Kompas.id Brief

Mengapa Konsorsium LG Batal Berinvestasi di Proyek Baterai Kendaraan Listrik RI?

Indonesia perlu serius meningkatkan iklim berusaha dan terbuka memaknai hilirisasi agar tidak kehilangan momentum.

25 Apr 2025 12:00 WIB · Ekonomi

Oleh Aguido Adri, Erika Kurnia, Aditya Putra Perdana, Iqbal Basyari

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1. Apa sebenarnya alasan yang menyebabkan konsorsium LG batal berinvestasi di proyek baterai kendaraan listrik di Indonesia?

2. Apakah proyek tetap berlanjut tanpa LG? Perusahaan apa yang menggantikan LG?

3. Apa perbaikan yang harus dilakukan Pemerintah RI untuk menjamin iklim investasi?

Konsorsium perusahaan asal Korea Selatan yang terdiri atas LG Energy Solution (LGES), LG Chem, LX International Corp, dan sejumlah mitra lainnya, telah batal berinvestasi di proyek ekosistem baterai kendaraan listrik di Indonesia.

Kabar hengkangnya konsorsium LG awalnya diberitakan oleh kantor berita asal Korea Selatan, Yonhap, serta sejumlah media asal Korsel lainnya. Pada 18 April 2025, Yonhap memberitakan bahwa konsorsium LG yang dipimpin oleh LGES telah menarik diri dari proyek baterai kendaraan listrik senilai ratusan triliun rupiah di Indonesia.

Konsorsium itu awalnya hendak bekerja sama dengan Indonesia Battery Corporation (IBC), konsorsium perusahaan baterai yang berisi empat BUMN energi dan pertambangan di Indonesia, dengan nama proyek Titan dalam skema ”Indonesia Grand Package”. Proyek tersebut mengintegrasikan produksi baterai mulai dari hulu, yakni pertambangan nikel, hingga menjadi produk baterai.

Nilai investasi proyek yang ditinggalkan konsorsium LG itu adalah 11 triliun won atau 7,7 miliar dollar AS. Setara dengan Rp 129 triliun (kurs Rp 11.734 per won). Adapun proyek Titan telah dijajaki sejak masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, saat Indonesia menetapkan ambisi menjadi produsen baterai kendaraan listrik (electronic vehicle/EV) global berbasis nikel.

Lantas, mengapa LG memilih mundur dari investasi ekosistem pabrik baterai EV itu? Bagaimana nasib proyek baterai kendaraan listrik di Indonesia? Apa artinya bagi iklim berinvestasi dalam negeri serta masa depan proyek hilirisasi?

1. Apa sebenarnya alasan yang menyebabkan konsorsium LG batal berinvestasi?

copy title

Dalam pemberitaan Yonhap, salah satu alasan yang diungkapkan oleh LGES adalah pergeseran dalam lanskap industri kendaraan listrik. Fenomena itu disebut EV chasm atau ”jurang EV”, yakni situasi perlambatan sementara atau puncak permintaan kendaraan listrik global.

”Jurang EV” menunjukkan bahwa kendaraan listrik hingga sejauh ini baru mampu menarik perhatian segelintir konsumen. Namun, untuk bisa menembus pasar yang lebih luas dan massal, EV belum cukup laku.

Ada sejumlah faktor yang membuat kendaraan listrik, terutama mobil, belum mampu menarik konsumen yang lebih luas. Beberapa di antaranya adalah harga jual mobil listrik yang lebih mahal dari mobil berbahan bakar fosil (internal combustion engine/ICE), jarak tempuh yang masih pendek, serta waktu pengisian energi yang terlalu lama.

Ada pula informasi yang beredar di media Korsel, bahwa konsorsium LG mundur karena khawatir iklim berusaha di Indonesia bakal menjadi lebih ketat pascapengesahan revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI).

Namun, pemerintah punya versi berbeda. Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (23/4/2025), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Rosan Roeslani menyatakan, hengkangnya LG dari investasi baterai kendaraan listrik justru keputusan yang dibuat Pemerintah Indonesia.

Surat resmi tentang pemutusan kerja sama ditandatangani oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 31 Januari 2025 dan diberikan kepada CEO LG Chem serta LG Energy Solution.

”Kenapa dikeluarkan surat itu? Karena memang negosiasi ini sudah terlalu lama. Sedangkan kita, kan, ingin semua ini berjalan dengan baik, dengan cepat, karena negosiasinya sudah berlangsung lima tahun,” ujar Rosan.

2. Apakah proyek tetap berlanjut tanpa LG? Perusahaan apa yang menggantikan LG?

copy title

Rosan mengatakan, pemerintah ingin agar investasi baterai kendaraan listrik di Indonesia terus berjalan. Oleh karena itu, pemerintah melanjutkan proyek baterai kendaraan listrik dengan menggandeng Huayou, perusahaan teknologi asal China.

Huayou bukanlah pemain baru di industri ini. Menurut Rosan, perusahaan itu sudah ada dalam konsorsium LG sejak 2024 dan memahami seluk-beluk di industri baterai kendaraan listrik. Huayou juga udah berinvestasi di Weda Bay, Maluku Utara, dan memiliki sumber daya untuk terjun ke industri baterai kendaraan listrik.

”Sebenarnya dalam konsorsium LG itu memang sudah ada Huayou. Jadi, mereka sekarang yang menjadi leading konsorsium, itu saja,” tuturnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, proyek rantai pasok baterai kendaraan listrik dalam skema Indonesia Grand Package tetap berjalan sesuai rencana. ”Yang terjadi adalah penyesuaian mitra investasi dalam struktur kerja sama atau joint venture (JV),” katanya.

Dengan demikian, infrastruktur dan rencana produksi untuk pabrik baterai kendaraan listrik terintegrasi itu tetap sesuai dengan peta jalan awal. Perubahan hanya terjadi pada level investor, di mana LG tidak lagi melanjutkan keterlibatannya pada JV 1, 2, dan 3 yang baru.

”Proyek ini sudah berjalan, sebagian telah diresmikan dan mulai produksi, dan sisanya akan terus kami kawal hingga tuntas sesuai target. Tidak ada yang berubah dari tujuan awal, yaitu menjadikan Indonesia sebagai pusat industri kendaraan listrik dunia,” ujarnya.

Vice President Commercial and Marketing IBC Bayu Hermawan mengatakan, IBC terus membuka peluang kolaborasi dengan pihak-pihak lain. IBC juga terus berkoordinasi dengan kementerian-kementerian terkait.

Di samping Proyek Titan, proyek baterai EV terintegrasi lain ialah Proyek Dragon. Dalam proyek itu, IBC bekerja sama dengan CBL atau Ningbo Contemporary Brunp Lygend yang terafiliasi dengan salah satu produsen baterai raksasa asal China, yang juga pemimpin pasar baterai EV di dunia, CATL.

3. Apa perbaikan yang harus dilakukan pemerintah RI untuk menjamin iklim investasi?

copy title

Mundurnya konsorsium LG dalam proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi perlu menjadi pelajaran bagi pemerintah Indonesia. Indonesia perlu serius meningkatkan iklim berusaha dan lebih terbuka dalam memaknai hilirisasi.

Direktur Eksekutif Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Indonesia Yose Rizal Damuri mengatakan, Indonesia bukan satu-satunya negara yang berambisi membangun ekosistem atau production hub EV. Ada Vietnam, Thailand, Malaysia, dan sejumlah negara lain yang juga memacu pembentukan ekosistem industri EV.

Di tengah situasi itu, Indonesia harus mampu meningkatkan daya saing dalam hal iklim bisnis, investasi, dan fasilitasi bagi investor. ”Bukan sekadar memberi insentif dalam pajak dan lainnya. Namun, yang sebenarnya dituntut oleh bisnis ialah bagaimana kemudahan berusaha itu diberikan,” kata Yose di sela diskusi RE Invest Indonesia yang digelar Tenggara Strategics di Jakarta, Kamis (24/4/2025).

Menurut Yose, yang juga menjadi pelajaran, Indonesia perlu bersinergi dengan negara lain dalam hilirisasi. Sebab, dalam hilirisasi, tidak bisa jika segala sesuatunya harus dari Indonesia. Besarnya cadangan nikel Indonesia menjadi keunggulan, tetapi untuk material lain yang tak dimiliki, kalaupun harus mendatangkan dari luar negeri sejatinya tak masalah.

Jangan sampai, lantaran memaknai hilirisasi dengan sangat rigid, tujuan tidak tercapai karena investor memilih mundur. Ada waktu yang terbuang. ”Padahal, saat ini adalah momentum ketika green industry sedang berkembang. Apabila kita terlambat terus (dari negara lain), akhirnya kita bisa kehilangan momentum,” katanya.


Kerabat Kerja

Penulis:

Aguido Adri, Erika Kurnia, Aditya Putra Perdana, Iqbal Basyari
 | 

Editor:

Agnes Theodora
 | 

Penyelaras Bahasa:

Apolonius Lase