Kompas.id Brief

Mengapa Indonesia Menjadi Tamu Utama pada Parade Hari Nasional Perancis, Bastille Day?

Pengamat melihat kedekatan RI-Perancis dipicu situasi geopolitik yang tak menentu disertai munculnya kebijakan tarif Trump.

16 Jul 2025 12:26 WIB · Politik & Hukum

Oleh Tim Redaksi

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

  1. Mengapa Indonesia menjadi tamu kehormatan Perancis di Bastille Day?
  2. Selain membuka defile Bastille Day, apa lagi yang ditunjukkan oleh marching band TNI-Polri di Paris?
  3. Sejak kapan kedekatan RI-Perancis terlihat menguat?
  4. Sebelum ke Perancis, Prabowo lawatan ke sejumlah negara lain, apa hasilnya?
  5. Apa pesan yang dibawa Prabowo saat untuk pertama kali menghadiri KTT BRICS?

Mengapa Indonesia menjadi tamu kehormatan Perancis di Bastille Day?

copy title

Presiden Perancis Emmanuel Macron mengundang Presiden Prabowo Subianto sebagai tamu kehormatan dalam pergelaran Bastille Day 2025 di Perancis. Lebih dari itu, marching band TNI-Polri yang tergabung dalam Satgas Patriot II juga diminta untuk menjadi pembuka parade militer bersejarah itu.

Presiden Prabowo didampingi adik dan anaknya, yakni Hashim Djojohadikusumo dan Ragowo Hediprasetyo Djojohadikusumo yang karib disapa Didit. Prabowo, Hashim, dan Didit terlihat antusias begitu kontingen asal Indonesia tampil. Jika Prabowo dan Hashim tersenyum menyaksikan kemunculan kontingen tersebut, Didit melakukan hal berbeda. Ia merekam momen penampilan kontingen itu lewat kamera telepon selulernya.

Ajang Bastille Day itu turut menampilkan kedekatan antara Presiden Prabowo dan Presiden Perancis Emmanuel Macron. Itu ditunjukkan dari keputusan Macron untuk menempatkan Prabowo duduk persis di sebelahnya sepanjang acara.

Dosen Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia, Evi Fitriani, melihat kedekatan RI-Perancis dipicu situasi geopolitik yang tak menentu disertai munculnya kebijakan tarif Trump. Kondisi itu mendorong negara-negara Eropa, termasuk Perancis, mencari pasar baru untuk produk-produk andalan mereka. Dalam konteks ini, Perancis memandang Indonesia sebagai calon pasar potensial.

Indonesia sebagai calon pasar potensial setidaknya sudah terlihat dari sisi pengadaan alutsista. Dalam kurun waktu 2022-2024, misalnya, Kementerian Pertahanan melakukan kontrak pengadaan pesawat tempur Rafale dengan Perancis. Terdapat tiga kali pengadaan sejak September 2022 hingga Januari 2024. Total jumlah pengadaannya berjumlah 42 unit. Berdasarkan pemberitaan Reuters, kesepakatan pengadaan pesawat tempur itu bernilai 8,1 miliar dollar AS.

Selain ikut defile Bastille Day, apa lagi yang ditunjukkan oleh marching band TNI-Polri di Paris?

copy title

Marching band TNI-Polri yang diberi nama Satgas Patriot II membuka defile Bastille Day di Place de la Concorde, Paris, Senin (14/7/2025), dengan memainkan lagu ”Maju Tak Gentar”. Kontingen Satgas Patriot II terdiri dari 451 personel gabungan TNI dan taruna dari Akademi Militer, Akademi Angkatan Laut, Akademi Angkatan Udara, serta Akademi Kepolisian.

Kontingen Satgas Patriot II tiba di Paris pada Minggu (6/7/2025) malam dan Senin (7/7/2025) pagi. Saat latihan untuk defile Bastille Day, mereka menampilkan Tari Papua secara kolaboratif bersama militer Perancis.

Keakraban juga terlihat saat militer Indonesia dan Perancis bersama-sama spontan memperagakan tari pacu jalur di Champs-Élysées, Paris, Jumat (11/7/2025). Jalan yang menjadi jantung Paris sekaligus pusat turis menjadi saksi persahabatan prajurit antarbangsa.

Kontingen Satgas Patriot II ikut gladi bersih parade di Champs-Élysées, jelang perayaan Hari Nasional Perancis (Bastille Day), Sabtu (12/7/2025). Tim Indonesia memanfaatkan momen ini untuk tampil di Place de Concorde. Para prajurit TNI tampil dengan reog ponorogo, tarian kecak, serta atraksi bela diri yang mencerminkan kekayaan budaya Indonesia sekaligus ketangguhan prajurit Indonesia.

Sejak kapan kedekatan RI-Perancis terlihat menguat?

copy title

Kedekatan itu terlihat menguat saat Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan kenegaraan Presiden Perancis Emmanuel Macron di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 28 Mei 2025. Kunjungan ini menandai 75 tahun hubungan diplomatik dan 10 tahun kemitraan strategis antara Indonesia dan Perancis. Dalam pertemuan bilateral, kedua pemimpin menegaskan pentingnya memperkuat kerja sama di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global.

Kedua negara juga menandatangani 21 kesepakatan strategis. Kemitraan strategis di berbagai sektor, termasuk pertahanan, teknologi, ekonomi, pertanian, budaya, dan pendidikan.

Tak hanya itu, Presiden Prabowo Subianto juga menggelar jamuan santap malam kenegaraan untuk menghormati kunjungan Presiden Perancis Emmanuel Macron dan Ibu Negara Brigitte Macron di Istana Negara, Jakarta, pada 28 Mei 2025.

Kala itu, Macron menyoroti kedekatan historis dan budaya kedua negara, serta pengaruh budaya Indonesia terhadap tokoh-tokoh besar Perancis. Ia juga menekankan pentingnya kerja sama dalam pertahanan, keamanan, dan budaya. Jamuan dimeriahkan dengan sajian kuliner khas Indonesia dan pertunjukan seni budaya dari kedua negara, ditutup dengan penampilan penyanyi Anggun bersama Purwacaraka Orchestra.

Sebelum ke Perancis, Prabowo lawatan ke sejumlah negara lain, apa hasilnya?

copy title

Presiden Prabowo Subianto menuntaskan lawatannya selama 16 hari di Arab Saudi, Brasil, dan sejumlah negara Uni Eropa. Kedekatan Indonesia dan Eropa memasuki babak baru. Pasar alternatif dan peluang kerja sama diperluas.

Di Arab Saudi, kemitraan strategis di berbagai bidang diperkuat. Presiden Prabowo dan Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz al-Saud mendukung penyelesaian Perjanjian Perdagangan Bebas antara Indonesia dan negara-negara Gulf Cooperation Council (GCC). Selain itu, masih ada kesepakatan kerja sama di berbagai bidang senilai 27 miliar dollar AS.

Di Brussels, Belgia, Presiden Prabowo dan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen pun mengumumkan disepakatinya perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa (IEU-CEPA). Negosiasi yang sudah berlangsung 10 tahun dan sembilan belas putaran akhirnya rampung.

Bukan hanya itu, Uni Eropa juga memberikan kemudahan lain bagi warga Indonesia yang berkunjung ke negara-negara anggota Uni Eropa. Komisi Eropa, kata Ursula dalam keterangan pers bersama, Minggu (13/7/2025), sudah memutuskan untuk mengadopsi kebijakan visa kaskade untuk Indonesia. Dampaknya, sejak 13 Juli 2025, warga Indonesia yang mengunjungi negara Eropa untuk kedua kalinya berhak mendapatkan visa Schengen jenis multi-entry. Ini memungkinkan pemegang visa untuk keluar masuk wilayah Uni Eropa berkali-kali selama masa berlaku visa.

Apa pesan yang dibawa Prabowo saat untuk pertama kali menghadiri KTT BRICS?

copy title

Wakil Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir mengatakan, dalam KTT BRICS, 6-7 Juli lalu, yang bertema ”Memperkuat Kerja Sama Dunia Selatan untuk Tata Kelola yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan”, Indonesia kembali mengingatkan pentingnya hukum internasional dan sistem multilateral yang kuat. Tujuannya, menciptakan suasana kondusif dan pembangunan di negara-negara berkembang.

Kemajuan dan pertumbuhan di negara berkembang terjadi berkat adanya kedamaian, kepatuhan terhadap hukum internasional, serta sistem multilateral yang kuat. ”Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat semakin melemahnya sistem multilateral dan semakin banyak negara yang tidak mematuhi hukum internasional,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif PARA Syndicate Virdika Rizky Utama melihat BRICS merupakan platform yang krusial untuk mendorong reformasi multilateralisme. Sebab, peta kekuatan dunia saat lembaga-lembaga multilateral, seperti PBB, IMF, dan Bank Dunia, dibentuk pasca-Perang Dunia II sudah jauh berbeda dengan saat ini.

Wajar jika negara-negara belahan dunia selatan yang kini menjadi raksasa ekonomi, seperti China, India, atau Brasil, berupaya menggeser tatanan dunia yang timpang dan tidak representatif. Caranya, dengan mendorong reformasi di DK PBB yang selama ini mandek karena hak veto atau membuat lembaga pembiayaan alternatif seperti NDB yang tidak terikat syarat-syarat politik.


Kerabat Kerja

Penulis:

Tim Redaksi
 | 

Editor:

A. Ponco Anggoro
 | 

Penyelaras Bahasa:

Galih Rudanto