Jurnalis asing yang akan ke AS diminta waspada. Jurnalis AS di Gedung Putih dibatasi aksesnya. Mengapa itu terjadi di era Trump?
20 Apr 2025 12:00 WIB · Internasional
1. Mengapa jurnalis asing diminta waspada saat akan masuk AS?
2. Mengapa Pemerintah AS membatasi akses peliputan sejumlah media di Gedung Putih?
3. Apa wujud pengekangan kebebasan pers di AS?
4. Apakah jurnalis di AS aman dari penyadapan?
5. Bagaimana cara Donald Trump berkomunikasi?
6. Bagaimana sejarah hubungan Trump dengan media massa?
Pengetatan kebebasan pers di era pemerintahan Donald Trump berlanjut. Jurnalis asing yang akan ke Amerika Serikat diimbau waspada. Sementara akses peliputan di Gedung Putih dikendalikan agar sesuai dengan keinginan Trump.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/06/04/e1e44768-037d-48b4-afba-efea908ca51e_jpg.jpg)
Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ), Kamis (17/4/2025), memperingatkan jurnalis yang bepergian ke Amerika Serikat untuk berhati-hati. Pemerintahan Trump sedang merancang usulan pembatasan perjalanan baru dan peningkatan pengawasan di perbatasan AS.
”Warga negara asing yang negaranya tidak memenuhi standar pemeriksaan AS dapat dilarang masuk. Jurnalis tidak akan dikecualikan dan harus mengantisipasi potensi pembatasan atau pemeriksaan saat bepergian ke atau dari Amerika Serikat,” tulis CPJ.
Punya izin resmi tak berarti bisa meliput. Begitulah yang sedang terjadi di Amerika Serikat era Donald Trump.
Dalam laporan pada Sabtu (15/2/2025), Associated Press mengungkap para jurnalisnya sudah sepekan dilarang meliput sejumlah kegiatan di Gedung Putih. Padahal, para jurnalis itu punya izin resmi dan masih berlaku.
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2024/11/14/e9ba7b99-da59-4f37-a40f-fcba37ed0beb_jpg.jpg)
Wakil Kepala Staf Gedung Putih Taylor Budowich menyebut, AP mengabaikan perintah mengganti sebutan Teluk Meksiko menjadi Teluk Amerika. Pemerintahan Trump memandang penolakan itu wujud misinformasi dan tidak bertanggung jawab. Alasan lain, sejumlah lokasi peliputan terbatas tempatnya.
Oleh karena itu, Gedung Putih memutuskan jurnalis AP tak boleh masuk lokasi tertentu di Gedung Putih dan tempat lain Trump berkegiatan. Meski demikian, jurnalis AP tetap boleh masuk kompleks Gedung Putih.
Kartunis Ann Telnaes memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya di The Washington Post, salah satu media paling berpengaruh di Amerika Serikat. Keputusan ini dia ambil setelah karyanya yang berisi kritik terhadap pemilik media yang tunduk kepada presiden terpilih Donald Trump ditolak editor.
Ia menilai, penolakan tersebut sinyal yang mengekang kebebasan pers. Telnaes mengunggah kisahnya di pelantar Substack, Jumat (3/1/2025).
Asosiasi Kartunis Editorial Amerika menerbitkan pernyataan yang menuduh The Washington Post melakukan kepengecutan politik. Asosiasi itu menyerukan agar kartunis lain mengunggah sketsa Telnaes dengan tagar #StandWithAnn sebagai bentuk solidaritas.
”Tirani berakhir di ujung pena. Tirani tumbuh subur dalam kegelapan dan Washington Post hanya menutup mata serta menyerah seperti petinju yang mabuk,” kata asosiasi tersebut, Sabtu (4/1/2025).
Dalam laporan pada Desember 2021, Associated Press dan Yahoo News mengungkap pemantauan terhadap sedikitnya 20 jurnalis. Kali ini, pelakunya adalah Divisi Penangkal Jaringan, salah satu unit di Badan Perlindungan Perbatasan dan Cukai (CBP) AS.
AP dan Yahoo News mendapatkan salinan laporan 500 halaman dari Inspektorat Jenderal Kementerian Keamanan Dalam Negeri yang membawahkan CBP. Sebagian isi halaman masih ditutupi. Meski demikian, isi laporan mengungkap sejumlah nama jurnalis yang diselidiki unit tersebut. Unit itu diketahui dibentuk untuk menyelidiki jaringan teroris.
Dalam pernyataan resminya, CBP mengaku setiap penyelidikan ada dasar hukumnya dan sesuai dengan prosedur. Walakin, tidak diungkap alasan penyelidikan terhadap 20 jurnalis itu. Karena itu, AP mendesak CBP segera memberi penjelasan lengkap. Salah satu dari 20 jurnalis itu bekerja di AP.
Sejak berkuasa kembali di Gedung Putih, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menerapkan gaya komunikasi baru kepada publik. Saban hari, dia cukup tampil dari Ruang Oval.
Ruang Oval menggantikan Ruang Briefing Pers James S Brady sebagai titik kontak bagi wartawan. Sudah beberapa kali dia menyampaikan pengumuman mendadak dari sana. Dunia jadi bisa melihat kemegahan kantornya yang terletak di sayap barat Gedung Putih itu.
”Penggunaan kantor oleh Trump dalam masa jabatan keduanya tidak pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah siniar terbesar dari semuanya: siaran langsung dari Ruang Oval,” kata Douglas Brinkley, sejarawan kepresidenan kepada Reuters edisi Minggu (16/2/2025).
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2025/03/22/6db5dbcf-003b-4fb8-a35b-4f5481a006e6_jpg.jpg)
Pakar kepresidenan, Martha Joynt Kumar, mencatat, sejauh ini Trump sudah melakukan 34 sesi bersama wartawan. Sebanyak 16 di antaranya berlangsung di Ruang Oval. Jumlah ini tiga kali lipat dari awal masa jabatan Trump (2017-2021) sebab dia hanya menggelar lima jumpa pers di Ruang Oval.
Penulis:
Kris MadaEditor:
Bonifasius Josie Susilo HPenyelaras Bahasa:
Galih Rudanto