Kompas.id Brief

Mengapa Manchester United Terpuruk?

Manchester United terbenam ke jurang krisis seiring kekalahan di final Liga Europa dan keterpurukan di Inggris. Ada banyak penyebabnya, salah satunya mismanajemen.

23 Mei 2025 16:00 WIB · Olahraga

Oleh Yulvianus Harjono

Apa yang bisa Anda pelajari dari artikel ini?

1. Sudah lebih dari satu dekade MU sulit keluar dari bayang-bayang kejayaannya. Apa penyebabnya?

2. Jerat masalah finansial mengguncang MU, seperti apa dampaknya ke klub?

3. Mengapa capaian MU saat ini disebut yang terburuk dalam setengah abad?

4. Bagaimana tantangan yang dihadapi MU pada musim depan?

Bagi Manchester United, kekalahan dari Tottenham Hotspur, 0-1, pada final Liga Europa di Stadion San Mames, Spanyol, Kamis (22/5/2025) dini hari WIB, ibarat cuka di tengah luka yang menganga. Mereka datang ke Spanyol dengan harapan tinggi, yaitu meraih trofi demi melipur lara akibat musim yang sangat buruk di Liga Inggris.

Tim asuhan Manajer Ruben Amorim datang ke Spanyol dengan catatan impresif, yaitu sebagai satu-satunya tim yang nirkalah di Liga Europa musim ini. Namun, gol tunggal penyerang sayap Spurs, Brennan Johnson, meruntuhkan harapan skuad ”Setan Merah” mengangkat trofi dan meraih tiket ke Liga Champions Eropa edisi 2025-2026.

Kekalahan dari Spurs seakan menjadi pukulan bertubi-tubi. MU hanya memiliki asa untuk finis maksimal di peringkat ke-14, itu pun dengan catatan mampu menumbangkan Aston Villa pada laga terakhir Liga Inggris, Minggu (25/5/2025). Villa akan jadi lawan berat karena masih berharap dapat meraih tiket Liga Champions.

Posisi MU di Liga Inggris saat ini, yaitu ke-16, adalah yang terburuk di era Liga Primer Inggris sejak musim 1992-1993. Di klasemen sementara liga itu, mereka hanya lebih baik dari Spurs yang juara Liga Europa serta tiga tim yang dipastikan terdegradasi, yaitu Leicester City, Ipswich Town, dan Southampton.

Tak hanya itu, akibat kekalahan di San Mames, MU menorehkan tinta hitam lainnya. Spurs menjadi tim kedua sepanjang sejarah yang mampu memberikan empat kekalahan beruntun ke MU dalam satu musim. MU sebelumnya kalah dua kali di Liga Inggris dan sekali di Piala Liga. Sebelumnya, Everton mencatatkan rekor serupa dengan tampil superior atas MU pada musim 1985-1986.

Kekalahan di final Liga Europa juga bakal memiliki konsekuensi lainnya, yaitu finansial. Setan Merah kehilangan potensi pemasukan senilai 100 juta pound sterling atau Rp 2,1 triliun. Uang itu semestinya mereka dapat, antara lain, dari sponsor dan tiket jika menjadi juara sekaligus tampil ke Liga Champions musim depan.

Lantas, pertanyaannya, mengapa MU bisa terpuruk? Padahal, mereka dahulu dikenal sebagai tim paling menakutkan dan pernah menguasai Eropa di masa kepemimpinan mantan manajer Sir Alex Ferguson. Ada banyak aspek penyebabnya, antara lain mismanajemen dan kurangnya ”rasa lapar” gelar.

Sudah lebih dari satu dekade MU sulit keluar dari bayang-bayang kejayaannya. Apa penyebabnya?

copy title

Jauh-jauh hari, Sindhunata, pemerhati sepak bola, memperingatkan keterpurukan MU. Ia menyebut masalah merosotnya prestasi MU sebagai krisis yang dalam.

”Target MU sekarang seakan hanya target klub medioker, berjuang mati-matian untuk asal tidak melorot ke jurang degradasi. Dengan target asal selamat ini, MU seakan menghilangkan jejak sejarahnya sebagai klub yang senantiasa bertengger di papan atas kasta sepak bola Inggris,” ungkap Sindhunata dalam kolomnya, 13 Maret 2025.

Ekspresi Manajer Manchester United Ruben Amorim (kanan) saat meninggalkan lapangan seusai timnya melawan West Ham United pada laga Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (11/5/2025). Tuan rumah MU kalah, 0-2.

Sejak Sir Alex Freguson mundur pada 2013, silih berganti pelatih didatangkan. David Moyes, Ryan Giggs (interim), Louis van Gaal, José Mourinho, Ole Gunnar Solskjær, Michael Carrick (interim), Ralf Rangnick, Erik ten Hag, Ruud van Nistelrooy (interim). Mereka semua gagal menyalakan harapan.

Terakhir, harapan itu diletakkan pada pundak Ruben Amorim. Tak juga ia menunjukkan mampu membawa MU keluar dari kegelapan. Malahan, setelah ditekuk Brighton & Hove Albion, 1-3, Januari lalu, Amorim pun sambat, ”Mungkin, kami adalah tim terjelek dalam sejarah Manchester United.”

Ketika gelap melanda, segala langkah jadinya hanya salah. Uang mungkin ada, tetapi transfer pemainnya yang salah. Seperti dituturkan Mark Ogden dalam analisisnya di ESPN, sejak awal musim 2019-2020, MU menghabiskan 776,2 juta pound sterling untuk transfer pemain. Yang ditaksir Jude Bellingham, tetapi dapatnya Donny van de Beek. Atau menaksir Declan Rice, tetapi justru dapat Casemiro. Maunya Erling Haaland, yang diperoleh justru Odion Ighalo.

Menurut Sindhunata, kejayaan akan cepat ambruk jika tidak disertai penyangga strukturalnya. Struktur itulah yang tidak ada pada MU sekarang. Bisa saja struktur itu dulu ada, tetapi rapuh karena hanya bergantung pada kehebatan otokrasi Ferguson.

Begitu kekuasaan Ferguson pergi, otokrasinya ikut hilang, sementara tak ada struktur ideal yang menyangganya. Akibatnya, MU pun terjerembap ke dalam gelapnya krisis. ”Setiap Minggu selalu datang shock yang baru pada MU,” kata mantan pemain dan pakar Liga Inggris, Rene Adler, kepada ZDF.

Jerat masalah finansial mengguncang MU, seperti apa dampaknya ke klub?

copy title

Pemilik minoritas MU, Sir Jim Ratcliffe, memastikan tidak akan memberlakukan kebijakan loyal untuk memberikan tiket pertandingan secara cuma-cuma kepada staf klub untuk final Liga Europa kontra Tottenham Hotspur. Ratcliffe, yang memimpin manajemen harian MU, hanya memberikan dua tiket kepada pemain tim utama untuk laga final itu.

Pemain bisa memberikan tiket gratis itu kepada keluarga atau sahabat mereka. Namun, MU tidak menanggung ongkos akomodasi kerabat para pemain itu untuk melakukan perjalanan dari Manchester ke Bilbao serta selama berada di Spanyol. Artinya, pemain Setan Merah harus merogoh uang dari saku mereka sendiri untuk menyertakan keluarga dan sahabat mereka ke Bilbao.

infografik Rekam Jejak Pertemuan Manchester United Vs Tottenham Hotspur

Kondisi itu tentu kontras dengan kebijakan CEO Spurs Daniel Levy. Meskipun dikritik para pendukung Spurs selama musim ini akibat anjloknya performa tim di atas lapangan, Levy, merujuk The Mirror, sudah mengonfirmasi akan menyiapkan 700 tiket gratis untuk karyawan tetap Spurs menyaksikan laga final itu. Jumlah itu diambil dari alokasi 15.000 tiket Spurs di San Mames.

Di tengah kegamangan itu, Ruben Amorim menjadi sosok penyelamat. Ia memastikan memberikan 30 tiket bagi staf yang bertugas untuk membantu tim utama. Tak hanya tiket, Amorim juga membiayai keluarga staf itu untuk tiket pertandingan dan akomodasi selama di Bilbao.

”Ruben Amorim membayar (biaya) 30 anggota staf ruang ganti MU untuk membawa keluarga mereka di laga final di Bilbao. Hal itu merupakan respons dari keputusan klub yang mengharuskan para pelatih, fisio, dan staf pendukung tim utama harus membayar tiket sendiri,” sebut sumber ESPN, Selasa (13/5/2025).

Manajemen Setan Merah juga telah memutuskan hanya menyiapkan perayaan juara Liga Europa secara minimalis. Pemain MU dipastikan tidak akan disambut dengan parade bus ketika kembali dari Bilbao ke Manchester, satu hari setelah partai puncak.

Sebagai gantinya, manajemen hanya menyiapkan pesta barbeku di pusat latihan tim yang berada di Carrington.

Mengapa capaian MU saat ini disebut yang terburuk dalam setengah abad?

copy title

Jika melihat posisi klasemen saat ini, MU saat ini adalah yang terburuk di era Liga Primer, kompetisi sepak bola modern Inggris yang diperkenalkan sejak musim 1992-1993. MU saat ini hanya mengemas 39 poin dari 37 laga sehingga terpuruk di peringkat ke-16 dari 20 tim peserta.

Meskipun dipastikan tak akan terdegradasi, posisi itu menjadi tamparan bagi Amorim dan MU. Mereka hampir pasti bakal finis di luar peringkat ke-12 karena tak mungkin lagi bisa menyalip Crystal Palace di posisi itu dengan dua pekan laga tersisa. Padahal, sepanjang sejarah, MU belum pernah finis di posisi itu atau lebih buruk pada era Liga Primer sebelumnya.

Klasemen sementara Liga Inggris hingga Sabtu (17/5/2025) sore waktu Indonesia.

”Hal yang paling saya takutkan adalah anggapan bahwa itu (kekalahan) adalah biasa, baik-baik saja. Itulah masalah terbesar saat ini. Kami kehilangan kepercayaan bahwa kami klub besar dan adalah akhir dunia jika kami kalah di rumah,” ujar Amorim memberikan otokritik ke timnya.

Ditarik lebih jauh, MU saat ini bisa dikatakan yang terburuk dalam lima dekade terakhir. Posisi saat ini di liga mendekati sejarah terkelam mereka, yaitu pada musim 1973-1974. Ketika itu, yaitu pada era Divisi Satu Liga Inggris, MU terdegradasi ke Divisi Dua setelah finis ke-21 dengan koleksi hanya 32 poin.

MU hingga kini masih tercatat sebagai klub Inggris tersukses di era Liga Primer dengan koleksi 13 trofi dan 7 runner-up sejak 1992. Seluruh prestasi itu diraih MU di era Ferguson. Koleksi itu mulai dikejar tetangganya, Manchester City, yang kini mengemas 8 trofi Liga Primer dan 3 kali runner-up. Sebanyak enam trofi di antaranya diraih ”The Citizens” di era Manajer Pep Guardiola.

Adapun tim juara saat ini, Liverpool, hanya mengemas dua trofi di era Liga Primer meskipun total koleksi juara mereka di Liga Inggris mencapai 20 piala. Jumlah koleksi trofi Liverpool itu menyamai koleksi MU di seluruh era Liga Inggris sejak 1888 silam.

Bagaimana tantangan yang dihadapi MU pada musim depan?

copy title

Dengan absen di Liga Champions musim depan, transformasi skuad akan sulit berjalan mulus. Tidak ada pemain bintang yang bersedia datang ke klub yang tidak tampil di kompetisi antarklub paling bergengsi.

Nama besar Setan Merah yang legendaris pun sudah tidak bisa menjadi daya tarik bagi pemain untuk datang. Di sisi lain, manajemen yang dikomando Sir Jim Ratcliffe juga akan semakin ketat untuk mengeluarkan dana transfer karena kehilangan potensi pemasukan puluhan hingga ratusan juta pounds akibat absen di kompetisi Eropa.

Bek West Ham United, Vladimir Coufal (kiri), mencoba merebut bola dari penguasaan pemain Manchester United, Harry Amass, pada laga Liga Inggris di Stadion Old Trafford, Manchester, Minggu (11/5/2025). Tuan rumah MU kalah, 0-2.

”Kami memiliki dua rencana di pasar (transfer). Kami harus mengerti bahwa akan ada situasi rumit untuk klub seperti kami tidak bermain di Liga Champions, tetapi kini kami harus mencari jalan keluar dari situasi itu,” kata Ruben Amorim dalam konferensi pers seusai laga melawan Spurs, seperti dilansir BBC.

Derita juga akan dialami suporter MU. Mereka akan menghadapi kenaikan tiket, baik tiket terusan untuk satu musim maupun tiket satuan. Peningkatan harga tiket itu sudah diumumkan seiring kebijakan baru dari Ratcliffe.

Terkait masa depan Amorim, Rio Ferdinand, mantan bek tengah MU, menganggap sang manajer baru masih pantas untuk mendapatkan dukungan penuh dari manajemen klub. Menurut dia, juru taktik asal Portugal itu datang dalam situasi yang serba rumit di MU.

”Klub harus memberikan dukungan penuh kepada Ruben (Amorim). Berikan dia pemain yang dibutuhkan. Pada musim pertamanya, dia datang dengan gaya permainan yang tidak memiliki benang merah dengan para pendahulunya serta tidak menyiapkan tim melalui pramusim,” tutur Ferdinand kepada TNT Sports.

”Saya telah mengenal klub ini. Saya tahu apa artinya menjadi pelatih di sini. Dan, saya mengerti apa yang dibutuhkan untuk tim ini. Kami melihat perkembangan meskipun kerap menelan hasil buruk akibat kegagalan mengantisipasi detail kecil,” ucap Amorim yang berusia 40 tahun.


Kerabat Kerja

Penulis:

Yulvianus Harjono
 | 

Editor:

Emilius Caesar Alexey
 | 

Penyelaras Bahasa:

Amin Iskandar