Mendikdasmen Minta Anak Bangun Lebih Pagi, Jangan Jadi Generasi Nokturnal

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggerakkan setiap sekolah dan orangtua untuk menanamkan gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia hebat.

27 Des 2024 16:08 WIB · Nasional

Oleh Stephanus Aranditio

JAKARTA, KOMPAS — Anak-anak Indonesia diharapkan berkarakter kuat untuk menjadi sumber daya manusia unggul. Untuk mencapai hal itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah menggerakkan tiap sekolah dan orangtua untuk menanamkan gerakan tujuh kebiasaan anak Indonesia.

Tujuh kebiasaan itu adalah bangun pagi, beribadah, berolahraga, konsumsi makanan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta istirahat cukup dengan tidur cepat demi menjaga keseimbangan tubuh. Semua kebiasaan saling terkait untuk membentuk karakter anak-anak Indonesia agar jadi generasi sehat, cerdas, dan berkarakter unggul.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti mengaku khawatir melihat anak-anak zaman sekarang yang sudah sangat kecanduan gawai. Bahkan, dia menyebut anak-anak sekarang terlalu sering begadang yang berpotensi mengganggu kesehatan fisik dan mentalnya.

”Ada kekhawatiran di kita bahwa anak-anak generasi muda kita jadi generasi nokturnal, yakni generasi yang tidur lambat dan bangun terlambat. Ini berbagai macam kebiasaan anak sekarang yang kita khawatirkan sebagai tantangan membangun karakter kuat,” kata Abdul Mu’ti di Jakarta pada Jumat (27/12/2024).

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti (tengah) bersama dua wakilnya Atip Latipulhayat (kiri) dan Fajar Riza Ul Haq (kanan) diwawancarai wartawan setelah peluncuran gerakan 7 kebiasaan Anak Indonesia hebat di Jakarta, Jumat (27/12/2024).

Aktivitas mulai dari bangun pagi, beribadah, berolahraga, gemar belajar, dan makan makanan bergizi, hingga bermasyarakat tidak hanya membangun anak menjadi individu yang kuat, tetapi juga menciptakan generasi yang peduli dengan sesama dan lingkungannya.

Quote

Pendidikan itu tidak sekadar memberikan pengetahuan kepada murid-murid.

Dia menegaskan, gerakan ini tidak hanya tugas sekolah, tetapi juga tugas orangtua dan anak-anak untuk meningkatkan kesadaran membudayakan kebiasaan sehat. Oleh karena itu, Mu’ti mengedarkan surat imbauan ke sekolah-sekolah untuk membangun gerakan 7 kebiasaan anak Indonesia tersebut.

Meski begitu, edaran ini bukan bersifat tugas yang harus dijalankan oleh pihak sekolah, apalagi untuk penilaian sekolah. Mu’ti ingin gerakan ini tumbuh secara natural hingga membudaya pada anak-anak Indonesia.

”Jadi, misalnya bisa saja nanti tiap anak ada semacam buku jurnal yang disiapkan sekolah atau orangtua mencatat anaknya bangun jam berapa, dan kebiasaan lainnya. Guru memeriksa dan memberikan komentar, bahkan mungkin sesama murid bisa saling bertukar cerita tentang kegiatannya,” ucapnya.

Selain itu, Kemendikdasmen akan menginisiasi aktivitas wajib sebelum memulai pembelajaran di sekolah. Aktivitas itu meliputi senam pagi, menyanyikan lagu kebangsaan ”Indonesia Raya”, dan berdoa saat pagi. ”Senamnya selesai kami ciptakan, Senam Indonesia Hebat atau Indonesia Ceria, hanya 10 menit,” ujarnya.

Dengan gerakan ini, anak Indonesia diharapkan tak hanya unggul dalam aspek akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Tujuh kebiasaan ini juga diadopsi dari tradisi dan nilai-nilai kebangsaan.

Senam pagi yang dinamakan SMART dilakukan tiap pagi di SDN Waikelo, Kabupaten Sumba Barat Daya, Kabupaten Nusa Tenggara Timur. Beraktivitas fisik disertai musik riang emmbuat anak-anak etrlaih motoriknya sehingga lebih siap untuk belajar.

Dengan gerakan ini, anak Indonesia diharapkan tak hanya unggul dalam aspek akademis, tetapi juga memiliki kepribadian yang kuat, kepedulian sosial, serta tanggung jawab terhadap lingkungan sekitarnya. Tujuh kebiasaan ini juga diadopsi dari tradisi dan nilai-nilai kebangsaan.

”Pendidikan itu tidak sekadar memberikan pengetahuan kepada murid-murid kita, tetapi juga menanamkan kebiasaan sebagai bagian dari pengalaman agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang hebat,” ucap Mu’ti.

Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen Suharti menambahkan, gerakan ini juga sejalan dengan Astacita poin keempat yang diusung Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, yakni mewujudkan pembangunan sumber daya manusia unggul. Pembangunan SDM unggul itu harus dimulai dari penanaman nilai-nilai luhur sejak anak-anak usia dini.

Pendidikan diarahkan untuk menanamkan delapan karakter utama, yakni religius, bermoral, sehat, cerdas dan kreatif, kerja keras, disiplin, mandiri, serta bermanfaat. Gerakan ini termasuk salah satu cara untuk mencetak generasi yang memiliki delapan karakter tersebut.

Guru yang menyambut murid barunya saat hari pertama sekolah di SD Negeri Nayu Barat 1, Nusukan, Kota Surakarta, jawa Tengah, Senin (17/7/2023). Bagi siswa kelas 1 SD menjadi pengalaman pertama mereka memasuki pendidikan formal. Pada hari pertama mereka harus beradaptasi dengan lingkungan dan teman baru. Kompas/P Raditya Mahendra Yasa 17-07-2023

Dia menegaskan, ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Kemendikdasmen, tetapi tugas semua kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta organisasi masyarakat. Dukungan dari bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan perlindungan anak menjadi kunci keberhasilan gerakan ini.

”Dengan sinergi yang baik dari semua pihak, gerakan ini diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai karakter pada anak-anak Indonesia secara efektif dan masif,” kata Suharti.

Pada kesempatan sama, Kemendikdasmen juga memberikan penghargaan kepada para pemenang program Kreasi Cipta Lagu Anak Nusantara (Kelana), kompetisi yang diikuti lebih dari 1.936 peserta dari seluruh Indonesia. Program ini merupakan salah satu langkah konkret mendukung kreativitas anak-anak Indonesia sekaligus mempromosikan nilai-nilai kebangsaan.


Kerabat Kerja

Penulis:

Stephanus Aranditio
 | 

Editor:

Evy Rachmawati
 | 

Penyelaras Bahasa:

Kusnadi .