Mengapa Ada Demokrasi?

Demokrasi dibuat bukan untuk mengejar kesempurnaan. Demokrasi berfungsi untuk  memastikan persaingan politik berlangsung terbuka, terkendali, dan adil.

05 Mei 2025 07:00 WIB · Internasional

Oleh Antonius Tomy Trinugroho

Tidak ada apa pun yang muncul begitu saja dari ruang kosong. Segala sesuatu hadir karena memang dibutuhkan atau memiliki fungsi praktis. Konsep angka atau bilangan, misalnya, muncul dan akhirnya dipergunakan secara luas karena dibutuhkan untuk mencatat jumlah ternak, barang, dan sebagainya pada masa ribuan tahun silam.

Dengan prinsip itu pula, kita dapat mengajukan pertanyaan: mengapa ada demokrasi? Mengapa manusia menerapkan demokrasi sehingga sebuah negara ”terpaksa” mempunyai pemimpin yang tidak pintar serta bersikap seenaknya? Bukankah lebih baik diterapkan sistem penunjukan sehingga dihasilkan pemimpin yang lebih berkualitas? Jadi, apa manfaat sesungguhnya dari demokrasi?

TOPSHOT - Voters queue up to cast their ballot outside a polling station during the first phase of voting of India's general election, in Dugeli village some 33 Km (21 miles) from Dantewada town in Chhattisgarh state on April 19, 2024. As the world's biggest democracy began a six-week election on April 19, thousands of people in villages across Bastar district, one of the last strongholds of the Naxal rebels, cast their ballots. (Photo by Idrees MOHAMMED / AFP) / TO GO WITH 'India-vote-conflict-Maoist', FOCUS by Bhuvan Bagga

Jawaban menarik dari pertanyaan-pertanyaan semacam itu coba diberikan oleh Profesor Steven Pinker, pemikir liberal sekaligus ahli psikologi kognitif, bidang ilmu yang mempelajari proses mental seperti berpikir dan berbahasa. Menurut dia, demokrasi sebenarnya tidak ada urusannya dengan bentuk pemerintahan. Demokrasi pada dasarnya hanya menuntut sebuah pemerintahan untuk mampu melindungi warganya dari anarki atau kekacauan.

Pemikiran tersebut muncul karena, bagi Pinker, sejak pemerintahan pertama terbentuk beribu-ribu tahun lalu, umat manusia senantiasa berjuang untuk mencari titik imbang antara kekerasan akibat anarki dan kekerasan akibat tirani (pemerintahan otoriter absolut).

Tidak jarang, manusia lebih memilih tirani karena jumlah korban tewas yang disebabkannya tetap lebih sedikit ketimbang anarki. Dengan kata lain, lebih baik hidup di bawah tirani daripada hidup menderita dalam kekacauan akibat ketiadaan penguasa (Pinker, Enlightenment Now: The Case for Reason, Science, Humanism and Progress, 2018).

Karena itu, hal paling penting ialah jangan sampai terjadi anarki atau kekacauan. Itulah fungsi praktis demokrasi. Sistem ini harus bisa mencegah anarki. Jika gagal, masyarakat akan dengan mudah beralih pada ide orang kuat atau strongman yang bisa mengatasi berbagai masalah.

Supporters of former US president and Republican presidential candidate Donald Trump celebrate his victory near his Mar-a-Lago resort in Palm Beach, Florida, on November 6, 2024. Donald Trump won a sweeping victory Wednesday in the US presidential election, defeating Kamala Harris to complete an astonishing political comeback that sent shock waves around the world. (Photo by CHANDAN KHANNA / AFP)

Gagasan mengenai manfaat demokrasi untuk mencegah anarki selaras dengan konsep demokrasi menurut ilmuwan politik Robert Dahl. Menurut dia, komponen penting demokrasi ialah kompetisi antara pemerintah dan oposisi.

Demokrasi harus mampu memastikan kompetisi berlangsung adil (konsekuensinya tidak boleh ada pemberangusan media oposisi). Maka, oposisi perlu dijamin hidup. Di sisi lain, pihak yang memenangi kompetisi atau pemilu harus dipastikan dapat memerintah dengan tenang (Dahl, Polyarchy: Participation and Opposition, 1971).

Dengan konsep itu, demokrasi tak lain adalah formalisasi sekaligus penjinakan pertarungan politik. Kekuatan politik boleh berkompetisi, tetapi harus diatur sehingga tak berujung pada kekerasan fisik. Jangan sampai ada anarki atau kekacauan akibat persaingan politik.

Maka, jangan kaget atau terlalu larut dalam kekecewaan apabila pemilu yang terbuka, jujur, dan adil akhirnya menghasilkan pemimpin yang jauh dari memuaskan. Keputusannya menimbulkan kekacauan, membuat pelaku usaha kebingungan, bahkan rakyat negara lain juga merasa cemas.

Demokrasi bukan untuk memuaskan obsesi absurd manusia mengenai kesempurnaan. Demokrasi ”hanya” memastikan kompetisi politik berlangsung adil, terbuka, dan bermartabat. Jangan sampai ada anarki.

A voter casts his ballot in Australia’s general election at a polling station in Melbourne on May 3, 2025. (Photo by Martin KEEP / AFP)

Kalaupun pemimpin yang tidak memuaskan itu mengeluarkan keputusan yang tidak pantas, demokrasi memastikan ada kekuatan lain yang bisa mengimbanginya. Lembaga peradilan bisa membatalkannya.

Hal ini terjadi di Amerika Serikat. Pengadilan membatalkan executive order (perintah eksekutif) Presiden Donald Trump. Institusi yudikatif memang menjadi benteng terakhir bagi upaya otokratisasi oleh eksekutif yang ”bermain mata” dengan lembaga legislatif.

Koreksi semacam ini penting agar tidak terjadi revolusi atau ledakan besar akibat ketidakpuasan bertumpuk-tumpuk dalam jangka waktu lama. Lagi-lagi tampak, sistem demokrasi harus bisa memastikan jangan sampai terjadi anarki.

Jadi, demokrasi muncul bukan untuk mengejar kesempurnaan. Demokrasi hanya memastikan persaingan politik berlangsung terkendali dan adil. Selamat berdemokrasi.


Kerabat Kerja

Penulis:

Antonius Tomy Trinugroho
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Nanik Dwiastuti