Tidak hanya biaya mendaki di musim puncak yang lebih mahal, di musim-musim sepi harga juga dinaikkan.
04 Feb 2025 18:36 WIB · Internasional
Anda bercita-cita mendaki gunung tertinggi di dunia, Everest? Bersiap-siaplah merogoh kocek lebih dalam karena Pemerintah Nepal mengumumkan akan menaikkan biaya perizinan sebanyak sepertiga dari biaya yang sudah berlaku.
Pada Selasa (4/2/2025), Direktur Jenderal Pariwisata Narayan Prasad Regmi mengatakan, biaya dinaikkan untuk semua bulan dan musim. Mau di musim ramai ataupun musim sepi, yaitu ketika musim dingin dan musim hujan, biaya sama-sama naik.
Di musim puncak, yaitu pada musim semi dan musim panas yang cuacanya ramah untuk mendaki gunung, biaya naik dari 11.000 dollar AS (Rp 179,4 juta) menjadi 15.000 dollar AS (Rp 244,7 juta). Adapun di masa-masa sepi, biayanya naik dari 5.500 dollar AS (Rp 89,7 juta) menjadi 7.500 dollar AS (Rp 122,3 juta).
”Sudah waktunya kami menyesuaikan harga setelah konstan selama 10 tahun. Lagi pula, ini juga untuk penanganan polusi dan peningkatan keamanan di area kemah dan jalur pendakian,” kata Prasad Regmi.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/photo/ori/2019/05/29/95f3a5d6-756d-43af-af60-797c8a9b5d4a.jpg)
Menurut dia, setiap tahun jumlah wisatawan yang datang ke Nepal semakin banyak. Mayoritas datang untuk menaklukkan Gunung Everest. Nepal juga rumah dari sejumlah gunung tinggi dunia. Dari 14 gunung berketinggian di atas 8.000 meter, delapan gunung berada di negara tersebut.
Pada 2024, dari 400 pendaki internasional yang mengurus izin mendaki, Pemerintah Nepal memperoleh devisa 4 juta dollar AS. Menurut pemerintah, mereka akan menggunakan dana itu untuk membenahi sistem pencarian dan penyelamatan pendaki.
Selain itu, dana dipakai untuk membiayai logistik pengangkutan sampah dari gunung. Nepal mewajibkan setiap pendaki membawa kantong khusus untuk buang air di sepanjang proses naik dan turun gunung. Melepas tuntutan jasmaniah di alam liar pegunungan dilarang keras.
Kenaikan harga itu disambut harap-harap cemas oleh biro-biro wisata alam di Nepal. Mereka khawatir para pendaki internasional enggan datang ke Nepal dan memilih mendaki Everest melalui China atau Tibet yang sarana dan prasarananya lebih memadai. (AFP)
Penulis:
Laraswati Ariadne AnwarEditor:
Fransisca Romana Ninik W