Mengapa Gen Z Suka dengan Huruf Kecil?

Huruf kecil merepresentasikan nilai Gen Z yang suka minimalis, santai, dan tidak kaku. Namun, huruf kecil juga merupakan pernyataan politik.

22 Feb 2025 19:52 WIB · Internasional

Oleh Elsa Emiria Leba

Generasi Z meninggalkan penggunaan huruf kapital dalam interaksi sehari-hari mereka, termasuk saat mengetik di gawai atau media sosial. Dengan menggunakan huruf kecil, mereka menunjukkan pandangan dan sikap yang melawan tata bahasa tradisional.

Maelle Kouman (24) tidak ingat sejak kapan dia mulai menulis atau mengetik menggunakan huruf kecil. Sepanjang ingatannya, dia telah menonaktifkan penggunaan huruf kapital otomatis di ponselnya sejak remaja.

”Aku rasa aku terus menggunakan huruf kecil karena kebiasaan. Namun, jika dipikir-pikir, itu dimulai karena semua orang di grup obrolan sekolahku melakukannya, dan setelah beberapa saat hal itu terasa normal,” ujar Kouman kepada The Guardian yang berbasis di London, Inggris, edisi Selasa (18/2/2025).

Siapa sangka itu akan menjadi kebiasaan perempuan ini sampai sekarang. ”Huruf kecil terasa seperti nada percakapan yang terus-menerus tanpa awal atau akhir. Itu menghilangkan nada serius yang dapat dipancarkan teks tertentu,” tutur Kouman.

Kouman tidak sendirian. Ruweyda Hilowle (24) melakukan hal serupa. ”Pesan teks dengan huruf kecil terasa lebih santai. Ketika aku mulai menggunakan huruf kapital, rasanya seolah-olah aku mencoba menyampaikan maksud yang lebih kuat dari yang seharusnya,” ucap Hilowle.

Kouman dan Hilowle adalah perwaklian generasi Z yang suka dengan huruf kecil. Artis-artis generasi Z berpengaruh, seperti penyanyi Olivia Rodrigo (22) dan Billie Eilish (23), juga identik dengan huruf kecil. Eilish, contohnya, sering menggunakan huruf kecil pada judul lagu atau album, sebutlah ”dont smile at me” (2017) dan ”my future” (2020).

Berbagai lini bisnis pun mulai menangkap fenomena tersebut. Aplikasi lagu Spotify menaruh judul daftar lagu dengan huruf kecil guna memberi kesan informal. Sementara itu, perusahaan rambut Amika mempromosikan hampir semua produk dengan huruf kecil di berbagai pelantar agar terkesan lembut dan ramah.

FILE - In this Oct. 29, 2019, file photo, a Facebook app is shown on a smartphone in Miami. Facebook said Wednesday, Nov. 13, that it removed 3.2 billion fake accounts from its service from April to September, up slightly from 3 billion in the previous six month. (AP Photo/Wilfredo Lee, File)

Estetika dan ekspresi

Bagi sebagian generasi Z, huruf kecil berkaitan dengan persoalan estetika. Soalnya, mereka gemar dengan hal-hal yang berbau minimalis, sederhana, dan tidak sempurna.

”Ada sesuatu tentang bagaimana huruf-huruf tersebut disusun— menurutku itu terlihat lebih baik,” kata Hilowle.

Karim Salama, pendiri firma pemasaran digital E-innovate, meyakini, huruf kecil adalah cerminan kebutuhan generasi Z untuk ekspresi diri. ”Bahasa terus berkembang, terutama dengan teknologi baru. Kita melihat munculnya emoji yang mengekspresikan perasaan secara efektif untuk generasi ini. Menggunakan huruf kecil itu mudah dan bebas dari batasan generasi sebelumnya,” tuturnya.

Noel Wolf, ahli bahasa dan budaya di pelantar belajar bahasa Babbel, menjelaskan, huruf kecil tampak menarik, santai, dan rileks bagi orang Gen Z. Mengetik dengan huruf kecil sering kali lebih cepat dan mudah ketimbang harus menyertakan huruf kapital sesuai tata bahasa. Hal ini sejalan dengan sifat komunikasi daring saat ini yang serba cepat.

”Secara keseluruhan, preferensi untuk mengetik dengan huruf kecil di kalangan generasi muda merupakan kombinasi dari perubahan budaya, kemudahan penggunaan, dan keinginan untuk menciptakan kehadiran daring yang lebih santai dan individualistis,” kata Wolf kepada Metro.co.uk.

Oleh karena itu, banyak anak muda baru beralih menggunakan huruf kapital ketika ingin menampilkan kesan dewasa, terutama dalam lingkungan profesional atau akademis. Di Tiktok, muncul pula tren anak muda yang mengumumkan sudah mengaktifkan kembali fitur kapitalisasi otomatis di ponsel sebagai tanda kedewasaan.

”Aku memilih mengirim pesan teks menggunakan huruf kapital ketika aku tahu sedang berbicara dengan rekan kerja. Ini tentang menampilkan diriku dengan cara tertentu,” tutur Nardos Petros (23), karyawan di London.

FILE - Teenager Shreya Nallamothu looks at her phone in Bloomington, Ill., on Tuesday, May 9, 2023. Watching social media posts during the pandemic lockdown, “I realized that there’s a lot of exploitation that can happen within the world of ‘kidfluencing,’” she says, referring to the monetization of social media content featuring children. “And I realized that there was absolutely zero legislation in place to protect them.” (AP Photo/Claire Savage, File)

Menolak otoritas

Selain itu, penggunaan huruf kecil bisa menjadi sebuah pernyataan politik. Caitlin Jardine, manajer media sosial di agensi pemasaran Ellis Digital, menjelaskan, generasi Z adalah generasi yang tumbuh di era daring. Pada era ini, batasan antara komunikasi formal dan informal kabur.

”Penulisan huruf kecil adalah cara untuk menolak otoritas dan kekakuan terkait tata bahasa tradisional. Ini menumbuhkan suasana inklusivitas dan hubungan emosional,” tutur Jardine.

Fenomena menggunakan huruf kecil bukanlah hal baru. Pada abad ke-20, penyair Amerika Serikat, EE Cummings (1894-1962), bermain-main dengan huruf kecil dalam puisi legendaris i carry your heart with me (i carry it in my heart) pada 1952. Selanjutnya, penulis dan feminis Gloria Jean Watkins (1952–2021) menggunakan nama pena dalam huruf kecil, yakni ”bell hooks”. 

Aksi mereka juga sebuah langkah politis. Sama seperti Gen Z, mereka menantang hierarki dan menolak formalitas.

Ditambah lagi, huruf kecil bisa menjadi pengalih perhatian. Dikutip dari The Washington Post, Hooks mengaku selalu menulis namanya menggunakan huruf kecil karena ingin orang-orang fokus pada buku-bukunya, bukan pada ”siapa saya”. 

”Ketika orang-orang menulis nama saya dengan huruf kapital, saya tidak panik. Saya tidak terikat dengan itu. Saya pikir kita terobsesi dengan hal-hal yang bersifat personal sehingga membutakan kita terhadap isu-isu yang lebih penting dalam hidup,” tutur Hooks pada 2009.

Masih terlalu dini untuk mengatakan jika tren huruf kecil akan terus berlanjut atau jika generasi mendatang akan kembali menyukai huruf kapital. Bagi Kouman, setidaknya, huruf kecil adalah pilihan yang kecil, tetapi memiliki makna.

“Huruf kecil lebih dari sekadar gaya. Ini adalah cara berkomunikasi dengan cara yang terasa seperti aku,” kata Kouman.


Kerabat Kerja

Penulis:

Elsa Emiria Leba
 | 

Editor:

Bonifasius Josie Susilo H
 | 

Penyelaras Bahasa:

Teguh Candra