalam pembinaan ke depan. ”Fokus ke depan akan diarahkan pada peningkatan konsistensi performa, kesiapan fisik, serta mental bertanding, khususnya dalam menghadapi tim-tim dengan fleksibilitas komposisi pemain seperti yang ditunjukkan oleh Perancis,” kata Eng Hian.

Alwi Farhan bersiap untuk bermain pada partai kedua Indonesia melawan Aljazair pada penyisihan Grup D Piala Thomas di Forum Horsens, Denmark, Jumat (24/4/2026). Alwi mengalahkan M Abderrahmie Belarbi.

Evaluasi, seperti dikatakan Eng Hian, dinanti penggemar bulu tangkis Indonesia. Bahkan, penting rasanya agar PBSI memublikasikan wujud nyata hasil evaluasi tersebut. Saat bulu tangkis Indonesia surut (tak ada medali emas dari Olimpiade Paris 2024, tanpa gelar juara dunia 2025, dan tertinggal dalam persaingan BWF World Tour), publik menanti prestasi dari cabang yang sekian lama berstatus paling berprestasi bagi Indonesia ini.

Satu hal penting dan berulang kali disebut oleh PBSI adalah dibuatnya akselerasi program untuk atlet-atlet muda. Juni 2025, setelah Indonesia tak kebagian gelar juara dari Indonesia Terbuka, Eng Hian mengatakan, akselerasi program diperlukan untuk sektor tunggal. Namun, melihat kondisi yang ada, akselerasi itu menjadi kebutuhan semua sektor.

Ganda putra, yang selalu menjadi nomor andalan, bahkan hanya punya Fajar/Fikri dan Sabar/Reza di level atas, itu pun performa mereka naik-turun. Atlet-atlet seangkatan Fikri, yaitu Leo, Daniel, dan Bagas Maulana, tak juga berkembang, kalaulah belum bisa dikatakan mentok. Rotasi berulang di antara mereka pun tak memberikan hasil signifikan. Maka, di bawah Fajar/Fikri hanya ada Raymond/Indra serta atlet-atlet seangkatan mereka yang bisa dijadikan harapan.

Mohammad Zaki Ubaidillah menjalani debut di Piala Thomas saat Indonesia melawan Thailand pada penyisihan Grup D di Horsens, Denmark, Minggu (26/4/2026). Zaki membuat Indonesia menang 3-2.

Dalam konteks sederhana, akselerasi program salah satunya dilakukan dengan memberi kesempatan bertanding sebanyak mungkin kepada atlet. Namun, tak hanya itu yang mereka butuhkan. Perbaikan program harus dibuat menyeluruh seperti program latihan harian dan program nonteknis yang menjadi kebutuhan atlet. Evaluasi sumber daya manusia di jajaran pelatih pun seharusnya tak luput dari perhatian, bukan hanya evaluasi atlet seperti yang selama ini dilakukan.

Di sisi lain, atlet harus menjaga api semangat dan motivasi dalam diri masing-masing. Apalagi, Indonesia punya Hendra/Mohammad Ahsan yang telah menetapkan standar tinggi sebagai atlet dengan usia karier panjang. Sejak berpasangan pada Oktober 2012, Hendra/Ahsan masih bisa menembus final turnamen pada 2024. Januari 2025, saat terakhir kali bertanding, mereka berada di ranking ke-34 dunia. Itu dicapai setelah mereka menjalani karier bersama atlet lain, Hendra bersama Markis Kido dan Ahsan dengan Bona Septano.

”Atlet sudah mendapat kesempatan untuk bertanding dan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Saat sudah juara, tidak boleh kendor karena tantangan sesungguhnya justru akan datang setelah momen ini. Setelah juara, akan ada tekanan untuk terus juara,” kata Hendra.

Raymond Indra melancarkan smes pada partai kelima Indonesia melawan Aljazair pada penyisihan Grup D Piala Thomas di Forum Horsens, Denmark, Jumat (24/4/2026). Raymond/Nikolaus Joaquin menjalani debut di Piala Thomas dan membawa Indonesia menang 5-0.

Melalui akun Instagram, mantan atlet Candra Wijaya juga berbagi pendapat setelah tim Thomas Indonesia tersingkir di penyisihan grup. Candra menekankan, atlet sama seperti prajurit yang harus selalu siap dan dapat diandalkan. Program regenerasi juga disorot ketika Jonatan, Anthony, dan Sabar/Reza kesulitan tampil stabil dalam setiap pertandingan di panggung Piala Thomas.

Momen Piala Thomas dan Uber 2026 membuat semua pihak harus berbenah, apalagi jika Indonesia mendapat kesempatan menjadi tuan rumah Piala Thomas dan Uber 2028. Publik dan tim sendiri tentu tak ingin jika Indonesia sekadar menjadi tuan rumah agar pesan Fajar pada Nikolaus, melalui Instagram, bisa terwujud. ”Pengalaman berharga. Terus semangat ya Joq, kerja keras!!! Dua tahun lagi harus balik, ya, pialanya”.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulia Sapthiani
 | 

Editor:

Prasetyo Eko Prihananto
 | 

Penyelaras Bahasa:

FX Sukoto