Kompas.id Brief

Mengapa Genosida Gaza Tidak Dihentikan Secepat Pembantaian Srebrenica?

Dengan jumlah korban puluhan ribu lebih banyak, mengapa genosida di Gaza tidak dihentikan secepat pembantaian Srebrenica atau genosida Kosovo?

12 Jul 2025 12:15 WIB · Internasional

Oleh Iwan Santosa

Apa yang dapat dipelajari dari artikel ini?

1. Apa perbedaan sikap internasional pada genosida di pecahan Yugoslavia dan genosida di Gaza?

2. Apa tuntutan Israel ke Gaza?

3. Bagaimana sikap Hamas soal gencatan senjata?

4. Kapan gencatan senjata mungkin tercapai?

Pembantaian Srebrenica dan genosida Gaza

copy title

Peringatan 30 tahun pembantaian Srebrenica terjadi kala genosida berlangsung di Gaza. Pembantaian Srebrenica bagian dari rangkaian genosida selepas Yugoslavia pecah. Sama-sama genosida, dunia menyikapi Gaza dan Yugoslavia amat berbeda.

Dunia ingat, begitu garang Amerika Serikat dan sekutunya menyikapi genosida di pecahan Yugoslavia. Sementara untuk genosida Gaza, malah ada rangkaian saksi ke pegawai Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Sanksi dijatuhkan ke orang-orang yang berusaha menyeret Israel ke pengadilan atas kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Saliha Osmanovic, yang berudia 71 tahun berpose sambil memegang foto dua putra dan suaminya, korban genosida Srebrenica di desa Dobrak dekat Srebrenica, Bosnia, pada 28 Juni 2025. Selama genosida, total 38 anggota keluarganya terbunuh.

Sanksi ke ICC dan penyelidik PBB hanya sebagian perbedaan kontras terhadap genosida di Gaza dan Yugoslavia. Sejauh ini, PBB memang belum tegas menyebut kematian hampir 60.000 orang di Gaza sebagai genosida. PBB hanya menyebut, semua tindakan Israel di Gaza konsisten dengan metode genosida.

Sementara untuk genosida di pecahan Yugoslavia, dunia bertindak cepat dan garang. Pada Mei 1993, Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi yang menjadi dasar pembentukan International Criminal Tribunal for the former Yugoslavia (ICTY).

Politisi dan jenderal diburu, lalu dihukum oleh ICTY dengan dakwaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Mereka termasuk Ratko Mladi, Radovan Karadzic, dan Radislav Krstic. Pembunuhan 8.000 orang di Srebrenica dan hampir 9.000 orang di Kosovo jadi dasar tuduhan itu.

Israel menuntut perlucutan total Gaza

copy title

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali menunjukkan tidak memprioritaskan pembebasan tawanan dari Gaza. Ia lebih fokus pada pendudukan Gaza dan pembubaran Hamas.

Netanyahu mengklaim Israel siap merundingkan kesepakatan jangka panjang untuk penghentian perang dengan Hamas. Perundingan untuk itu akan dilakukan apabila gencatan senjata dimulai. ”Jika dalam 60 hari tidak ada kemajuan, kami akan meyelesaikannya dengan cara lain, yaitu melalui kekuatan militer,” ujar Netanyahu.

Infografik Sejumlah Perundingan Gencatan Senjata Hamas-Israel

Perundingan, kata Netanyahu, harus dimulai dengan pelucutan total Hamas dan semua kelompok perjuangan kemerdekaan Palestina di Gaza. Hamas dan semua kelompok itu juga harus melepaskan kendali atas Gaza.

Netanyahu dan sejumlah pejabat sipil serta militer Israel menolak penarikan pasukan dari Gaza. Mereka mau Gaza tetap diduduki Israel seperti sebelum 2005. Mereka menuntut, hanya tentara Israel, baik cadangan maupun aktif, yang boleh memegang senjata api di Gaza.

Sikap Hamas

copy title

Menyikapi terus jatuhnya korban dan situasi kemanusiaan yang terus memburuk di Gaza, Hamas menyatakan siap berunding kembali untuk membahas gencatan senjata sesegera mungkin, Jumat (4/7/2025). Pada saat yang sama, militer Israel terus melancarkan serangan.

Pernyataan Hamas disampaikan setelah berunding dengan berbagai kelompok perjuangan Palestina. Langkah Hamas disampaikan sebelum PM Israel Benjamin Netanyahu bertemu sekutunya, Presiden AS Donald Trump, di Gedung Putih, Senin (7/7/2025).

Semua upaya bina damai mentah karena Israel terus menyerang membabi buta. Bahkan, pusat-pusat bantuan kemanusiaan yang dikendalikan AS-Israel jadi ajang pembantaian warga dengan ratusan orang tewas ditembak saat mengambil bantuan makanan.

Peluang gencatan senjata tercapai

copy title

Israel dan Hamas kemungkinan bisa mencapai kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera dalam satu atau dua pekan ke depan. Namun, menurut seorang pejabat senior Israel, kesepakatan semacam itu tidak mungkin tercapai dalam sehari.

Pejabat itu berbicara pada Kamis (10/7/2025) di sela-sela kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Washington DC, Amerika Serikat. ”Jika kedua pihak sepakat dengan usulan gencatan senjata selama 60 hari, Israel akan menggunakan waktu itu untuk menawarkan gencatan senjata permanen yang mensyaratkan Hamas membubarkan diri. Jika Hamas menolak, kami akan melanjutkan operasi militer di Gaza,” kata pejabat yang berbicara dengan syarat anonim.

Heavily damaged ambulances lie outside the Nasser hospital in Khan Yunis in the southern Gaza Strip on July 11, 2025. Gaza's health system has been at a point of near collapse for months, with nearly all hospitals and health facilities either out of service or only partly functional. Israel's drastic restrictions on the entry of goods and aid into Gaza since the start of the war in October 2023, has caused shortages of everything, including medicine, medical supplies, and fuel, which hospitals rely on to power their generators. (Photo by AFP)

Negosiasi gencatan senjata Hamas-Israel di Doha, Qatar, memasuki hari keempat, Rabu. Perundingan tidak langsung yang dimediasi AS, Qatar, dan Mesir itu berjalan sulit, tetapi ada secercah harapan.

Pada Kamis, Hamas menyatakan setuju untuk membebaskan secara bertahap para sandera Israel. Di tahap awal, Hamas akan membebaskan 10 sandera. Hamas sepakat setelah Israel menyampaikan pernyataan optimistis tentang prospek kesepakatan untuk menghentikan pertempuran di Jalur Gaza.


Kerabat Kerja

Penulis:

Iwan Santosa
 | 

Editor:

Kris Mada
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto