Lini belakang Perancis akan diuji oleh dua penyerang elite, Alexander Isak dan Viktor Gyokeres, pada laga babak 32 besar Piala Dunia di Stadion MetLife, New Jersey.
29 Jun 2026 08:32 WIB · Olahraga
AFP/CHARLY TRIBALLEAU
NEW JERSEY, KOMPAS – ”Setiap laga bisa menjadi yang terakhir bagi kamu.” Demikian pesan tegas Pelatih Perancis Didier Deschamps kepada para pemain ”Les Bleus” menjelang laga babak 32 besar Piala Dunia 2026 melawan Swedia di Stadion MetLife, New Jersey, Selasa (30/6/2026).
Pesan itu disampaikan Deschamps setelah kembali ke skuad Perancis seusai menghadiri pemakaman sang ibu. Sebelum laga pamungkas penyisihan Grup I, timnas Perancis menerima kabar duka setelah ibunda Deschamps meninggal dunia sehingga sang pelatih terpaksa tidak mendampingi Kylian Mbappe dan kawan-kawan ketika mengalahkan Norwegia, 4-1.
Dalam video yang diunggah di akun media sosial timnas Perancis, Deschamps memperingatkan para pemainnya agar bersiap menghadapi kompetisi yang jauh lebih berat, apalagi di babak gugur.
”Kompetisi pertama sudah selesai. Tetapi, ada yang kedua (fase gugur). Untuk kamu yang sudah pernah bermain di Piala Dunia, itu ketika semua berubah. Ini kompetisi yang sama, tetapi ada kompetisi berikutnya. Setiap laga bisa menjadi yang terakhir bagi kamu,” kata Deschamps.
Ia juga memperingatkan para pemainnya agar tidak jemawa meskipun menghadapi lawan yang tidak diunggulkan pada fase grup. ”Kalian sudah memiliki rasa percaya diri dan telah mencapai hal-hal besar. Tentu saja, masih ada hal-hal yang bisa kita tingkatkan. Kita harus mulai dari sana, dari rasa percaya diri itu, tanpa menjadi terlalu percaya diri,” pesannya.
Apa yang dikatakan Deschamps sangat tepat. Di atas kertas, babak 32 besar melawan Swedia pada Rabu (1/7/2026) pukul 04.00 WIB seperti sebuah formalitas bagi Les Bleus. Namun, di atas rumput hijau, meremehkan barisan penyerang Swedia adalah tiket tercepat menuju malapetaka.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/27/7f5428f789ce50819e45b83323ba1cc2-France_Norway_WCup_Soccer_1_.jpg)
”Semakin jauh kita melangkah, kita seperti mendaki gunung. Lawan akan semakin berat. Tetapi, fokus pertama kita ke Swedia dulu, perjalanan masih panjang,” ucap Deschamps kemudian.
Perjalanan Mbappe dan kawan-kawan sangat mulus untuk menjadi juara Grup I dengan torehan sempurna, tiga kemenangan, dan menggelontorkan 10 gol ke gawang lawan. Catatan tersebut menempatkan Mbappe dan Ousmane Dembele di antara para pemburu gol paling ditakuti di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Kondisi itu berbanding terbalik dengan perjalanan Swedia. Alexander Isak dan kawan-kawan lolos dengan terseok-seok setelah sempat dipecundangi Belanda, 1-5, dan lolos ke fase gugur via jalur peringkat ketiga terbaik Grup F. Itulah yang membuat Swedia harus langsung berjumpa tim favorit pada fase grup.
Semua tahu, dengan rekor tersebut, Perancis menjadi favorit untuk memenangi pertandingan ini. Terlebih lagi, penampilan barisan penyerang Les Bleus begitu menakutkan.
Mbappe sudah mencetak empat gol, sementara Dembele mencetak tiga gol dari hattrick ke gawang Norwegia. Ketika bek lawan berusaha mati-matian meredam Mbappe, Perancis masih punya penyerang lain yang tak kalah mematikan, seperti Dembele, Bradley Barcola, dan Desire Doue.
Secara taktis, Deschamps telah merombak wajah Perancis menjadi mesin ofensif dengan gaya bermain yang sangat agresif. Bahkan, demi ambisi lolos ke final untuk tiga kali beruntun, Deschamps membawa sembilan penyerang ke Amerika.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/14/943e9c4440bd076af6495015fc05faa8-20260614_H03_ADI_Prediksi_Final.jpg)
Mengandalkan formasi 4-2-3-1, Deschamps biasanya menumpuk empat penyerang di lini depan. Mereka adalah Michael Olise, Doue atau Barcola, dan Dembele, untuk mendukung Mbappe sebagai ujung tombak. Pendekatan ini memberikan kebebasan penuh kepada Mbappe untuk mencari ruang meskipun taktik ini menyisakan celah di lini tengah.
Mereka mendapat dukungan dari dua bek sayap yang diberi kebebasan untuk ikut membantu menyerang, menciptakan keunggulan numerik di lini bertahan lawan. Duo gelandang jangkar, Aurelien Tchouameni dan Adrien Rabiot, dituntut memikul tanggung jawab yang besar untuk menutup area luas yang ditinggalkan para bek sayap saat maju menyerang.
Inilah celah yang bisa dimanfaatkan dua penyerang elite yang dimiliki Swedia, Isak dan Viktor Gyokeres. Ruang kosong di depan duet bek tengah Dayot Upamecano dan William Saliba atau ruang yang ditinggalkan oleh bek kanan Jules Kounde dan bek kiri Theo Hernandez akan menjadi wilayah yang rentan dieksploitasi.
Celah transisi Perancis ini bisa menjadi fokus Pelatih Swedia Graham Potter untuk menciptakan kejutan terbesar di Amerika. Namun, pelatih asal Inggris ini dipusingkan dengan cederanya bek tengah Isak Hien sehingga kemungkinan bakal memaksanya mengembalikan Victor Lindelof ke jantung pertahanan.
Pada laga penyisihan grup, Lindelof—yang aslinya berposisi bek tengah—dimainkan sebagai gelandang bertahan oleh Potter. Mengingat tujuh gol sudah bersarang ke gawang Jacob Widell Zetterstrom sepanjang fase grup, kembalinya Lindelof barangkali menjadi berkah tersendiri.
Dengan formasi 3-4-3, Potter akan memainkan strategi deep block untuk mempersempit ruang empat penyerang Perancis. Mereka akan mengandalkan skema transisi serangan cepat dengan berharap pada ketajaman Isak dan Gyokeres serta kecepatan Anthony Elanga untuk melakukan keajaiban dari sedikit sentuhan bola yang akan mereka dapatkan.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/26/fa0602ad3456ef36480063b8ba01396b-wires_photo_2026_06_26T103203.248.jpg)
Perancis akan mendominasi penguasaan bola sehingga pemain Swedia harus mampu memanfaatkan sedikit bola sebaik mungkin. Gelandang muda Lucas Bergvall—yang akan mengisi posisi Lindelof di lini tengah—dan Yasin Ayari akan ditugaskan untuk bermain pragmatis dengan langsung melepaskan umpan vertikal ke bidang kosong pertahanan Perancis untuk dikejar oleh Isak dan Gyokeres.
Taktik serangan balik kilat Swedia ini bertumpu sepenuhnya pada kualitas individu duet Isak dan Gyokeres. Isak bisa memanfaatkan kelincahannya untuk menusuk di ruang kosong pertahanan Perancis. Sementara Gyokeres dengan kekuatan fisiknya akan bertugas berduel dengan rekan satu timnya di Arsenal, bek tengah William Saliba, demi mendapatkan bola umpan dari lini belakang.
Isak menjadi motor serangan Swedia di Amerika dengan mencatatkan satu gol dan tiga asis. Adapun Gyokeres mencetak satu gol dan dua asis. Kedua pemain itu berpotensi merepotkan barisan pertahanan Perancis.
Masalah bagi Swedia adalah ketidakseimbangan skuadnya yang ekstrem. Meski memiliki barisan penyerang top, lini tengah dan belakang mereka tidak sementereng lini serang.
Maka, Swedia kesulitan menciptakan peluang atau memberi aliran bola kepada para penyerang. Celah di barisan pertahanan mereka juga sering tak berdaya menghadapi serangan seperti ketika melawan Belanda.
Potter mengatakan, laga melawan Perancis akan menjadi tantangan luar biasa dan para pemainnya sudah menantikan momen tersebut.
:quality(80)/https://kompasmedia.site/images/2026/06/12/1fe039f3212055a90b30c35e43c46075-20260612_calon_Top_skor.png)
”Ini akan menjadi pertandingan yang luar biasa, sebuah laga yang Anda impikan sejak kecil. Bermain di New Jersey, melawan Perancis di babak gugur Piala Dunia, tidak ada yang lebih besar dari ini,” kata mantan pelatih Chelsea ini dalam wawancara dengan federasi sepak bola Swedia.
Potter menambahkan, Perancis adalah salah satu tim terbaik di dunia sehingga Swedia harus menghormati mereka. Meski demikian, Potter menegaskan skuadnya tidak gentar dan benar-benar menantikan tantangan besar tersebut.
”Mereka memiliki pemain-pemain kelas dunia di setiap lini, pernah memenangi Piala Dunia, dan memiliki pelatih yang tahu cara memenangi laga. Jadi, ini adalah tantangan yang luar biasa. Namun, itulah yang memang Anda harapkan di fase gugur Piala Dunia,” ujar Potter.
Penulis:
Prasetyo Eko Prihananto dari New Jersey, Amerika SerikatEditor:
Yulvianus HarjonoPenyelaras Bahasa:
Amin Iskandar